Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
50. Di balik musibah


__ADS_3

"Dara, tadi kamu minta maaf kenapa?" Dokter Angga beralih tanya kepada Dara.


"Itu, maaf, karena perbuatan Mas Lukman, kamu jadi harus terluka dan di rawat begini," Dara menunduk, malu teringat perbuatan minim moral yang Lukman lakukan terhadap Dokter Angga di atas namakan karena mencintainya.


"Apa kamu yang menyuruh Lukman melakukan semua ini kepadaku?" Dokter Angga masih tidak mengalihkan pandangannya dari Dara.


Mendengar pertanyaan Dokter Angga, Dara menegakkan kepalanya dari tertunduk, menatap Dokter Angga dengan tatapan teramat yakin, lalu menjawab, "Tidak. Aku bahkan tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Mas Lukman. Jika tentang anak-anak, kami berkomunikasi lewat Ummi nya"


"Lantas, atas dasar apa kamu meminta maaf?" tanya Dokter Angga lagi.


Dara mengernyitkan dahinya, 'Benar juga, untuk apa aku minta maaf? sementara aku tidak terlibat dan juga tidak melakukan kesalahan apapun terhadap Angga.' Dara bicara pada dirinya sendiri lewat pikirannya.


"Jangan jadikan kebiasaan meminta maaf kepada orang lain sementara kamu tidak berbuat salah sebagai hobi!"


Ucapan Dokter Angga membuat Dara lekas mengangguk.


"Bagaimana kamu bisa tahu aku disini?" tanya Dokter Angga.


Dara mengarahkan kepalanya ke samping kanan, tepatnya ke arah Jesika. Jesika yang sadar Dara menjawab jujur pertanyaan Dokter Angga lewat gestur, buru-buru menengadahkan kepalanya hingga bersitatap dengan Dokter Angga.


"Aku pikir Dara perlu tahu kondisi mu ini. Selain sebab sekarang kalian berteman juga karena walau bagaimanapun kamu mendapatkan luka itu karena ulah mantan suaminya. Jadi Dara lebih gampang membuat perhitungan dengan si penyebab kamu terbaring disini itu." sebelum mendapat komentar pedas dari Dokter Angga, Jesika memutuskan memberi klarifikasi terlebih dulu.


"Aku menghargai niat baikmu, terima kasih. Tapi kedepannya, jangan lagi mencampur air dengan minyak!" Dokter Angga bicara dengan tatapan tajam kepada Jesika.


Jesika yang belum paham makna dari kalimat yang Dokter Angga lafalkan, membuat Ia menampilkan raut kebingungan di wajahnya.


"Dara dan Lukman sudah bercerai. Masing-masing urusan keduanya adalah ranah pribadi yang tidak perlu saling ikut campur lagi. Apa pun yang Dara lakukan dalam hidupnya bukan tanggung jawab Lukman, begitu pula sebaliknya, termasuk perihal kecelakaan ini. Kamu paham?"


Tidak ada gertakan, tidak terlalu datar juga, meskipun juga jauh dari intonasi hangat. Namun, narasi yang disampaikan Dokter Angga kepada Jesika tadi membuat Jesika menerimanya dengan baik, Jesika mengangguk tulus.


"Mas Lukman bilang, dia akan mengurus semua biaya perawatan kamu sebagai bentuk tanggung jawab atas rasa bersalahnya," ucap Dara menyampaikan niat Lukman yang tadi dalam perdebatan mereka sempat Lukman utarakan.


"Dara, berikan saja kontak Lukman kepadaku, nanti biar aku yang langsung berurusan dengannya. Kamu jangan lagi melibatkan diri dengan hal yang bukan urusanmu," respon Dokter Angga.

__ADS_1


"Apa kamu akan membawa perkara ini ke hadapan hukum?" tanya Dara hati-hati.


"Tidak." Jawab Dokter Angga.


"Kenapa?" Dara kembali bertanya.


"Karena bagaimanapun dia adalah Ayah dari anak-anakmu dan aku tidak ingin membuat hati dua gadis kecil itu sakit atau pun sedih. Jadi tidak perlu diperpanjang lagi." Tukas Dokter Angga tenang dan sungguh-sungguh.


Mendengar bahasa yang keluar dari lisan Dokter Angga begitu, membuat rasa haru menyeruak di sanubari Dara.


"Alhamdulillah, jarang ada orang yang peduli kehidupan kita berikut keluarga dan lingkungannya. Kamu beruntung Dara, punya teman sebaik Dokter Angga" Bayu menanggapi pilihan Dokter Angga dalam menyikapi suatu permasalahan.


"Lalu? kenapa Direktur kamu juga ada disini?"


Bukannya mengapresiasi pernyataan sikap Bayu terhadapnya, Dokter Angga malah mengarahkan pertanyaan dengan nada dan riak muka sedingin es tentang keberadaan Bayu di tengah-tengah mereka.


"Kamu cemburu?" Bayu menggoda Dokter Angga.


"Cem .. bu, ru? ahh. Ada-ada saja kamu. Aku kan hanya bertanya" Dokter Angga terbata menanggapi godaan Bayu.


Dokter Angga melirik Bayu sekilas lalu lebih memilih melanjutkan menatap asal ke penjuru ruangan. Dokter Angga tengah berusaha menutupi sikap salah tingkahnya karena dugaan Bayu soal Ia cemburu, itu tidak salah. Hanya karena situasi, kondisi dan statusnya, Angga merasa tidak patut untuk mengakuinya.


"Tadi, saking khawatirnya mendengar kondisimu dari penuturan Jesika, membuat Dara shock. Sebagai partner kerja sekaligus teman yang baik, aku tidak tega membiarkannya dalam keadaan begitu kemari sendiri saja. Jadi aku memutuskan untuk mengantarnya, sekalian membesuk kamu." Terang Bayu lagi.


Bersamaan dengan rasa lega di hatinya yang telah jauh dari prasangka, Dokter Angga memandangi Bayu, Dara dan Jesika bergantian lalu kembali mengutarakan rasa terima kasihnya.


"Dara," panggil Dokter Angga.


"Ya?" jawab Dara.


"Apa kamu sudah memberikan Radit jawaban atas lamarannya?" ada gema keresahan dalam pertanyaan Dokter Angga.


"Besok, keluarganya akan kembali ke rumahku. Saat itu aku akan menjawabnya" ucap Dara mantap.

__ADS_1


"Artinya, kamu sudah memiliki jawabannya" Dokter Angga bergumam lirih.


"What? lamaran?" histeris Jesika.


Mendengar rasa terkejut berlebih dari Jesika, membuat Dara tersenyum. Dara mengusap halus puncak lengan Jesika.


"Iya. Dan aku akan menjawab lamarannya besok." Ungkap Dara kepada Jesika dengan riang.


Ada hati yang berduka merasa iba setelah mendengar serta melihat nada dan ekspresi riang juga tenang yang Dara pancarkan tatkala berbincang mengenai sebuah lamaran.


Namun apa daya. Kedukaan itu tidak boleh menyusup keluar dari relung hati demi terjaganya hubungan baik dalam sebuah pertemanan. Meski sakit dan pilu, pemilik hati yang berduka harus tegar berteman dengan perasaan yang tidak menyenangkan itu seorang diri.


"Wuiss. Apa rahasianya? aku yang masih single sejati saja belum ada yang melamar, tapi kamu? wahh kamu hebat Dara" Jesika menjabarkan sebab timbul rasa terkejutnya tadi.


"Entahlah. Aku juga tidak tahu," jawab Dara apa adanya.


"Sepertinya itu karena Dara bersikap dalam kesehariannya dengan menunjukkan batasan-batasan tertentu dalam menjalin hubungan antara lawan jenis," sela Bayu.


"Lebih rinci Pak. Maksudnya gimana tuh?" Jesika antusias menanggapi ucapan Bayu.


"Dengan kata lain, Dara menunjukkan sikap menolak untuk berpacaran. Sehingga ketika ada hati yang terpaut dengan dirinya, pemilik hati itu pun berniat memiliki, bukan sekedar mencicipi" jawab Bayu lagi.


"Ahh begitu. Ini aku bisa menebak, lanjutan kalimat dari Bapak nanti pada intinya lebih kurang mengarahkan pertanyaan ataupun pernyataan untuk tidak pacaran. Iya kan? betul begitu kan?"


Penuturan Jesika yang polos dan benar adanya membuat mereka berempat tertawa.


Ada hikmah di balik setiap musibah. Barangkali ungkapan mutiara tersebut tepat untuk menggambarkan situasi yang terjadi dalam hidup Dara kini.


Siapa sangka, Jesika si gadis yang tidak dikenal dan pernah menyerang Dara sebagai pelampiasan luapan amarah akibat tidak terima hubungan pacarannya dengan Dokter Angga berakhir, kini malah berbagi gelak tawa dengan Dara.


Jika tanpa musibah yang Dokter Angga alami, belum tentu Jesika pun Dara akan dapat membuka hati keduanya untuk menjalin keakraban layaknya teman. Berangkat dari rasa prihatin kepada teman yang sedang mengalami musibah pula sebagai penggerak Dara dan Jesika melupakan masamnya kejadian di masa lalu untuk di ubah menjadi manisnya sebuah ikatan pertemanan.


Dan berawal dari tugas sebagai seorang insan yang saling menjaga dan mengingatkan, mereka berempat kini berbincang hangat. Hingga salah satu perawat masuk dan mengingatkan bahwa jam besuk sudah lama berakhir.

__ADS_1


Demi mendukung masa pemulihan Dokter Angga, ketiganya rela tidak rela menyudahi obrolan menyenangkan di antara mereka. Setelah pamit dengan Dokter Angga, mereka pun beranjak meninggalkan ruang perawatan. Memberi waktu bagi sang Dokter yang kini bergelar pasien untuk beristirahat dengan nyaman. Dengan harapan, agar mereka dapat lekas menyambung pertemuan hangat menyenangkan seperti yang terjadi barusan.


... ***...


__ADS_2