Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
Tangisan Azkia


__ADS_3

"Bunda coba hubungi Ayah dulu ya, Kak dengan syarat kak Azkia jangan nangis lagi. Ok?"


Dara mengusap lembut kedua pipi tembem anak sulungnya, Azkia yang sedari tadi hingga kini tidak berhenti mengaliri air mata.


Sepulang sekolah Azkia menangis sejadi-jadinya karena sang Ayah, Lukman mangkir dari janji yang telah mereka sepakati via telepon seluler dari seminggu lalu.


Lukman tanpa ada pemberitahuan apa pun atas ke alpaannya tidak datang ke sekolah sang anak untuk mengikuti kegiatan kelas Azkia yakni 'orang tua bercerita dengan tema : cita-cita'.


Sehingga Azkia yang terlanjur berharap banyak pada Ayah yang dirindukannya itu harus menelan pil pahit dari rasa kecewa.


Terang saja, dari seluruh siswa, hanya Lukman selaku Ayah nya saja yang alfa dari bercerita mengenai profesi yang digeluti.


Azkia yang baru akan berumur tujuh tahun itu mestinya belum pantas disuguhkan rasa sedih terlebih kecewa atas perlakuan orang terdekat.


Dara terlihat mengakhiri sambungan teleponnya.


Sesuai dengan persyaratan yang diajukannya pada Azkia, Dara menghubungi Lukman demi terbitnya senyum di wajah sang putri yang hilang akibat kelalaian Lukman dalam menepati janji.


"Kak, sebentar lagi Ayah kesini. Kakak jangan sedih lagi ya," pinta Dara sambil mengelus punggung anaknya yang masih menyisakan getaran dari isak tangisan.

__ADS_1


"Kakak, makan ini mau ya."


Alsava adik Azkia ikut berusaha menghilangkan kesedihan kakaknya dengan memberikan sebungkus cokelat.


Azkia hanya menggeleng pelan.


Dara menggamit Alsava ke dalam pelukannya sementara tangannya tak henti mengelus punggung Azkia.


...***...


"Lain kali kalau tidak mampu bahkan tidak berkeinginan menepati jangan membuat janji!"


"Seolah kamu ibu yang sempurna aja!" Lukman mulai berdalih menutupi salahnya.


Dara mulai tersulut emosi.


"Karena aku ibu yang gak sempurna makanya aku gak pernah kasih kata harapan ke anak-anak. Dan, ya aku memang ibu yang gak sempurna tapi Azkia dan Alsava belum pernah menangis iba karena kecewa atas perlakuanku!" tegas Dara.


"Stop Dara! Aku rela ninggalin Kiki yang sedang kesusahan karena kehamilannya, bukan untuk berdebat dengan kamu tapi demi Azkia, putriku"

__ADS_1


Lukman merogoh saku celananya berusaha menemukan kunci mobilnya. Ia ingin lekas beranjak keluar dari rumah Dara tersebut.


"Toh Azkia udah aku tenangkan, gak nangis lagi ngapain aku harus lama-lama disini" pikir Lukman.


"Ayah"


Azkia yang sebelumnya sudah terlelap setelah ditemani dan ditenangkan Lukman kini berdiri di ruang tamu tempat Dara dan Lukman baru saja beradu argumentasi.


"Ya Kak? Kok bangun? Kak Azkia mau apa sayang?" Lukman menghampiri Azkia.


"Ayah mau kemana? Ayah tidur di sini 'kan?" Kedua mata Azkia memantulkan hasrat penuh harapan.


"Nng -- itu sayang, ayah harus anu ..." Lukman gelagapan untuk menciptakan alasan.


"Kenapa sih sekarang Ayah sibuk kerja terus selalu gak tidur di rumah, gak pernah juga telepon atau pun VC kakak dan adek lagi. Ayah gak sayang kami lagi"


Selanjutnya tangisan Azkia kembali pecah. Hanya saja kali ini sepertinya lebih dari sekedar tangisan melainkan ungkapan perasaan.


Terbukti dengan, tersentuhnya naluri Lukman sebagai seorang Ayah. Lukman yang semenjak empat bulan lalu tidak pernah ada di rumah kini bersedia meng-iya kan keinginan putrinya untuk tidur di rumah itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2