
Dara turun dari mobil, raut wajahnya menjadi bingung melihat Mbok Inem tergopoh menyambutnya.
"Ada apa Mbok? biasanya juga Alsava yang lari-larian nyambut aku, gantian sama Alsava ya?" Dara kemudian tertawa kecil.
Mbok Inem tersenyum malu lalu meraih tas dan beberapa paper bag dari tangan Dara.
"Ng .. anu Neng, di dalam ada tamu nyariin Neng, tapi ya itu lagaknya bikin firasat Mbok kok ya gak enak gitu" Mbok Inem memandang Dara serius.
Mendengar penuturan Mbok inem, Dara menghentikan langkah kecilnya lalu ikut serius menatap perempuan yang sudah Ia anggap lebih dari sekedar ART, namun selayaknya bagian dari keluarga.
"Emang lagaknya gimana Mbok?" tanya Dara.
"Sombong. Tapi bukan sombong biasa Neng, sombong banget! terus kok ya dalam kesombongannya itu mukanya seram gitu lho Neng, udah kayak singa yang belum makan satu bulan" seru Mbok Inem.
"Siapa ya Mbok? perasaan aku gak punya kenalan yang pembawaannya begitu," Dara mulai heran.
"Iya Neng, Mbok juga belum pernah lihat Bapak itu kesini sebelumnya. Terus ya Neng, Neng lihat gak mobil berjejer kayak barisan karnaval di seberang rumah ini?" Mbok Inem mengangkat dagunya ke arah pagar rumah Dara.
"Gak lihat sih Mbok, tapi tadi Pak Saleh di mobil sempat heran juga dan bilang ada hajatan apa orang depan kok kelihatannya lagi rame, banyak antrian mobil gitu," jelas Dara pula.
"Nah, itu pengawalnya tamu Neng itu. Tadi pas nyampe depan rumah, anak-anak muda gagah pada ber-jas berdiri tegap di belakang Bapak yang jadi tamu Neng itu, kayak orang lagi latihan baris berbaris mereka Neng. Pas si Bapak nyelonong masuk ke rumah baru pengawalnya bubar barisan. Mbok suruh si Rani ngelihat ternyata mereka pada masuk ke mobil yang bikin antrian pribadi di depan sana," ucap Mbok Inem serius.
"Tamunya sudah lama sampai kesini Mbok? sekarang dimana?" Dara merasa tidak enak hati jika ternyata tamu misterius yang di ceritakan Mbok Inem lama menunggu. Bagaimanapun dia adalah tamu, dan Dara selalu punya tabiat menghargai tamu.
"Ada di ruang tamu Neng, dan belum lama juga kok dia disini" Mbok Inem tergopoh lagi mengikuti Dara yang mulai melangkah ke dalam rumah dengan gerakan langkah kaki cepat-cepat.
Sesampainya di ruang tamu. Dara menatap seksama laki-laki yang di maksudkan Mbok Inem. Dan benar adanya bahwa Dara tidak mengenali tamu itu siapa.
"Maaf, dengan siapa ya?" Dara ramah menyapa tamunya.
Sang tamu yang duduk di sofa mendongak melihat Dara dari ujung kaki sampai kepala.
"Kamu yang namanya Dara?" sinis Bapak tersebut tanpa menjawab pertanyaan Dara sebagaimana mestinya.
Mendapati sikap tamunya demikian, Dara membatalkan niat untuk berkenalan. Dara memilih duduk di sofa tepat berhadapan dengan tamunya.
"Benar, saya Dara" jawab Dara tenang.
"Katakan, dimana Radit?" alih-alih memperkenalkan dirinya, tamu tersebut malah menyongsong Dara dengan tanya.
"Maaf?" Dara bingung dengan pertanyaan tamunya. Bukan tidak mengerti dengan maksud pertanyaan yang di lontarkan tapi heran kenapa pertanyaan dari orang yang tidak Ia kenal tersebut di tujukan kepadanya.
"Tidak perlu berpura-pura begitu. Sebagai perempuan yang sedang di idolakan mati-matian, saya yakin kamu membangun komunikasi yang intens dengan Radit, pasti tahu apa, bagaimana dan dimana dia sekarang. Jadi katakan dimana Radit?" suara Bapak dengan perawakan tegap itu mulai berangsur meninggi.
"Saya tidak tahu. Dan sepertinya Bapak salah alamat serta salah orang jika beranggapan saya mengetahui segala hal terkait Radit hanya karena dia mengidolakan saya." Dara menjawab tegas.
"Bunda," suara Alsava setengah berteriak memanggil Dara saking girangnya.
"Adek, Bunda lagi ada tamu. Ayo main sama Kakak dan Mbak Rani dulu" Azkia berlari menyusul Adiknya yang sudah berada di pelukan Bunda mereka.
"Gak mau. Adek mau sama Bunda. Kakak sama Mbak Rani terusin aja mainnya," Alsava kekeuh ingin bersama Dara.
Rani datang menyusul dengan beberapa mainan di tangannya.
"Maaf Bu. Adek, ayo. Kita mainan ini dulu sama Mbak Rani dan Kak Azkia. Nanti kalau urusan Bunda sudah selesai, Mbak Rani antar kesini lagi. Ya,?" Rani lembut merayu Alsava.
Alsava menatap Dara. Matanya seakan meminta konfirmasi dari sang Bunda. Dara mengusap lembut kepala putri bungsunya.
__ADS_1
"Iya. Nanti kalau urusan Bunda disini sudah selesai, Bunda yang ikutan nyusul Adek main" Dara lalu melepas senyum untuk putri bungsunya itu.
Alsava bangkit dari pangkuan Dara. Melirik tamu Bundanya lalu sedikit menundukkan tubuh mungilnya ke arah Bapak tersebut, bentuk mohon pamit dari hadapan tamu Bundanya. Hal demikian di ikuti pula oleh Azkia dan Rani. Mereka bertiga kemudian berlalu dari ruang tamu meninggalkan Dara dan tamunya kembali berdua.
Tidak ada respon berarti dari tamu Dara meski mendapatkan gestur sopan dari anak-anak dan Rani. Malah tamu itu menatap mereka dengan tatapan malas-malasan.
"Tempat terbaik bagi seorang perempuan adalah rumah. Agar anak-anak tidak ber-Ibukan baby sitter," cetus tamu misterius tiba-tiba.
Suara berat dari tamunya terasa semakin berat di telinga Dara disebabkan narasi lancang yang di ucapkan.
"Saya mengerti, sebagai seorang janda kamu harus memiliki pendamping hidup lagi. Sehingga bisa berhenti keluyuran atas nama kerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga saja. Tapi, kamu salah pilih Dik! bukan pria seusia Radit yang harusnya kamu goda. Kamu mesti tahu diri lah, jangan jadikan status janda kamu semakin terdengar tidak baik di telinga orang-orang dengan menggoda pria sukses yang umurnya di bawah kamu!"
Ada yang menggelegak di ubun-ubun dan hati Dara mendengar tudingan dari tamunya tersebut. Tapi Dara berusaha tenang sebab Ia menangkap bahwa tamunya belum lagi puas bersuara.
"Kamu bilang saja apa yang bisa saya berikan untuk kamu sehingga kamu mau melepaskan Radit dari kehidupan kamu. Dan, segera minta Radit berhenti bersembunyi lalu kembali kepada keluarganya!"
Intonasi yang kian meninggi dengan mimik wajah mencemooh sekaligus acap kali berganti menyeramkan dari tamunya membuat yang menggelegak di ubun-ubun dan hati Dara kian menjadi.
"Saya kira Anda sudah selesai berkeluh kesah. Sekarang mari gantian, dengarkan saya!"
... ***...
Tidak ada suara semacam bentakan namun ketegasan dalam penekanan kalimat yang Dara ucapkan secara tidak sadar membuat tamu misteriusnya mengangguk mengiyakan.
"Tidak ada seorang perempuan pun di muka bumi ini yang menginginkan perpisahan dalam keadaan bercerai hidup dengan pasangannya sehingga harus menyandang status janda! Tapi, perempuan juga manusia yang punya hak dan kewajiban untuk memilih jalan hidup mereka menuju bahagia. Jika sebuah pernikahan hanya mengarahkan kehidupan yang seperti neraka, lantas apa yang salah dengan sebuah perpisahan jika itu mampu berubah menjadi surga?!" Dara diam sejenak demi melihat raut muka tamunya yang terlihat sedikit tersentak.
"Masyarakat kita pada umumnya terlanjur berkomitmen dengan stigma bahwa janda adalah status hina. Kenyataannya, jika berhubungan dengan keberadaan anak, tidak ada pembeda antara perempuan yang berstatus istri dengan seorang janda, mereka sama-sama tetap menjalankan perannya sebagai seorang Ibu bagi anak-anaknya terlepas mereka bekerja di rumah atau pun di luaran sana. Yang membuat status seorang janda menjadi tidak baik-baik saja bukanlah si penyandangnya! tapi para penilai dengan pemikiran yang sempit lah yang menciptakan paradigma sendiri tentang kehidupan seorang janda bahwa menjadi janda itu jauh dari kata baik."
Tamu Dara yang tadinya nyalang dalam menatap kini diam khidmat terpekur mendengar penuturan Dara.
Dara sedikit merubah posisi duduknya, Ia menyilangkan kedua kakinya dengan anggun. Dalam tatapannya terhadap sang tamu Ia sisipi pemikiran miris.
Penilaian Dara tersebut Ia utarakan dalam hatinya. Kembali Dara berkata,
"Saya tidak tahu Anda siapa sama seperti saya tidak mengetahui keberadaan Radit saat ini. Jadi pesan anda untuk meminta Radit agar kembali ke keluarganya tidak bisa saya sampaikan. Alangkah tepatnya jika keinginan itu anda sampaikan langsung kepada keluarga Radit. Bukankah sebagai keluarga mestinya mereka yang paling paham dan tahu cara membuat Radit kembali ke pelukan mereka?! Dan lagi, soal menggoda Radit? saya tidak ingin membahas sesuatu yang tidak pernah saya lakukan jadi silahkan anda keukeuh dengan tudingan anda terhadap saya tadi. Tapi sebagai sesama manusia saya hanya ingin mengingatkan tanpa bermaksud menggurui bahwa prasangka buruk dapat merusak pemikiran dan mengikis kesuciannya hati."
Setiap ketenangan yang terkandung dalam intonasi suara Dara dalam menyampaikan narasinya membuat sang tamu beberapa kali tampak terperangah dan gelisah.
"Permisi, silahkan di minum dulu Pak" Mbok Inem datang membawa dan meletakkan minuman di atas meja.
"Terima kasih ya Mbok. Silahkan Pak, di nikmati dulu minumannya," ungkap Dara bergantian dengan santun dan lembut kepada Mbok Inem dan tamu tersebut.
Sang tamu melirik Dara sekilas. Terbesit heran di raut wajahnya mendapati Dara tetap ramah melayani sang tamu meski sudah di lontarkan pelecehan secara verbal mengenai status lajangnya di karenakan menjanda.
Bukannya meraih minuman yang di sajikan, tamu misterius tersebut malah berdiri dari duduknya.
"Saya pamit undur diri, permisi." Ucapnya dengan takzim lalu bergegas keluar dari rumah Dara tanpa terlebih dulu mendengar respon lebih lanjut dari tuan rumah yang di tinggal pergi begitu saja oleh tamu yang tidak Ia ketahui identitasnya.
Mbok Inem yang masih berdiri di ruang tamu mengekori arah langkah sang tamu misterius hingga tidak lagi terlihat dari pandangannya.
"Gimana Neng?" tanya Mbok Inem kepada sang majikan.
"Apanya yang gimana Mbok?" Dara balik bertanya.
"Itu tamunya tadi, benar kan firasat gak enak Mbok tentang tamunya tadi?" Mbok Inem sudah duduk di sofa yang di tempati si tamu sebelumnya.
Dara mengangguk.
__ADS_1
"Iya, benar. Lagaknya memang sombong seperti yang Mbok bilang tadi" ucap Dara.
"Tuh kan, jadi siapa sih Bapak tadi itu Neng?" jiwa penasaran Mbok Inem meronta.
"Aku juga gak tahu Mbok" Dara mengangkat kedua bahunya.
"Hah? bukannya tadi sudah pada ngobrol gitu ya? kok gak tahu?" Mbok Inem terheran-heran.
"Kayaknya tadi itu bukan ngobrol deh Mbok, lebih tepat di bilang apa ya? Mmm, konfirmasi dan klarifikasi kali ya?" Dara sendiri bingung menjelaskan perbincangan macam apa yang telah Ia lakukan dengan tamu misteriusnya.
"Ehh? apa itu Neng? konkasi? Mbok gak ngerti. Saking gak ngerti nya bikin tenggorokan Mbok seret nih,"
Mendengar penuturan Mbok Inem yang lugu Dara tertawa di buatnya.
"Tuh minuman untuk tamunya tadi aja di minum, biar kerongkongan Mbok gak seret lagi," tukas Dara. Ia arahkan dagunya terangkat ke arah minuman yang tak tersentuh oleh tamunya.
"Iya Neng, hitung-hitung daripada mubazir kan. Mbok minum ya,"
Dara mengangguk, Mbok Inem mulai memindahkan isi gelas yang berisi teh madu hangat ke kerongkongannya.
"Besok, kalau pas aku gak di rumah dan ada tamu yang seperti itu lagi datang kesini, langsung hubungi aku dulu ya Mbok," pinta Dara.
"Iya Neng, tadi niatnya Mbok juga begitu tapi si Bapak itu tanpa Mbok persilahkan ehh udah main nyelonong aja masuk ke rumah," Mbok Inem yang sudah menghabiskan minuman untuk tamu tadi terlihat merasa bersalah.
"Ya sudah. Untuk hari ini gak masalah Mbok, sudah kejadian juga kan? ke depannya aku khawatir kedatangan tamu yang seperti tadi bisa bikin suasana rumah jadi gak enak, takut berimbas ke anak-anak. Maklum, gak semua orang bisa menyaring omongannya di depan anak-anak." Terang Dara.
"Berarti Bapak tadi itu galon bocor ya Neng?" tanya Mbok Inem.
"Hah? galon bocor? apa lagi tu Mbok?" Dara tidak mengerti dengan maksud Mbok Inem.
"Itu istilah buat orang yang mulutnya gak ada saringan Neng, ngomongnya nyerocos aja tanpa peduli ampas-ampas dalam omongannya juga ikut keluar. Ya kayak galon bocor gitu, ngalir aja" terang Mbok Inem serius.
"Hahaha, ada-ada aja ihh istilah dari Mbok ini. Tapi benar sih, Bapak tadi itu omongannya memang sampai ke ampas-ampasnya ikut di suarain,"
"Tuh kan. Tapi yang penting Neng jangan ambil pusing sama omongannya ya, walaupun Mbok juga gak tahu sih si Bapak itu ngomong apa, hehehe. Tapi tetap pokoknya ampas-ampas obrolan si Bapak itu jangan Neng Dara telan. Gak baik buat kesehatan kerongkongan dan mental healthy."
Mendengar ungkapan Mbok Inem tersebut Dara kembali terkekeh tertawa. Pilihan bahasa yang Mbok Inem gunakan untuk menasehati Dara belakangan ini baginya selalu anti mainstream, unik-unik.
"Siap Mbok, siap" tukas Dara pula.
"Ya sudah, Mbok pamit lanjut ke belakang lagi" ucap Mbok Inem pula.
Mbok Inem meletakkan kembali gelas yang sudah Ia teguk habis isinya ke nampan yang sedari tadi di pegangnya. Baru beberapa langkah, Mbok Inem berhenti.
"Eh Neng, tapi Bapak tadi itu kok rasa-rasanya mukanya agak pasaran gitu ya?" Mbok Inem kembali menyodorkan Dara dengan pertanyaan yang tidak Dara pahami maksudnya.
"Muka pasaran gimana maksudnya Mbok?" Dara mengulum senyum. Menahan tawa dengan pilihan kata yang Mbok Inem sampaikan.
"Kayak gak asing gitu lho Neng mukanya, kayak mirip siapa gitu," Mbok Inem terlihat serius berpikir.
"Ya sudah, Mbok Inem ingat-ingat dulu mirip siapa. Nanti kalau sudah tahu kasih tau aku lagi. Aku mau bersihin diri dulu terus main sama anak-anak,"
Dara melewati Mbok Inem, melangkah meninggalkan ruang tamu dengan Mbok Inem yang terlihat masih fokus berpikir.
"Mirip siapa ya?" gumam Mbok Inem seorang diri.
... ***...
__ADS_1
Lebaran sebentar lagi nihh .. gak perlu kasih THR buat penulis, cukup like, komentar, hadiah, vote dan share karya ini aja buat Dara ðŸ¤