
Sesaat setelah menyatakan kesediaannya, Kiki berurai air mata. Sesak dan pilu melingkupi dirinya sebab antara kalimat yang di sampaikan bertentangan dengan kesanggupan hatinya.
"Kenapa masih menangis? bukannya kamu akan melakukan setiap perintahku?!" tutur Dara angkuh.
Kiki buru-buru mengusap air matanya. Lalu Ia mengangguk ketakutan.
"Iya, maafkan Kiki Kak. Kiki akan melakukan apa-apa perintah Kakak," lirih Kiki.
"Kiki, apa yang saat ini kamu rasa?" tanya Dara tegas.
Kiki menggigit bibir bawahnya, bentuk upaya membendung agar tidak ada tangisan yang terdengar keluar. Begitu pula dengan tekad di hatinya, semakin Ia teguhkan. Fokusnya saat ini hanya bagaimana agar tidak terpisah dari darah dagingnya demi membersamai tumbuh kembang sang buah hati.
Kiki menatap Dara dengan pandangan sendu. Ia tarik nafas dalam-dalam untuk kemudian di keluarkan dengan helaan perlahan dan panjang. Mencari kelegaan dalam tarikan nafas untuk jujur dan terbuka dengan apa yang tengah Ia rasa.
"Kiki tidak tahu mengatakan bagaimana tepatnya harus menggambarkan perasaan yang sedang Kiki rasa. Seakan-akan semua emosi tidak baik tengah berkumpul di jiwa ini. Sedih, terluka, tidak rela, berat hati, marah, semuanya bercampur jadi satu. Hancur lebur."
Kiki kembali menarik nafas panjang. Hatinya sungguh sakit teriris-iris. Ia memandang meja dan minuman di atasnya dengan tatapan kosong. Pikiran Kiki tengah berkelana kepada kedua putra lelakinya. Mengingat anak-anak tersebut, membuat Kiki kembali melanjutkan kalimatnya dengan penuh ketegaran.
"Tapi demi Syafiq dan Syabil, Kiki akan menelan semua puing kehancuran itu. Lagipula, Kiki memang pantas menerimanya Kak," air mata tak terbendung, bulir-bulir bening itu lolos begitu saja menyusuri wajah Kiki yang kuyu.
"Kamu bahkan belum memulai mengulang kehidupan yang aku alami. Tapi sanubari mu sudah remuk redam duluan," Dara menatap Kiki tajam.
Kiki hanya tertunduk dan diam. Kiki tidak sanggup lagi berujar. Kesedihan terlanjur dalam menguasai relung perasaannya, sehingga menguras tenaganya untuk sekedar dapat berkata-kata.
Meski hatinya tidak lagi berbentuk karena benar-benar telah di hancurkan oleh kesedihan yang demikian menghujam, Kiki pasrah menerima takdir hidupnya untuk menjadi madu dari mantan kakak madunya. Serta merelakan kedua kakinya akan mengalami kelumpuhan. Biarlah kehilangan semua asalkan terhindar dari kurungan jeruji besi demi dapat hidup bersama dengan anak-anaknya, begitulah tekad Kiki.
"Pulang lah, lalu jalankan peranmu sebagai seorang istri juga seorang Ibu dengan baik dan benar. Jadikan penyesalanmu itu sebagai helaan nafas. Sehingga tidak akan pernah lagi ada hati yang tersakiti demi memenuhi ambisimu. Didik anak-anakmu menjadi lelaki bertanggung jawab yang pantang menyakiti perasaan setiap perempuan. Aku akan mencabut laporan di pihak kepolisian."
Mendengar penuturan Dara yang sarat kemuliaan itu membuat Kiki yang sempat terperangah kembali bersujud mencium kedua punggung kaki Dara bergantian. Dan air mata membasahi wajah keduanya.
Kiki menangis oleh rasa syukur tak terhingga. Karena Ia yang berlumur dosa mendapatkan pengampunan dari sosok yang hidupnya pernah ia hancurkan.
Sedangkan Dara menangis karena lega. Sebab berawal dari rasa iba sebagai sesama perempuan yang bergelar Ibu, Ia berhasil menghadirkan rasa ikhlas di hatinya sehingga mampu memadamkan segenap amarah yang pernah bergelora.
Kini petuah Pak Nugroho yang benar adanya dapat Dara maknai. Membalaskan dendam sakit hatinya memang hanya membuat Ia merasa lelah. Seperti meminum air di lautan, dahaganya tidak pernah terpuaskan sedangkan amarahnya tiada berkesudahan.
__ADS_1
Di depan matanya sendiri sudah juga Dara saksikan betapa Kiki dan Lukman sengsara oleh keterpurukan yang berujung pada hancurnya tatanan kehidupan mereka. Kehilangan karir, kesulitan ekonomi, cibiran dari orang sekitar, perasaan bersalah yang menghantui, bahkan kebenaran adanya karma mulai terlihat melalui penderitaan serupa yang di alami oleh pihak keluarga sang pendosa. Bahkan mereka sudah berteman dengan putus asa.
Tidak ada yang lebih baik dari skenario pembalasan yang Tuhan ciptakan. Tanpa harus mengotori tangan, para manusia dzalim pemberi penderitaan dalam hari-hari Dara telah merasakan sakitnya rasa nelangsa.
Dara menghapus air matanya. Ia mengangkat Kiki dari posisi sujudnya. Ia rapikan pula jilbab Kiki yang berantakan. Lalu pelan Ia tepuk pundak Kiki. Ada rasa tenang yang sama-sama mereka rasakan. Perasaan hormat, kagum dan segan terhadap Dara kian membuncah dalam diri Kiki.
Kiki ambil tangan Dara kemudian berulang kali tulus menciuminya.
"Terima kasih Kak, terima kasih. Kiki akan selalu membawa rasa penyesalan atas kejahatan Kiki terhadap Kak Dara sebagai alarm kehidupan kami ke depannya. Seumur hidup kebaikan Kak Dara tidak akan Kiki lupakan. Kemuliaan jiwa Kak Dara akan Kiki jadikan panutan. Sekali lagi mohon maafkan setiap kesalahan yang Kiki lakukan Kak, dan terima kasih, terima kasih."
Dara merespon untaian narasi Kiki dengan pelukan.
Tak selang berapa lama, Kiki mencondongkan tubuhnya di depan Dara, membungkuk lalu mengangguk takzim dan mohon izin dari sana. Kiki akan kembali berjalan kaki berkeliling menjajakan kue buatannya, begitulah kalimat terakhir yang Kiki sampaikan sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari pandangan Dara.
...***...
Dara meninggalkan meja tempat Ia dan Kiki duduk berhadapan sebelumnya. Ia kembali menghampiri teman-temannya yang sedari tadi seksama memperhatikan gestur dan mimik wajah yang Dara dan Kiki ekspresikan ketika kedua perempuan itu tengah melakukan perbincangan.
Lusi menyambut kedatangan Dara dengan tangan yang Ia rentangkan. Dara menerima pelukan hangat dari Lusi. Berkali-kali Lusi mengusap punggung Dara.
Walaupun Dara belum bercerita apa detail isi pembicaraannya dengan Kiki, tapi Lusi serta Radit dan Dokter Angga dengan melihat gerak-gerik keduanya tadi cukup yakin dan percaya bahwa Dara memilih jalan yang tidak mudah untuk dirinya terhadap Kiki, yaitu memilih memaafkan ketimbang melanjutkan membalaskan dendam.
"Kamu benar sungguh sudah rela dengan semua perlakuan mereka terhadapmu? khususnya tindakan dari Kiki?" Lusi bertanya kepada Dara yang sudah duduk di sebelahnya.
"Ya. Aku sudah ikhlas." Jawab Dara tegas.
"Semudah itu? why?" tanya Lusi lagi.
"Dengan melanjutkan perkara yang aku laporkan, membalaskan dendam dari penderitaan yang sudah aku rasakan, membuatku jadi tidak lebih buruk dari mereka. Kami sama-sama saling menghancurkan walau dengan cara yang tidak sama. Apa yang istimewa dari tindakan rendah seperti itu?" Dara mencoba membuka paradigma Lusi.
"Tapi tidakkah mereka memang pantas mendapatkannya? setiap kesalahan mesti mendapat hukuman!" cetus Lusi.
Dara menggenggam tangan sahabatnya itu, mengembangkan senyuman, lalu berkata,
"Mereka sudah mulai mendapatkan hukuman. Bukan dari ku tapi langsung dari Tuhan. Tidakkah kamu juga sudah menyaksikannya?!"
__ADS_1
Lusi paham dengan apa yang Dara maksudkan. Karena dia sendiri pernah merasa dan berujar bahwa terhadap kehidupan Kiki dan Lukman, Tuhan ikut campur tangan.
"Kamu hebat dan yang terbaik. Selamat." Tukas Dokter Angga dengan sedikit penekanan dalam beberapa kata.
"Selamat untuk apa?" tanya Dara bingung.
"Selamat karena berhasil melepaskan diri dari cengkraman kejam sebuah pembalasan dendam"
Kalimat dari Dokter Angga yang di sampaikan dengan wibawa itu membuat Radit dan Lusi tanpa sadar menganggukkan kepala mereka, secara tersirat mereka sepakat dengan setiap bait kata yang Dokter Angga ucapkan.
Dara yang sempat bingung, menerima keterangan ucapan selamat dari Dokter Angga dengan senyuman. Senyuman yang membuat para lelaki di hadapannya berdebar jantungnya untuk entah untuk hitungan yang ke berapa kali semenjak dari masing-masing pertemuan mereka.
"Nah, ucapan selamat dari ku, ku persembahkan lewat traktiran. Jadi ayo kita semua pesan lagi apapun yang ingin di santap. Lupakan soal berat badan yang penting kita makan" sahut Radit serius di bumbui kelakar.
Para perempuan dan laki-laki yang menjalin persahabatan itu kembali tertawa riang. Betapa jiwa Dara kini merasa jauh lebih tenang. Ada semacam beban yang terangkat dari ulu hatinya. Barangkali itulah rasa dendam yang di luapkan dengan keikhlasan.
Tidak mudah memang bagi Dara untuk memberi maaf, lalu begitu saja melupakan tindakan keji yang pernah Kiki dan Lukman lakukan kepadanya. Namun nyatanya membalaskan dendam juga tidak memberi ruang kelegaan di jiwanya. Dan Dara sungguh tidak ingin bertindak kejam pada hidup seseorang karena dia sendiri sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya di perlakukan demikian.
Dara hanya perlu mencoba ikhlas dengan jalan hidupnya dan mencipta kembali takdir hidup yang bahagia.
'Selamat tinggal balas dendam dan selamat datang masa depan penuh kebahagiaan.' Ucap Dara pada dirinya sendiri di dalam hati.
...***...
Haiii para pembaca yang Budiman dimanapun berada🤗
Sehat-sehat selalu untuk kita semua yaa😊🤲
Tetap semangat kan yaa mengikuti jalan hidup Dara. Setelah berhasil keluar dari panasnya Neraka yang di cipta Kiki dan Lukman, sekarang yukk ikuti proses Dara mencipta surga😘
Like, komentar, hadiah, dan vote dari pembaca semua selalu penulis tunggu dan harapkan nihhh🤩🤩🤩
Selamat dan semangat beraktivitas untuk kita semua💪😁
❤️MNMS
__ADS_1