
Dokter Angga tersenyum. Meski hanya senyuman kecil dengan durasi waktu yang sedikit, hal itu telah memberi kelegaan di ruang hati Dara. Setidaknya Dokter Angga sudah siuman berarti hal yang mengkhawatirkan atas kondisi kesehatannya telah berlalu. Tinggal melakoni perawatan intens demi pemulihannya saja. Demikian yang terlintas di benak Dara.
Dara bangkit dari kursinya. Ia langkahkan kakinya menuju sofa di bagian sudut sisi lain ruangan tersebut, menghampiri Jesika dan Bayu yang sedang mengobrol.
"Angga sudah siuman," ungkap Dara.
"Really?" Jesika melonjak girang. Tanpa basa-basi Ia tinggalkan Bayu dan bergegas mendekat ke sisi Dokter Angga.
"Syukurlah. Angga, saat ini apa yang kamu rasa? apa kamu bisa mengenaliku? lihat, ini apa dan berapa?" Jesika menyodorkan sederet tanya, lantas menunjukkan jemarinya, jari telunjuk dan jari tengah di buat membentuk bingkai v.
"Jes, aku terbentur bukan amnesia" tukas Dokter Angga dengan intonasi dan tatapan datar.
Jesika menutup mulutnya dengan tangannya yang mulus, "Ops, iya. Maaf. hehehe. Aku terlalu senang kamu sudah sadar" tutur Jesika malu-malu.
"Assalamu'alaikum. Alhamdulillah, insyaAllah semoga ke depannya semakin pulih dan sembuh seperti sedia kala ya," Bayu mendekat dan sudah berdiri tepat di samping ranjang Dokter Angga.
"Wa'alaikumsalam. Aamiin," Dokter Angga menimpali ramah tamah Bayu.
Tidak lama kemudian, setelah Dara memberitahukan ke bagian administrasi bahwa pasien atas nama Angga sudah sadar, seorang Dokter bersama para perawat masuk ke ruangan dan melakukan pemeriksaan kepada Dokter Angga.
"Semua baik-baik saja. Tinggal masa pemulihan. Dokter Angga punya fisik yang kuat jadi masa pemulihannya lebih cepat dan bakal bisa segera keluar dari sini kok," Jelas seorang Dokter. Selain menangani Dokter Angga, Dokter tersebut juga merupakan kenalan dari Dokter Angga.
"Thanks," Dokter Angga menatap teman seprofesinya.
"Sip. Aku keluar dulu, cepat sehat ya Dok," Dokter bersama para perawatnya pergi meninggalkan ruangan.
"Jesika," Dokter Angga memanggil.
"Ya?" Jesika menoleh ke arah Dokter Angga.
"Terima kasih sudah membawa dan mengurus ku," Dokter Angga melihat Jesika sekilas kemudian mengarahkan pandangan tanpa ekspresinya ke langit-langit plafon ruang rawat.
"Bukan apa-apa. Sebagai teman sudah seharusnya begitu kan?" Jesika tersenyum.
"Jadi, ada urusan apa kamu hendak menemui ku hari itu?"
Dokter Angga membalikkan ingatannya saat hari kejadian. Dimana sebelum Lukman menerobos masuk ke ruangannya, Jesika via telepon mengabarkan akan berkunjung menemui Dokter Angga.
Naas. Sebelum kunjungan berlangsung, Dokter Angga yang di bantu oleh Jesika malah berakhir di rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dan menjalani perawatan akibat luka parah yang Ia dapatkan dari Lukman.
__ADS_1
"Soal itu, aku yang sudah move on dari kamu ini, ingin kamu cari-kan pasangan. Selepas kita berpisah sampai sekarang, belum ada yang bisa mengisi hatiku lagi. Capek dan hampa tahu jadi jomblo," ucap Jesika santai berkeluh kesah menanggapi pertanyaan Dokter Angga.
"Kamu sudah mau menikah?" tanya Dokter Angga lagi.
"No! nikah jangan buru-buru. Rugi dong menikah saat karir ku mulai naik daun gini," sergah Jesika cepat.
"Jadi, pasangan buat pacaran maksudnya?" kembali Dokter Angga bertanya.
Jesika mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Dokter Angga. Dengan sumringah Jesika berkata, "tepat sekali!"
"Maaf Jesika, Angga, boleh aku ikut bergabung dengan obrolan kalian ini?" ucap Bayu yang duduk sendiri bersisian dengan ranjang Dokter Angga.
"Boleh lah, langsung nimbrung aja. Pakai izin-izin segala. Kayak mau melamar kerja saja sih Bapak ini," celoteh Jesika sambil tertawa sesudahnya.
Bayu menatap kepada Dokter Angga, minta respon atas pertanyaan yang Ia lontarkan. Dokter Angga yang seakan paham maksud tatapan Bayu tersebut, menganggukkan kepalanya perlahan, pertanda mempersilahkan.
"Jesika, jika kamu butuh pasangan, ada baiknya jangan pacaran karena agama kita melarangnya. Maaf nih, aku bukan bermaksud mengatur atau yang lainnya. Hanya saja, sebagai sesama Muslim kita di minta untuk saling mengingatkan agar tidak termasuk dalam golongan orang yang merugi. Terlebih karena kita juga sudah saling mengenal. Karena itu ucapan ku tadi mohon di anggap sebagai nasehat bukan ancaman"
Bayu mulai bicara, ikut bergabung dengan obrolan Jesika dan Dokter Angga sebelumnya.
"Santai, gak masalah. Aku senang juga kok ada yang mau mengingatkan aku, gratis pula kan? hahahaha"
"Terus kalau gak pacaran? langsung nikah gitu?" Jesika bertanya dengan nada polos.
"Lebih baik begitu" jawab Bayu.
"Kan sebelum menikah harus kenal pasangan kita dulu, kalau bukan pacaran, gimana caranya bisa saling kenal satu sama lain coba. Benar begitu kan?"
Jesika memandang Dara yang duduk di sebelahnya, berharap ada kalimat pembelaan dari Dara. Walaupun hasilnya nihil, karena Dara hanya tersenyum kecut menanggapi pertanyaan Jesika.
"Benar, memang harus saling mengenal terlebih dahulu sebelum menikah tapi tidak melalui pacaran. Melainkan ta'aruf" Bayu menjawab dengan tenang pertanyaan Jesika yang mengandung protes.
"Memang apa beda keduanya?" Jesika mengernyitkan dahinya. Ia fokuskan pandangan kepada Bayu yang duduk tepat di seberangnya, Ia serius menunggu jawaban dari Bayu.
"Perbedaan keduanya cukup banyak. Terletak pada ketidaksamaan dari segi tujuan, sifat, cara komunikasi, jangka waktu hubungan, juga berbeda jauh berkenaan pola pertemuannya. Dalam pacaran dalihnya masa perkenalan tapi, praktiknya pada umumnya melalui komunikasi tanpa batas yang di tujukan untuk bersenang-senang berduaan, di ketahui oleh banyak orang pula. Benar tidak begitu?"
Bayu mulai menuruti hasrat keingintahuan Jesika.
"Kalau pacaran memang begitu sih, kan untuk menunjukkan rasa sayang juga." Jesika berpendapat.
__ADS_1
"Baik. Lalu bagaimana dengan ta'aruf? ta'aruf itu tujuannya juga untuk saling mengenal satu sama lain antara lawan jenis. Namun, sifatnya tertutup dan rahasia. Hanya pihak tertentu saja yang mengetahui proses ta'aruf yang dijalani, yaitu pihak keluarga yang menjadi media dalam berkomunikasi. Komunikasi dalam ta'aruf pun dibatasi. Sebatas untuk kebutuhan persiapan pernikahan. Demikian juga tentang lamanya waktu ta'aruf. Ada tahapan yang jelas dan terbatas waktunya sebab prinsip dasarnya lebih cepat lebih baik. Kenapa begitu? karena ta'aruf memang proses untuk saling mengenal sebelum menjalin ikatan pernikahan yang di niatkan agar mendapatkan keluarga yang diberkahi,"
Bayu mengakhiri penjelasannya. Jesika, Dara, dan Dokter Angga tampak tengah mencerna kalimat Bayu barusan.
"Benar, sangat berbeda dengan pacaran" tukas Jesika spontan.
"Dulu, sebelum menikah dengan Mas Lukman, kami pun berpacaran. Ternyata hubungan bertahun-tahun atas nama masa penjajakan juga tidak menjamin rumah tangga yang bahagia dan bertahan hingga ke surga-Nya. Sementara Lusi dan suaminya, hingga kini menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia jauh dari prahara. Dan mereka sebelumnya menjalani ta'aruf."
Pengakuan Dara membuat ketiga teman bicaranya menganggukkan kepala.
"Ada firman Allah SWT dalam Al-Qur'an tepatnya di surah Al-Isra ayat 32, artinya begini, dan janganlah kamu mendekati zina, sungguh zina itu adalah perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk. Zina yang dimaksud ini salah satunya ialah hubungan antara laki-laki dan perempuan yang di ikat oleh status pacaran. Nah, mendekatinya saja dilarang, apalagi langsung melakukannya. Itu juga lah salah satu penyebab rumah tangga bisa jauh dari sakinah, sebab lebih dulu di awali dengan perbuatan dosa. Nauzubillah dan Wallahu a'lam." Tambah Bayu.
"Jadi ta'aruf dapat dikatakan adalah cara terhormat bagi pria dan wanita Muslim untuk saling mengenal sehingga hubungan pernikahannya bisa menggapai keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah, begitu kah?" Jesika meminta kepastian atas kesimpulannya.
"Ya kira-kira begitu. Jadi, apa Jesika masih ingin pacaran?" jawab sekaligus tanya Bayu.
"Aku masih belum tahu," jawab Jesika apa adanya.
"Itu yang Bapak jelaskan tadi tahunya darimana?" Jesika kembali bertanya dengan Bayu, yang meski sudah saling berkenalan, sedari tadi Ia memanggil Bayu dengan panggilan 'Bapak', seakan panggilan itu terkhusus untuk Bayu.
"Dari buku yang aku baca dan lewat pengajian yang aku ikuti," Bayu dengan senang hati memberi informasi.
"Kalau begitu, ajak aku ke pengajian Bapak itu. Biar lebih dalam ilmu ku jadi bisa yakin buat gak pacaran" usul Jesika.
"Boleh, nanti aku kirim alamat tempat majelisnya" Bayu menerima usulan Jesika.
"Sekalian, pinjamkan aku buku yang Bapak maksudkan tadi. Biar ada temannya jomblowati ini dalam menghadapi sepi," seloroh Jesika lagi.
Bayu tertawa. Dara dan Dokter Angga ikut tersenyum ringan.
"Kenapa? ada yang lucu dengan meminjam buku?" Jesika menanggapi tawa Bayu.
"Bukan. Bukan pinjam bukunya yang lucu tapi, alasan mau baca bukunya yang bikin kupu-kupu di perut berterbangan. Segala sesuatu lewat malaikat akan di catat sebagai amal ibadah maupun dosa. Niatkan baca buku untuk menambah wawasan, itu lebih baik. untuk menemani di kala sepi anggap bonusnya saja, bukan tujuan utama. Mudahan dengan begitu ilmunya berkah," terang Bayu dengan intonasi menenangkan.
"Begitu, oke lah kalau begitu. Siap laksanakan. Pinjamkan aku buku yang kamu maksudkan tadi ya Pak, aku mau menambah pengetahuan" Jesika memperbaiki kalimatnya.
"insya Allah" Bayu mengangguk dan tersenyum.
... ***...
__ADS_1