
"Iya Kak, Kak Sukma di poligami oleh suaminya, Mas Zian" terang Melsya lagi.
"Kalau sampai berusaha bunuh diri artinya tidak menerima di poligami lantas jika memang Sukma tidak mau kenapa harus di lanjutkan?" cecar Lusi.
"Sebelum Zian menikah lagi, Sukma sudah bilang ke Ummi dan saudara-saudaranya bahwa dia tidak bersedia di madu. Kami memanggil Zian menyampaikan hal itu dan memintanya membatalkan niatan untuk berpoligami. Ta .. tapi .. hiksss .. hikss .." penjelasan Ummi Rita berakhir dengan tangis sesenggukan.
"Tapi akhirnya kami tidak bisa berbuat apa-apa karena Mas Zian bilang kami tidak punya hak mencampuri urusan rumah tangganya. Kemudian dia meminta kami untuk sadar diri bahwa anggota keluarga kami pun pelaku poligami jadi tidak pantas melarang orang lain untuk menikah lagi," tutur Melsya melanjutkan penuturan Ummi nya.
"Apa Mas Lukman tidak melakukan tindakan apapun?" heran Dara. Karena Dara tahu betul bahwa mantan suaminya itu sangat peduli dengan kebahagiaan saudari-saudarinya jadi mustahil jika dia hanya berdiam diri saja.
"Ada Kak, Mas Lukman bilang ke Kak Sukma jika memang tidak bersedia di madu silahkan bercerai saja" jawab Melsya.
"Lalu?" tanya Lusi.
"Kak Sukma tidak berani bercerai karena khawatir memikirkan nasib anak-anaknya, Hilya dan Salman. Kak Sukma sadar dia tidak punya pekerjaan sebelumnya, sementara dia tidak ingin menambah beban Ummi dengan perceraiannya. Karena melihat Ummi harus ikut menopang kehidupan Mas Lukman dan Mbak Kiki saja sudah begitu kasihan bagaimana lagi jika harus di tambah dengan kehadiran dirinya dan anak-anaknya. Sehingga Kak Sukma pasrah menerima untuk di poligami. Tapi kami tidak pernah menyangka akan jadi begini," Melsya memandang nanar ke arah Sukma.
Dara dan Lusi ikut mengikuti arah pandangan Melsya. Sebagai sesama perempuan ada perasaan tidak terima yang mereka rasa menyaksikan nasib naas sejawatnya.
Dara tahu betul seberat, sesakit dan sepedih apa hari-hari yang Sukma alami. Mirisnya, Sukma tidak kuasa mengakhiri hubungan beracun sebab mengkhawatirkan kehidupan ekonomi, sedangkan menolak kehendak si suami terhalangi oleh contoh hasil perbuatan saudara kandung sendiri.
Alhasil, beban pikiran dan perasaan yang tersakiti teramat dalam membuat rasa lelah mengabaikan kewarasan, meluputkan keimanan dan pada akhirnya berakhir mengikuti bujuk rayu setan. Memang butuh banyak kekuatan dan lebih dari sekedar keberanian untuk mengubah takdir.
"Dara," sapa Lukman.
Dara hanya mengangguk menanggapi sapaan Lukman.
"Ehh rempong banget kelihatannya. Capek ya hidup tanpa ART dan baby sitter, hidup di miskin-kan memang melelahkan ya," cetus Lusi.
Dara melihat objek sarkas Lusi. Dia adalah Kiki. Kiki yang berpenampilan dengan kemeja kebesaran, rok model A-line, tanpa hijab syar'i seperti biasanya, hanya jilbab model bergo yang bertabrakan warna dengan kemeja dan roknya.
Stroller berisi seorang bayi di tangan kanannya. Seorang bayi lagi di tangan kirinya. Punggungnya, di lengkapi dengan tas ransel. Tidak ada jejak berhias diri, hanya tampilan lelah dan letih yang tercetak jelas di wajahnya.
"Kak," lirih Kiki menyapa Dara tanpa punya nyali untuk menanggapi sarkasme Lusi.
__ADS_1
"Lukman, Nak Dara yang mendonorkan darah untuk Sukma dan dia juga yang memindahkan Kakakmu ke ruangan ini" terang Ummi Rita.
Lukman mengusap mukanya. Menjatuhkan paper bag yang berada di tangan lainnya ke lantai.
"Bahkan dosaku terhadapmu sedikit pun belum berkurang, tapi kamu menunjukkan kebesaran hati dengan menolong saudari ku. Aku malu Dara. Rasa terimakasih saja jelas tidak cukup membalas kebaikanmu. Tapi maaf, saat ini hanya itu yang bisa aku ungkapkan dan lakukan. Terima kasih Dara, terima kasih. Terima kasih,"
Suara Lukman bergetar, Ia berusaha membendung lajunya aliran air mata rasa haru yang hendak tumpah ruah.
"Tidak perlu berterima kasih. Aku tidak melakukannya untukmu atau siapapun. Aku melakukannya karena dasar kemanusiaan" ujar Dara dingin.
"Maaf, kenapa aku masih belum melihat suami Sukma disini?" sela Lusi.
"Mas Zian bilang tidak bisa datang karena harus mengurus istri keduanya yang sedang ngidam" jawab Melsya.
"Wah wah wah ternyata jika sedang di mabuk cinta istri kedua memang membuat sebagian pria menganggap istri pertama itu tiada dan nyawa seolah jadi tidak ada harganya," sinis Lusi.
Lukman tertunduk dalam. Dia sadar, apa yang di sebutkan Lusi adalah sindiran baginya. Lukman mendekat ke ranjang Sukma. Memandangi Kakak perempuannya itu dengan tatapan pilu.
"Maaf Kak. Ini semua tidak akan terjadi jika Aku bisa menjadi teladan yang baik. Maafkan ketidakberdayaan ku ini Kak,"
Dara dan Lusi baru saja hendak pamit undur diri dengan Ummi Rita namun terlanjur di dahului Kiki yang bicara dengan mertuanya.
"Ummi, tolong pegang Syafiq ya, Ki ... Ki ...."
Brakkkkkkkkk.
Tubuh Kiki yang semakin hari kian kurus ambruk ke lantai.
...***...
"Perbanyak istirahat dan kurangi beban pikiran ya Bu. Tubuh sehat itu di dapat bukan hanya bersumber dari makanan bergizi tapi juga lewat manajemen pikiran dan hati. Sudah, saya tinggal ya. Semoga lekas pulih." Seorang Dokter berlalu dari hadapan pasiennya.
Setelah tiba-tiba pingsan di ruang perawatan Sukma, kini Kiki tengah terbaring dengan infus terpasang di tangannya dalam ruang IGD.
__ADS_1
Berdasarkan pernyataan dokter tadi, Kiki hilang kesadaran akibat kondisi fisik dan psikisnya yang kelelahan.
"Besok stop aja jualan kuenya Mbak, istirahat dulu." Melsya memberi saran kepada si pesakitan, Kiki.
"Gak bisa Dek, si kembar harus beli susu, diapers nya juga tinggal sedikit," jawab Kiki.
Dara dan Lusi yang mendengar hal tersebut saling berpandangan. Selanjutnya mereka berdua hanyut dengan jalan pikiran masing-masing.
"Ya sudah. Nanti saja lagi di pikir bagaimana baiknya. Sekarang Ummi, Melsya dan si kembar pulang ke rumah dulu. Mumpung ada tumpangan. Lukman ada di ruangan Sukma. Kamu gak masalah kan disini sendirian dulu?"
Kiki mengangguk pasrah menanggapi pertanyaan Ummi Rita.
Air mata ikut menemaninya sesaat setelah di tinggal pergi oleh mertua dan adik ipar. Sulit Kiki gambarkan bagaimana perasaannya yang sedang sakit harus di tinggal sendirian oleh keluarga atas dasar karena keadaan.
'Sakit dan sendirian? betapa aku sungguh menyedihkan' lanjut Kiki lirih di dalam hati.
Sementara di dalam mobil mewah milik Dara yang di kendarai oleh Pak Saleh, ada Ummi Rita dan Melsya yang setiap satu dari mereka menggendong putra kembar Kiki dan Lukman. Mereka menumpang mobil Dara karena tidak se- sen pun memegang uang.
"Ummi, sejak kapan dan kenapa pindah?" rasa ingin tahu segera menyergap diri Lusi ketika mendengar bahwa mantan mertua Dara itu sudah pindah rumah.
Dari rumah minimalis sederhana dengan halaman cukup luas miliknya dulu, kini mereka sampai mengantarkan Ummi Rita, Melsya dan anak kembar Lukman ke kediaman yang sekarang. Sebuah rumah kontrakan berdinding papan dengan ukuran jauh lebih kecil dari rumah milik Ummi Rita sebelumnya.
"Rumah lama Ummi jual untuk nutupi hutang Lukman dan untuk biaya hidup kami Nak," jawab Ummi Rita apa adanya.
Dara dan Lusi sadar diri mereka tidak dalam kapasitas untuk mengomentari pengakuan Ummi Rita. Sehingga setelah melihat Ummi Rita, Melsya dan kedua bayi kembar Lukman masuk ke dalam kontrakannya, mereka segera berlalu bersama Pak Saleh.
Suara klakson mobil yang di bunyikan Pak Saleh penanda, Dara dan Lusi pergi meninggalkan kediaman baru Ummi Rita yang juga di tinggali bersama anak cucunya.
"Dara, Kamu merasa gak sih kalau Tuhan sekarang sedang turun tangan?" antusias Lusi pada sang Sahabat.
"Tentang Mas Lukman, Kiki dan kehidupannya sekarang?" retoris Dara.
"Iya." Tegas Lusi.
__ADS_1
"Bisa jadi. Benar kata Pak Nugroho bahwa hukuman terbaik untuk pendosa datangnya dari sang pemilik semesta" ungkap Dara tenang.
...***...