
Haii para pembaca yang Budiman dimana pun Anda berada🤗
Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin yaa🙏
Semoga kebahagiaan dan keberkahan idul Fitri menyertai kita semua🤲😊
Dara dan teman-teman hadir lagi nih untuk membersamai lebarannya kita semua😁
Selamat membaca😘
... ***...
Tujuh hari berlalu semenjak kedatangan tamu misterius. Pergantian jam dalam beberapa hari setelahnya tersebut Dara lalui dengan penyerahan laporan demi laporan kepada Lusi dan Dokter Angga dalam kurun waktu tidak per empat puluh lima menit sebagaimana kesepakatan sebelumnya namun menjadi per tiga puluh menit.
Keakraban mereka terbukti dengan turut dekatnya Lusi dan Dokter Angga dengan para ART Dara. Dara yang tidak ingin membuat teman-temannya khawatir memilih untuk tutup mulut soal tamu misterius dari Lusi dan Dokter Angga.
Namun pada akhirnya, Dara harus terima seolah di duakan oleh Mbok Inem dan Rani yang juga menjalin hubungan dekat dengan teman-temannya. Mereka, Mbok Inem dan Rani diam-diam kompak memberi detail kedatangan tamu misterius kepada Lusi dan Dokter Angga berdasarkan sudut pandang masing-masing dari keduanya. Walaupun pokok permasalahan dari detail laporan keduanya sama, yakni kehadiran tamu misterius 'meresahkan'.
Berangkat dari keresahan itu lah, via grup kontak mereka dalam berkomunikasi, keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat di tetapkan oleh Lusi dan Dokter Angga Bahwasanya seorang Dara Herlambang wajib memberi laporan terkini perihal kondisinya kepada para teman-teman super perhatiannya dalam tempo setiap tiga puluh menit.
Menghargai kepedulian dari teman-temannya, tanpa beban Dara melakukan kesepakatan tersebut. Dan ada hikmah besar bagi seseorang di antara mereka dengan keharusan Dara terus-terusan memberi laporan kegiatannya itu. Yaitu hubungan yang dekat terasa kian akrab. Rindu yang dulu selalu menyelinap tanpa ada celah untuk di tenangkan, semenjak komunikasi intens berbalut atas nama laporan menjadi rindu yang semakin terawat dan menemukan tempat untuk di alamatkan dengan tepat.
Hikmah penuh bahagia itu dirasakan oleh Dokter Angga. Tanpa harus berlakon layaknya anak SMA yang sedang kasmaran, dengan menebar alasan dalam mencari perhatian dalam membangun komunikasi, Dokter Angga dalam bentuk laporan tanpa sengaja selalu mengetahui informasi terkini berkenaan sang pujaan hati. Komunikasi pribadi di antara keduanya, Dokter Angga dan Dara pun terjalin makin dekat, akrab dan hangat.
... ***...
Setelah di beri tahu oleh Mbok Inem ada Dokter Angga yang bertamu, Dara yang sedang bermain dengan anak-anaknya hendak menghentikan aktivitasnya tersebut demi menyambut kehadiran seorang teman. Namun yang bersangkutan membuat Dara urung berhenti bermain dengan Azkia dan Alsava.
Dokter Angga setelah menyapa Dara sepintas lalu malah menyertakan dirinya dalam bermain bersama kedua putri Dara. Meski bukan baru kali pertama mendapati hal yang begini, melihat bagaimana anak-anaknya bisa akrab dengan Dokter Angga yang dingin, perasaan yang Dara rasa saat melihat anak-anaknya bersama Dokter Angga tetap dan selalu sama, yaitu senang.
'Ternyata, si Es punya sisi hangat yang langka, yang sulit di lihat oleh orang pada umumnya.'
Dara menyimpulkan sudut pandangnya terhadap Dokter Angga dengan bermonolog.
Jadilah beberapa waktu di akhir pekan itu di habiskan oleh Dara dan Dokter Angga untuk bercengkrama bersama Azkia dan Alsava dengan keriangan gelak dan tawa. Hingga akhirnya jam tidur siang bagi anak-anak harus menghentikan aktivitas diantara mereka.
"Om Dokter, nanti habis Adek dan Kakak bobok siang kita beneran main sama-sama lagi ya," Si kecil Alsava kembali meneguhkan perjanjian yang mereka bertiga buat.
"Iya. Sekarang Adek dan Kakak bobok siang dulu yang nyenyak, ya?"
Dokter Angga menimpali ucapan Alsava. Segera kedua gadis kecil itu mengangguk dan berlari ke kamar mereka untuk segera tidur siang. Berharap semakin cepat tidur, semakin cepat bangun, semakin segera bisa kembali bermain.
"Ahaiii, sweet sweet" tiba-tiba suara riang Lusi membuat Dokter Angga dan Dara mengalihkan pandangan ke sumber suara.
"Eh, kok tiba-tiba, kapan nyampe?" Dara berdiri menyambut Lusi. Memberinya pelukan dan ciuman kecil di masing-masing pipi sahabatnya itu.
Lusi yang berdiri, tanpa di persilahkan mengambil posisi duduk di sebelah Dara, berhadapan dengan Dokter Angga.
"Idih, yang lagi asyik membina keluarga bahagia, sahabatnya datang aja gak sadar. Malah di bilangnya tiba-tiba. Emang sesering apa aku konfirmasi dulu kalau mau kesini?" Lusi menanggapi pertanyaan Dara sebelumnya.
Dokter Angga yang mendengar salah satu pilihan kalimat Lusi, 'membina keluarga bahagia' jadi merona pipinya. Dan dalam hatinya berbisik, Aamiin.
Dara yang salah tingkah, menepuk halus pundak Lusi.
"Isss apa sih,?" respon Dara.
Selanjutnya mereka tertawa bersama-sama.
"Angga, keperluan kamu sama Dara, sudah?"
Di sela menyantap camilan yang di bawa Dokter Angga sebelumnya, Lusi bertanya. Yang mendapat pertanyaan sedikit terkejut lalu kembali menguasai dirinya, kembali ke mode dingin.
"Maksudnya keperluan apa?" Dokter Angga menjawab tanya dengan bertanya.
"Aisss, aku kalau kesini keperluannya paling karena butuh teman ngobrol seputar peliknya kehidupan sebagai seorang IRT yang baik sekaligus pekerja yang profesional. Dan teman ngobrol terbaik itu ya Mak nya Azkia dan Alsava ini. Terus kamu? selain karena rindu, keperluannya apa coba? sudah di sampaikan belum? jangan sampai karena kehadiranku yang tiba-tiba malah mengganggu kalian berdua."
Setelah berkata begitu Lusi yang sengaja menggoda Dokter Angga dan Dara mengulum senyum, menahan tawa.
__ADS_1
Dokter Angga dan Dara yang ingin menutupi sikap serba salah setelah mendengar ucapan Lusi, serempak meraih teko minuman di atas meja. Jemari keduanya sedikit bersentuhan, sikap serba salah mereka makin bertambah, Lusi yang memandanginya pun tertawa renyah.
"Sehati nih yee," goda Lusi lagi.
Dokter Angga kembali meraih teko minuman tersebut sesaat setelah Dara melepas tangannya dari teko. Ia tuangkan isi dari teko ke dalam gelas kaca milik Dara, kemudian baru mengisi gelasnya sendiri dan dengan tenang meminumnya.
"Tuh, udah di tuangin, jangan hanya di pandangi, di minum donk Dara ahh" Lusi mengedipkan sebelah matanya kepada Dara.
Dara mencubit kecil paha temannya dari bawah meja. Lusi sempat meringis lalu kembali tertawa.
"Suara apa itu?"
Pertanyaan Dokter Angga membuat Lusi menghentikan tawanya. Mereka yang berada di teras belakang rumah Dara, sama-sama memusatkan pendengaran dari bunyi yang riuh rendah seperti keramaian yang terdengar dari kejauhan.
Rani datang setengah berlari kecil ke hadapan mereka bertiga. Ia yang sedikit ngos-ngosan menatap Dara lekat kemudian berkata, "Di depan ada arak-arakan Bu"
"Arak-arakan?" Dara dan Lusi kompak menyatakan kebingungan.
... ***...
Beberapa pria menggunakan jas berwarna hitam tampak berjejer berbaris rapi dengan membawa bingkisan di masing-masing tangannya. Musik tradisional dari berbagai daerah khas untuk arak-arakan selayaknya sebuah pernikahan terdengar jelas dari balik barisan para pria bermuka datar yang tanpa lelah setia memegang bingkisan tersebut.
Dara, Lusi dan Dokter Angga serta Rani dan Mbok Inem yang di kuasai rasa heran fokus menyaksikan kejadian unik di hadapan mereka, tepatnya di halaman rumah Dara.
Setelah suara musik seperti arak-arakan tidak lagi terdengar, Pak Saleh terlihat muncul dari balik barisan, membawa sebuah speaker lengkap dengan mikrofon. Kemudian seorang pemuda yang tidak asing di mata mereka ikut muncul dari balik barisan.
Jika biasanya pemuda itu terlihat dengan style mengenakan kaos oblong yang di tutupi kemeja tanpa di kancing serta celana jenis jeans bergaya belel, dengan sepatu kets, kali ini Ia berpenampilan seratus delapan puluh derajat kebalikannya.
Mengenakan setelan tuxedo mewah dan berkelas berwarna merah hati, sepatu pantofel hitam mengkilat, serta gaya rambut yang sebelumnya setengah gondrong menjadi lebih pendek. Gaya rambut yang terlihat keren itu memfokuskan keberadaan kumpulan rambut di bagian atas kepala yang mengkilap segar seolah selalu basah, efek dari penggunaan minyak rambut dengan tepat, rambut di sisi sampingnya dibuat lebih tipis memberi kesan bersih dan rapi. Setelan rambut setengah gondrong menjadi rambut dengan model bernama, Faux hawk. Tampilan yang demikian membuat pria tersebut terlihat charming.
"Radit?" masing-masing dari yang di liputi rasa heran menggumam-kan nama yang sama seketika menyadari siapa sosok di hadapan mereka.
Radit menerima mikrofon yang di ulurkan oleh Pak Saleh. Lalu menggunakannya sesuai fungsinya, menyampaikan sesuatu dengan tingkat volume suara yang bertambah sehingga mudah di dengarkan oleh semua orang yang berada di sekitarannya.
... Dara Herlambang,...
... ketahuilah,...
... jika tugas dilan adalah merindu,...
... aku lebih dari itu!...
...tugasku, membahagiakanmu dengan cara yang paripurna,...
...dan aku suka....
...Dara Herlambang yang aku puja dan cinta,...
...bantu aku menyempurnakan tugas itu,...
...dalam bingkai mahligai rumah tangga....
Dara, Lusi, Dokter Angga, Rani dan Mbok Inem terperangah mendengar syair yang Radit lantunkan dengan mendayu-dayu. Apa yang tergambar dalam raut muka masing-masing dari mereka sebagai ekspresi selepas mendengar untaian kata dari Radit, sulit di gambarkan visualnya. Sedih, iba, lucu, aneh, senang, bingung semuanya menyatu, komplit di riak muka mereka.
"Ehemmm"
Ngiiinng.
Pak Saleh yang berdehem lewat mikrofon yang Ia ambil dari Radit, menimbulkan dengung dari alat pengeras suara tersebut sehingga sedikit menyakiti fungsi telinga yang berada disana. Buru-buru Pak Saleh mematikan speaker yang di bopongnya tadi. Pak Saleh menatap Dara lalu mengedikkan bahunya sambil menunjuk ke arah Radit yang tengah bersimpuh ke hadapan Dara. Barangkali itu maksud agar Dara merespon tindakan dramatis Radit barusan.
"Masuk dulu kali ya,?" ragu-ragu Dara bertanya.
Mendengar itu, Radit sontak berdiri. Beberapa kali Ia usap lutut kedua kakinya sambil meringis. Tangannya Ia kibas-kan ke arah para pemuda yang berbasis di belakangnya. Kompak para pemuda itu berjalan ke depan, membelah barisan Dara dan lainnya yang terbentuk secara tak sengaja.
Sesaat kemudian para pemuda yang masuk ke rumah Dara itu keluar tanpa lagi membawa bingkisan di tangannya. Mereka terus berjalan menuju arah luar pagar rumah Dara hingga hanya tersisa Radit seorang di tengah halaman.
"Jadi masuk gak nih?" tanya Radit.
__ADS_1
"Ah iya, masuk. Masuk silahkan" Dara kelabakan menjawab pertanyaan Radit yang terkesan menuntut.
Kini ke empat teman akrab itu sudah berada di ruang tamu rumah Dara.
"Ehemm, sebelumnya maafkan aku. Pasti aku yang hilang dari peredaran lingkaran kehidupan kita membuat kalian khawatir. Ya kan? maaf ya," Radit membuka suara.
Dara, Lusi dan Dokter Angga yang masih di liputi rasa shock dengan peristiwa di luar rumah tadi belum bisa memberi tanggapan apa-apa, mereka diam saja.
"Beberapa hari terakhir ini, aku bersemedi demi mendapatkan sebuah pencerahan tentang jalan kehidupan yang mesti aku tentukan berkenaan perasaan ku terhadap kamu Dara, yang aku rasa tidak sanggup lagi aku pendam. Sehingga, aku sampai pada kesimpulan bahwa aku ingin hubungan kita berdua lebih dari sekedar teman. Kamu tahu maksud ku kan? aku ingin jadi ayahnya Azkia dan Alsava," dengan tenang dan penuh percaya diri Radit kembali bernarasi.
"Astaga!" pekik Mbok Inem.
"Kenapa Mbok?" tanya Radit.
Mbok Inem yang datang dengan nampan berisi beberapa gelas minuman menggelengkan kepalanya buru-buru.
"Ah gak apa-apa Den Radit, ini astaga berat sekali nampannya, gitu Den,"
Mbok Inem asal-asalan bicara untuk menutupi makna sesungguhnya dari 'astaga' yang Ia lontarkan ketika mendengar penyampaian kalimat terakhir dari Radit.
"Oh gitu, sini-sini biar aku bantu" Radit berdiri, Ia mengambil nampan dari tangan Mbok Inem untuk kemudian meletakkannya di atas meja. Mbok Inem menyajikan gelas-gelas tersebut di hadapan masing-masing dari mereka.
"Jadi Dara, gimana? kamu mau kan menjadikan aku Ayah dari anak-anak mu?" Radit kembali bertanya.
"Astaga!" pekik Rani pula.
"Ada apa Rani?" Radit kembali bertanya.
"Ah ini, anu, berat ini nampannya" seloroh Rani beralasan demi menutupi rasa terkejutnya mendengar pertanyaan Radit kepada sang majikan.
"Berat juga? tadi Mbok Inem juga gitu, sini sini biar aku bantu," Radit berdiri lagi dan kembali me-reka ulang adegan seperti yang Ia lakukan kepada Mbok inem beberapa saat lalu.
"Ohh, ini camilannya banyak sekali pantas saja berat" Radit meletakkan nampan bawaan Rani ke atas meja. Rani mengikuti langkah Mbok Inem, menata rapi sajian yang Ia bawa.
"Dara?" Radit mengibas-ngibaskan tangannya kepada Dara yang terlihat melamun.
"Ah iya, apa Dit?" retoris Dara.
"Ayo, mari mari kita minum dan cicipi dulu makanannya," tukas Dara lagi.
Dara, Lusi dan Dokter Angga kompak meneguk hingga hampir menghabiskan isi dari gelas mereka. Ada rasa kaget yang harus mereka sadarkan dengan di sirami minuman agar berangsur memberi rasa tenang. Sementara Radit minum, dan mulai mencomot beberapa camilan dengan santai.
"Radit, kamu semedi dimana sih? kok kayak orang kesurupan gitu?" tanya Lusi.
"Kesurupan jin cinta, hehehehe" jawab Radit sambil tertawa.
"Iss. Aku serius tau," gerutu Lusi.
"Dimana aku semedi gak penting Buk Desainer, yang penting hasil dari semedi ku itu memberi aku keyakinan dan kekuatan untuk menghalalkan sang pujaan, ehemm" jawab Radit tenang sambil melirik Dara.
"Yang kamu maksud semedi itu melarikan diri, mengasingkan diri, alias menghilang tanpa kabar? iya?" giliran Dokter Angga bertanya dengan aura wajah datar, se-datar intonasi bicaranya.
"Jangan serius-serius gitu sih Dok, seram tau!" seloroh Radit dengan ekspresi seolah takut.
"Radit, kamu hebat, sukses, dan pada dasarnya berkepribadian menyenangkan. Tapi, coba lah bertindak lebih dewasa dengan memikirkan baik buruknya akibat dari sebuah tindakan yang kamu lakukan,"
Dokter Angga sedikitpun tidak menanggapi kelakar Radit, malah semakin mempertegas kesan serius dalam riak wajah dan suaranya.
"Eitss, ada apa ini bro? apa kamu merasa kalah langkah dalam mengambil hati pujaan kita?" Radit lalu senyum-senyum kecil.
Dokter Angga menghela nafas panjang.
"Soal langkah pendekatan kepada Dara, biarlah menjadi urusan kita masing-masing. Yang aku maksudkan adalah, akibat tindakanmu yang menghilang tiba-tiba membuat Dara mendapat kunjungan tidak menyenangkan dari seseorang!" tegas Dokter Angga.
"Apa yang kamu maksud itu saya?" suara berat dari seseorang menyela.
Dara dan Lusi yang sebelumnya fokus menatap Dokter Angga, akibat terlena dengan penuturannya yang bijaksana segera mengedar pandangan ke arah pintu, tempat dimana suara berat itu berasal.
__ADS_1
"Tamu misterius?" gumam Dara.
... ***...