Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
17. Detektif Lusi


__ADS_3

"Hari kelahiran anak nya ini sekaligus adalah hari kehilangan bagi nya Si"


Lusi memutar kembali dalam memori ingatan nya potongan percakapan yang di lakukan dengan Dara saat di panti asuhan tempo hari.


Sampai detik ini Lusi di hantui rasa khawatir sekaligus penasaran atas apa yang akan di lakukan Dara berdasarkan kalimat nya kemarin.


Lusi bermonolog pada dirinya,


'Bukan nya perempuan yang di liputi kemarahan terpendam dapat melakukan apa saja? lagipula sungguh wajar jika Dara tidak sanggup lagi menahan emosi sebab poligami yang di lakukan Lukman tepat di saat kondisi Dara sebagai istri sedang butuh dukungan penuh dari seorang suami tapi nyatanya malah di tinggal poligami, sudah begitu Lukman tidak berlaku adil pula. Belum lagi Lukman sudah beberapa kali membuat hati anak-anak mereka kecewa. Seorang Dara pasti tidak akan tinggal diam jika menyangkut urusan Azkia dan Alsava. Tapi kira-kira apa yang akan di lakukan Dara?'


Cittt.


Terdengar suara decitan dari ban mobil yang bergesekan paksa dengan aspal jalan akibat rem yang di injak mendalam.


Tidak ingin di penuhi pikiran buruk dan khawatir berlebihan, Lusi mendadak merubah tujuan utama perjalanan yang mula nya ke butik milik diri nya beralih ke rumah sakit tempat istri kedua Lukman melahirkan.


Tidak perlu memastikan lagi di mana posisi rumah sakit tempat Kiki bersalin. Karena beberapa kali asyik melihat unggahan postingan dari media sosial kedua pasangan suami istri, Lukman dan Kiki membuat alamat rumah sakit tempat mereka berada otomatis terekam dalam ingatan Lusi.


'Aku harus bergerak sebelum Dara. Aku harus memastikan mereka baik-baik saja. Bagaimana pun mereka hanya bayi tanpa dosa yang tidak tahu apa-apa'


Lusi kembali bermonolog lalu meraih handphone nya, menekan tombol hijau dengan gambar telepon pada kontak 'mbok Inem'.


"Ya. Pokoknya tolong mbok pastiin Dara gak kemana-mana dan pantau terus gerak-gerik nya oke ya!"


Tuut.


Lusi mengakhiri panggilan telepon nya.


Kini Lusi sudah berdiri di hadapan sebuah meja besar panjang mendengarkan keterangan informasi dari bagian administrasi.


...***...


"Hahaha..hahaha...hahaaha.."


Air tampak ikut keluar dari sudut mata Dara yang tertawa cekikikan sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


"Isss. Udah sih Dara, aissshh"


Lusi yang duduk di sebelah Dara tampak menahan malu.


"Nih, biar ngobrol dan ketawanya makin menyenangkan"


Ke atas meja bundar di hadapan Lusi dan Dara mbok Inem meletakkan piring berisi gorengan pisang yang masih mengepulkan asap tipis.


"Gorengan hangat buatan mbok Inem siap menemani neng Lusi serta neng Dara mengobrol dan bercanda ria" Gaya mbok Inem dalam mempersilahkan.


Di belakang nya menyusul Rani meletakkan gelas, kemudian teko yang menampakkan warna kuning dari dalam nya dengan titik-titik embun yang tembus di luar teko.


"Ini minum nya Bu" Rani mengangguk lalu pamit meninggalkan Dara dan Lusi yang sedang duduk di bangku menghadap taman asri di bagian belakang rumah Dara.


"Oke. aku berhenti tertawa nih"


Dara menyeruput minuman yang telah di sajikan untuk membasahi kerongkongan nya yang nyaris kering setelah lama tertawa terbahak-bahak.


"Kok bisa-bisanya kamu mikir sejauh itu sih?"


Tanya Dara mulai membuka percakapan cukup serius antara keduanya.


Antusias Lusi pada Dara. Sekaligus pembelaan bahwa kesalahpahaman nya terhadap ucapan Dara adalah buah dari kekhawatiran seorang sahabat.


"Ahh terharu aku, makasih ya Si sudah selalu ada untuk aku bahkan bertindak jauh di luar dugaan walaupun hampir saja malu-maluin diri kamu sendiri"


Dara kembali menyambung ucapannya dengan gelak tawa yang tidak kuasa di tahannya.


Mereka kini hanyut dalam ingatan tentang cerita yang di sampaikan Lusi beberapa saat lalu bahwa Lusi pergi ke rumah sakit tempat Kiki lahiran dengan gaya bak seorang detektif yang sedang memastikan keselamatan bayi kembar milik Lukman dan Kiki.


Lusi ingin memastikan agar bayi-bayi itu baik-baik saja dari perbuatan kejam Dara.


Sebab Lusi menduga ucapan yang di sampaikan Dara tentang kehilangan tempo hari merujuk pada menghilangkan kedua bayi Lukman dan Kiki.


"Semarah, sesedih, sekesal bahkan sebenci apa pun aku pada mas Lukman dan Kiki bagaimanapun aku juga seorang Ibu Si" Dara menatap lekat Lusi.

__ADS_1


"Aku jelas bukan Ibu yang sempurna tapi bukan berarti aku akan tega menyakiti hati Ibu lainnya sekali pun dia madu ku. Lagi pula bukan anak yang harus di hukum atas kezhaliman orang tua nya" Lanjut Dara.


"Iya sih, asli nya aku ya gak yakin kamu bakal se nekat itu tapi memang aku luar biasa panik saking mengingat bertubi-tubi nya penderitaan yang Lukman dan Kiki berikan aku khawatir kamu berakhir khilaf. Dara, maafin pikiran buruk dan tindakan sembrono ku ya" Lusi menggenggam tangan Dara.


"Its Oke Lusi. Gak ada yang perlu di maafkan karena mengkhawatirkan teman itu bukan lah sebuah kesalahan. Dan tadi itu aku serius lho bilang terima kasih nya terlebih lagi karena selalu ada bahkan rela berbuat jauh untuk aku. Aku bersyukur punya seseorang seperti kamu Si. So big thanks bestie"


Dara membawa Lusi dalam dekapan nya, mereka saling berpelukan.


Bukan hanya cinta antara dua pasangan lain jenis yang memabukkan. Ketulusan dari rasa sayang sebuah persahabatan dua insan perempuan pun tak jarang melenakan.


...***...


"Mmm...Dara, maaf ni tapi respon kamu tentang kebenaran bahwa Kiki gak lahiran prematur gimana?"


Dengan hati-hati Lusi bertanya kepada Dara.


Dari hasil penyelidikan Lusi sebagai detektif ala-ala tadi Ia mendapati informasi yang cukup mencengangkan.


Bahwa ternyata Kiki yang bernarasi lewat postingan nya menyatakan bahwa proses melahirkan nya berlangsung lebih cepat tiga bulan dari perkiraan karena kondisi mengandung bayi kembar sehingga Ia melahirkan dalam kondisi prematur.


Sementara dari pernyataan pihak rumah sakit kebenaran nya adalah, bayi-bayi yang Kiki lahirkan sudah sesuai dengan umur kandungan normal dengan kata lain cukup bulan bukan prematur.


"Respon ku? berarti mas Lukman adalah pembohong besar dan Kiki perempuan murahan" Ucap Dara tenang.


"Se simple itu?" Heran Lusi.


"Untuk apa harus berlebihan dengan aib orang lain? cukup tahu dan jadikan pelajaran" Balas Dara.


Lusi mengangguk.


Entah tanda setuju atas pernyataan sang sahabat atau karena kehabisan kata menghadapi lawan bicara nya yang secara tersirat menutup ruang untuk membahas si pembohong besar dan perempuan murahan.


Atau memang karena Dara sebagai korban kemunafikan keduanya terlalu geli bahkan benci jika harus menyebut nama mereka dengan suaranya.


"Terus yang kamu maksud dengan hari kelahiran anak nya ini sekaligus adalah hari kehilangan bagi nya itu apa?"

__ADS_1


"Lusi sahabat ku tersayang, semua ada urutan nya. Saat ini biarkan saja mereka bahagia setelah itu baru kita buat mereka mengerti arti dari kehilangan" Tutup Dara.


...***...


__ADS_2