
Suara tepuk tangan riuh menggema dalam sebuah ruangan kantor. Satu per satu pemegang saham sekaligus peserta rapat keluar dari ruangan tersebut setelah sebelumnya memberi ucapan selamat kepada Direktur perusahaan terpilih.
Tinggal Dara dan Direktur terpilih di ruangan tersebut.
"Selamat ya Paman. Aku yakin Paman akan amanah" Dara bersalaman dengan seorang lelaki berusia kisaran lima puluh tahun ke atas.
"Aamiin. Selamat juga buat Nak Dara yang keinginannya sudah terpenuhi" jawab Direktur terpilih.
Mereka beriringan berjalan menyusuri ruangan demi ruangan di kantor pasca meninggalkan ruang rapat. Hingga sampai di sebuah ruangan dengan dua keterangan di sisi atas pintunya. Yang tercetak jelas dalam ukiran pada papan.
Keterangan pertama dari papan kayu itu bertuliskan Komisaris Utama. Di bawahnya menunjukkan keterangan dari tulisan papan di atasnya yakni Dara Herlambang.
"Tolong bawakan minuman seperti biasanya untukku dan Pak Nugroho" pinta Dara pada seseorang melalui panggilan dari telepon yang terletak di atas meja kerjanya.
"Apa Paman masih belum ikhlas menolong ku?" Dara bernada seolah merajuk.
Dara melangkah menjauhi meja kerja. Mengambil tempat untuk duduk di sebuah sofa tunggal yang bersisian dengan sofa tamu tempat lawan bicaranya duduk, yaitu Pak Nugroho.
"Ikhlas Nak. Hanya saja Paman masih belum mengerti jalan pikiranmu. Kenapa harus menginginkan Paman yang sudah renta ini untuk menjadi Direktur perusahaan. Sementara kamu sendiri bisa jadi Direkturnya"
"Ku mohon Paman jangan berusaha mengerti jalan pikiranku. Nanti sesat gimana? soalnya jalan pikiranku ini berputar-putar rumit dan ribet lho Paman"
Guyonan Dara membuat Pak Nugroho tertawa renyah.
Melihat tawa Pak Nugroho sudah berhenti Dara kembali melanjutkan narasinya,
"Walaupun bisa, aku tidak ingin serakah dengan mengemban dua kursi kepemimpinan Paman. Sudah jadi Komisaris Utama terus jadi Direktur pula. Dan bagiku yang tidak memiliki pertalian darah dengan siapapun selain putri-putriku, Paman selaku sahabat karib kedua orang tuaku adalah sosok yang tepat untuk mengelola perusahaan ini. Terlebih lagi Paman adalah orang yang langsung menyaksikan perjuangan almarhum Ayah dan almarhumah Ibu dalam membangun perusahaan ini"
"Benarkah hanya karena itu?" tanya Pak Nugroho penuh selidik.
"Hehehe Paman tahu saja kalau ada yang aku sembunyikan. Jadi tidak salah kan aku menunjuk Paman untuk menjadi Direktur. Paman terbukti sangat peka dengan sekitarnya" Ujar Dara yakin.
"Jadi Nak, katakanlah apa maksud tersembunyi lainnya" pinta Pak Nugroho santun.
"Aku ingin Mas Lukman merasa kesal dan sakit hati!. Bahwa posisinya sebagai Direktur di gantikan secara tidak hormat oleh orang lain. Yang notabenenya penggantinya itu selain tidak punya hubungan darah dengan ku selaku pemilik perusahaan juga bukan siapa-siapa statusnya dalam hidupku. Tapi sanggup membawa perkembangan pesat pada perusahaan jauh dari kemampuan Mas Lukman sendiri. Namun sungguhpun begitu, aku benar-benar yakin Paman adalah orang yang tepat untuk membantu ku dalam menjalankan perusahaan yang berharga bagi kedua mendiang orang tuaku ini"
Pak Nugroho seksama mendengar pengakuan Dara.
"Satu hal yang harus kamu ingat Nak, bahwa Paman sudah tidak muda lagi. Sebaik-baiknya seusia Paman ini hanya fokus memikirkan urusan akhirat. Hanya saja karena Paman sudah menganggap kamu seperti anak sendiri dan dengan kemalangan yang menimpamu oleh karenanya Paman bersedia kamu tunjuk menjadi Direktur disini. Bukan berarti Paman sepakat dengan niatan mu untuk membuat Lukman sakit hati. Itu sama saja dengan balas dendam. Dan tidak ada yang baik tentang balas dendam. Kamu hanya akan seperti seorang kehausan yang meminum air lautan. Dahaga mu tidak akan kunjung hilang sementara tubuhmu akan lelah kecapaian"
Tutur Pak Nugroho santun dan lemah lembut tanpa terasa mengintimidasi namun kentara terasa aura wibawanya.
Seorang office girl meletakkan minuman untuk Dara dan Pak Nugroho ke atas meja di hadapan mereka.
Setelah mempersilahkan kedua bosnya minum minuman yang telah di sediakan, si office girl dengan sopan pamit keluar dari ruangan Dara.
Dara dan pak Nugroho bersamaan meneguk minuman yang telah di hidangkan.
"Nak, hal yang manusiawi jika hati mu retak akibat di khianati sedemikian rupa. Namun jangan sampai hati itu kamu patahkan dengan menutup diri dari rasa percaya terhadap orang lain. Ingat, jangan karena nila setitik rusak susu sebelanga. Satu Laki-laki matang yang khianat bukan berarti semua laki-laki matang lainnya sama. Buka mata dan pintu hati untuk menerima calon Direktur layak lainnya. Sampai saat itu tiba, Paman akan terus membantumu lewat tanggung jawab dengan posisi Direktur ini" pungkas Pak Nugroho kembali.
"Ya Paman. Terimakasih atas bantuan Paman hari ini dan juga sebelumnya" ungkap Dara tulus.
__ADS_1
"Tidak perlu begitu Nak. Detail laporan mengenai perkembangan dan keuangan perusahaan yang kamu minta beberapa waktu lalu, toh memang sudah tanggung jawab Paman sebagai salah satu dewan pengawas untuk menyerahkannya kepadamu sebagai owner perusahaan" terang Pak Nugroho.
"Aku sudah membuat pengaduan ke pihak yang berwajib atas dasar laporan yang Paman serahkan itu" tutur Dara.
"Apa itu artinya kamu melaporkan dan menuntut ganti rugi atas kecurangan yang di lakukan Lukman selama menjabat di perusahaan ini?" tanya Pak Nugroho.
Dara mengangguk mengiyakan.
"Semoga proses hukumnya berjalan lancar sesuai harapan. Yang utama, semoga kamu melakukannya murni bertindak sebagai seorang Komisaris Utama tanpa ada embel-embel ingin membalas sakit hati apa lagi dendam"
Setelah berucap begitu Pak Nugroho kembali menyesap minuman miliknya. Sementara Dara hanya terdiam menelaah setiap kalimat dari Pak Nugroho.
Kriing.
Dering telepon di meja kerja Dara membuat Ia bangkit berdiri untuk menerima panggilan tersebut.
"Baik. Persilahkan dia masuk!" titah Dara pada orang di ujung telepon.
...***...
"Mas Lukman" ucap Dara pada pak Nugroho. Secara tersirat menjelaskan maksud dari panggilan telepon yang di terimanya.
"Baik. Bicara lah. Paman akan pamit dari sini dan kembali ke ruang kerja Paman"
Pak Nugroho yang sebaya dengan Ayah Dara itu berdiri dari sofa lalu sedikit membungkukkan badannya ke hadapan Dara. Ia keluar dari ruangan milik sang Komisaris Utama.
"Dara! aku terima jika kamu ingin aku berhenti dari posisi Direktur. Tapi apa harus dengan cara yang memalukan diriku begini? semua pemilik saham saat ini menganggap ku rendah dan tidak ada artinya Dara. Lalu, kenapa harus Pak Nugroho? apa tidak ada orang lain selain dia? Bagaimanapun dia itu tidak punya hubungan apa-apa denganmu"
Kalimat Lukman Ia sampaikan dengan nada penuh kekesalan. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan.
"Jawab aku Dara" pinta Lukman dengan gusar.
"Oh. Sudah selesai mengeluhnya?"
Dara bangkit dari kursi kerjanya lalu berjalan anggun ke hadapan Lukman yang berdiri di samping meja kerjanya.
"Kamu pikir kamu siapa sehingga pantas mendapatkan perlakuan terhormat? dan ingat ini baik-baik ya saudara Lukman, aku adalah Dara Herlambang pemilik perusahaan ini. Apa pun yang ingin aku lakukan terhadap perusahaanku bukan urusanmu! termasuk soal pengganti posisi mu!" desis Dara sinis dengan tatapan dingin.
Lukman meneguk paksa salivanya. Ia merasa tertampar dengan semua ucapan Dara. Untuk kesekian kalinya sebagai seorang manusia khususnya laki-laki Lukman merasa tidak berharga.
"Baiklah. Lupakan soal itu. Tapi sekian kalinya aku mohon pertimbangkan kembali keinginanmu untuk bercerai Dara. Aku bersedia melakukan apa saja asal jangan perceraian"
Lukman menangkupkan kedua telapak tangannya ke dada. Sebagai penyempurna keseriusan permohonan yang Ia sampaikan.
"Oh ya? lalu apa saja yang sudah kamu lakukan demi tidak bercerai dariku?" cemeeh Dara.
Ada rasa menusuk di hati Lukman mendapati perlakuan sinis dan merendahkan dari Dara yang pernah dan masih mengisi relung hatinya dengan cinta.
"Maafkan aku Dara. Untuk saat ini aku tidak bisa berbuat banyak untuk membuktikan kalau aku tidak ingin bercerai darimu. Coba kamu pikir bagaimana aku bisa berbuat lebih jika langkah kakiku sudah kamu matikan" Lukman menghiba.
"Bicara yang jelas! Apa maksud mu!" hardik Dara.
__ADS_1
"Dara, aku kamu pecat secara tidak hormat. Semua ATM dan kartu kredit ku kamu blokir. Belum lagi selama sekian bulan ini aku terpaksa di sibukkan dengan urusan ke pihak kepolisian karena laporanmu terhadapku. Jadi bagaimana aku bisa menunjukkan keseriusan ku ingin mempertahankan rumah tangga kita jika gerak ku kamu batasi begini?"
"Itu urusanmu" Sinis Dara.
"Dara, kamu harus tahu bukannya aku tidak ada usaha untuk menemuimu juga anak-anak tapi arghhhh bagaimana aku harus mengatakannya" Lukman terlihat frustasi.
"Begini, mobil, motor dan beberapa barang berharga yang aku miliki sudah habis terjual untuk membayar hutang acara akikah anakku dan Kiki. Juga untuk menutupi kebutuhan hidup selama ini. Bahkan saat ini kami tinggal di rumah Ummi. Karena aku tidak mampu meneruskan cicilan rumah yang kami tempati sebelumnya. Kesini saja aku pakai ojek. Jadi dengan kondisiku yang begini bagaimana bisa aku wara-wiri menemuimu dan anak-anak untuk menunjukkan harapanku untuk tetap mempertahankan rumah tangga kita" Jelas Lukman.
"Lagi-Lagi itu bukan urusanku Mas!" Dara benar-benar terlihat acuh dan tidak peduli.
Buggghh.
Lukman menjatuhkan dirinya ke hadapan Dara. Ia berlutut.
"Dara, mohon maafkan setiap kesalahanku padamu dan anak-anak. Jika pun kalian tidak bisa memaafkanku, aku mohon dengan sangat jangan biarkan hubungan kita semakin hancur dengan perceraian. Walaupun kalian memandangku dengan penuh kebencian itu akan lebih baik. Aku tidak mengapa. Sampai kapanpun aku rela begitu. Karena aku pantas menerimanya. Asal jangan biarkan keluarga kita berantakan. Anak-anak kita masih kecil Dara. Aku mohon Dara. Aku mohon. Semua hukuman yang kamu berikan padaku aku siap menanggungnya. Bahkan jika kamu suguhkan aku neraka sekalipun aku akan terima tapi jangan perceraian Dara. Mohon maafkan aku. Mohon buka pintu hatimu. Aku janji bersungguh-sungguh untuk kembali menjadi suami dan Ayah yang baik bagi keluarga kita. Jangan biarkan keluarga kita hancur sayang"
Lelehan bening dari mata Lukman membasahi pipinya. Kini Ia tertunduk dan terisak.
Dara tidak bergeming. Di pandanginya laki-laki yang benar-benar telah kehilangan harga diri dengan berlutut di hadapannya itu.
Dara menatap nanar ke arah jendela besar yang terbuat dari kaca di ruangan kerjanya. Momen kebersamaan meniti rumah tangga hampir tiga belas tahun lamanya menyeruak dalam ingatan Dara.
Semuanya sempurna tanpa cela hingga setahun terakhir ini. Manisnya kehidupan berumah tangga seketika berasa pahit oleh nektar yang di hadirkan orang ketiga.
Dara tidak ingin mengingat kembali hal menyakitkan itu. Ia menghela nafas kemudian bersuara,
"Rumah tangga kita sudah hancur berantakan semenjak kamu berselingkuh dengan Kiki yang kamu persunting karena sudah hamil duluan itu Mas. Pasti kamu mengira aku tidak tahu apa-apa soal itu bukan? sehingga tanpa malu kamu lebih mengutamakan kehadiran anak laki-lakimu dan abai terhadap para anak gadis kita. Selama ini aku hanya diam demi melihat kesadaran dari dirimu sendiri Mas. Tapi aku akhirnya mengerti, jika manusia sudah mabuk dengan kenistaan sulit baginya menyadari kesalahan. Jika saja dari awal kamu jujur dan sedikit menghargai posisiku sebagai seorang istri meskipun cacat mungkin sakit yang ku rasa tidak seperih ini Mas. Tapi sudah lah. Semua sudah berlalu. Jika pun kamu ku maafkan, kita jelas tidak bisa mengarungi biduk rumah tangga seperti sedia kala. Karena yang tersisa di hatiku untukmu hanya rasa iba. Iba karena menuruti nafsu duniawimu kamu harus kehilangan semua yang berharga. Lagipula terlalu naif jika aku harus memaklumi apa lagi memaafkan pengkhianatan dan perlakuan kalian. Jadi terima saja hasil dari angin yang kamu sebar. Bagaimanapun, proses perceraian akan tetap berjalan!"
Bahu Lukman semakin hebat berguncang. Meski tanpa suara berlebih namun lirih isak tangisnya cukup mengundang rasa iba.
Sekian menit calon pasangan bercerai itu hanya saling diam tanpa suara.
Lukman larut dalam penyesalan dan kesedihannya. Sementara Dara menata hati demi menghalau rasa goyah dari kata berpisah akibat iba memandangi sang suami yang hidupnya mulai nelangsa.
Sesaat kemudian Lukman menyeka buliran air mata yang membasahi pipinya. Ia bangkit. Lalu berulang kali membungkukkan dirinya kepada Dara.
"Maafkan aku. Maafkan aku" demikian ucap Lukman setiap membungkukkan tubuhnya.
Setelah puas bertingkah begitu, Lukman dengan salah tingkah memberanikan diri memandang Dara dengan penuh pengharapan.
"Dara, untuk sekali ini, bisakah kamu pinjamkan aku uang. Cukup untuk ongkos ojek ku pulang ke rumah Ummi saja. Maafkan aku yang tidak tahu malu ini tapi aku benar-benar tidak tahu harus mengadu kepada siapa" Lukman membenamkan kepalanya teramat dalam. Ia tertunduk malu.
Bagaimanapun laki-laki yang tengah berdiri kaku di hadapan Dara itu pernah mewarnai hari-harinya dengan keindahan cinta dan kasih sayang. Relung hati Dara tetap ikut berdenyut sakit menyaksikan kehancuran demi kehancuran sang calon mantan.
Dara menggapai tasnya. Namun tiba-tiba Sekretarisnya, Nailah menyeruak masuk ke ruangan tanpa aba-aba atau pun ketukan pintu terlebih dulu.
"Maaf Bu. Ini mendesak" Lapor Nailah terengah-engah.
"Ada apa?" Tuntut Dara.
"Ada keributan di ruang bermain Bu" Jawab Nailah.
__ADS_1
'Ruang bermain? astaga! Alsava. Alsavaku ada di sana' monolog Dara.
...***...