Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
48. Bangunlah!


__ADS_3

Dara menutup mulut dengan kedua tangannya. Membekap jeritan terkejut bercampur khawatir atas kondisi Dokter Angga.


"Bersimbah darah?" suara Dara bergetar mengulang diksi Jesika.


Jesika mengangguk. Ada raut iba yang terpatri di wajah cantiknya, teringat kondisi Dokter Angga.


"Sekarang Angga masih dalam perawatan. Sampai dia siuman, aku minta kamu jauhi mantan suami mu dari Angga!" seru Jesika kembali.


"Iya. Jesika, perkenankan aku membesuk Angga. Ya?" pinta Dara kepada Jesika.


"Huh! kamu tahu bahwa aku bukan siapa-siapa lagi bagi Angga. Jadi tidak perlu meminta izin ku untuk menjenguknya. Hanya saja, sebagai orang yang pernah dekat dengannya aku tidak ingin terjadi hal buruk lagi terhadapnya. Kamu harus pahami itu!" Jesika memberi titah.


"Ya. Baik," tanpa berpikir keras, Dara mengiyakan setiap ucapan Jesika.


Dara bangkit dari kursinya namun sejurus kemudian, Ia gontai dan nyaris jatuh ke lantai jika saja Jesika tidak cekatan menangkapnya.


"Dara," Bayu mendekat ke sisi kedua perempuan yang tengah duduk bersebelahan di atas sofa. Lalu tanpa berkata apa-apa Ia tinggalkan kedua perempuan itu.


"Kamu ini kenapa sih? kamu sakit? kalau sakit harusnya bukan menjenguk tapi di jenguk. Ada-ada saja," Jesika menggerutu.


Dalam desis omelan nya, tangan Jesika meraba dahi Dara lalu meraba pula dahinya sendiri.


"Sama saja, gak panas kok" gumam Jesika.


"Sepertinya Dara shock mendengar penjelasan mu tadi Nona,"


Bayu datang membawa segelas teh hangat di tangannya. Ia menyerahkan minuman tersebut kepada Jesika.


"Coba di minum-kan dulu ke Dara," pinta Bayu pada Jesika.


Jesika yang menerima gelas tersebut berkata dengan nada sekenanya,


"Aisss, nih Dara! minum dulu, biar kamu agak rileks." Jesika perlahan dan penuh kehati-hatian mengarahkan minuman tersebut kepada Dara.


Benar kata Bayu bahwa Dara shock mendengar kabar berita tentang Dokter Angga. Sehingga sekedar untuk menyanggah juga menolak menerima perlakuan Jesika terhadapnya, Dara seakan kehabisan daya tenaga. Dengan patuh Dara mau tidak mau mengikuti arahan Jesika.


"Aku gak apa-apa. Mungkin benar hanya sedikit kaget," Dara berusaha berdiri.


"Eh, jangan begini Dara. Muka kamu masih pucat. Kamu mau kemana?" Jesika menahan Dara agar tidak dulu bergerak aktif.


"Jesika, aku ingin menjenguk Angga" Dara memelas.


Jesika tanpa sadar memandang Bayu, seakan minta pendapat kepada pemuda itu atas keinginan yang Dara sampaikan dengan kondisi kesehatan Dara yang cukup mengundang rasa cemas.


Bayu membalas pandangan Jesika dengan riak muka sedang berpikir.


"Dara, mengingat kondisi mu saat ini, bagaimana jika Kakak yang mengantarkan mu ke tempat Angga?" tawar Bayu.

__ADS_1


"Ya Kak, ada baiknya juga begitu. Jesika, tidak masalah bukan jika aku menjenguk Angga bersama Kak Bayu? Angga dan Kak Bayu juga sudah saling mengenal," Dara memandang Jesika di sampingnya.


"Dara, Angga kan bukan siapa-siapa nya aku. Kenapa sih kamu hobi sekali meminta izin soal Angga kepadaku? silahkan saja jika ada orang lain yang ingin menjenguknya" pungkas Jesika cuek.


"Maaf, sebelumnya kita belum berkenalan. Kenalkan, nama saya Bayu. Saya adalah Direktur di perusahaan ini,"


Bayu mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, pengganti sebuah jabatan tangan. Penting dan perlu bagi Bayu untuk memperkenalkan diri kehadapan perempuan dengan temperamen tinggi bernama Jesika tersebut.


Selain karena norma dan etika juga demi lancarnya komunikasi diantara mereka mengingat, dalam beberapa waktu ke depan mereka akan bersama membesuk Angga. Setidaknya juga bila sudah saling kenal, Bayu tidak canggung jika diharuskan menegur Jesika saat sarkas terhadap Dara, demikian pula pertimbangan Bayu.


Jesika yang terperangah melihatnya. Mengangguk berulang kali. Dengan gaya yang sama Ia mengatupkan kedua telapak tangannya lalu menyebutkan namanya sendiri.


'Zaman sekarang, ada pemuda yang menolak bersalaman dengan model papan atas seperti ku? dia yang terlalu kaku? atau aku yang kurang terkenal?' dalam benaknya, Jesika berkomentar.


Menggunakan mobil Bayu, kini mereka bertiga sudah sampai di pelataran rumah sakit.


Jesika menepuk pundak Dara. "Santai Dara, Angga memang terluka dan di rawat tapi bukan berarti kamu harus menunjukkan ekspresi sedih seakan kehilangan begitu," tukas Jesika.


"Astaga. Aku tidak tahu kalau raut mukaku sampai sebegitunya. Aku hanya merasa .." Dara mengomentari kalimat Jesika.


"Hanya merasa apa?" tanya Jesika. Mereka berdua saling mensejajarkan langkah menuju ruangan Dokter Angga di rawat.


"Bukan apa-apa," sahut Dara asal.


"Kamu merasa gak enak hati ya? karena ulah mantan suami mu, Angga jadi celaka. Ya kan?"


Mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan dari Jesika itu, Dara hanya mengangguk. Dara membenarkan semua ucapan Jesika tersebut bahwa memang Ia merasa tidak nyaman, tidak enak hati ada orang yang terluka akibat ulah Lukman sang mantan suami di picu oleh pembahasan tentang dirinya pula.


Jesika menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah ruangan. Perlahan, Jesika membuka pintu kamar rawat.


Dokter Angga yang biasanya menangani pasien, kini terbaring di kasur pesakitan sebagai pasien.


Dara mendekat ke arah Dokter Angga. Iba, itu yang pertama terlintas dalam pikirannya melihat kondisi Dokter Angga. Terbaring dengan dua tali infus, masing-masing berisi cairan bening dan merah. Mata Dokter Angga terpejam, kepalanya di lingkari perban putih, ada lebam bekas luka di pipi, dan di sudut bibirnya.


'Kenapa bisa sampai begini?' Dara mencuatkan tanya dalam dirinya.


"Jesika, menurut Dokter bagaimana kondisi Angga?" Bayu bertanya.


"Sudah tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi sih. Kemarin dia memang sempat kehilangan banyak darah tapi sudah di tangani Dokter. Menurut Dokter juga tinggal menunggu masa pemulihan saja. Yang perlu di khawatirkan sekarang itu, adalah keberadaan si Lukman mantannya Dara tuh!" tukas Jesika sambil menatap Dara.


Dara yang di lihat dengan tatapan sinis hanya bisa berusaha tenang sambil terus memegangi gawai nya, menunggu orang yang Ia hubungi menyahuti panggilan teleponnya.


"Aku ingin bertemu sekarang juga. Alamatnya aku kirim via pesan!" tegas Dara kepada orang yang di teleponnya.


... ***...


"Itu lah kenyataannya Dara. Aku tidak bermaksud menyakiti Angga sampai cedera serius begini," Lukman dengan intonasi dan mimik wajah sama seriusnya tengah duduk tepat di hadapan Dara.

__ADS_1


Dara yang merasa tidak enak hati menjadi pemicu perselisihan diantara Dokter Angga dan Lukman memutuskan meminta klarifikasi dan konfirmasi dari sang mantan. Kini, mereka sedang ngobrol berdua di deretan kursi tunggu bagi keluarga pasien, tepatnya di depan kamar rawat Dokter Angga.


"Baik, katakanlah semua yang kamu ucapkan tadi benar. Bahwa kamu memukul muka Angga hanya sebagai bentuk peringatan, namun karena Angga membalas, kamu hilang kontrol sehingga mendorongnya dengan kuat dan tanpa sengaja membuat kepala Angga terbentur ke sisi meja kerja Angga yang berbahan kaca. Hingga akhirnya Angga sekarang harus berakhir di dalam ruang perawatan," Dara menyimpulkan penjelasan Lukman kepadanya tadi. Lukman mengangguk membenarkan.


"Tapi, apa hak kamu berbuat anarkis seperti itu Mas?" Dara menahan suara geramnya.


"Sudah aku bilang! aku ingin rujuk dengan kamu Dara. Tapi karena Angga lebih dulu melamar kamu, membuat niat baik ku itu menjadi tidak jelas muaranya kemana. Aku datang menemui Angga untuk mengingatkan dia bahwa ada anak-anak, buah cinta kita yang menjadi dasar krusial mengapa aku lebih pantas mendampingi kamu daripada dia,"


Mendengar penjelasan Lukman membuat Dara membuang nafasnya kasar.


"Hanya candi yang dapat di bangun semalam, itu pun sebatas dongeng. Sama seperti manusia, mereka tidak akan berubah hanya dalam waktu sekejap! dan kamu pun begitu!" Dara yang hampir meninggikan suaranya, berkata tajam dengan nada sinis kepada Lukman.


"Untuk kamu ketahui ya Mas, yang melamar aku itu bukan Angga! dan kamu ingat ini baik-baik! kamu tidak perlu tahu siapa yang melamar aku! dan lagi, berhenti mengatasnamakan keberadaan anak-anak untuk memuluskan hasrat mu kembali rujuk denganku!" Dara benar-benar murka.


"Lihat, akibat tindakan sok dan bodoh mu itu menyebabkan orang yang tidak bersalah harus menanggung akibatnya. Ummi mu sudah sangat bersyukur dengan kondisimu yang sekarang, jangan beri beliau beban pikiran lagi dengan masalah yang kamu buat. Sebagai seorang manusia normal cobalah untuk istiqamah memperbaiki diri dengan kesungguhan hati bukan hanya karena ada maunya!" Dara tegas memberi penekanan dalam kalimatnya kepada Lukman.


"Dara. Dengar, aku mengaku salah sudah gegabah dalam bertindak sehingga melukai Angga. Untuk hal itu, aku akan mempertanggung jawabkan semuanya. Namun aku juga mohon kamu maklumi bahwa semua ini terjadi karena rasa sayang dan cinta ku yang tidak bisa hilang bahkan semakin bertambah kepadamu. Aku juga tulus dan serius dalam memperbaiki kualitas diri ini serta karena lillahi ta'ala bukan hanya demi mengambil hati mu karena keinginan rujuk kembali," Lukman bicara penuh keseriusan.


"Baguslah kalau memang kamu berubah karena Allah jadi kamu pasti tidak lagi akan bertindak konyol begini kan?" retoris Dara.


"Ya Dara," sahut Lukman pasrah.


"Dengan keseriusan dan ketulusan kamu memperbaiki kualitas diri demi Allah SWT, maka aku yakin kamu juga akan menerima dengan senang hati apapun keputusanku terkait kembali rujuk denganmu," Dara serius menatap Lukman.


"Ya. Jadi, jika kamu sudah memberi jawaban untuk lelaki lain yang melamar mu sebelum aku, izinkan Ummi secara resmi dan langsung kembali melamar mu," ucap Lukman hati-hati.


"Tidak perlu! terlepas aku sudah atau pun belum memberi jawaban kepada laki-laki yang sudah melamar ku, kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Karena apapun dan bagaimanapun usaha kamu untuk rujuk dengan ku, sampai akhir hayat ini aku tidak berkenan kembali membina rumah tangga denganmu Mas! aku lebih baik hidup melajang seorang diri sampai mati daripada harus kembali membuka luka lama. Jadi, berhenti berharap! dan hentikan setiap niat juga usaha yang kamu rencanakan demi kembali padaku."


Mendengar ketegasan Dara dalam setiap kata-katanya membuat Lukman tertunduk lemah. Hatinya seakan di iris sembilu, pilu. Saliva nya berasa empedu, pahit. Sepahit kenyataan yang Ia dengar lewat mulut Dara.


Lukman menyeka bulir bening dari sudut matanya.


"Dara .." kalimat Lukman hanya menggantung jadi sapaan. Ia tergugu, tidak mampu suara hatinya menembus kerongkongan untuk di sampaikan. Malah air mata yang berbicara menggantikan ungkapan perih tak terhingga yang Lukman rasa, menyadari sudah pupus musnah harapannya untuk kembali bersanding dengan perempuan yang di cinta.


Hati Dara benar-benar telah tertutup untuk Lukman. Nama Lukman murni telah terhapus tanpa jejak di kepala Dara. Lukman merasa begitu nelangsa.


Dara yang merasa urusannya sudah selesai dengan Lukman, tanpa basa-basi narasi, berdiri lalu beranjak pergi meninggalkan Lukman bersama tangisan pilunya.


Dara kembali ke ruangan perawatan Dokter Angga. Duduk di kursi dekat pembaringan Dokter Angga.


"Angga, bangunlah, aku harus minta maaf" gumam Dara pada Dokter Angga sambil tertunduk.


"Kebiasaan! minta maaf tanpa sebab" tukas Dokter Angga dingin. Dokter Angga membuka matanya perlahan lalu memiringkan kepalanya menghadap dan menatap Dara.


"Angga," lirih Dara.


... ***...

__ADS_1


__ADS_2