
"Neng, itu .... "
Mbok Inem menggantungkan kalimatnya. Pandangan matanya Ia edarkan ke bagian dapur. Dara mengikuti arah tatapan Mbok Inem tersebut.
'Hhhh. Lagu lama!'
Ledek Dara dalam batinnya. Lukman yang kembali beraksi dengan keahliannya menggunakan perkakas dapur dalam menciptakan santapan lezat, sadar sedang di lihat oleh sang Tuan rumah.
Lukman yang masih menggunakan celemek meninggalkan aktivitas per-dapuran nya. Meski di balut oleh kain dengan tali yang terikat di belakang leher untuk melindungi bagian depan dari pakaian yang digunakannya, agar menghindari aneka jenis noda akibat kegiatan memasaknya, tidak membuat badan kekar Lukman menjadi tertutupi. Justru makin membuat pria berusia matang itu terlihat seksi.
Dulu, jika melihat penampilan Lukman yang seperti itu pasti akan membuat Dara melingkarkan kedua tangan mulusnya ke pinggang sang suami. Sebagai ungkapan dari rasa kagum atas tindakan pria yang menyenangkan hati keluarga lewat masakannya. Sekaligus bukti bilamana Dara tersihir dengan kharisma sang mantan pacar, Lukman.
Berbeda dengan kini. Seratus delapan puluh derajat, tampilan dan perilaku Lukman yang seakan ingin mengulang masa lalu itu membuat isi perut Dara seolah memberontak ingin di keluarkan semua. Dara muak melihatnya.
"Maaf Dara. Tapi izinkan aku membuat sarapan untuk para buah hati kita ya, setelahnya aku akan segera pergi dari sini. Aku juga sudah buatkan teh lemon hangat kesukaanmu,"
Setelah meminta izin selayaknya memberi laporan, Lukman beralih ke meja makan mengambil sebuah gelas yang berisi cairan sebagaimana Ia maksudkan untuk Dara.
Mirisnya, belum lagi Lukman sempat menyerahkan serta menyilahkan secara langsung minuman di tangannya kepada Dara, yang bersangkutan sudah pergi begitu saja meninggalkannya berdua dengan teh lemon hangat di tangan.
"Bunda .. Adek dan Kakak sudah siap Bunda"
Dara mengangguk, tersenyum lebar lalu mencubit gemas pipi tembam putri bontotnya, Alsava.
Rani muncul mengiringi Azkia yang menyusul menemui Dara dan Alsava di ruang tengah rumah mereka.
"Lho? Rani, apa kamu mau ikut juga?" tanya Dara.
Dara memperhatikan tampilan Rani yang lebih rapi dari biasanya. Tas mungil yang di gantungkan di tubuh kurusnya menegaskan kesan jika Rani akan turut bepergian.
Rani yang di tanya lekas mengangguk lalu menjawab pertanyaan Dara,
"Ya Bu. Rani akan ikut juga. Biar bisa bantu Mbok Inem jagain Nona Azkia dan Nona Alsava"
"Coba lihat luka kamu kemarin. Apa gak sebaiknya kamu istirahat saja dulu di rumah?" tanya Dara kembali.
"Lukanya sudah gak apa-apa kok Bu, setelah di obati oleh Bu Nailah, terus juga kemarin Ibu bawa berobat lagi ke rumah sakit, bikin lukanya benar-benar sudah tidak terasa lagi. Hanya sedikit berbekas saja Bu," terang Rani lembut.
Dara memastikan ucapan gadis itu. Ia cermati seksama beberapa area bekas tamparan dari Kiki di wajah Rani. Ia sinkronkan dengan kondisi Rani yang memang tampaknya sudah baik-baik saja bahkan cukup bugar.
"Ya sudah. Kamu ikut juga" putus Dara.
"Yeayyyy" Alsava bersorak riang.
Rupanya Alsava sudah begitu lengket dengan Rani. Sehingga kehadiran Rani dalam membersamai rutinitasnya membuat gadis kecil itu bahagia.
"Nak, Kak Azkia, Dek Alsava. Ini pada mau kemana? ayo sarapan dulu. Ayah sudah buatin sarapan lho untuk kedua kesayangan Ayah ini"
Lukman yang sudah menanggalkan celemek nya menghampiri kedua anak perempuan mereka.
"Ayah gak ikut kita ya Bun?" tanya Alsava polos.
"Gak dong sayang, kan Ayah harus segera pergi dari rumah kita ini. Karena Ayah mesti ngurusin keluarganya yang lain,"
Jawaban kepada Alsava yang sarat sindiran dari Dara itu membuat Lukman menahan emosi.
"Oh gitu. Maaf ya Ayah, Adek, Kakak, Bunda, Mbak Rani dan Mbok Inem gak bisa sarapan sama Ayah. Karena kami mau pergi. Ayah aja yang makan sarapan buatan Ayah itu ya."
Penuturan Alsava yang apa adanya membuat Dara bersorak sorai di lubuk hatinya.
"Ya sudah, kalau kalian gak mau sarapan disini bareng Ayah, Ayah bungkus aja ya sarapannya. Nanti makannya di jalan. Supaya anak-anak Ayah yang cantik-cantik ini gak kelaparan"
Lukman tidak ingin menyerah dari merecoki Azkia dan Alsava dengan suguhan hasil masakannya yang biasanya memang terasa sedap.
"Mbok Inem, tolong bantu di bungkus ya sarapannya" pinta Lukman pada Mbok Inem.
Mbok Inem yang mendengar permintaan calon mantan suami majikannya itu hanya diam di tempat, mematung. Tanpa memberi respon lewat jawaban apalagi tindakan atas ucapan Lukman.
Lukman yang menyadari hal itu, kembali menatap Mbok Inem dan memanggilnya dengan nada tanya.
__ADS_1
"Mbok?"
"Mas, kamu tidak bisa meminta sesuatu semau mu di tempat yang bukan kediaman mu. Apalagi memintanya kepada orang yang tidak ada hubungan dalam hal apa pun denganmu. Kamu mesti kasih contoh yang benar lho Mas di hadapan anak-anak"
Jleggg.
Lagi. Entah untuk yang ke berapa kalinya Dara menyerang harga diri Lukman lewat sindiran. Isi dada Lukman sudah bergemuruh ingin meluapkan kesal. Namun demi mengambil simpati para buah hati, kembali Ia tahan, mencoba bersabar.
"Tapi bagaimana kalau perjalanan kalian ini malah membuat anak-anak terlambat sarapan Dara, kasihan mereka. Jad ... "
"Ayah, kami ini mau pergi untuk sarapan. Kalau bawa sarapan dari rumah gak sarapan di luar namanya tapi bawa bekal."
Astaga. Begitulah ungkapan dengan inti maksud sama di benak mereka masing-masing disana, mendengar penuturan pedas dari Putri sulung Dara, Azkia.
"Ya sudah. Kami harus pergi sekarang. Ayo anak-anak pamit dulu sama Ayah"
Dara tersenyum kecil sambil menatap penuh kemenangan ke arah Lukman. Rani dan Mbok Inem turut mengulum senyum, jarang-jarang dapat tontonan lucu di pagi hari. Terlebih lagi persembahan dari orang yang menyakiti majikan mereka.
Azkia dan Alsava mengikuti perintah Bunda mereka. Di mulai dari Azkia yang mengulurkan tangan kanannya hendak bersalaman dengan sang Ayah. Tapi ...
...***...
"Azkia, Alsava. Ayah mau bilang sesuatu sama kalian dan harus Ayah sampaikan sekarang karena setelah ini Bunda kalian melarang kita untuk bertemu."
Tanpa konfirmasi maupun basa-basi, Lukman menggandeng kedua anak kecil itu ke ruang tamu, duduk saling berhadapan.
Melihat hal itu Dara ikut mengekori. Turut di belakangnya Mbok Inem dan Rani yang setia mendampingi sang majikan.
"Sayang, Bunda mau memisahkan kita. Bunda ingin berpisah dari Ayah untuk selamanya. Dan juga akan memisahkan Ayah dari Kak Azkia dan Alsava. Apa kalian mau itu terjadi Nak?"
"Ck. Manusia gila!" gumam Dara.
Mbok Inem dan Rani yang mendengarkan lirih suara Dara itu serentak mengangguk.
"Iya" jawab mereka tanpa di minta.
"Kan sudah terjadi Ayah" Azkia menanggapi perkataan Lukman.
'Darah Dara benar-benar kental di dirimu Nak' Monolog Lukman.
Lukman yang sempat bergetar hati dan tubuhnya mendengar ucapan sang anak, berusaha kembali kepada niatan awal, membatalkan perceraian dengan mengambil simpati lewat hati anak-anak.
"Kak Azkia, bukan begitu sayang. Kali ini berbeda dari sebelumnya Nak. Kali ini Bunda benar-benar akan memisahkan kita untuk selamanya," air mata mulai mengalir di wajah Lukman.
"Ayah minta maaf kemarin-kemarin jarang bersama kalian karena Ayah punya urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi, mulai sekarang Ayah janji akan jadi seperti Ayah kalian yang dulu lagi. Kita akan selalu bersama-sama juga bersenang-senang seperti yang sudah-sudah. Kalian mau kan?"
Kedua putrinya mengangguk. Lukman mulai di atas awan. Ia menyeka air matanya sedikit untuk mempertegas kesan di hadapan kedua putrinya bahwa sang Ayah benar-benar berteman penyesalan dan tengah dalam kesedihan yang mendalam.
Hingga beberapa saat kemudian air mata itu kembali Lukman keluarkan sembari melanjutkan ucapan,
"Ta ... tapi kalau Ayah dan Bunda pisah, Ayah tidak bisa menepati janji itu. Bukan karena Ayah tidak mau, hanya saja karena keinginan Bunda yang harus memisahkan kita. Hiks.. hiks.. Ayah tidak mau berpisah dengan kalian putri cantik kesayangan Ayah hiks.. hiks.."
Dara tidak lagi dapat membendung emosi. Dara tidak habis pikir bagaimana bisa Lukman tega menggencarkan muslihat kepada anak-anaknya, darah dagingnya sendiri. Apa pencapaian ego dan ambisinya jauh lebih penting daripada kesehatan psikologis anak mereka?
Sampai hati Lukman berusaha meracuni pemikiran anak-anak sendiri dengan membual disertai air mata.
Dara akan membuka suara, menyanggah celoteh angin dari Lukman. Namun belum lagi kalimat terlontar dari mulut Dara, Azkia sudah mendahului mengutarakan argumennya,
"Ahhh. Sepertinya Ayah gak ngerti ya? bukan begitu maksud Bunda Ayah. Jadi begini, Ayah dan Adek dengarkan penjelasan Kakak ya! Bunda dan Ayah itu memang akan berpisah selamanya sebagai suami istri, jadi Ayah gak boleh tinggal satu rumah lagi sama kita. Tapi, Bunda tidak akan pernah melarang kita untuk tetap berhubungan baik dengan Ayah. Karena Ayah itu juga orangtuanya kita. Dan kewajiban anak adalah menghormati orang tua. Gitu Ayah,"
"Memangnya Kakak mau kita hidup begitu? gak satu rumah lagi? Kakak mau?" cecar Lukman tanpa mengurangi uraian air matanya. Dengan nada kesedihan yang semakin di tingkatkan.
"Kan tadi Kakak sudah bilang, sudah terjadi Ayah. Semenjak Ayah sama tante Kiki, kita memang sudah gak satu rumah lagi kan Ayah," jawaban sempurna dari Azkia. Dengan nada lembut tapi tepat sasaran.
"Iya. Ayah jangan nangis dan sedih lagi ya. Kita bakal tetap ketemu kok. Sudah ya, Adek aja gak nangis masak Ayah sudah gede nangis" Alsava mengusap lembut jejak air mata di pipi Ayahnya.
'Ahh Nak, setelah besar nanti Bunda harap kamu tidak tertipu dengan air mata palsu seperti hari ini'
Dara memandang iba pada Alsava, gadis kecilnya yang tidak tahu apa-apa itu, jadi tergores relung hatinya akibat sandiwara Ayah kandungnya. Dara bertekad mendidik dan membina anak-anaknya terkhusus Alsava agar anti di kelabui laki-laki.
__ADS_1
"Kalian anak-anak pintar yang sayang dan dekat sama Ayahnya, tidak mungkin mau pisah dari Ayah. Pasti Bunda kan yang menyuruh kalian bilang begini ke Ayah. Iya kan?"
Lukman masih bersikukuh menerapkan tipu dayanya.
"Bunda gak pernah ajarin Adek ngomong apa-apa. Kalau Kakak?" Alsava memandang Kakaknya.
"Kakak juga gak pernah di ajarin Bunda ngomong apa-apa" respon Azkia atas celotehan lugu sang Adik.
"Jadi kalian mau pisah dari Ayah? Kakak dan Adek mau kita gak serumah lagi?" Lukman mulai mengeluarkan nada tegas meninggalkan semburat kesedihannya tadi.
"Mau." Jawab Azkia dan Alsava kompak.
Lukman menggenggam erat sisi sofa tempat Ia duduk. Berusaha menyalurkan sejenak emosi bernama murka dalam dirinya. Tutur kata dari anak-anaknya membuat tabungan pilihan kata dalam otaknya lenyap menguap begitu saja. Lukman tidak lagi dapat berdalih ria.
"Ayah, sudah belum? Kakak sudah lapar nih. Kami mau sarapan di luar."
"Cacing di perut Adek juga sudah mulai bernyanyi nih"
Rengekan kedua anak perempuannya membuat Lukman mengangguk pasrah untuk menyudahi percakapan.
Melihat itu, Azkia dan Alsava bangkit riang dari duduknya. Mendekati sang Ayah, bersalaman, lalu melambaikan tangan dan melangkah ringan keluar rumah. Menghampiri Pak Saleh yang sudah siap mengemudi, mengantarkan mereka ke tempat tujuan.
"Sepertinya kamu juga harus ikut keluar dari rumah ini. Secara, pemilik dan semua penghuni resmi rumah ini akan pergi. Gak mungkin dong kamu sendirian di dalam rumah orang. Sudah jadi penjilat, tukang tipu muslihat, apa iya kamu mau di panggil perampok juga? kan hanya perampok yang masuk rumah orang tanpa izin pemilik rumah."
"Dara!" Lukman geram mendengar perintah halus dalam kata lain mengusir yang di sampaikan oleh Dara itu.
Bukannya diam, Dara malah semakin jadi menusuk batin Lukman dengan sarkas yang Ia lontarkan,
"Oh iya Mas. Ingat gak? baru aja semalam aku bilang ke kamu tentang hak asuh anak di tangan kamu itu sama halnya mimpi di siang bolong. Jadi, gimana rasanya mimpi di siang bolong? kapan-kapan ceritain ya,"
Lukman yang merasakan ngilu di ulu hatinya dengan tusukan setiap kalimat Dara akhirnya hanya bisa terdiam. Lukman pasrah, meski tidak rela, dengan berat hati Ia keluar dari rumah Dara.
Ia berdiri di depan pagar rumah Dara menyaksikan mobil yang mengantar kepergian pemilik dan penghuni rumah pergi untuk sarapan di luar.
'Sial! harusnya aku makan saja duluan sarapan yang ku buat tadi' maki Lukman pada dirinya sendiri.
Lukman sambil memegangi perutnya yang mulai keroncongan, melangkah gontai meninggalkan area kediaman Dara. Berharap ada tumpangan gratis yang bisa Ia manfaatkan mengingat dompet maupun kantong celananya nihil keberadaan lembaran uang bahkan dalam bentuk recehan.
Handphonenya juga tidak dapat di fungsikan. Karena sudah berhari-hari sejak terakhir kali digunakan, tidak lagi di isi dengan pulsa apalagi paket data.
Lukman harus terima untuk cukup mengenyangkan diri, menemani langkah kaki, dengan muslihat gagal yang Ia sesali.
Sementara di dalam mobil, Dara merangkul kedua putrinya. Ia mengelus rambut kedua putrinya dengan lemah-lembut, dengan hati tenang, dan rasa syukur yang mendalam.
'Terima kasih Rabb, di antara penderitaan yang mendera, dengan kuasa dan belas kasih-Mu, aku di beri karunia putri-putri yang baik hati. Bimbing aku menjadi orang tua tunggal yang baik dan benar dalam menjaga amanah-amanah mu ini Tuhan, hingga mereka dapat merasakan kehidupan yang bahagia di dunia juga akhirat'
Syukur berikut harapan itu, Dara hujamkan ke sanubarinya serta dengan penuh harap dan asa Ia angkasa kan kepada pemilik semesta.
Ia sertakan pula dengan segenap pengharapan kepada yang maha kuasa agar setiap usaha yang Ia rencanakan demi meraih surga untuk keluarga tercinta dapat menjadi nyata.
...***...
Dari Penulis untuk pembaca Ter❤️
Haiiii pembaca yang Budiman dimana pun berada🥰
Terimakasih yaa selalu mendukung Dara😊 Jangan lelah dan bosan untuk membersamai langkah Dara yaa hingga benar-benar mampu Merubah Neraka Menjadi Surga 🤗🤗🤗
Oh iya... selain ngasih like, favorit, hadiah, vote, dan komentarnya boleh donk bantu bagikan karya ini ke para pembaca lainnya🙏
Biar jadi makin banyak dari kita yang ikut menyemangati jalan hidup Dara🤩
Dan biar penulis makin semangat berkarya 😁
Selamat dan semangat menjalani ibadah puasa ramadhan 💪
Semoga kesehatan dan keberkahan menyertai kehidupan kita semua 🤲
❤️MNMS
__ADS_1