
Tok. Tok. Tok.
Suara palu milik hakim menggema di ruang sidang.
Tes. Tes. Tes. Tes.
Bersamaan dengan itu buliran air yang berasa hangat turut menetes. Tetesan air mata itu bersumber dari beberapa pasang mata.
'Ya Rabb .. nasib anak-anak ku' monolog Rita, Jiddah dari anak-anak Dara.
Ummi Lukman itu mengusap air matanya dengan sapu tangan. Namun air mata yang terhapus tidak membuat kesedihannya menghilang maupun berkurang. Rasa kehilangan justru semakin menambah kesedihan hati di sanubarinya.
Cairan bening hangat yang membasahi pipi mantan Kakak Ipar Dara, kehangatannya mulai berkurang akibat air mata yang tumpang tindih melebur banyak tak dapat di ukur. Dingin dari jejak air matanya menjalar ke lubuk hati, menyusuri ruang kalbu yang di penuhi kegundahan.
'Terimakasih untuk semua kebaikanmu Dara. Apa keluarga ini akan sehangat saat kamu menjadi bagian dari kami,'
Lukman, duduk lunglai di hadapan hakim yang satu per satu mulai beranjak dari kursi kebesaran pemutus perkara. Ia genggam penuh sayang cincin pernikahan, yang meski Ia sudah beristrikan Kiki tidak sekalipun pernah dilepaskan dari sematan jari manisnya.
Lukman tidak peduli dengan prinsip orang pada umumnya bahwa sebagai seorang lelaki pantang untuk meneteskan air mata, apalagi di tempat khalayak ramai.
Bagi Lukman, saat ini hanya tangisan saja yang dapat mengeluarkan secuil penderitaan di dalam jiwanya. Betapa keputusan hakim telah membuat dadanya sungguh sesak oleh luka, kecewa, kesal, iba, dan yang teramat banyak mendominasi adalah, rasa penyesalan.
'Kenapa harus berakhir begini? bagaimana aku akan hidup tanpa kalian. maafkan kebodohan ku. Aku bodoh. Aku salah. Dara sayang, kamu yang terbaik hanya kamu.'
Bersama monolognya, air mata yang membasahi wajah tampan Lukman ikut menyertai, tiada kunjung berhenti malah kian menjadi-jadi hingga tubuh kekarnya ikut berguncang.
Dara memandangi ujung jarinya yang basah oleh usapan air dari kedua matanya.
'Air mata, ini adalah kali terakhirmu keluar disebabkan berurusan dengan Lukman. Jika terakhir kali kau keluar akibat kepedihan, maka sekarang adalah karena keharuan. Rasa haru yang tidak dapat di bendung sebab akhirnya setelah melewati jalannya sidang yang panjang dan cukup berliku, aku terbebas dari belenggu pernikahan yang kehilangan nilai sakral. Aku lepas dari genggaman lelaki yang tidak menghargai makna cinta suci.'
Dara seka lagi sudut lembap yang mengeluarkan bulir bening dari manik kedua matanya.
'Terimakasih Tuhan. Akhirnya semua semakin menemukan titik terang. Jalanku masih panjang, dalam kesendirian ini mohon iringi setiap langkahku wahai sang penguasa alam' ungkap Dara teruntuk yang Maha Esa lewat hatinya.
...***...
Di depan pintu ruangan, Lukman yang lebih dahulu meninggalkan ruang sidang tersebut tengah menunggu seseorang.
__ADS_1
"Dara," Lukman menghentikan langkah perempuan yang di tunggunya itu.
"Apa lagi Mas?" tanya Dara malas.
"Tolong dengarkan aku untuk kali ini saja. Terserah kamu mau menanggapinya bagaimana yang penting dengarkan saja dulu. Aku mohon Dara" Lukman memelas.
"Hmmm, sampaikan saja" tukas Dara acuh.
"Aku salah sudah menyakiti dan menelantarkan kamu demi perempuan lain. Dan bahkan atas perbuatan itu, aku tidak pantas mendapatkan maaf darimu. Namun bagaimanapun juga aku ingin minta maaf. Maafkan aku Dara, maaf. Selamat atas hak asuh anak, untuk kesekian kalinya aku kembali menunjukkan ketidakbecusan ku menjadi seorang Ayah. Setelah ini aku bertekad akan menjadi sosok Ayah yang baik demi anak-anak kita. Hiks .. hiks .. jaga dirimu, jaga kesehatan. A .. aku masih sangat mencintai mu Dara hiks .. hiks .."
Dara menghela nafas.
"Mas, tidak perlu banyak janji maupun narasi. Kamu cukup membuktikannya saja. Sekarang mari lupakan semua yang pernah terjadi di antara kita dan terpenting lagi, hilangkan perasaanmu itu! hubungan kamu dan aku saat ini hanya sebatas orang tua dari anak-anak kita, tidak lebih!" Tegas Dara.
"Ya, aku tidak berharap lebih. Aku hanya ingin menyampaikannya. Sampai kapanpun cinta dan sayangku di hati ini hanya untukmu Dara," lirih Lukman.
"Mas?" Kiki menepuk halus lengan Lukman.
Sudah dari beberapa waktu lalu perempuan itu berdiri di belakang Lukman. Hanya saja mantan istri yang mengisi pikiran dan hati membuat Lukman tidak menyadari kehadiran Kiki yang ikut mendengar beberapa kalimat Lukman terhadap Dara. Dan Kiki terluka mendengarnya.
Kehidupan menjadi ibu dari para bayi kembar tanpa bantuan pengasuh seperti sebelumnya, bagi Kiki yang mulai mencicipi kehidupan dengan kelimpahan materi pasti cukup melelahkan. Buktinya, dari penampilannya begitu kentara Kiki tidak sempat berdandan lebih dari biasanya. Kesan mewah yang melekat dari kesehariannya berubah jadi tampilan seadanya.
Dalam kepergiannya meninggalkan Lukman dan Kiki, Dara berpapasan dengan Adik Lukman yang menggendong salah satu bayi kembar Lukman.
"Hati-hati Kak," ucapnya tulus sambil mengangguk takzim. Dara pun hanya membalas dengan senyum tipis dan anggukan.
...***...
"Nak Dara," sapa Rita, Umminya Lukman.
Dara yang sedang berdiri berhadapan dengan Lusi di depan bangunan Pengadilan Agama, mendengar sapaan dari suara yang Ia hafal siapa pemiliknya itu, spontan mengalihkan diri kepada pemilik suara.
"Ya Ummi?" sapa Dara pula.
"Maaf, bisakah Ummi bicara berdua saja dengan Kamu?" pinta Ummi Rita hati-hati.
Dara sekilas memandangi Lusi. Yang di pandang seakan mengerti bahwa sahabatnya itu sedang meminta pendapat dan atau persetujuan. Lusi menganggukkan kepalanya, lambang ungkapan agar Dara memenuhi permintaan mantan mertuanya itu.
__ADS_1
Di antar oleh Lusi, kini Ummi Rita dan Dara sudah berada di sebuah cafe. Mereka duduk berhadapan berdua. Sementara Lusi memilih menunggu mereka di dalam mobil.
"Ummi, silahkan. Ummi mau bicara apa?"
Setelah cukup lama saling berdiam diri, Dara memutuskan memulai pembicaraan dengan langsung ke inti permasalahan.
"Hikss .. hiksss .. hikss .. "
Bukan jawaban yang Dara terima dari lawan bicara melainkan sebuah tangisan. Tidak ingin salah tindakan, Dara menunggu saja hingga sang mantan mertua menghentikan isak pilu tangisan dengan sendirinya.
Ummi menyeka air matanya dengan sapu tangan miliknya. Ia menarik nafas panjang kemudian perlahan menghembuskannya, mencari ketenangan agar dapat leluasa memulai pembicaraan.
"Nak Dara, maafkan sikap Ummi selama ini. Khususnya perlakuan Ummi yang tidak peduli terhadap kondisimu semenjak Lukman menikahi Kiki. Ummi dan keluarga benar-benar terperdaya dengan sikap lemah lembut, sopan santun, dan perhatian yang Kiki tunjukkan. Sehingga Ummi buta dan tuli dari penderitaan mu akibat ulah mereka. Ummi benar-benar malu sebagai seorang mertua Nak," air mata kembali berdesakan hendak keluar dari pelupuk mata Ummi Rita.
"Maafkan Ummi yang tidak mampu mendidik Lukman dengan benar sehingga dia berani dan tega menyakiti hati istrinya. Maafkan Ummi atas luka yang kamu rasa darinya Nak," air mata itu akhirnya kehilangan pertahanan, lolos menyusuri sudut mata Ummi Rita hingga ke ujung dagunya.
"Maafkan Ummi Nak. hiks ... terimakasih selama menjadi istri Lukman, kamu sudah menjaganya dengan baik. Terimakasih selama kalian berumah tangga, kamu sudah menjadi Ibu yang baik untuk cucu-cucu Ummi. Maafkan Ummi dan Lukman ya Nak," Ummi Rita mengakhiri narasinya dengan air mata yang di biarkan mengalir begitu saja.
"Semua sudah berlalu Ummi. Sampai sebelum menikah lagi, Mas Lukman adalah suami dan Ayah yang baik bagi keluarganya. Hanya saja setelah mengenal Kiki, Mas Lukman entah kehilangan, atau memang menemukan jati diri yang sesungguhnya. Ummi tidak gagal dalam mendidik Mas Lukman hanya Mas Lukman saja yang tidak memperkokoh benteng keimanannya."
Dara mengusap lembut punggung tangan mantan mertuanya. Ketulusan dari ucapannya mengalir dan terasa sejuk di kalbu Ummi Rita.
"Ummi tidak akan pernah meminta kamu kembali rujuk kepada Lukman. Karena Ummi sadar, bahwa Lukman sama sekali tidak pantas bersanding dengan perempuan sebaik kamu. Juga jalur hukum yang kamu tempuh untuk mengembalikan hak perusahaan yang sudah di korupsinya, Ummi pun tidak melarang. Lakukan dan lanjutkan lah! mungkin dengan cara begitu Lukman bisa insyaf dan kembali menjadi pribadi yang benar," ada getir yang mati-matian Ummi selipkan dari setiap kalimatnya.
"Namun, Ummi minta sama Kamu. Mohon jangan pisahkan kami dengan Azkia dan Alsava ya Nak,"
Ummi Rita menunduk sambil memegangi dadanya yang serasa sesak membayangkan kedua cucunya tidak lagi milik mereka seutuhnya. Menyadari kedua anak Lukman itu harus jadi korban perceraian membuat kesedihan Ummi Rita semakin dalam.
"Ummi, yang bercerai adalah Dara dan Mas Lukman selaku suami istri. Soal anak dan hubungan kekeluargaan antara keluarga Ummi dengan Azkia juga Alsava, tetap tiada yang berubah Ummi. Yang mampu hakim putuskan adalah ikatan pernikahan bukan pertalian darah! jadi Ummi tidak perlu mencemaskan hal itu ya,"
Mendengar pernyataan Dara, Ummi Rita tersenyum lega. Meski air mata tidak mampu Ia bendung lajunya.
"Kamu adalah menantu terbaik Ummi Nak" ungkap Ummi Rita tulus.
Satu peristiwa dalam putusan akhir sidang perceraian antara Dara dan Lukman telah mengundang banyak ragam air mata.
...***...
__ADS_1