Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
32. Poligami (lagi)


__ADS_3

"Aamiin" gema serentak dari orang-orang yang berada di dalam ruangan aula perusahaan Herlambang.


Kata penutup sarat makna tersebut merupakan harapan dari setiap insan yang hadir di acara syukuran, agar jalur bisnis yang baru saja Dara kembangkan dari perusahaannya dapat mencapai kesuksesan sesuai harapan.


Beberapa bulan pasca perceraian antara Dara dan Lukman telah berlalu.


Tidak mudah, namun tidak menjadi penghalang bagi Dara selaku orang tua tunggal untuk membangun kembali karirnya tanpa meninggalkan kewajiban terhadap kedua putrinya.


Sebagai Komisaris Utama, di bantu oleh Direkturnya, Pak Nugroho, Dara kini berhasil mengembangkan sayap perusahaannya ke bidang industri makanan.


"Lain kali Tuan rumah jangan sampai datang terlambat lagi ya,"


Suara Pak Nugroho membuat Dara yang sedang memperhatikan para tamu undangannya tengah menikmati hidangan prasmanan tersentak, sekaligus malu dengan teguran yang di sampaikan Direkturnya itu.


Dara selaku bintang dalam acara peresmian bisnis barunya, datang terlambat dari jadwal yang sudah di tentukan. Mujurnya Pak Nugroho mampu membawa jalannya acara tepat pada koridornya dengan tetap menjaga marwah pemilik perusahaan yang tidak kunjung terlihat batang hidungnya di antara para tamu yang mulai bosan menunggu.


"Iya Paman. Maaf ya. Dan terimakasih Paman sudah menghandle acara ini dengan sempurna" Dara mengangguk hormat dengan Pak Nugroho.


"Soal acara, itu sudah jadi tanggung jawab Paman selaku Direktur. Tapi sebagai pemilik perusahaan, terlebih sedang mengembangkan bisnis baru, Kamu harus menunjukkan tanggung jawab dan menjaga martabat mu. Sebelumnya kamu juga pernah terlambat dalam menghadiri rapat. Ke depan jangan pernah terlambat lagi!" lanjut Pak Nugroho yang di sambung Dara dengan anggukan.


"Keterlambatan kali ini apa karena masih ada hubungannya dengan proses hukum Lukman dan istrinya?" tanya Pak Nugroho.


"Ya Paman, tadi aku harus kembali memberi pernyataan dengan pihak kepolisian terkait kasus penggelapan dana perusahaan yang Mas Lukman lakukan semasa jadi Direktur disini, dan besok kembali ke kantor polisi untuk kasus lain yang berhubungan dengan Kiki, istri Mas Lukman" jelas Dara.


"Nak, apa yang pernah Lukman dan istrinya lakukan terhadapmu itu salah dan pantas di hukum ..."


Pak Nugroho menghela nafas lalu memandang Dara dengan cermat, kemudian kembali melanjutkan kalimatnya,


"Tapi, apa harus begini caranya? ingat yang pernah Paman sampaikan dulu tentang dendam? dan lihatlah dirimu yang sekarang. Paman tidak yakin apakah tiga jam dalam sehari semalam bisa kamu manfaatkan untuk istirahat saking padatnya kesibukan yang kamu agendakan sebagai bentuk pembalasan."


Dara membalas tatapan Pak Nugroho sejenak,


'Benar Paman, waktu ku hampir terkuras untuk kegiatan selain bagi diriku sendiri' ungkap Dara dalam hati menyetujui asumsi Pak Nugroho.


"Nak, bukan karena kamu hebat sehingga mampu menjalani peran jamak, menjadi Ibu yang baik sekaligus Komisaris Utama yang visioner di tengah kesibukan proses hukum yang kamu peruntukkan bagi mantan suami dan bekas madu mu. Tapi yang membuat kamu sanggup mengurangi jatah tidurmu adalah, ikhlas dan syukur mu yang masih mengganjal Nak," sambung Pak Nugroho.

__ADS_1


Dara menelisik setiap bait kata Pak Lukman. Pikirnya mengembara dan sampai pada kesimpulan yang Ia sebutkan lagi-lagi pada batinnya, "Benar juga".


Pak Nugroho bangkit dari duduknya, sudah waktunya Ia berbaur dan menyapa anak-anak dari panti asuhan yang Dara undang ke acara syukuran tersebut.


Sebelum berlalu meninggalkan Pimpinan perusahaannya yang sudah Ia anggap sebagai anak sendiri, Pak Nugroho kembali meninggalkan petuah pada Dara.


"Nak. Yakinlah, tidak ada balasan terbaik terhadap pendosa kecuali dari pemilik alam semesta. Berhentilah meminum air laut. Nikmatilah setiap unsur kehidupan dengan jiwa yang lapang, semoga ketenangan dan keberkahan kamu dapatkan."


Pak Nugroho lalu pergi dari hadapan Dara yang sedang mencerna setiap pernyataannya.


...***...


"Dara, ini penting!"


Suara Lusi membuat Dara lekas memandang sang sahabat. Handphone yang Lusi sodorkan membuat Dara tersadar maksud Lusi dengan kata penting ada penjelasannya di layar canggih tersebut.


Dara menggapai handphone di tangan Lusi lalu memindahkan letaknya ke telinganya yang tertutup jilbab model segi empat berwarna gold.


"Ya?" ujar Dara kepada siapapun di ujung panggilan tersebut.


Deg.


Dara kenal suara tersebut. Suara panik yang sedang menangis itu adalah milik Melsya, Adik bungsu Lukman.


"Melsya, tenanglah. Katakan ada apa dan apa yang bisa ku bantu?" tanya Dara.


"Kak Sukma Kak. Dia kehilangan banyak darah dan Dokter bilang dia butuh donor darah segera demi keselamatan nyawanya hikss .. hikss .."


"Sekarang kalian ada dimana?"


"Rumah Sakit Sentosa Kak. Tolonglah kami Kak, tolong selamatkan nyawa Kak Sukma hikss .. hikss .."


"Tenanglah. Dan tunggu disana. Aku segera menemui mu"


Tuuttt.

__ADS_1


Dara mematikan panggilan telepon. Ia serahkan kembali handphone milik Lusi.


"Ayo ikut aku Si!" ajakan sekaligus titah Dara langsung di iyakan oleh Lusi.


...***...


"Saat ini kondisi pasien sudah mulai stabil. Dan kami akan terus melakukan pemantauan terhadap pasien"


Pernyataan seorang Dokter perempuan tersebut membuat Ummi Rita mulai dapat bernafas dengan lega.


"Baik Dok, terimakasih Dokter" ucap Ummi Rita.


Dokter itu pergi meninggalkan ruangan serba putih yang merupakan ruang perawatan pasien. Ummi Rita menghampiri Dara yang duduk di sofa dalam ruangan tersebut.


Ummi Rita menepuk halus punggung tangan Dara lalu menggenggam secara keseluruhan telapak tangannya.


"Terimakasih Nak. Terimakasih. Tanpa kamu kami mungkin tidak akan pernah lagi bertemu dengan Sukma" ucap Ummi Rita dengan tulus bersama air mata yang mengaliri pipinya.


Dara mengangguk. Ia yang duduk bersebelahan dengan Lusi menatap Melsya.


"Jadi Melsya, apa yang sebenarnya terjadi?"


Melsya memandang Ummi nya, meminta persetujuan atas aib keluarga yang akan Ia utarakan kepada sang penyelamat nyawa Kakaknya. Ummi Rita mengangguk, kode mempersilahkan.


"Kak Sukma melakukan upaya bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya. Oleh karena itulah dia kehilangan banyak darah. Sementara stok darah di RS ini kosong, tadi Mas Lukman juga sudah berusaha mencari ke RS lainnya tapi nihil, stok darah di beberapa RS juga kosong. Lalu aku ingat bahwa Kak Sukma dan Kak Dara memiliki golongan darah yang sama. Oleh karena itu tanpa malu aku meminta pertolongan dari Kakak. Maafkan sikap tidak tahu diriku Kak, dan terimakasih banyak atas pertolongan yang Kak Dara berikan." Jelas Melsya.


"Bunuh diri?" Lusi berteriak tertahan saking herannya.


Melsya mengangguk. Lalu tiba-tiba air mata kembali berurai dari Melsya. Melsya yang memusatkan pandangannya kepada Sukma yang terbaring di ranjang pesakitan spontan menangis mengingat tragisnya kehidupan yang Kakak Perempuannya alami.


"Sukma di poligami oleh suaminya. Itu membuatnya tidak tahan dan akhirnya nekat berusaha mengakhiri hidupnya sendiri, hikss .. hikss .." Ummi Rita menjawab rasa penasaran Lusi.


"Po .. poligami?" lidah Dara kelu, tidak sanggup mengangkat suara lebih lagi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2