
Air mata segera membasahi paras ayu Kiki yang kini terlihat hampir buruk rupa karena minimnya sentuhan perawatan. Kiki menangis, namun suaranya masih terdengar jelas dalam menyampaikan setiap bait kata.
"Maaf Kak. Maaf. Maafkan Kiki. Kiki menyesal Kak,"
"Apa yang kamu sesali?" sinis Dara.
"Harusnya Kiki sadar diri sudah banyak di bantu Kak Dara, sudah di anggap keluarga, tapi keterbatasan ekonomi membuat Kiki gelap mata. Kiki benar-benar lelah hidup apa adanya Kak, sementara sudah terus berusaha dan bekerja tapi tidak ada hasilnya. Hidup Kiki dan keluarga masih saja pas-pasan. Kiki tidak berniat merebut Mas Lukman seutuhnya dari Kak Dara, Kiki hanya ingin memanfaatkan Mas Lukman untuk memenuhi kebutuhan materi Kiki. Tapi ..."
Tubuh Kiki bergetar, berguncang hebat seirama dengan tangisnya yang terdengar makin memilukan.
"Tapi kamu hamil duluan sehingga ingin di nikahi oleh Mas Lukman, iya?" ketus Dara acuh.
"Mas Lukman tidak pernah sekalipun berniat menikahi Kiki apalagi ingin bercerai dari Kak Dara, itu membuat Kiki yang sudah terlanjur berhubungan jauh dengan Mas Lukman frustasi sehingga nekat mulai memberikan Kakak obat penyebab kelumpuhan, hingga akhirnya Kiki hamil dan Kak Dara lumpuh, Mas Lukman baru mau menikahi Kiki. Tapi dalam pernikahan kami Mas Lukman meski kasar dengan Kak Dara selalu saja memuji dan sering membandingkan antara Kiki dan Kak Dara, lagi-lagi Kiki tidak bisa menguasai diri, jadi Kiki memaksa Rani untuk memantau kegiatan Kakak supaya Kiki bisa mencegah kesembuhan Kak Dara biar Mas Lukman secara jiwa raga jadi milik Kiki seutuhnya. Ahhh. Kiki sungguh sangat jahat Kak. Bahkan tidak pantas dapat maaf dari Kakak," Kiki membentur-benturkan keningnya ke lantai.
Beberapa dari pengunjung cafe dari mejanya masing-masing semakin fokus menyaksikan tindakan dramatis Kiki tersebut.
"Apakah jika kening mu itu pecah, akan membuat rumah tangga yang terlanjur hancur berantakan kembali menemukan kebahagiaan? Jika pun kamu pecahkan kepala mu itu, tidak akan merubah keadaan di antara kita. Ingat, perkara yang sudah berlalu artinya telah di telan waktu dan tidak ada yang bisa mengembalikan waktu!"
Kiki beringsut dari posisinya. Ia kini memegangi kedua kaki Dara, menatap Dara penuh iba.
"Katakan Kak, apa yang bisa Kiki lakukan untuk mendapatkan pengampunan? Kiki akan lakukan apapun yang Kak Dara perintahkan," ucap Kiki sungguh-sungguh.
"Apa kalian yang tidak tahan dengan kemiskinan dan yang gemar menempuh jalan pintas memang selalu bersikap seperti ini demi mendapatkan kehidupan senang, hah? orang-orang rendahan seperti kalian ternyata benar-benar tidak punya harga diri" cecar Dara tanpa berusaha melepaskan pegangan Kiki dari kakinya.
Kiki menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak Kak, Kiki tidak melakukan ini demi kehidupan senang. Tapi Kiki benar-benar menyesal dan berharap pengampunan Kakak. Kiki sudah pasrah dengan kehidupan susah yang kami rasakan saat ini. Kiki berharap lewat ampunan Kakak, hukuman yang Tuhan berikan setidaknya tidak ikut menimpa anak-anak kami,"
"Perjelas maksud mu Kiki!" bentak Dara.
__ADS_1
Kiki mengusap sembarangan mukanya yang semakin basah oleh deraian air mata. Ia mendongakkan kepala, menatap Dara sungguh-sungguh dan penuh keseriusan dengan pancaran hati yang luka serta iba.
"Kak, Kiki sadar semua yang Kiki lakukan terhadap Kakak salah. Semua perbuatan Kiki pantas di hukum dan Kiki rela menerima hukuman apa saja. Tapi Kak, mohon beri Kiki hukuman berat dalam bentuk apapun selain yang mengharuskan Kiki terpisah dari anak-anak Kiki Kak,"
Uraian air mata kembali membasahi wajah Kiki. Bahkan kini lelehan bening dari bola mata Ibu dengan dua orang putra itu terasa di jari jemari kaki Dara yang beralas wedges. Ya. Kiki sedang bersujud di kedua punggung kaki Dara.
"Anak-Anak Kiki masih terlalu kecil untuk berpisah dari Kiki Kak, meskipun Kiki bukanlah Ibu yang baik bagi mereka tapi mohon jangan pisahkan kami Kak. Mohon ganti lah laporan yang Kakak serahkan ke pihak polisi dengan hukuman lainnya Kak agar Kiki tidak di penjara, agar Kiki tidak terpisah dari anak-anak. Kiki janji akan menerima hukuman apapun yang Kakak berikan tapi mohon jangan buat Kiki dan anak-anak Kiki terpisah Kak, mereka tidak tahu apa-apa, kasihanilah mereka Kak,"
Isak tangis Kiki yang tidak kunjung berhenti itu murni terdengar seperti jeritan hati seorang Ibu yang tidak sanggup berpisah dari buah hatinya.
"Bahkan jika Kakak ingin Kiki melepaskan dan menjauh dari Mas Lukman, Kiki akan lakukan. Apapun Kak, apapun akan Kiki lakukan demi mendapatkan pengampunan Kakak. Gantilah jalan Kiki menuju penjara dengan hukuman berat lainnya asal jangan membuat anak-anak terpisah dari Kiki Kak. Mohon Kak, mohon."
Dara memandang Kiki yang masih bersujud di kakinya.
"Bangkitlah," tukas Dara lembut tapi tegas.
Dengan susah payah, Kiki bangkit dari sujud panjangnya di kaki Dara. Menangis membuat tenaganya seakan terkuras habis. Barangkali karena tangisan itu tulus dari hati sehingga mempengaruhi sampai ke sendi-sendi.
Jika dulu Kiki selalu mengutamakan penampilan, kini kebalikannya. Penampilan seadanya bahkan mendekati kategori sembarangan telah menanggalkan kesan anggun berkelas dan mewah yang pernah melekat dalam dirinya.
Bila Kiki yang sebelumnya hanya tahu cara bersenang-senang dengan menikmati harta pemberian Lukman, sekarang Ia mati-matian mencari penghasilan. Melirik isi keranjang yang di bawa Lusi tadi adalah beberapa macam kue, membuat Dara ingat percakapan Melsya dengan Kiki di rumah sakit tempo hari soal berjualan kue. Hal ini menunjukkan Kiki benar-benar tidak lagi peduli dengan gengsi. Semua siap Ia lakoni demi mencukupi kebutuhan para buah hati.
Cukup lama saling terdiam, Dara membuka suara,
"Kiki, jika aku rujuk kembali dengan Mas Lukman, mau kah kamu menjadi madu ku?" tanya Dara sungguh-sungguh.
"Ta ... tap ... tapi Kak?" Kiki gagu.
"Bukankah kamu akan melakukan apapun agar aku mencabut laporan terhadapmu?" sinis Dara.
__ADS_1
Kiki tertunduk lemah. Saat mengucapkan bersedia melakukan apapun asal tidak mendekati jalan menuju penjara, Ia tidak menyangka ini lah yang akan Dara minta.
"Baik Kak, Ki .. Ki bersedia di ma .. du," sudut mata Kiki kembali mengalirkan air mata.
'Kak Dara, sesakit inikah yang kamu rasa saat Mas Lukman mengatakan soal pernikahan kami? kamu dan Mas Lukman bahkan belum resmi rujuk kembali, dan aku belum sah menjadi madu mu tapi kenapa rasanya sakit sekali?' lirih Kiki pilu di relung hatinya.
Dara mengangguk-angguk.
"Bagus. Lalu, kamu juga harus mengkonsumsi ramuan penyebab kelumpuhan seperti yang kamu berikan kepadaku. Bagaimana?" tuntut Dara kembali.
"Kak Dara, haruskah?" Kiki mulai cemas dan ketakutan.
"Kiki, hanya menunggu hitungan bulan hingga kamu benar-benar mendekam di penjara. Kamu tahu karena apa? karena kamu tidak akan pernah bisa mengelak dari kejahatan mu. Bukti dan saksi yang ada terlalu banyak, lebih dari cukup untuk melempar kamu ke penjara, berpisah lama dari kedua putra kembar mu itu!"
Dara memandang Kiki yang meringkuk ketakutan dengan tatapan buas.
"Pilihannya hanya, ikuti semua perintah ku atau ucapkan selamat tinggal kepada anak-anakmu dan menetap lah di penjara!" desis Dara.
Ingatan perbuatan demi perbuatan keji yang telah dilakukan terhadap Dara melintas di pikiran Kiki bergantian dengan ilusi kehadiran bayangan wajah kedua putra kembarnya.
Di bawah meja, Kiki membuat kedua telapak tangannya saling mencengkram kuat. Kiki mencari sumber kekuatan dari sana. Bagaimanapun Kiki yang seorang diri butuh dorongan kekuatan agar siap untuk mengalami penderitaan yang sama dengan yang pernah Dara alami.
"Demi tidak hidup terpisah dari anak-anak, Kiki bersedia melakukan semua yang Kak Dara katakan tadi" Kiki bersusah payah membuat kalimatnya terdengar seolah penuh dengan ketegaran.
"Baik. Aku perlu tahu bahwa kesediaan mu ini bukan bohongan. Jadi coba nyatakan dengan lantang seluruh kesediaan mu itu!" perintah Dara tegas dan mengintimidasi.
Kiki menghela nafas panjang, lalu mulai menuruti perintah Dara.
"Kiki bersedia di poligami oleh Mas Lukman serta menerima menjadi madu Kak Dara dan akan mengkonsumsi racun penyebab kelumpuhan seperti yang sudah Kiki berikan pada Kak Dara sebelumnya"
__ADS_1
...***...