
Semua kecuali Radit terperangah melihat ke sumber suara setelah mendengar Dara bergumam, tamu misterius?
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh" suara halus dan lembut seorang perempuan terdengar dari belakang laki-laki yang di labeli oleh Dara dengan tamu misterius.
Tidak lama kemudian, perempuan berbalut kebaya anggun, se-anggun aura pemakainya sudah berdiri tepat di samping tamu misterius yang mengenakan setelan jas. Mereka berdua tampak serasi. Aura wibawa melingkupi keduanya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh" sahutan serempak dari Dara, Lusi, Dokter Angga, dan Radit menjawab salam.
"Masuk," Dara mempersilahkan kedua tamunya masuk.
Kedua tamu tersebut mengambil tempat tepat masing-masing bersisian mengapit Radit.
"Aku ke belakang, nyamperin Mbok Inem dulu," bisik Lusi di telinga Dara. Dara mengangguk seiring beranjak nya Lusi untuk menemui Mbok Inem, berniat memberitahukan bahwa Dara kedatangan tamu lagi.
"Dengan Bapak dan Ibu siapa ya?" tanya Dara sopan kepada kedua tamu di rumahnya yang baru saja Ia persilahkan masuk meski sama sekali belum Ia ketahui identitasnya.
"Perkenalkan, saya Vega Wulandari, Maminya Radit." Perempuan anggun yang mengucap salam tadi memperkenalkan dirinya dengan santun. Ia ulurkan tangan dengan gemulainya kepada Dara.
Mendengar perkenalan dari perempuan pemilik muka sejuk di pandang tersebut, Dara ikut menyebutkan namanya sendiri. Setelah selesai saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing, Dara bergumam di dalam hatinya, 'jika Ibu ini Maminya Radit apa berarti tamu misterius yang bersamanya itu adalah Papi Radit?"
Seakan mendengar pun mengetahui isi hati Dara, tamu misterius yang di maksud ikut mengulurkan tangannya kepada Dara.
"Dan, ya. Saya Papinya Radit. Perkenalkan, Kusnan." Tegas si tamu misterius.
Dara mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tenang, berusaha menutupi rasa terkejutnya mengetahui kebenaran bahwa sang tamu misterius ternyata adalah Papi Radit.
Sesaat setelah saling berkenalan, "Ehemm," Pak Kusnan berdehem.
Lama setelahnya Dara menunggu Pak Kusnan untuk bicara. Sebab sering kali Dara temui biasanya setelah berdehem seseorang akan memulai percakapan. Tapi tidak dengan tamunya yang satu ini. Pak Kusnan malah kembali mengulang untuk berdehem.
Saat berdehem yang ketiga kalinya, Dara mengikuti arah sudut mata Pak Kusnan dalam memandang. Ahh. Sepertinya Dara mulai mengerti maksud berdehem yang berkepanjangan itu.
"Mmm, Pak, Bu, kenalkan, ini teman saya dan Radit, namanya Angga." Dara memperkenalkan yang menjadi pusat perhatian dari sudut mata Pak Kusnan, sekaligus yang menjadi sebab sumber pak Kusnan berulang kali berdehem.
Mendengar hal tersebut, Dokter Angga dengan tenang menjabat tangan kedua tamu Dara lalu menyebutkan namanya sendiri, memperkenalkan diri sebagaimana yang Dara maksudkan.
"Teman ya? saya pikir keluarga Nak Dara. Sebab jika keluarga akan tepat jika kami mulai menyampaikan maksud dan tujuan kami kesini tapi jika bukan ..." Pak Kusnan sengaja membuat kalimatnya tergantung.
Benar saja, sebagai seseorang yang di maksudkan dalam isi kalimat Pak Kusnan, Dokter Angga sadar diri harus bertindak bagaimana.
"Dara, aku lihat anak-anak dulu ya, mau menepati janji tadi kepada mereka," ungkap Dokter Angga dengan suara perlahan.
"Iya," jawab Dara sambil tersenyum sungkan karena tidak enak hati temannya harus terusir secara halus oleh tamunya.
"Bapak, Ibu, saya permisi dulu. Silahkan lanjutkan obrolannya," Dokter Angga berdiri lalu menganggukkan kepalanya sebagai tanda pamit undur diri kepada pasangan suami istri di hadapannya.
Menanggapi ucapan Dokter Angga, Pak Kusnan merentangkan tangan kanannya, simbol mempersilahkan.
Tidak lama Dokter Angga dengan sadar diri pergi meninggalkan ruang tamu, Mbok Inem dan Rani datang beriringan setelahnya.
"Silahkan, di minum dan di santap hidangannya, Pak, Bu," ucap Mbok Inem.
Sebelum ikut meninggalkan ruang tamu, Mbok Inem berbisik di telinga Dara,
"Tamu misteriusnya ternyata memang mirip seseorang toh, mirip Den Radit,"
"Papinya," Dara balas berbisik dengan sangat pelan kepada Mbok Inem.
Sambil mengangguk-angguk setelah mendengar bisikan Dara, Mbok Inem pergi meninggalkan ruangan tamu.
"Nak Dara, sebelumnya Saya ingin meminta maaf atas peristiwa beberapa hari lalu. Kunjungan saya yang bersifat mendadak dengan membawa kesan yang tidak baik pastinya telah memberi ketidaknyamanan terhadap Nak Dara," Pak Kusnan mulai angkat bicara lewat nostalgia peristiwa beberapa hari yang lalu saat Ia menjadi seorang tamu yang misterius.
__ADS_1
"Ini seperti akan terdengar sebagai pembelaan, namun kenyataannya memang saya hanya tua dari segi umur, tapi tidak dalam cara memandang hidup dan sekitar. Hingga akhirnya melalui pertemuan singkat kita tempo hari, Nak Dara telah menyadarkan saya bahwa tindakan saya dalam menilai strata sosial seseorang berdasarkan egoisme saya sendiri itu salah. Oleh karenanya sekali lagi saya harap Nak Dara berkenan memaafkan," sambung Pak Kusnan lagi.
"Bagaimana Nak Dara?" Pak Kusnan bertanya halus.
"Sebenarnya tidak perlu meminta maaf begini Pak, karena tidak ada yang bisa melarang bagaimana seseorang harus menerapkan pola pikirnya dalam menilai sesuatu. Saya maklum kok Pak dengan peristiwa tersebut," ujar Dara tenang.
"Kalau begitu, saya ingin berterima kasih. Terima kasih karena meski saat itu saya tentunya telah menyinggung perasaan Nak Dara, namun Nak Dara dengan tenang dan santun memberi saya pengajaran bahwa menilai orang lain itu hak masing-masing dari kita, tapi menghakimi kehidupannya bukan wewenang orang lain." Pak Kusnan memandang Dara dengan serius.
"Berangkat dari perbincangan kita tempo hari, saya mempertimbangkan keinginan Radit terhadap Nak Dara yang ..." pelan, Pak Kusnan kembali menyambung narasinya meski terhenti sebab Vega, Maminya Radit menepuk pelan paha sang suami hingga Pak Kusnan urung melanjutkan narasinya.
"Nak Dara, sebelum kesini kami sudah bertanya kepada beberapa orang yang kami nilai mumpuni di bidangnya berkenaan hal yang akan kami maksudkan nanti. Jadi berdasarkan pandangan yang kami dapat dari beberapa orang tersebut, maksud kedatangan kami harus saya yang menyampaikannya," Vega beberapa kali menepuk-nepuk pelan dagunya yang berkeringat.
"Maaf Bu, saya tidak mengerti maksud kalimat Ibu tadi" tukas Dara menyampaikan kebingungannya.
Vega mengatur kembali posisi duduknya hingga menemukan posisi nyaman tanpa mengurangi keanggunannya.
"Begini, dari Radit kami mengetahui bahwa Nak Dara merupakan anak tunggal dari kedua mendiang orang tua Nak Dara. Dan nak Dara tidak punya anggota keluarga lainnya selain daripada anak-anak Nak Dara yang masih kecil. Dengan kondisi Nak Dara yang demikian, menurut pandangan beberapa ahli agama bahwa selaku pihak perempuan dari laki-laki yang mengajukan lamaran, saya harus menyampaikan maksud tersebut kepada yang di lamar,"
Penjelasan dari Vega sudah cukup jelas tapi ada rasa tidak yakin dan kurang percaya yang mengharuskan Dara kembali melempar tanya.
"Maksudnya bagaimana ini Bu?" Dara tersenyum kecil agar tidak melukai perasaan tamunya yang sedari tadi Dara sodori ketidaktahuan.
"Nak Dara, saya dan Papinya Radit ingin melamar Nak Dara sebagai istri dari anak tunggal kami ini, Radit." Tegas Vega.
"Ya Dara, aku ingin mempersunting ka ..." Radit yang duduk di antara kedua orang tuanya hendak bicara namun lagi-lagi di sela oleh Vega lewat tepukan halus di lengan Radit.
"Ingat, dengan kondisi Dara yang begini, harus pihak perempuan yang menyampaikan maksud. Itu kata orang yang paham tata cara melamar lho," Vega mengingatkan Radit.
Pak Kusnan pun ikut memberi peringatan kepada Radit lewat sikutan kecil darinya.
"Maaf ya Nak Dara, atas kecanggungan kami. Karena jujur, ini kali pertama bagi kami melamar seorang perempuan untuk anak kami."
Dara yang sedari tadi berusaha tenang untuk menutupi rasa terkejutnya atas pernyataan lamaran dari Mami Radit mengangguk, lalu meminum minuman yang Mbok Inem sajikan untuk mereka tadi.
"Semoga kecanggungan kita ini tidak mempengaruhi jawaban Nak Dara ya," ucap Mami Radit lembut.
"Dan beberapa bingkisan yang kami bawa tadi bukanlah bentuk dari seserahan kami Nak, melainkan sekedar sebagai buah tangan untuk Nak Dara dan anak-anak Nak Dara, semoga Nak Dara suka dengan apa-apa yang sudah Radit pilihkan itu ya," tutur Mami Radit lagi.
"Mengenai pernyataan saya tadi, bahwasanya sebagai seorang orang tua yang menginginkan kebahagiaan anaknya, saya dan Papinya Radit berharap Radit akan mendapatkan jawaban baik dari Nak Dara," Vega menundukkan kepalanya kepada Dara kemudian menatap Dara dengan penuh harap.
Radit dan Papinya tampak gusar menunggu respon dari Dara. Sama gusarnya dengan Lusi, Dokter Angga dan Mbok Inem yang mencuri dengar pembicaraan di ruang tamu dari ruang tengah.
Mereka yang sedang menguping menyadari perbuatan mereka bukanlah tindakan terpuji. Namun berangkat dari rasa khawatir jika Dara akan kembali mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Pak Kusnan, membuat pencuri dengar pembicaraan terpaksa melakukannya. Selanjutnya rasa penasaran mengunci gerak mereka untuk menyudahi aktivitas menguping tersebut.
"Pak, Bu, Radit. Sebelumnya terima kasih atas kedatangan dan pemberian buah tangannya. Begitu pula dengan maksud hajat yang sudah Ibu sampaikan, terima kasih atas niat baiknya," Dara yang lama terdiam mulai angkat bicara dengan tenang.
"Mengenai jawaban atas hajat yang Ibu sampaikan tadi, izinkan saya memberikan jawabannya setelah berpikir terlebih dahulu ya Bu, beri saya tempo waktu satu minggu dari sekarang baru nanti setelahnya saya akan memberi jawaban," lanjut Dara dengan tenang.
"Syukurlah," sahut Pak Kusnan pelan.
"Kok syukur sih Pi, ini aku di gantung lho Pi," Radit menimpali sahutan Papinya dengan suara yang tak kalah pelan.
"Setidaknya kamu tidak di tolak mentah-mentah." Tukas Pak Kusnan lagi.
Pak Kusnan segera mencubit pelan pinggang Radit ketika di rasanya sang putra semata wayang akan menimpali ucapannya. Radit yang akan bicara pun hanya meringis menerima cubitan kecil dari Papinya.
"Baik Nak Dara. Kami akan menunggu keputusan Nak Dara tersebut. Semoga jawaban yang akan Nak Dara berikan kepada kami berujung sama baiknya bagi kita semua ya Nak," respon Vega.
Vega lalu saling berpandangan dengan suaminya. Tidak lama berpandangan, Vega kembali bersuara.
"Baik Nak, karena hajat sudah di sampaikan dan sudah di respon, kami pikir kami mesti pamit undur diri dari sini agar tidak menggangu aktivitas Nak Dara lebih lama lagi,"
__ADS_1
"Ya Nak Dara, kami pamit dulu. Terima kasih atas respon baiknya. Semoga kita kembali berjumpa dalam suasana yang baik," Pak Kusnan menyambung kalimat istrinya.
Dara menganggukkan kepalanya. Lalu melihat Vega dan Pak Kusnan berdiri, Dara pun ikut berdiri. Lalu menerima uluran tangan masing-masing dari mereka untuk saling berjabat tangan.
Vega menepuk pundak Radit yang masih duduk.
"Ayo, kita pulang" ucap Vega.
"Lho? Mami sama Papi duluan aja. Radit masih mau ngobrol sama Dara dulu," jawab Radit.
Vega kembali menepuk pundak anaknya.
"Huss, gak boleh begitu. Kamu juga harus ikut kami pulang. Urusan kita sudah selesai," Vega mengingatkan sang putra.
"Kita kan beda mobil Mi, gak apa-apa Mami sama Papi aja duluan, ya?" Radit memelas.
"Radit." Vega menyebut nama anaknya dengan tegas. Hal tersebut berhasil membuat Radit ikut berdiri lalu berjabat tangan dengan Dara.
"Aku pulang dulu ya, selamat istirahat, selamat beraktivitas," ucap Radit pada Dara. Dara mengangguk dan tersenyum menanggapinya.
Beberapa langkah beranjak dari ruang tamu, Radit berhenti dan kembali melihat Dara.
"Salam buat anak-anak," ucap Radit lagi.
"Iya," jawab Dara.
Hingga akhirnya keluarga Kusnan benar-benar telah hilang dari pandangan mata Dara, meninggalkan rumahnya, Dara sontak merebahkan tubuhnya ke atas sofa.
...***...
"Apa-apaan barusan? di lamar?" Dara bergumam seorang diri.
"Iya. Gila! kamu baru saja di lamar Dara!" seru Lusi.
Mendapati Lusi tiba-tiba sudah ikut duduk di sampingnya, Dara mengelus dadanya akibat terkejut.
"Kamu? kamu tuh kebiasaan ya, pasti menguping kan?" Dara memelototi Lusi.
Lusi menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal lalu tersenyum cengengesan.
"Aneh gak sih Si?" beberapa saat kemudian Dara bertanya.
"Apanya?" Lusi balik bertanya.
"Kejadian tadi ini," Dara sudah menyandarkan kepalanya di sofa. Matanya memandang langit-langit ruang tamu. Satu-satu adegan yang baru saja terjadi dengannya seakan terpampang jelas dalam pandangannya.
"Gak aneh sih. Apanya yang aneh? secara norma karena kamu tidak punya pihak keluarga lain, cara mereka melamar kamu sudah benar, melalui pihak perempuan laki-laki yang melamar, ya Maminya Radit langsung. Terus mereka ngasih buah tangan juga sah-sah dan normal aja sih, mmm tindakan ala-ala arak-arakan Radit tadi memang di luar akal nalar manusia pada umumnya sih, tapi gak aneh juga karena itu kan bagian dari bukti cintanya ke kamu kali ya? jadi apanya yang aneh?"
Lusi duduk bersila di atas sofa sambil mengingat-ingat peristiwa yang baru saja terjadi terhadap sahabatnya.
"Mmm, Papi Radit yang minta maaf sekaligus berterima kasih? juga gak aneh. Bagus malah, artinya beliau berjiwa kesatria. Meski berusia lebih tua tapi sedia mengakui kesalahan dan mengapresiasi orang lain walaupun lebih muda dari dirinya. Gak ada yang aneh sih? emang menurut kamu apa yang aneh?" lanjut Lusi.
Dara mencerna, lalu menyepakati pendapat Lusi dalam diam.
"Di lamar, itu yang aneh" Dara memandang Lusi.
"Apa yang aneh dengan di lamar?" Lusi bingung.
"Aneh aja, karena yang melamar aku ini Radit, teman kita sendiri" jawab Dara.
"Daripada mikir antara hubungan pertemanan dengan lamaran yang menimbulkan keanehan, mending kamu mulai berpikir deh, jawaban apa yang bakal kamu kasih ke mereka?" pungkas Lusi yang membuat Dara diam seketika.
__ADS_1
...***...