Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
Kembali menginap


__ADS_3

Jleng


Lampu kamar menyala.


"Bunda"


Lukman perlahan menghampiri Dara yang tengah berbaring di tempat tidurnya.


"Mau apa kamu Mas?"


Dara dilanda kecemasan karena ia hafal betul dengan intonasi dan sorot mata yang Lukman tampilkan barusan merupakan pertanda ada hasrat yang segera ingin disalurkan.


Ingatan Dara berselancar ke beberapa bulan yang lalu. Saat itu Dara sudah mengalami kelumpuhan namun Lukman meski dengan kelembutan dan sikap super hati-hati masih mengisi nafkah batin entah bagi Dara atau semata demi pribadi Lukman sendiri.


"Kita sudah lama tidak bersama Bunda. Apa Bunda tidak rindu Ayah?"


Benar saja. Suara buaya sebagai perlambang ketidaksetiaan keluar dari mulut Lukman.


"Hahaha ... hahaha ..."


Dara yang sudah dalam posisi duduk atas usahanya sendiri tertawa mendengar dan melihat raut muka laki-laki di hadapannya itu.


Laki-laki yang dulu jika asa tengah malamnya bergelora tidak akan mampu Dara tolak untuk merealisasikannya.


"Mas, besok kamu minta istri mudamu untuk memeriksakan matamu ke dokter mata ya! karena sepertinya kamu tidak bisa melihat bahwa aku masih cacat lho Mas!" sarkas Dara


"Bukankah kamu menikah lagi karena aku cacat? Karena aku tidak mampu menyempurnakan keimananmu sebagai seorang lelaki 'kan? Terus sekarang kamu ngapain Mas?"


sinis Dara lagi tatkala teringat luka yang Lukman torehkan hingga tega menduakan dirinya dengan perempuan yang pernah menjalin keakraban bersamanya.


Tok. Tok. Tok


Pintu kamar diketuk.


"Neng ..." suara mbok Inem


"Masuk Mbok" pinta Dara


Lukman beranjak ke pintu lalu membuka pintu.


Sepertinya pintu kamar itu telah dikunci oleh Lukman sebab selama lumpuh, Dara tidak pernah mengunci pintu kamarnya itu sebagai antisipasi jika terjadi apa-apa padanya mbok Inem tidak perlu repot-repot harus menunggu kunci pintu dibuka.


"Dasar mesum" umpatan Dara dalam batinnya teruntuk Lukman.

__ADS_1


"Maaf Neng, ini ada--"


Mbok Inem memilih lanjutan kata-katanya diselesaikan dengan masuknya seorang perempuan hamil ke kamar Dara.


"Makasih ya Mbok, Mbok silahkan lanjutin istirahatnya"


ujar Kiki dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.


Mbok Inem hanya bergeming.


"Mama, ini ... sudah larut malam kenapa nyusul kesini?" Lukman menunggu jawab dari Kiki.


"Ayah lucu deh. Kemana sih perginya istri kalau gak ke pelukan suaminya?"


Tanpa malu Kiki memeluk Lukman dengan manja.


"Mbok Inem, tolong antarkan tamu tengah malam kita ke kamar tamu ya,"


Dara menatap mbok Inem lembut.


"Baik Neng" tanggap mbok Inem sigap.


"Kak Dara, Kiki kesini mau ketemu mas Lukman lho Kak. Apa Kak Dara gak kasihan Kiki yang hamil gini mesti tidur sendiri tanpa suami?"


"Mas Lukman kesini untuk menjenguk anak-anaknya jadi dia akan menemani tidur putri-putrinya. Kalau kamu gak nyaman di kamar tamu silahkan kembali ke rumahmu sendiri!" tegas Dara.


Kiki tampak akan merespon ucapan Dara namun Lukman segera menggamitnya keluar dari kamar Dara.


"Selamat istirahat Neng" ucap Mbok Inem yang dibalas Dara dengan anggukan.


...***...


"Makan yang banyak ya cantik, biar makin gemesin."


Kiki berusaha menjawil pipi Azkia namun gadis kecil itu sigap menghindari sentuhan jari Kiki ke pipinya.


"Kak Dara mau makan apa? Kiki ambilin ya"


Kiki menyapa Dara yang kursi rodanya sudah mbok Inem atur ke mode sesuai tinggi meja makan.


"Kalau ini sebagai bentuk ucapan terima kasih kamu atas tumpangan nginap semalam, gak perlu repot-repot karena terhadap orang yang membutuhkan belas kasihan sudah semestinya aku bersikap demikian,"


ujar Dara tenang tanpa melihat Kiki sambil menyuapkan roti lapis yang mbok Inem sajikan untuknya.

__ADS_1


"Dara! Kiki berusaha bersikap baik tapi kamu--" suara Lukman yang mulai meninggi terputus oleh suara Kiki,


"Honey, please stop sayang. Biarkanlah. Mungkin ini cara kak Dara yang cacat melampiaskan sedihnya karena sebagai istri tidak dapat secara sempurna menyiapkan sarapan untuk keluarga"


Kiki mengelusi lengan Lukman lalu mengedikkan bahunya sambil melempar senyum ke hadapan Dara.


"Aku kehilangan selera makan"


Lukman menenggak tergesa air di dalam gelas.


"Sayang, udah 'kan sarapannya. Ayo kita berangkat sekolah," ucap Lukman pada Azkia yang sedang membersihkan mulutnya menggunakan tisu.


Azkia mengangguk, mendekati Dara lalu bersalaman.


"Bunda, Bunda gak perlu antar kakak sampai depan, disini aja lanjutin sarapan Bunda. Kakak sama Ayah aja gak apa-apa," ucap Azkia tulus.


Dara mengecup lembut kening Azkia.


Jika saja tidak ada Lukman dan Kiki madunya disini, pastilah Dara akan memperkenankan genangan air bening di pelupuk matanya menyusuri pipi tirusnya itu.


Lukman, Kiki dan Azkia telah hilang dari pandangan Dara.


Tumpahlah air mata yang sedari tadi dibendungnya. Sampai hati Lukman membela seorang yang kehadirannya baru saja dalam hidupnya di depan mata anaknya sendiri.


Sikap Azkia yang tenang namun sepertinya mengerti atas apa yang terjadi membuat luka Dara yang belum benar-benar pulih kembali menganga, perih.


"Tuhan, mohon lindungi Azkia ku dari segala bentuk rasa luka" pinta Dara yang ia langitkan dengan penuh pengharapan.


"Neng, sabar, tabah, ngucap." Mbok Inem memijit-mijit pundak Dara.


Dara mengangguk tanpa mampu membendung aliran air dari matanya.


"Bunda ..."


Alsava yang keluar dari kamarnya masih dengan wajah bantal serta boneka beruang dalam pelukan, menjijit berusaha menghapus air mata sang ibunda.


Dara memeluk erat Alsava.


"Aku harus kuat. Semua akan berakhir sebagaimana seharusnya"


Tekad Dara pada pikir dan batinnya.


...***...

__ADS_1


 


__ADS_2