Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
24. Di perhelatan


__ADS_3

Alunan suara musik yang di pandu grup band kenamaan terdengar memeriahkan sebuah acara yang keseluruhan dekorasinya di desain dengan nuansa warna biru dan putih.


Di sebuah ruangan bagian tengah dari rumah yang tergolong mewah tempat acara berlangsung terbentang spanduk besar ber-background beberapa photo dengan tulisan,


...Akikah Syabil & Syafiq...


Pandangan mata Dara fokus pada beberapa orang yang terlihat sebagai pusat perhatian sedang beramah tamah dengan tamu lainnya.


Dara bertemu pandang dengan mereka yang terkesan sebagai pusat perhatian tersebut. Salah satu dari mereka berjalan mendekati Dara.


"Kak Dara. Ahh senang nya kakak mau menghadiri acara akikah para pangeran kembar kami"


Perempuan si pemilik suara tanpa di minta menyalami lengkap dengan membubuhkan ciuman kecil pada telapak tangan Dara.


Sedetik kemudian perempuan yang terlihat menawan dalam balutan abaya putih beraksen biru serta jilbab yang cukup panjang itu membawa Dara yang berada di kursi roda ke dalam pelukannya. Untuk menyapa pipi kanan dan kiri Dara dengan pipi miliknya yang di hiasi riasan ala party look.


"Kemari kemari Bu, semua nya!" Pinta perempuan itu pula pada beberapa orang yang


beberapa sepersekian detik lalu di tinggal nya demi menghampiri Dara. Yang di panggil mengikuti ajakannya, mendekat ke arah Dara dan si perempuan tersebut.


"Kenalkan, ini Kak Dara. Dia adalah kakak madu ku"


Dengan suara yang di buat selemah lemah gemulai mungkin, Kiki mengenalkan Dara kepada keluarga dan beberapa temannya.


Haii


Haloo


Lalu satu per satu dari mereka menjabat tangan Dara dan mengenalkan diri mereka.


Dara tidak ingat masing-masing nama dari mereka. Dara hanya tertarik untuk mengingat bahwa di antara mereka ada yang mengaku sebagai Ibunya Kiki, tantenya, adiknya, dan teman-temannya Kiki.


"Bukan main acara akikah anak mu ya Ki, megah meriah" Tutur Dara.


"Ah gak Kak, biasa saja ini. Aslinya malahan Mas Lukman, ayahnya si kembar sempat mau bikin acara jadi beberapa hari lagi terus mau nambah artis luar kota juga" Kiki menanggapi.


"Oh ya? Bagus dong terus kenapa gak jadi?"


Tanya Dara seolah tertarik dengan topik pembahasan dari Kiki.


"Segini saja sudah delapan nol nya Kak" Isyarat Kiki soal nominal biaya acara akikah anak nya itu.


"Oh wow. Serius?" Lusi tiba-tiba muncul ke hadapan mereka.


"Iya Jeng. Karena nanti tamu-tamu saat pulang akan bawa tentengan" Suara yang mengaku sebagai tante Kiki.


"Belum lagi isi tentengannya produk branded" Suara teman Kiki yang bernama Mila.


Selanjutnya para kerabat dan karib Kiki suka rela menjabarkan detail kemewahan dan kemeriahan yang di sediakan oleh Lukman dan Kiki pada perhelatan syukuran anak kembar mereka.


Dara, Lusi dan Rani berusaha menutupi raut ekspresi muak mereka dengan berlaku sabar mendengarkan pujian demi pujian yang di lontarkan untuk Lukman serta Kiki.


"Kiki, bisa kah aku berbicara empat mata dengan mas Lukman?" Sahut Dara di sela-sela basa basi ramah tamah yang mereka lakoni.


"Mmm... Kiki sebenarnya boleh saja Kak tapi sepertinya Mas Lukman sedang sibuk dengan para tamu Kak. Jadi gimana Kak? Kakak tahu kan sebagai istri yang baik Kiki gak mau ganggu kegiatannya Ayah twins" Dalih Kiki.


"Begitu ya. Sayangnya jika harus menunggu selesai aku khawatir tidak bisa. Karena kasihan anak-anak di rumah hanya di tinggal dengan Mbok Inem saja" Dara bernada kecewa.


"Kalau boleh tahu, memangnya ini soal apa ya Kak?" Selidik Kiki.


"Sebenarnya bukan apa-apa. Pihak pengadilan agama bisa saja langsung mengirimkan surat ini kepada Mas Lukman hanya saja aku ingin memberikan nya secara langsung" Dara menggenggam tas tangannya. Mempertegas bahwa surat yang di maksud berada dalam tas yang Ia pegang.

__ADS_1


"Pengadilan agama?"


"Minta cerai?"


"Serius?"


Riuh rendah nada penasaran yang di bisikkan kerabat dan teman akrab Kiki terdengar di telinga Dara dan dia bahagia mendengarnya.


Dara memandangi wajah Kiki yang tidak dapat di tutupi sedang menahan senyum. Pipinya yang sudah merah kian bersemu.


"Wah sepertinya penting sekali ya Kak. Gini aja, karena Kak Dara juga pasti gak nyaman berlama-lama di kursi roda di tengah kerumunan yang mondar mandir dan kasihan anak-anak di rumah juga. Jadi, Kiki coba panggil dan minta Mas Lukman buat nemuin Kakak ya"


Tanpa menunggu persetujuan dari Dara, Kiki perlahan mendorong kursi roda Dara menjauhi orang-orang di antara mereka sebelumnya.


Dara dan Kiki sekarang berada di sebuah kamar yang sepertinya di peruntukan untuk tamu.


"Kakak tunggu di sini ya. Kiki panggil Mas Lukman" Ucap Kiki lembut dan lekas menghilang dari pandangan.


...***...


"Bicara lah. Aku tidak enak hati jika harus meninggalkan para tamu di luar sana terlalu lama" Lukman yang duduk di ranjang kasur menatap Dara di hadapannya dengan gusar.


"Jika aku bisa berjalan lagi apakah kamu akan kembali menjadi seperti suami dan Ayah yang ku kenal dulu Mas?" Tanya Dara serius.


"Jangan bilang kamu kesini hanya untuk membicarakan mimpi di siang bolong Dara" Ketus Lukman.


"Jawab saja" Tegas Dara.


"Tentu saja. Bahkan saat ini pun sebenarnya tidak ada yang berubah dari ku. Aku masih Lukman, suami mu dan Ayah anak-anak yang dulu" Sahut Lukman penuh keyakinan.


"Oh ya? Jika memang begitu lantas kenapa yang aku dan anak-anak rasakan malah sebaliknya?" Tanya Dara.


Dara tampak mengangguk tenang.


"Kenapa kamu tidak menceraikan ku saja Mas?" Lanjut Dara kembali.


"Kalau hubungan kita aman-aman saja begini untuk apa bercerai Dara?" Tukas Lukman santai.


"Mungkin kesibukan dalam menata dan membina rumah tangga bersama Kiki membuat ingatan mu sedikit memudar. Biar ku ingatkan Mas. Selama hampir setahun berpoligami, kamu tidak lagi mengisi nafkah lahir batin ku. Kamu melupakan peringatan hari-hari penting dalam keluarga kita. Kamu tidak menjenguk anak-anak jika tidak di paksa terlebih dulu. Kamu menghubungi anak-anak lewat hp sekedarnya saja dan itu pun setelah berulang kali di minta. Bagian mana dari hubungan ini yang kamu anggap aman-aman saja Mas?" Jabar Dara penuh ketegasan.


Lukman menekan kedua paha nya lalu tajam memandangi Dara dan berkata,


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan Dara?"


"Menurut mu apa Mas?" Dara balas bertanya.


"Ku mohon Dara, sadari lah kondisi mu saat ini. Aku ini pria normal Dara, jadi bagaimana mungkin aku bisa kembali hidup bersama dengan mu seperti dulu lagi. Soal biaya kehidupan kalian nanti aku minta bagian keuangan perusahaan yang mengurusi semua. Dan bukan kah yang terpenting adalah anak-anak masih bisa mengatakan pada teman-teman nya bahwa mereka punya Ayah"


"Hahahaha. Kamu tidak menjawab pertanyaan ku dengan benar Mas" Sinis Dara.


"Kamu tidak mau menceraikan ku, apakah karena takut akan kehilangan semua kemewahan yang kamu dan Kiki rasakan saat ini Mas?"


Pertanyaan Dara kali ini telak membuat Lukman tertegun.


"Jawab Mas!" Dara setengah berteriak.


"Hentikan omong kosong mu Dara. Untuk apa aku takut kehilangan semua ini sementara aku adalah Direktur perusahaan" Lukman bersuara lantang mendekati nada angkuh.


"Baiklah. Aku akan hentikan semua omong kosong ini Mas!" Dara melempar sebuah amplop kepada Lukman.


Lukman membukanya dan seketika sontak berdiri. Mata Lukman nyalang memandang Dara.

__ADS_1


"Apa-apaan ini Dara!" Pekik Lukman murka.


Dara bangkit berdiri dari kursi rodanya. Ia buka outer selutut yang sedari tadi di kenakannya.


Deg.


Lukman terkejut melihat Dara yang telah bisa berdiri sendiri.


Glek.


Seketika itu pula Lukman meneguk paksa salivanya. Terpesona dengan tampilan Ibu dari anak-anaknya.


Jilbab berwarna kuning gading dengan bross manis bertabur swarovski. Atasan blouse paduan warna kuning gading dan hitam dengan model simple nan elegan yang panjangnya melebihi lutut. Di padu rok hitam mewah se-mata kaki.


Semakin terlihat mewah dan berkelas dengan high heels hitam bertabur swarovski di kedua kakinya. Begitu pula dengan tas pesta yang di tangan Dara semakin membuat tampilan nya jadi kian paripurna. Berkelas, mewah dan elegan.


"Apa kamu tidak bisa membaca Mas? Di surat itu kan sudah jelas semua. Masih aja bertanya"


Pertanyaan dan pernyataan Dara membuat Lukman tersentak. Ia yang sempat teralihkan dengan tampilan Dara berjalan mendekati Dara.


"Stop!" Dara mundur dari hadapan Lukman yang berusaha merangkulnya.


"Dara sejak kapan kamu bisa kembali berjalan?" Lukman bertanya tergugu.


"Kenapa? toh Itu bukan urusan mu Mas. Dan ah iya! Ini satu lagi yang harus kamu selesaikan dengan segera!"


Dara membuka tas pesta nya kemudian mengambil sebuah amplop lagi dan menyerahkannya kepada Lukman.


Lukman bergegas membuka amplop tersebut.


"Surat pengunduran diri?" Untuk kesekian kalinya Lukman merasa tercengang dengan setiap hal yang Dara suguhkan.


"Dara. Ayo lah. Apa-apaan ini? Duduklah, semua bisa kita bicarakan baik-baik sayang" Lukman kembali berusaha mendekati Dara.


"Hmmppphh.. hahahaha hahahaha. Waktu kita untuk bicara baik-baik sudah kamu sia-siakan semenjak kamu meninggalkan keluarga kita demi istri muda mu Mas!" Dara menatap Lukman dengan pandangan menusuk.


"Lagipula beberapa menit yang lalu aku masih berbelas kasih terhadap mu demi rumah tangga kita. Namun kamu masih saja berdalih dan berkilah bahwa kelumpuhan ku seolah penghalang bagi kita untuk merajut keluarga yang bahagia" Suara Dara penuh penekanan.


"Maaf Dara. Maafkan aku. Bagaimanapun aku tidak akan pernah menceraikan mu!" Lukman merobek surat pertama yang di terimanya.


"Kamu robek bahkan kamu musnahkan berkali-kali pun itu semua tidak akan merubah keputusan ku Mas" Ucap Dara santai setelah sekilas melihat cabikan-cabikan surat gugatan cerai yang Ia berikan berserakan di lantai.


"Dan mengenai pengunduran diri mu dari jabatan direktur di perusahaan Herlambang, kamu bisa saja tidak melakukan nya. Dengan konsekuensi bersiap-siap lah menerima gugatan hukum yang akan aku ajukan selaku komisaris perusahaan. Jangan kamu pikir aku tidak tahu kecurangan mu dalam mengelola perusahaan peninggalan orang tua ku!" Tiada kegentaran dalam tiap bait kata yang Dara sampaikan.


"Urusan ku disini sudah selesai. Sampai jumpa calon mantan suami" Dara melenggang meninggalkan Lukman yang terlihat menanggung banyak beban pikiran.


"Dara. Dara. Dara tunggu aku! Kamu tidak bisa melakukan semua ini padaku sayang" Lukman setengah berlari mengejar Dara.


Dara yang mendengar dan menyadari Lukman akan menggamit paksa diri nya segera melencengkan tubuhnya dengan sigap dan mengarahkan sebelah kakinya ke depan.


Bukk.


Lukman jatuh. Tersandung oleh kaki Dara.


Riuh rendah terdengar suara para tamu undangan perhelatan acara akikah anak Kiki dan Lukman. Mereka ikut terkejut melihat sang tuan rumah yang terjatuh di rumah sendiri.


Dara mendekati Lukman yang sudah berdiri dengan tergesa-gesa.


"Mas, seharusnya dari awal kamu sadar dan tahu diri bahwa bersenang-senang di atas hak orang lain meski yang bersangkutan mengalami kecacatan adalah perilaku kurang ajar yang tidak bisa di maafkan" Dara bersuara pelan tepat di sisi telinga Lukman.


...***...

__ADS_1


__ADS_2