
"Selain seorang pelukis handal rupanya Nona ini juga seorang model ya"
Puji laki-laki tanpa nama dengan sapaan 'tuan' sembari mengarahkan handphone nya kepada Dara agar Dara dapat melihat hasil photo mereka tadi.
Dara tertawa kecil menanggapi pujian si 'tuan' tersebut.
"Perempuan j*****g!!!"
Hardik seorang perempuan cantik berperawakan tinggi semampai dengan balutan pakaian kasual yang terlihat elegan.
Dara dan si "tuan' sontak kaget dan terperangah heran.
"Kenapa ya Buk?" Tanya si 'tuan'.
"Aku bukan ibu mu!"
Ketus perempuan yang entah darimana tiba-tiba datang merusak kebersamaan Dara dan si 'tuan'.
"Maaf mbak, kakak, saudari, teteh, tante, nona, puan, nyonya Anda siapa dan ada keperluan apa?"
Tanya si 'tuan' lagi.
Yang di tanya memandangi si 'tuan' penuh seksama lalu menaikkan satu alisnya yang kentara hasil bingkai-an sulam alis dan dengan sinis nya berkata,
"Kamu brondong nya perempuan j*****g ini?"
Dengan geram perempuan yang tidak di ketahui asal usul nya itu membelalakkan kedua matanya kepada Dara.
__ADS_1
Dara mulai gerah.
"Maaf saudari selain Anda, hanya saya dan gadis itu yang berjenis kelamin perempuan. Tidak ada perempuan j****g seperti yang Anda katakan"
Yang di maksud dengan panggilan 'gadis itu' mendekat. Dia adalah Rani yang sedari tadi setia menemani majikannya di tempat itu.
"Cih. Dasar perempuan tidak tahu diri!"
Hardik perempuan tak di kenal itu lagi kepada Dara.
Perempuan yang cara berpakaian dan tutur kata nya berbanding terbalik itu mengambil sesuatu dari dalam tas di sampiran nya lalu,
Plek.
Tumpukan lembar photo yang sempat mengenai muka Dara akibat di lempar oleh perempuan yang mencerca nya itu kini bertebaran ke lantai.
Dara mengambil dan memandangi salah satunya yang terjatuh di pangkuan Dara.
Bukan rasa was-was yang membuat jantung Dara bekerja ekstra. Melainkan rasa bingung dan heran dengan photo di tangannya itu.
'Aku dan si es?'
Dara kembali memperhatikan photo itu. Dia sama sekali belum pernah berphoto dengan si es.
Lantas ulah siapa yang bisa-bisanya menangkap gambar diri Dara dan si es dengan momen layaknya dua orang sedang menjalin hubungan yang begitu intens melebihi jalinan hubungan antara dokter dan pasien sebagaimana yang telah Dara dan dokter Angga lakukan selama ini.
"Bukti sudah terpampang nyata di depan mata mau bilang apa lagi kamu perempuan j****g cacat hah!"
__ADS_1
Kata-kata yang sering Dara dengar dari Lukman itu kembali menghadirkan luka di hati Dara.
"Sepertinya Anda salah paham saudari"
Dara berusaha tenang agar tidak tersulut emosi.
"Salah paham? masih aja mengelak! hei perempuan cacat! untuk pertama dan terakhir kalinya aku peringatkan kamu ya, Stop menggoda Angga tunanganku dan asal kamu tahu ya kami akan segera menikah!"
Perempuan itu berkacak pinggang.
Dara mengulurkan tangannya kepada Rani sambil sedikit membuat gerakan menaikkan wajahnya ke arah handphone milik Dara yang di pegang oleh Rani.
"Dokter Angga, mohon ajari tunangan Anda tentang sopan santun!"
Tuut.
Sambungan telepon oleh Dara di matikan sepihak tanpa tahu bagaimana tanggapan lawan bicara di ujung telepon.
"Saudari tunangan dokter Angga. Untuk Anda ketahui dan ingat sampai mati bahwa saya, bukan perempuan j****g! melainkan seorang Dara Herlambang yang bahkan sekedip mata saja tidak tertarik untuk menggoda laki-laki mana pun karena prinsip hidup saya, perempuan terhormat adalah yang mampu membuat lawan jenisnya terkesima tanpa harus merendahkan harkat dan martabat diri sendiri terlebih dahulu. Dan lagi, semestinya pasangan yang bertunangan paham karakter pasangan nya dan mampu menyelesaikan prahara hubungan mereka secara bersama sehingga tidak mempermalukan diri sendiri dengan tuduhan palsu seperti yang Anda lakukan saat ini!"
Dara menekankan beberapa kata dalam ucapannya.
Perempuan tak di kenal itu tampak menahan amarah, aura muka nya yang sedari tadi sangar kini semakin seram.
Lantas tanpa di perintah maupun di paksa perempuan tak di kenal itu berlalu meninggalkan Dara, Rani dan si 'tuan'.
'Wow, Dara Herlambang. Aku terkesima pada mu'
__ADS_1
Si 'tuan' menatap Dara dengan pandangan yang tidak dapat di terjemahkan maknanya sementara degupan jantung si tuan berpacu menderu seperti arakan karnaval.
...***...