
"Cengkram yang kuat lalu dorong kaki Anda dengan kekuatan penuh"
Dokter Angga tampak memeragakan ucapannya sendiri.
"Kenapa ini sulit sekali!"
Pekik Dara tertahan sambil berusaha mengikuti intruksi dokter Angga.
"Karena yang gampang itu hanya bicara!"
Sinis dokter Angga yang di balasi Dara dengan guratan halus di keningnya efek mengernyitkan sepasang alisnya yang indah sebagai bentuk ketidak tahuan nya dengan maksud ucapan dokter Angga.
Selanjutnya sesi terapi terus berlanjut dengan kegigihan tekad dan usaha dari Dara meski di bimbing oleh lelaki sedingin es.
"Untuk terapi berikutnya mohon di terapkan semua saran medis yang saya sampaikan tadi"
Ucap Dokter Angga datar sambil menulis beberapa resep obat yang mesti Dara konsumsi.
"Baik Dokter" Jawab Dara tidak kalah datar nya.
"Satu lagi, saat ke klinik ini tentukan posisi kamu! sebagai pasien atau penabur harapan!"
Dokter Angga masih belum beralih pandangannya dari buku kontrol kesehatan milik Dara.
"Saya tidak mengerti maksud Anda dok"
Urai Dara kebingungan.
Dokter Angga menghela nafas, meletakkan pena nya lalu melihat Dara dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Aber Insani, usia 13 tahun, kondisi paraplegia komplit. Dengan kata lain, anak yang tadi kamu berikan motivasi kesembuhan total pada kelumpuhan yang Ia alami saat ini, minim harapan untuk dapat kembali normal!"
Dara mencerna setiap kata yang di utarakan si es di hadapannya dan sepertinya Dara mulai paham maksud dan arah pembicaraan dokter Angga sebelumnya.
"Jika memang dengan menjadi penabur harapan bisa memberi motivasi bagi anak tadi dan pasien lumpuh lainnya, sepertinya saya akan memilih posisi sebagai penabur harapan ketimbang pasien karena ada rasa kemanusiaan yang tidak bisa di kesampingkan hanya karena penderitaan kita sendiri"
Dara bernarasi dengan ketetapan hati yang mantap.
Dokter Angga tersenyum singkat.
Senyuman singkat itu cukup untuk membuat hati yang melihatnya terhenyak,
'Senyum nya manis' Batin Dara.
"Anda tahu apa yang paling berbahaya dalam hidup?"
Dokter Angga lekat menatap Dara menunggu jawaban atas kalimat yang Ia tanyakan.
"Itu adalah harapan" Lugas dokter Angga.
"Tepis lah diri mu dari memberi harapan jika tidak ingin menciptakan neraka! ganti dengan keharusan berbuat apa yang benar meski terasa menyakitkan. Harapan adalah kebohongan tanpa usaha yang di paksakan"
Dokter Angga berdiri lalu memanggil perawat untuk mengantarkan Dara ke luar dari ruangannya di ganti dengan pasien dalam antrian selanjutnya.
... ***...
"Tumben gak mencak-mencak kesal, si es udah mencair?"
Tanya Lusi yang menjemput Dara dan Rani dari klinik ortopedi ternama di kota mereka itu.
__ADS_1
"Si, menurut kamu apa yang paling berbahaya dalam hidup?"
Tanya Dara tanpa menggubris pertanyaan Lusi terhadapnya.
"Waduh, teka-teki berhadiah gak nih?"
Seloroh Lusi merespon tanya dengan canda.
"Serius ini" Desak Dara.
"Mmmm... gak tau aku. Emang apaan?"
Tanya Lusi kembali.
Dara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai bentuk jawaban dari pertanyaannya yang di umpan balik oleh Lusi.
Sementara hati Dara menjawab tanya tersebut dengan,
'Harapan'
'Benar, adalah harapan yang paling berbahaya dalam hidup. Jika saja aku tidak berharap Mas Lukman akan kembali kepada ku, jika saja aku tidak berharap ummi nya dan saudara-saudaranya memihak ku, jika saja aku tidak berharap Kiki melepaskan suami ku, mana mungkin kehidupan rumah tangga ini kini serasa di neraka'
Dara membenarkan pernyataan dokter Angga di klinik tadi dengan bukti analogi pada kehidupannya sendiri.
'Sikap si es begitu tadi apa karena benar-benar peduli terhadap pasiennya ya?'
Pikiran Dara kembali mengudara berusaha menganalisa sikap misterius dokter Angga.
Dalam daripada itu untuk yang kesekian kalinya di kursi penumpang bagian tengah, Rani kembali mengirimkan beberapa photo dari galeri handphone nya kepada kontak yang sama seperti sebelumnya, 'Mbak Kiki'.
__ADS_1
... ***...