
"Hmphhh, hahahaha hahahaha"
Mendengar ketegasan Lukman soal akan menceraikan Kiki istri keduanya membuat Dara tidak dapat menahan tawa.
Lukman tersenyum melihat Dara yang tertawa. Hati Lukman berbunga. Angin segar serasa melingkupi dirinya yang sempat getar-getir kepanasan oleh wacana perceraian yang Dara ajukan.
"Dara sayang, apa kamu se-senang itu?"
Ikut terbawa suasana oleh gelak renyah yang Dara tularkan membuat Lukman hendak mengelus puncak kepala Dara yang tertutup jilbab model instant sederhana.
Plakk.
Tawa Dara terhenti seiring dengan tepisan kasar yang Ia pusatkan ke tangan Lukman yang hampir menyentuhnya.
"Jangan berani-berani menyentuhku Mas!" tegas Dara.
Lukman mengernyitkan kedua alis dan dahinya. Kebingungan segera terpampang dalam raut mukanya.
"Sekonyol itukah kamu menganggap sebuah pernikahan Mas? sehingga bisa kamu lakukan seenak jidatmu. Semata pasti hanya demi mementingkan hasrat di bawah perutmu!" Dara melotot geram ke arah Lukman.
"Dara, bukan begitu tap ... "
Dara lekas memotong kalimat yang hendak Lukman sampaikan,
"Diam! dan dengarkan aku dengan seksama. Bukan hanya dengan telinga! tapi juga libatkan akal pikiran dan hatimu yang sepertinya mati fungsi itu!"
Dara semakin menegakkan posisi duduknya. Meski hanya mengenakan pakaian sederhana khas ibu rumah tangga ketika berada di rumah, Ia terlihat begitu anggun dan berwibawa.
"Mas, dengan bersedia menceraikan Kiki sebagai istri keduamu terlepas apa pun alasan sebenarnya, semakin menunjukkan bahwa kamu laki-laki yang tidak pantas di jadikan Imam dalam keluarga. Kamu sama sekali tidak punya rasa tanggung jawab! Jika dulu kamu menduakanku dengan alasan ingin menjadi lelaki yang menyempurnakan imannya karena aku mengalami kelumpuhan, sekarang apa lagi yang akan kamu jadikan dalih untuk mencampakkan Kiki? sementara kamu pernah rela menyakiti keluargamu demi kehadirannya! ckckck .. kamu tidak lebih dari seorang pecundang yang rela mengorbankan hidup orang lain demi ambisi mu sendiri!"
__ADS_1
Dara menghentikan kalimatnya. Ia melihat kebingungan yang sempat terpancar di wajah Lukman kini berubah menjadi sebuah keterkejutan yang membuat warna mukanya pucat pasi.
"Kamu pikir hati manusia seperti sebuah gelas? yang setelah kamu isi dengan racun, lalu begitu saja bisa kamu penuhi dengan susu. Sehingga pahitnya racun bisa berganti dengan manisnya susu? iya hah? gak waras kamu Mas!"
"Tidak perlu aku jabarkan kepada sampah sepertimu bagaimana perihnya luka yang kamu torehkan kepadaku dengan belati perbuatan kejam mu itu! karena setidaknya ada hal yang dapat aku syukuri dari sikap semena-mena mu. Bahwa aku dapat terlepas dari belenggu pernikahan bersamamu yang ternyata berdiri tanpa kesetiaan komitmen, kompromi dan toleransi."
Dara sedikit membungkukkan tubuhnya menatap Lukman yang tertunduk lalu kembali telak menyerang rasa percaya diri yang sempat Lukman miliki. Dengan tenang berkata,
"Mas, berhenti berlakon menjadi laki-laki sejati di hadapanku. Dan tetaplah fokus menjadi suami dari madu ku itu. Karena kalian terlihat serasi dan memang pantas bersama. Perebut suami orang dan penjilat adalah pasangan yang sempurna."
Lukman bangkit dari duduknya. Kemurkaan menyelimuti dirinya.
"Keterlaluan kamu Dara!" teriak Lukman.
Dara tidak terpengaruh sedikitpun dengan teriakan Lukman. Dara hanya memandang Lukman sekilas lalu bersandar santai pada kursi yang ia tempati. Menunggu retorika apa lagi yang akan Lukman kemukakan.
"Aku bahkan sudah berkali-kali meminta maaf padamu atas perbuatan ku dahulu tapi kamu sedikit saja tidak mau menghargai ketulusanku itu. Bahkan Tuhan saja masih mau memaafkan kesalahan hambanya." Lukman memasang wajah iba.
"Baik. Tidak perlu memaafkan ku. Tapi perlu kamu ketahui, kamu egois Dara! kamu hanya mementingkan perasaanmu sendiri tanpa memperdulikan kebahagiaan anak-anak kita. Bukankah anak-anak selama ini sempat bersedih karena ketiadaan ku di sisi mereka? bukannya mempertimbangkan bahwa kembali bersama adalah hal yang baik untuk anak-anak, kamu malah melayangkan tuduhan tak berdasar kepadaku dan tetap bersikeras ingin bercerai."
"Egois? tuduhan tidak berdasar? Mas, apa kamu bisa mendengar setiap kata yang kamu sampaikan itu hah? kamu benar-benar sudah kehilangan urat malu ya Mas. Berhentilah mempermalukan dirimu sendiri dengan menunjukkan kemunafikanmu Mas. Kamu harusnya bercermin! itu di ruang tamu ada kaca besar. Sana bercermin!" Dara kembali sinis dan sarkas.
"Sungguh kamu bukan lagi Dara yang aku kenal." Cetus Lukman geram.
"Aku memang bukan Dara yang kamu kenal dulu Mas. Dara yang dulu sudah mati dan menjadi abu. Menjadi abu dalam api neraka yang kamu kobarkan di kehidupan rumah tangga kita. Ini lah aku yang sekarang. Dara yang akan merubah neraka menjadi surga!"
Bulu kuduk Lukman berdiri meremang mendengar bait demi bait keseriusan dalam ucapan Dara. Ada lebih dari sekedar ancaman yang tersorot dari kedua mata indah milik Dara.
Lukman seketika merasa seolah tersedot oleh ingatan demi ingatan tentang bagaimana Ia sudah menyakiti Dara.
__ADS_1
Saat rumah tangga mereka baik-baik saja, Lukman dengan sadar menjatuhkan dirinya dalam godaan Kiki yang menebar pesona. Hingga akhirnya mereka main belakang dari Dara yang sudah menganggap Kiki seperti saudara sendiri bahkan sering membantu kehidupan ekonomi Kiki dan keluarganya.
Ketika Dara tiba-tiba mengalami kelumpuhan, sebagai pasangan hidup yang baik Lukman bukannya mengupayakan pengobatan demi kesembuhan Dara malah diam-diam menikahi Kiki tanpa sepengetahuan Dara.
Walaupun awal mula melakukan pernikahan kedua itu karena terpaksa. Sebab Kiki terlanjur hamil duluan akibat hubungan gelap yang mereka jadikan candu.
Saat sudah resmi berpoligami, Lukman terus-terusan asyik menghabiskan waktu bersama Kiki yang tengah mengandung anaknya ketimbang memilih membagi waktu, materi, perhatian secara adil untuk Dara dan anak-anak mereka.
Bahkan mirisnya, Lukman benar-benar seolah lupa bahwa memiliki keluarga lain selain Kiki. Sehingga setiap momen penting dalam rumah tangganya bersama Dara begitu saja terlupa. Tertutup oleh euforia bahagia bersama istri kedua.
Sungguh begitu terjal dan berduri jalan yang Dara tempuh bersama anak-anak mereka di tengah kondisi kecacatannya. Semua beban derita itu akibat tindakan tirani yang Lukman lakukan.
Lukman yang sudah menyiapkan seribu satu kalimat serangan serta bujuk rayuan teruntuk Dara, kini mendadak terdiam seketika. Lidahnya berasa kelu, bibirnya tertutup rapat, jantungnya berdetak hebat. Ketakutan menyerang segenap jiwa raganya.
'Dara, apa lagi yang akan kamu lakukan?' desis Lukman pada batinnya.
"Setelah ini kamu tidak boleh datang apalagi menginap sesukamu di rumah ini. Kamu hanya dapat menemui anak-anak setelah mendapatkan persetujuan dariku!"
"Baiklah jika memang itu yang kamu inginkan. Aku pastikan ucapan mu itu akan berbalik kepadamu sendiri Dara. Karena aku akan memperjuangkan hak asuh anak-anak kita!" balas Lukman.
Dara bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Lukman dengan pandangan tenang. Dara menatap Lukman dari ujung kaki hingga kepala. Kemudian Dara berujar,
"Aku harus istirahat. Karena aku bukan pengangguran yang punya banyak waktu luang untuk bicara omong kosong."
Ia kemudian berlalu meninggalkan Lukman yang merasa kembali tersinggung oleh setiap ucapan Dara yang memang benar apa adanya.
Tiba-Tiba Dara menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya ke belakang, melihat ke arah Lukman.
"Ah iya. Soal hak asuh anak, selamat bermimpi di siang bolong ya Mas."
__ADS_1
Kalimat penuh cemoohan dari Dara itu membuat Lukman meradang. Ia genggam kasar rambut di kepalanya sebagai pelampiasan dari rasa kesal.
...***...