Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
Interogasi


__ADS_3

"Rani, kamu mau jelasin sendiri di sini atau kita ke sana?"


Dara dan Rani tersentak terkejut mendengar ucapan Lusi tersebut.


Dara terkejut karena Lusi begitu to the point langsung ke inti permasalahan bahkan tanpa terlebih dahulu membiarkan Rani menikmati hidangan pesanannya.


Sedangkan Rani terkejut terhadap kalimat dari Lusi yang mengandung opsi menawarkan Rani untuk bicara sesuatu yang bahkan Rani sendiri belum yakin tentang apa itu.


Pilihan nya bicara di cafe tempat mereka menikmati sore saat ini atau di seberang cafe.


'Jika di sana yang di maksud Bu Lusi adalah kantor polisi itu, maka artinya besar kemungkinan Bu Lusi tahu yang aku lakukan di belakang Bu Dara selama ini'


Demikian narasi yang berseliweran di pikiran Rani.


Rani meremasi jemarinya yang mulai lembab karena keringat mulai membanjiri tubuhnya yang tiba-tiba bersuhu hangat sekaligus dingin.


...***...


Dara terlihat tenang, dan mulai menikmati menu di hadapannya, sepotong kue cokelat yang terlihat menggugah selera dan minuman berwarna ungu dengan toping keju serta cokelat yang melimpah.


Lusi menyeruput minuman pesanan miliknya dengan tidak sabar. Meletakkan kedua tangannya di atas meja lalu menatap Rani dengan tatapan yang tajam kemudian berkata,


"Sekali lagi aku tanya. Kamu mau jelasin sendiri di sini atau kita ke sana? kalau kamu hanya diam saja artinya kita ke sana, ke kantor polisi!"


"A..am..pun, maaf maafkan saya Bu maaf"


Bibir Rani bergetar, air mata mulai membasahi wajah nya yang pucat pasi. Kedua tangannya Ia tangkupkan perlambang sebuah permohonan.


Rani mengarahkan kedua telapak tangan nya yang saling bertangkupan itu bergantian ke arah Dara kemudian Lusi.


"Minta maaf untuk apa Rani?" Tanya Dara tenang.


"hikks.... hiksss..." Air mata Rani belum berhenti malah makin menjadi.


"Minum lah dulu, tarik nafas dan keluarkan perlahan. Jika memang ada yang harus kamu ceritakan kami ingin hal itu kamu sampaikan dengan tenang, jujur dan detail" Jelas Dara.


Rani mengangguk, menghapus buliran air matanya dengan ujung jilbab yang Ia kenakan lalu perlahan meminum minuman pesanannya.


Lusi terlihat gusar tidak sabar menunggu Rani menyatakan kebenaran yang Ia dan Dara perlu ketahui.


Pasca kejadian di labrak nya Dara oleh perempuan tak di kenal yang mengaku sebagai tunangan dokter Angga, Lusi mulai menganalisa setiap kemungkinan yang bisa di duga sebagai sebab terjadinya peristiwa itu.

__ADS_1


Mengingat photo-photo kebersamaan antara dokter Angga dan Dara yang di atas namakan si perempuan tak di kenal sebagai bukti Dara menggoda dokter Angga membuat Lusi hampir pasti meyakini bukti palsu berupa photo tersebut di peroleh oleh tunangan dokter Angga melalui Rani karena hanya Rani yang paling besar peluang untuk melakukan itu semua sebab selama menjalani terapi di tempat dokter Angga bekerja itu Dara selalu di temani oleh Rani.


Saat Lusi berinisiatif untuk menginterogasi Rani, Dara yang tidak suka pada tindakan semena-mena tunangan dokter Angga terhadap nya tanpa pikir panjang menyetujui hal tersebut.


Dan disini lah mereka sekarang. Berusaha menguak sebuah kebenaran dari seorang perempuan desa bernama Rani.


...***...


Rani menggeser hingga beberapa kilan gelas berisi minuman yang belum setengahnya Ia nikmati. Selanjutnya Ia melanjutkan intruksi Dara padanya tadi yakni, menarik nafas dan kemudian di buang perlahan.


"Bu Dara, maafkan saya, sebenarnya selama ini saya di suruh memata-matai Ibu. Saya di minta untuk melihat, mendengarkan, dan mendokumentasikan setiap kegiatan Ibu baik di rumah maupun di luar rumah" Ucap Rani sambil sesekali menatap Dara dan Lusi.


"Siapa yang kasih perintah itu ke kamu?" Tanya Lusi mengintimidasi.


"Mbak Kiki Bu" Tanpa pikir panjang Rani sigap menjawab.


Dara dan Lusi tanpa aba-aba kompak saling berpandangan lalu serentak mengangguk. Mereka seakan saling membaca pikiran satu sama lain atau memang karena kedua perempuan yang bersahabat itu sudah sehati sehingga pikiran dan hati mereka sama-sama bermonolog, 'tuh kan Kiki'.


"Lalu bagaimana dengan kejadian tempo hari?" Tanya Lusi bersemangat tanpa mengurangi aura interogasi di raut wajah dan sikap nya.


"Soal itu saya benar-benar tidak tahu Bu. Hanya saja saat itu oleh mbak Kiki saya di suruh mengirimkan posisi terkini Bu Dara ke kontak yang di kirim mbak Kiki, nama kontak yang di kirim mbak Kiki itu Mila"


Rani merogoh handphone di kantong rok nya kemudian menyerahkan handphone tersebut yang menunjukkan rincian kontak bernama Mila.


"Kenapa?" Dara bertanya dengan nada lembut sekaligus prihatin kepada Rani.


"Ya Bu?" Rani kembali bertanya demi memperjelas maksud pertanyaan Dara tadi.


"Kenapa kamu mau melakukan semua perintah Kiki itu?" Jawab sekaligus tanya Dara pada Rani kembali.


"Begini Bu, Mbak Kiki memohon izin kepada orang tua saya untuk mengajak saya ke kota ini agar saya bisa kuliah dan sambil kerja sama mbak Kiki tapi ternyata waktu sampai di rumahnya mbak Kiki bilang sebelum membiayai dan mengurus kuliah saya, saya nya harus ngelakuin semua perintah mbak Kiki dulu kalau saya menolak mbak Kiki akan memulangkan saya ke desa dan bahkan akan bakal bilang ke orang tua saya kalau saya gak jadi di kuliahin dan juga gak di kasih kerja karena saya mencuri di rumah mbak Kiki, terus mbak Kiki bilang lagi bahwa dia bisa saja membuat saya benar-benar seperti seorang pencuri"


Rani mengela nafas sejenak kemudian melanjutkan jabaran penjelasannya,


"Saya kasihan sama orang tua saya di desa Bu, mereka benar-benar berharap dan percaya saya disini kuliah dan juga kerja. Jadi saya mencoba berani untuk menerima dan melakukan perintah mbak Kiki. Sekali lagi maafkan saya Bu, saya gak tahu kalau ternyata akan jadi begini. Maaf Bu"


Rani kembali menangis bahkan kali ini ketika menyampaikan permintaan maaf suaranya sempat tercekat dan dada nya ber-sedu sedan akibat isak tangisnya yang tidak berkesudahan.


"Terus kalau kamu tahu akan terjadi begini menurut kamu apa kamu mampu menolak perintah Kiki tadi?" Sinis Lusi.


Rani terdiam, tertunduk.

__ADS_1


"Sudah" Pinta Dara pada Lusi.


Rasa kesal yang Dara rasakan akibat perlakuan kasar dari tunangan dokter Angga tempo hari mendadak memudar setelah mendengar penuturan Rani.


'Bagaimanapun, Rani hanya korban. Korban janji manis dan bahkan korban ancaman dari Kiki' Terang Dara pada jiwa nya.


...***...


"Sebenarnya selain di minta untuk memata-matai, mbak Kiki juga menyuruh saya melakukan hal lain Bu" Di sela tangis Rani kembali bersuara.


"Apa?"


Jawab Dara dan Lusi serempak meski dengan intonasi yang tak kompak. Dara dengan lemah lembut sementara Lusi dengan nada tingi.


"Mbak Kiki bilang setiap hari saya harus memberi dan memastikan bahwa Bu Dara mesti minum vitamin dari mbak Kiki" Terang Rani.


"Vitamin?" Dara bingung.


"Iya vitamin. Tapi saya gak pernah kasih vitamin itu ke Bu Dara karena saya takut terjadi apa-apa sebab pas mbak Kiki kasih vitamin itu ke saya kebetulan dia lagi terima telepon dari temannya yang nama nya Mila dan saya sempat dengar mbak Kiki bilang gini ke temannya itu, 'Oke Mila, gak lama lagi good bye deh tu Dara'. Jadi saya gak pernah berani kasih vitamin pemberian mbak Kiki itu ke Ibu. Sekali lagi mohon maafkan semua kesalahan saya Bu"


Rani tertunduk malu, lesu, pandangan matanya kuyu Isak tangis nya semakin sendu.


"Rani, kamu saya maafkan" Ucap Dara.


"A..apa? Bu terimakasih Bu, terimakasih" Rani bahagia seakan tak percaya sementara air mata masih membasahi pipinya.


"Tapi dengan syarat!" Tegas Dara.


"Ya Bu. Baik Bu, apa pun syaratnya akan saya terima Bu asalkan Ibu berkenan memaafkan saya yang tidak pantas di kasihani ini. Saya sadar yang saya lakukan ke Ibu salah, saya sadar saya tidak tahu diri, sudah Ibu perlakukan dengan sangat baik selama ini tapi saya malah..... maaf Bu"


Lidah Rani serasa kelu untuk kembali melafalkan perbuatan tercela nya terhadap Dara selama ini.


Sebenarnya ada rasa khawatir, ragu terlebih sakit setiap Rani melaksanakan perintah Kiki mengingat bagaimana baik nya perlakuan Dara terhadap dirinya selama ini sehingga Rani terkadang merasa seperti mendapat keluarga baru ketimbang seorang majikan.


"Syaratnya, yang pertama mohon ampun kepada Tuhan. Yang kedua, tetap lakukan perintah Kiki dengan catatan, kamu konfirmasi dulu ke aku semua hal berkaitan perintah yang Kiki berikan dan yang ketiga, kuliah lah! aku akan bantu biaya dan lain-lainnya" Ucap Dara.


"Dara?" Lusi menaikkan bahunya dengan air muka yang menunjukkan kebingungan.


Dara hanya mengangguk lalu mengusap-usap punggung sahabatnya itu agar yang bersangkutan dapat sedikit lebih tenang dan menghindari emosi berlebihan.


Rani berdiri dari duduknya kemudian berlari kecil menghampiri Dara lalu memeluk kedua kaki Dara yang berada di kursi roda.

__ADS_1


"Terima kasih Bu, terima kasih" Ungkap Rani yang hatinya sedang di penuhi rasa syukur.


...***...


__ADS_2