Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
40. Terasa pahit


__ADS_3

Dalam ruang rapat di sanggar seni "rumah kita", Lusi, Dokter Angga dan Radit sedang risau menanti kehadiran Dara. Setelah sekian bulan dari berdirinya sanggar seni tersebut, ini kali pertama bagi Dara terlambat menghadiri rapat. Penyebab kerisauan bertambah karena sedari tadi Dara tidak merespon saat di hubungi.


"Buk Desainer, apa mungkin Dara menghindar ya?" Radit memecah keheningan diantara mereka.


"Menghindar? dari apa?" Lusi mengernyitkan dahi, rasa penasaran mulai menguasai dirinya.


Radit melirik Dokter Angga sekilas, lalu menghela nafas dan mulai mengungkapkan sebuah pengakuan.


"Kalian tahu kalau aku sudah fall in love at first sight dengan Dara. Dari awal melihatnya itu aku bukan hanya jatuh cinta tapi juga memantapkan hati akan memilikinya. Sadar saingan makin banyak dan Dara kian hari makin mempesona membuatku mulai dan semakin gencar melakukan PDKT alias usaha mengambil hati Dara,"


"Jadi?" Lusi masih bingung belum mengerti.


Radit lagi-lagi menghela nafasnya.


"Jadi, akhir-akhir ini aku terang-terangan menunjukkan rasa suka ku terhadap Dara. Mulai dari kirim pesan mengingatkan jangan lupa makan, istirahat, hati-hati berkegiatan, sampai setiap hari aku kirimin hadiah untuk Dara, Azkia dan Alsava ke kantor juga ke rumahnya. Selama masa mencari jalan ke hatinya itu, Dara tidak pernah marah atas perlakuan ku tapi beberapa kali mengingatkan untuk tidak lagi bersikap demikian. Jadi lagi nih, apa mungkin hari ini dia tidak mau datang rapat karena menghindari ku? arghhh. Padahal aku sudah sangat rindu,"


Radit mencengkram erat rambut setengah gondrongnya, entah sebagai pelampiasan rasa rindu atau sebab kesal karena sempat terbesit, PDKT nya gagal.


Berikutnya terdengar semburat tawa renyah dari Lusi dan Dokter Angga. Walau dari Dokter Angga tertawanya sangat minimalis, sedikit sekali, dan tidak lama tapi cukup untuk menyemarakkan suasana.


Menyadari sedang ditertawakan, Radit hanya bisa pasrah. Melihat saja kedua temannya itu menertawai dirinya dan menunggu mereka berhenti dengan sendirinya.


'Gak masalah ketawa-in aja aku terus, mana tahu kehitung jadi pahala karena bikin teman-teman bahagia' Radit men-dongkol dalam hati.


"Oh Tuhan, perut ku jadi sakit karena kebanyakan tertawa. Maaf maaf. Maaf ya Radit Corak, karena bagiku, pengakuan mu tadi itu lucu hmpp .. hahaha .. hahhaa .. maaf, maaf lagi. Harusnya kamu ganti nama deh. Jangan lagi Radit Corak tapi .." sesaat kemudian Lusi terlihat berpikir


"Tapi Radit Kocak," sambung Dokter Angga.


Merasa satu frekuensi dengan guyonan Dokter Angga membuat Lusi kembali menyambung tawa. Dokter Angga ikut tersenyum bahagia melihat teman sekaligus saingannya mulai terlihat jengkel ditertawakan.


Lusi akhirnya benar-benar berhenti dari tertawa. Perutnya terlalu sakit untuk kembali terbahak-bahak sementara hatinya juga mulai iba melihat Radit seperti jadi korban penganiayaan oleh dirinya dan Dokter Angga. Di tambah lagi Lusi sudah gatal ingin menanggapi pengakuan Radit tadi.


"Gini ya, yang pertama, aku acungkan jempol ke kamu yang metode PDKT nya luarbiasa. Aku yakin Dara sempat merasa melayang seperti masa muda di SMA dulu secara emak-emak beranak dua di kasih perhatian kayak anak sekolahan. Ya kan? walaupun kamu sudah beberapa kali di suruh berhenti bersikap begituan. Yang kedua, aku tahu betul Dara itu gimana. Dia bukan tipe orang yang akan mencampur adukkan masalah pribadinya dengan urusan pekerjaan. Jadi, batang hidungnya belum kelihatan juga, sepertinya itu bukan karena menghindari kamu tapi pasti ada penyebab lainnya. Kita tunggu saja beberapa menit lagi, gimana?" terang Lusi lancar.


"Aku setuju." Dokter Angga menimpali dengan datar.


Radit yang terlanjur sudah blak-blakan soal urusan asmaranya di hadapan saingan sendiri jadi salah tingkah, dengan malu-malu Ia menanggapi ucapan Lusi.


"Syukurlah kalau bukan karena menghindar dan, ya kita tunggu saja dulu. Rindu ku juga sudah terlanjur lama diabaikan,"


"Assalamu'alaikum," Dara muncul dari balik pintu kaca.

__ADS_1


... ***...


"Alhamdulillah pakai banget Ya Allah," seru Radit bahagia setelah mendengar dan melihat Dara.


"Wa'alaikumsalam," sahut Dokter Angga tenang.


"Eh iya, wa'alaikumsalam dan selamat datang owner sanggar seni rumah kita" timpal Radit kembali.


"Salamnya udah ku jawab dalam hati. Telat banget kamu sayang, dari mana aja?" seloroh Lusi.


Dara menarik kursi di sebelah Lusi lalu duduk disana. Dengan serius Dara menatap teman-teman sekaligus mitranya satu per satu.


"Semuanya, maafkan aku ya. Aku telat banget, ada sedikit urusan di perusahaan jadi aku terhalang kesini sesuai jadwal janji temu kita. Maaf ya," Dara memelas tulus minta permohonan maaf.


"Urusan apa? kok sampai segitunya? perusahaan kamu baik-baik saja kan?" Lusi memborong tanya untuk Dara. Ia khawatir terjadi hal buruk terhadap perusahaan sahabatnya itu.


"Baik, baik kok. Kamu lupa ya? kan kemarin aku udah cerita, hari ini pelantikan Kak Bayu sebagai Direktur Utama di perusahaan ku," jawab Dara.


"Bayu?" Dokter Angga dan Radit tanpa aba-aba kompak berseru demi mendengar nama saingan mereka tersebut.


"Iya, Kak Bayu yang aku kenalin ke kalian waktu acara peresmian sanggar kita ini," Dara merespon dengan polos.


"Iya. Jadi gini, penunjukkan Pak Nugroho tempo itu karena aku di buru waktu untuk punya pengganti posisi Mas Lukman, secara aku melaporkan dia atas dasar penggelapan uang perusahaan kan. Nah orang yang bisa ku percaya untuk menggantikan posisi Mas Lukman saat itu ya Pak Nugroho. Selain karena yang bersangkutan punya saham di perusahaan, juga karena aku full percaya sama beliau. Aslinya beliau menolak karena di masa tuanya ingin fokus beribadah tapi karena pertimbangan mendiang orang tua ku adalah sahabatnya jadi lah Paman menerima tawaran ku. Sekarang setelah beberapa kali rapat dengan para pemegang saham lainnya, di sepakati lah Kak Bayu yang menggantikan posisi Ayahnya yang sudah mengajukan pengunduran diri. Begitu saudara-saudara,"


Dara menutup penjelasannya dengan mengembangkan senyum manis yang membuat dua pemuda di hadapannya seketika jantungnya berdetak kencang lebih dari kecepatan normal pada umumnya.


"Bukannya Bayu ada usaha sendiri ya di luar negeri? terus gimana tuh? sedangkan dia juga jadi Dirut kamu," ada nada protes dalam tanya yang terlontar dari mulut Radit.


"Iya. Usahanya di sana besar dan berkembang pesat lho, gak percuma dia menghabiskan bertahun-tahun di Negeri orang," ada raut kagum dalam ekspresi Dara ketika berkata.


"Nah itu dia! usahanya disana sudah besar juga ngapain kembali ke Indonesia? jadi Dirut kamu pula," tukas Radit lagi.


"Ahh soal itu, karena usahanya sudah besar dan berkembang pesat, Kak Bayu sudah bisa mengontrol bisnisnya dari jarak jauh saja. Dia kembali ke Indonesia karena permintaan orang tuanya. Kak Bayu memang dari dulu orangnya gitu, patuh dan hormat banget sama kedua orang tuanya, Kak Bayu jug ..."


"Terus kenapa harus dia yang jadi Dirut kamu?" Dokter Angga bersuara. Telinganya sudah di ambang batas kemampuan untuk mendengarkan Dara yang terus-terusan menyelip pujian kepada Kak Bayu-nya itu. Dokter Angga tidak ingin membuat hatinya semakin mendidih. Oleh karenanya meski tidak sopan dan bukan juga bagian dari kebiasaannya, Dokter Angga terpaksa memotong kalimat Dara.


"Karena aku yakin Kak Bayu mampu. Kak Bayu itu lulusan terbaik dari jurusan manajemen bisnis lho, dia juga .."


"Stop!" Radit dan Dokter Angga serentak bicara. Mereka memang acap kali tidak sepaham soal bersikap. Berlawanan dalam bertutur kata, tapi kali ini tampak kompak soal anti mendengar Dara mengelukan pria selain mereka.


Dara tidak mengerti terhadap sikap kedua teman lelakinya yang tidak seperti biasanya itu namun Ia memilih mengikuti kehendak Radit dan Dokter Angga, Dara diam. Namun tatapan bingung Ia edarkan kepada Lusi yang sedari tadi beberapa kali mengulum senyum.

__ADS_1


"Jadi Dara, apa kamu akan bertemu Dirut baru mu itu setiap hari?" Dokter Angga mengusul tanya.


"Tidak. Aku kan gak ngantor setiap hari. Pelaksana tugas harian seluruhnya jadi tanggung jawab Dirut. Sebagai komisaris aku hanya mengawasi dan menerima laporan. Oleh karenanya selain perlu orang dengan skill yang mumpuni di bidangnya, aku juga butuh orang yang benar-benar sudah aku ketahui kepribadiannya demi rasa percaya serta kesuksesan untuk perusahaan. Dan Kak Bayu adalah orang yang tepat." Dara berkomentar penuh keyakinan.


Tok. Tok. Tok.


Suara ketukan dari pintu kaca ruangan mereka berada membuat pembicaraan seputar Bayu sejenak terhenti.


"Masuk," ujar Dara.


Beberapa Office boy masuk, lalu mengambil hidangan yang sebelumnya berada di atas meja. Kemudian membawa masuk beraneka jenis makanan dan minuman lainnya, menatanya di atas meja panjang tadi yang jadi pembatas antara tempat duduk Dara, Lusi dengan Radit dan Dokter Angga.


"Siapa yang ulang tahun?" seloroh Lusi.


"Ini sebagai bentuk permintaan maaf ku karena terlambat tadi" Dara tersenyum.


"Sering-sering aja begini ya buk owner 'rumah kita' tapi terlambatnya cukup kali ini saja!" Lusi berseloroh dengan nada mengancam. Tangannya mulai aktif mencomot beberapa makanan ringan yang telah di hidangkan.


"Siap buk Desainer siap. Sambil kita mulai aja rapatnya gimana? Oke bro?" tukas Dara kepada seluruh temannya disana.


Ketiganya, Lusi, Dokter Angga dan Radit mengangguk.


Lusi mengangguk setuju. Sementara Dokter Angga dan Radit mengangguk pasrah karena dengan di mulainya rapat pembahasan perkembangan sanggar seni 'rumah kita' maka artinya, tertutuplah kesempatan kedua laki-laki kasmaran itu untuk lebih tahu perihal keterlambatan Dara karena Kak Bayu-nya.


"Kenapa jus alpukat ini terasa pahit?" Radit berbisik ke arah Dokter Angga. Radit berbisik karena tidak ingin mengganggu jalannya presentasi yang sedang di sampaikan Lusi.


"Karena Kak Bayu," jawab Dokter Angga ikut berbisik. Lalu kembali serius menatap in focuss di depannya dengan sajian laporan dari Lusi.


Radit mengangguk membenarkan jawaban Dokter Angga. Memang hari mereka berdua kali ini terasa pahit karena kenyataan bahwa Bayu semakin jelas menunjukkan eksistensinya berada di antara persaingan mereka demi mendapatkan cinta Dara.


... ***...


Tetap semangat puasa bagi yang menjalankan, sebentar lagi lebaran nihh🤩


Bagi like dll nya untuk karya ini donkk😁


Dan Ajak teman-teman kita yang lain untuk ikut membaca kisah Dara ini juga yukk🤗


Sehat-sehat untuk kita semua 😊


❤️MNMS

__ADS_1


__ADS_2