Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
53. perkara hati adalah misteri Illahi


__ADS_3

"Sungguh, perkara hati adalah misteri Illahi ya" sahut Lusi setelah mereka berhenti tertawa.


"Kenapa?" Radit menimpali.


"Ya. Jika sang pemilik hati sudah berkehendak, kita selaku yang di beri titipan untuk menikmati ragam perasaan, mutlak tunduk pasrah dengan hati yang telah di bolak-balik"


Lusi menjawab Radit dengan masih menatap pasangan pengantin nan sedang piawai berphoto bersama undangan yang menghampiri mereka di altar resepsi.


"Contoh?" tanya Radit yang tertarik dengan pernyataan Lusi.


"Banyak. Salah satunya kamu .. " Lusi mengubah arah pandangannya menjadi fokus kepada Radit. Lalu kembali melanjutkan narasinya.


"Mendengar dari beberapa narasumber bagaimana sedihnya kamu saat lamaran di tolak oleh Dara, membuat kami khususnya aku sempat berpikir hubungan pertemanan kita akan usai selamanya kala itu juga. Namun nyatanya setelah lima bulan berakhir tanpa kabar berita, sekarang kita sudah kumpul lagi. Bahkan sebulan belakangan kompak saling membantu soal pernikahan teman kita di depan sana. Itu salah satu bukti, bahwa urusan hati adalah misteri Illahi."


Radit mengangguk. Lalu Ia merespon opini Lusi dengan berkata, "Benar. Aku sendiri pun pasca di tolak mentah-mentah oleh Dara berniat menjauh dari segala hal yang ada hubungannya dengan Dara saking tidak sanggupnya menerima pahitnya kenyataan cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi, Tuhan kuasa. Dalam sedih yang berkepanjangan, aku diberkati rahmat untuk menyudahi patah hati dengan islah diri. Hingga akhirnya rela menerima fakta bahwa Dara bukan tulang rusukku dan menjauhi kalian sebagai teman juga bukan sebuah pilihan."


"Kamu hebat, berjiwa besar." Puji Lusi terhadap Radit.


"Aduh, di puji. Harus senang atau waspada nih? jangan-jangan di balik pujian ada maksud yang menyakitkan," Radit berseloroh.


"Hahaha. Suka benar deh kamu kalau berprasangka hahahaha. Kamu memang hebat, tapi ada yang lebih hebat lagi dari kamu."

__ADS_1


"Ternyata pujiannya hanya sebagai bahan perbandingan. Memang siapa yang lebih hebat dari aku yang berjiwa besar ini?" Radit lalu menyambung kalimatnya dengan gelak tawa.


Lusi mengarahkan pandangannya kepada seorang lelaki tampan yang terlihat akan menghampiri meja mereka.


"Itu orangnya," tegas Lusi.


"Maaf. Aku terlambat," ungkap pemuda yang Lusi maksudkan.


"Keterlambatan di maafkan. Kenapa dia lebih hebat dari aku?" Radit merespon pernyataan lelaki yang telah duduk tepat di sebelahnya. Kemudian menyambung pembahasan dengan mengajukan pertanyaan kepada Lusi.


"Selamat datang Dokter Angga yang super sibuk," Lusi tersenyum kepada subjek bahasan dalam pembicaraan antara dirinya dan Radit.


"Tidak menjauhi dunia tapi menjadikan kesibukan sebagai pelarian. Betul begitu kan sahabat senasib sepenanggungan?" Radit menepuk bahu Dokter Angga sambil tertawa kecil.


Dokter Angga melirik Radit, membalas menepuk bahu Radit sambil mengangguk pelan lalu dengan tenang kembali menegak minuman di hadapannya.


"Lalu, apa contoh lainnya bahwa perkara hati adalah misteri Illahi?"


Dara yang sedari tadi duduk tenang di sebelah Lusi dan mendengar obrolan antara Lusi dan Radit ikut mengajukan tanya.


"Contoh lainnya, Dokter Angga. Setelah kamu tolak lamarannya, dalam kekecewaan dia tetap bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Gila gak sih bisa bersikap gitu? lamaran di tolak, tapi hubungan persahabatan tetap berjalan normal seperti sebelumnya. Padahal aku masih ingat jelas gimana roman muka Dokter Angga ketika kamu tolak di hadapan keluarga besarnya. Sedihnya minta ampun, kecewanya kentara banget. Di tambah waktu air matanya ikut luruh, duh .. lukanya kerasa sampai ke ulu hatiku, nyerinya luar biasa, pedih."

__ADS_1


Lusi menjawab persoalan dari Dara dengan referensi ingatan akan peristiwa empat bulan yang lalu. Ketika Dokter Angga lewat keluarga besarnya datang melamar Dara dan pulang membawa kesedihan akibat penolakan dari Dara atas lamaran yang di ajukan.


"Ehem, aku tidak tahu rincian pembahasan kalian sebelumnya. Tapi bisakah stop membahas peristiwa yang telah berlalu? tidak baik untuk kesehatan," Dokter Angga mengemukakan pendapat.


"Kenapa?" Lusi, Dara dan Radit sontak kompak bertanya demi menuntaskan kebingungan di benak mereka atas kata-kata Dokter Angga.


"Mengulang cerita tentang masa lalu tidak baik bagi kesehatan karena dapat membuat luka lama berdarah kembali."


Dokter Angga memberi ketiga sahabatnya jawaban yang membuat mereka mengurai tawa. Dokter Angga pun ikut tertawa kecil.


Meski dibumbui dengan candaan, Dokter Angga jujur soal jawabannya. Bahwa, mengingat penolakan yang Dara berikan atas lamarannya membuat Ia kembali merasakan sakit.


Sebab meski menerima keputusan Dara tersebut, sesungguhnya perasaan yang ada di dirinya terhadap Dara masih seperti semula, belum berubah sedikitpun. Sehingga ketika disadarkan oleh kenyataan jika angannya menjadi pendamping hidup Dara adalah harapan semu belaka, membuat luka yang berusaha Ia obati dengan kesibukan yang di lipat gandakan dari sebelumnya sebagai seorang Dokter kembali tergores.


"Baik, baik. Lupakan Dokter Angga sebagai contoh. Contoh lainnya ya?" Lusi kembali ke topik pembahasan mereka. Ketiga lawan bicaranya mengangguk dan antusias menunggu jawaban Lusi.


"Contoh lainnya soal perkara hati adalah misteri Illahi, ada di depan sana."


Lusi mengangkat dagunya di arahkan kepada dua anak manusia yang sedang menempati kursi pelaminan dalam balutan indahnya pakaian pernikahan.


... ***...

__ADS_1


__ADS_2