Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
21. Pasca liburan dadakan


__ADS_3

Mobil milik Dara telah terparkir sempurna di pelataran depan rumah nya yang luas tepat di sebelah mobil golongan mewah berwarna hitam yang sangat Dara kenali kepemilikannya.


"Ayah..." Teriak Alsava yang segera berlari menyongsong sang Ayah sesaat setelah di turunkan dari gendongan oleh Rani.


Itu adalah suara dari pemilik mobil yang Dara kenali. Sekaligus laki-laki yang di panggil Ayah oleh anak-anak nya.


Laki-laki yang sekian bulan ini acuh terhadap Dara berikut anak-anak mereka. Laki-laki yang semenjak memiliki istri muda tidak pernah memenuhi nafkah lahir batin nya untuk istri pertama beserta anak-anak mereka. Dia adalah Lukman.


Alsava sudah berada dalam pangkuan Lukman yang sedang duduk di kursi yang terletak di teras depan rumah. Setelah menciumi pipi sang putri, Lukman berdiri tanpa melepas si gadis bungsu mereka dalam gendongannya.


Ada yang lain dalam tatapan mata Lukman. Begitu pula dengan sorot wajah nya yang terlihat kaku bahkan mendekati seram.


"Hebat. Luar biasa. Sudah jelas cacat bukan nya diam aja di rumah fokus urus anak tapi malah keluyuran gak karuan"


Semua yang ada di sana terhenyak mendengar bahasa sarkas dari seorang suami yang tertuju untuk sang Istri.


"Kalian! Laki-Laki tidak punya harga diri ya? pergi membawa istri orang tanpa permisi lengkap dengan anak-anaknya pula. Ah jangan-jangan pasti kalian kategori laki-laki kaum kere yang matre sehingga sengaja memanfaatkan perempuan cacat untuk membiayai perjalanan kalian!"


Lukman mencerca dengan hardikan sambil melangkah mendekati Radit dan dokter Angga yang berdiri bersisian di belakang Dara.


Sebelum pulang ke rumah masing-masing Radit dan Dokter Angga memang sengaja mampir terlebih dahulu di rumah Dara. Bermaksud memastikan Dara, anak-anak, mbok Inem dan Rani sampai ke rumah dengan selamat sebagai bentuk penghargaan sebagai sesama teman. Siapa sangka malah di sambut dengan hardikan penuh tuduhan sarat kebencian dari Lukman.


"Dara! Sebagai seorang Ibu apa kamu tidak malu dengan anak-anak mu bepergian tanpa izin suami bersama laki-laki asing? Seharusnya tidak aku percayakan anak-anak ku dengan perempuan tidak terhormat seperti mu!" Maki Lukman sambil menunjuk-nunjuk muka Dara.


Alsava yang dalam gendongan Lukman menangis meronta ingin di turunkan namun tanpa perasaan tiada Lukman hiraukan.


Dara sekuat tenaga menahan bendungan air di mata nya agar tidak meleleh menyapa kedua pipi nya. Lukman tidak boleh melihat air mata yang keluar dari kedua matanya adalah tangisan kepedihan dari luka seorang istri yang di perlakukan semena-mena.


"Hentikan Mas! dan turunkan Alsava. Kita bicarakan semua baik-baik" Tegas Dara.


"Hahahaha" Lukman tertawa sinis.


"Bicara baik-baik? tidak ada yang ingin aku bicarakan dengan perempuan rendah seperti mu!" Sambung Lukman kembali.


"Asal kamu tahu ya Dara, hampir satu jam aku menunggu tanpa kejelasan disini hanya untuk menemui anak-anak ku lalu kamu ingin aku berpisah dengan mereka begitu saja? hah? tidak Dara. Tidak akan!"


Lukman semakin mendekap erat Alsava yang dalam gendongan nya tanpa menghiraukan bagaimana gadis kecil itu meronta ingin di turunkan dengan tangisan yang sedari tadi makin menjadi-jadi.


"Mas sadar! sikap mu itu menyakiti Alsava. Aku tidak bilang agar kamu berpisah dari anak-anak. Tapi lihat lah sikap mu ini membuat anak-anak ketakutan. Silahkan bersama anak-anak setelah kamu meredakan emosi mu yang tidak karuan itu" Pinta Dara sambil menahan emosi.


"Kamu yang harus nya sadar! suami mana yang tidak emosi melihat istri nya pergi tanpa pamit bersama laki-laki asing yang tidak jelas asal-usulnya membawa serta anak-anak pula. Kalau terjadi apa-apa bagaimana hah? Apa kamu lupa bahwa kamu itu cacat! kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa jika terjadi hal buruk pada anak-anak ku!"


"Sini. Bawa dia ke sini!"


Lusi berupaya melepaskan Alsava yang masih terus menangis dari gendongan Lukman. Sementara Sultan, suami nya menolong usaha Lusi dengan memegangi kedua pundak Lukman dari belakang.


"Mbok inem, Rani bawa anak-anak ke dalam!" Titah Dara.


Mbok Inem yang menggendong Faatir, putra Lusi dan Sultan tergopoh menggandeng Azkia, putri sulung Dara. Rani sigap menerima Alsava dari gendongan Lusi. Mereka bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan situasi memanas yang akan berdampak buruk bagi perkembangan anak-anak.

__ADS_1


"Kamu juga Lusi. Sebagai sahabat bukannya mengingatkan dan mengawasi tindak-tanduk Dara tapi malah ikut serta dengan kegilaannya" Lukman kini menyerang Lusi.


Lusi maju mendekati Lukman. Dengan berkacak pinggang dan wajah yang di dongakkan Ia pandangi dengan tatapan tajam wajah Lukman kemudian berkata,


"Bergumul dengan perempuan rendahan seperti Kiki membuat keaslian watak mu terlihat ya Mas. Seharusnya kamu mendengarkan sendiri setiap kalimat yang kamu ucapkan, khas layaknya orang tidak berpendidikan. Tidak tahu malu!"


Dara menggerakkan tuas di kursi roda nya, maju bergerak menuju Lusi kemudian menggamit tangan Lusi. Sehingga mereka melangkah mundur beberapa jarak dari hadapan Lukman.


"Kamu lihat ini Mas!" Dara menunjukkan layar handphone nya ke arah Lukman.


...***...


"Apa kamu tidak menerima pesan yang aku kirim kan? walaupun kamu telah jelas lalai dengan setiap kewajiban mu sebagai seorang Suami sekaligus seorang Ayah tapi aku, sama sekali tidak pernah melanggar aturan keseharian sepatutnya seorang Istri" Tukas Dara.


Deg.


Ada yang terasa berdenyut di ulu hati Lukman. Telak, sindiran Dara menghujam perasaan nya.


Lukman meraih handphone yang di hadapkan oleh Dara kepadanya. Ia scroll tampilan dari aplikasi pesan singkat di media sosial WA tersebut. Raut muka Lukman menunjukkan aura terkejut yang tidak dapat di sembunyikan.


Bagaimana tidak. Dalam aplikasi yang Ia pandangi seksama tersebut terdapat setiap pesan yang Dara kirim ke nomor WA nya tentang berbagai hal; keinginan anak-anak, tumbuh kembang mereka bahkan rincian keterangan setiap perjalanan yang Dara lakukan. Termasuk mengenai liburan dadakan yang mereka lakukan beberapa saat yang lalu.


'Dugaan ku selama ini sepertinya benar. Setiap pesan yang aku kirim ke Mas Lukman ternyata memang sudah di sabotase oleh Kiki' Monolog Dara.


Lukman menyerahkan kembali handphone milik Dara.


Kebingungan melanda dirinya. Setiap pesan yang Dara kirim tidak semuanya yang Ia terima. Pikiran nya mulai melanglang buana. Hatinya mulai di landa prasangka.


'Apa mungkin ini ulah nya Kiki? sebab selain aku sendiri hanya dia yang memegang HP ini' Gumam Lukman dalam sanubari nya.


"Untuk kamu ketahui Mas, mereka bukan orang asing. Mereka adalah teman-teman sekaligus rekan melukis ku dan dokter ortopedi ku. Dalam beberapa pesan yang pernah aku kirim untuk mu pun sudah ku jabarkan secara singkat perihal mereka" Arah mata Dara tertuju pada Radit dan Dokter Angga.


Lukman mengikuti arah pandangan Dara. Tanpa mampu berkata apa-apa, bibirnya kelu.


Dara selanjutnya memegang erat tangan Lusi lalu kembali menatap Lukman dan lantang berkata,


"Dan sahabat ku ini memang gila. Karena sudi meluangkan waktu, pikiran, tenaga dan segenap hati nya untuk sekedar memperdulikan kondisi istri mu yang cacat ini di saat kamu asyik berbahagia dengan istri muda kebanggaan mu itu!"


Lukman meneguk paksa saliva nya.


Sementara Dara tidak lagi mampu membendung air mata nya. Perbuatan memalukan yang baru saja Lukman lakukan dan sekelabat peristiwa demi peristiwa menyakitkan yang Lukman torehkan di hidup nya membuat luka yang pedih nya selama ini Dara pendam serasa kembali menganga dan di sirami air cuka, perih.


"Apa yang sudah kamu lakukan terhadap teman-teman ku tadi adalah sebuah kesalahan Mas. Prasangka buruk sudah membuat mu bertindak gegabah dan lancang. Jadi, silahkan minta maaf. Aku mengatakan nya semata demi marwah diri mu sendiri"


Pinta Dara lembut namun penuh ketegasan. Air mata yang mengalir di kedua pipinya sudah Ia seka.


"Apa? jadi kamu lebih membela teman-teman mu ini daripada aku suami mu?!" Lukman kembali meninggikan suara nya.


Bergantian Lukman pandangi satu-satu yang ada di sana. Sultan, Lusi, Radit, dan Dokter Angga. Dara menghela nafas panjang berusaha menahan amarah.

__ADS_1


"Sudah lah Dara. Abaikan saja. Kami juga maklum kok dengan tindakan konyol nya itu. Bagaimana pun itu respon wajar walaupun berlebihan dari seseorang yang merasa akan kehilangan sesuatu yang berharga" Radit menyahut.


Bughh.


Satu pukulan mendarat di salah satu pipi milik Radit.


"Argghhh" Lusi berteriak terkejut.


"Heiii, Kamu!" Geram Dokter Angga.


Dokter Angga melangkah maju mendekati Lukman yang sudah membuat Radit terjerembab akibat pukulannya.


Dokter Angga sudah mengepalkan tinju nya ke arah wajah Lukman yang Ia cengkram kerah kemeja nya. Wajah Dokter Angga yang sejatinya sudah dingin dari sono nya terlihat semakin angker dengan amarah yang terlihat di tahannya sedari tadi.


Dugg.


Lukman terjatuh. Dokter Angga lebih memilih menghempaskan tubuh Lukman begitu saja ke paving blok area pelataran halaman rumah Dara daripada harus mengotori tangannya dengan meninggalkan jejak babak belur di wajah Lukman.


Lukman bangkit kemudian berjalan cepat dan menarik pundak Dokter Angga yang membelakanginya.


"Berani ya kamu" Teriak Lukman.


Kepalan tangan Lukman yang hendak menyerang wajah Dokter Angga tertahan oleh cengkraman kuat di pergelangan tangannya. Dokter Angga melepas kasar cengkraman nya itu dari pergelangan tangan Lukman.


"Cukup. Ini bukan ring tinju" Ucap Dokter Angga tegas.


Lukman masih belum berhenti. Ia membusungkan dada dan berkacak pinggang di depan Dokter Angga.


"Pasal 351 dalam KUHP bahwa; Satu, penganiayaan di hukum dengan hukuman penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya dengan jumlah denda sesuai aturan. Kedua, jika perbuatan itu menjadikan luka berat, si tersalah di hukum penjara selama-lamanya lima tahun. Ketiga, jika perbuatan itu menjadikan mati orangnya, dia di hukum penjara selama-lamanya tujuh tahun. Dan terakhir, dengan penganiayaan yang demikian dapat disamakan merusak kesehatan orang dengan sengaja. Jadi silahkan berhenti atau kita lanjutkan semua ke meja hijau" Terang Sultan.


Sultan paham mengenai aturan dan hukum karena suami Lusi itu merupakan salah satu jaksa kondang kenamaan seantero kota.


Lukman tampak terdiam. Kalimat Sultan membuat nya mundur teratur dari hadapan Dokter Angga.


Lusi sedari tadi beranjak dari sisi Dara untuk memastikan kondisi Radit yang mendapat bogem mentah dari Lukman. Mereka bertiga bersama pak Saleh kini duduk di paving blok. Memerhatikan setiap detail kejadian di hadapan mereka.


"Berhenti lah semakin mempermalukan diri mu sendiri. Pergi lah dari sini Mas!" Suara Dara penuh penekanan. Ia pandangi Lukman dengan kerling mata penuh kekesalan dan kecewa yang mendalam.


Lukman mendengus kesal. Lalu masuk ke dalam mobilnya dan berlalu meninggalkan rumah Dara tanpa sepatah kata pun.


...***...


Haiii para pembaca yang Budiman, terima kasih ya atas dukungan nya untuk penulis baik lewat like, hadiah, komentar, maupun vote.


Besar harapan Penulis agar para readers tidak bosan membaca karya ini, mengajak yang lain ikut membaca serta bersedia meninggalkan jejak cinta berupa like, hadiah, komentar, maupun vote. Hehehehe


Semangat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Sehat dan bahagia selalu untuk kita semua. Agar terhindar dari bencana neraka seperti yang Dara rasa😁


❤️MNMS

__ADS_1


__ADS_2