Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
20. Liburan dadakan


__ADS_3

Rombongan liburan dadakan sudah tiba di lokasi yang di maksudkan. Menempuh perjalanan lebih kurang satu jam, kini mereka sudah berada di wilayah pinggiran kota.


Rombongan di sambut hangat oleh karyawan di


villa yang sebelumnya sempat berdiri berjejer rapi menunggu kehadiran para tamu.


Dari para karyawan di villa itu lah Dara dan semua anggota liburan dadakan mengetahui bahwa Radit adalah pemilik sekaligus boss di villa yang besar, luas, megah namun bernuansa begitu homey ini. Para karyawan itu menyapa dan memanggil si tukang ajak liburan dadakan, Radit dengan sebutan 'tuan'.


Benar seperti yang di sampaikan Radit sebelum nya bahwa semua keperluan untuk liburan sudah di persiapkan. Mereka hanya perlu menikmati arti dari liburan saja.


Buktinya, dari camilan selama berkendara, di sambut ramah oleh para karyawan, kesediaan tempat yang nyaman lengkap dengan segala atribut menyenangkan, hingga layanan, santapan, sudah tersedia sempurna semua di tempat ini.


Dara berikut anggota begitu pula dengan Lusi serta keluarga sedang bersenang-senang dengan aktifitas masing-masing di halaman luas bagian belakang villa.


Pak Saleh dan Sultan duduk santai di pinggir kolam ikan sambil menyesap kopi lengkap dengan camilan hangat. Mbok Inem dan Rani mengobrol, sesekali juga cekikikan sembari menikmati layanan manicure pedicure dari karyawan di villa yang jumlah nya entah ada berapa saking banyak nya.


Anak-anak Dara dan Lusi asyik bermain, bercengkrama, bercanda tertawa ria bersama Radit Corak, si pelukis pendatang baru yang punya ide liburan dadakan di kediaman nya yang super fantastis.


Sementara sahabat, sekawan sepermainan, Dara dan Lusi memilih duduk di rerumputan yang beralaskan tikar, tepat nya dengan posisi paling tengah dari halaman di antara orang-orang yang semuanya tampak sangat menikmati indahnya hari di lingkungan yang asri.


"Yakin itu udah semua dari lima W satu H nya?"


Pancing Dara kepada Lusi setelah meminta penjelasan mengenai yang terjadi selepas subuh tadi.


"Iya Dara. Emang cuma begitu aja, inti nya Radit ngajakin kesini minta bantu hubungi dan pastiin pak Saleh mau terus sisa nya emang semua dia yang urus" Jelas Lusi lagi.

__ADS_1


"Kok ada ya orang sebaik dia padahal baru aja berteman tapi baiknya udah sampai ke keluarga dan sekitar lingkungan" Ucap Dara.


"Yee yang baru berteman kan kalian. Aku sih udah lama kan pernah satu sekolahan waktu SMA dan dari dulu emang orangnya baik sih tapi ya itu sampai sekarang masih aja sendirian, gak laku-laku hahahaha"


Dara segera mencubit kecil pinggang Lusi. Khawatir yang di bicarakan mendengar dan juga karena tidak enak hati jika harus menertawakan orang yang memberi mereka liburan menyenangkan secara cuma-cuma alias gratis.


"Tapi kamu sadar gak sih? Radit kayak nya beneran suka bahkan cinta deh sama kamu. Selama kenal dia ya, aku tu gak pernah ngelihat dia kayak gini. Yang hampir setiap hari nanyain tentang kamu, kamu tu gimana, suka nya apa, gak suka apa, anak-anak mu gimana, rencana mu ke depan gimana dan banyak lagi deh pokoknya"


"Terus aku harus bilang wow gitu?" Tukas Dara.


"Ee kasih respon apa gitu kek. Ini setiap bahas masalah Radit pasti jawabnya lempeng datar-datar aja" Lusi tampak cemberut.


"Respon apa yang kamu harapkan Si? kamu gak boleh lupa lho kalau aku ini masih istri nya orang walau pun hanya status" Dara serius memandangi Lusi.


Dara menghela nafas.


"Kamu percaya aku kan? dan kamu tahu aku gimana Si, kalau aku sudah bilang A gak mungkin jadi Z, kalau aku sudah bertekad membalikkan keadaan gak mungkin gak jadi tapi semua harus aku persiapkan supaya jalan ku gak kepeleset" Tutur Dara sembari berkelakar.


"Aku percaya" Lusi merangkul Dara.


... ***...


"Karena tadi udah sempat ada gerimis mengundang, biasanya gak lama lagi bakal muncul pelangi. Aku udah siapkan peralatan lukis, untuk meningkatkan skill gimana nanti habis sarapan ini kita nge-lukis"


Tawar Radit kepada Dara.

__ADS_1


Dara hendak bersuara memberi jawaban. Tiba-tiba,


"Gak bisa. Dara harus terapi dulu. Setelah itu silahkan melukis"


Tanpa di persilahkan dokter Angga duduk di salah satu kursi meja makan yang kosong. Mengambil sajian di hadapannya kemudian lahap menyantap sarapan pagi bersama penikmat liburan dadakan yang kebingungan.


Kini Dara dan dokter Angga sudah berada di halaman belakang villa dengan beberapa alat penunjang untuk terapi. Sebelum nya di bantu oleh pak Saleh dokter Angga mengangkut peralatan tersebut dari bagasi mobil nya hingga kini di hadapan mereka.


"Kenapa? kan tadi di telepon aku bilang silahkan gak terapi di klinik bukannya gak terapi sama sekali. Lagi pula kondisi disini mendukung. Bagus untuk percepatan kualitas terapi"


Ucap dokter Angga tanpa nada dengan kata lain, datar kepada Dara yang bertingkah serba salah, kentara tidak enak hati dengan Radit.


"Semalam aku juga bilang begitu kan pada mu, 'ya tidak terapi di klinik'. Setelah sesi terapi nya selesai silahkan melukis bersama" Ucap dokter Angga dingin tertuju pada Radit yang sedari tadi tidak melepas pandangan nya kepada Dara dan dokter Angga.


"Yang ingin menyemangati silahkan melihat proses nya terapi jika ingin kembali ke aktifitas masing-masing pun di persilahkan dengan senang hati"


Dokter Angga mengurai senyum nya yang langka kepada orang-orang di sekitaran Dara.


Semua memilih kembali ke aktifitas masing-masing dalam rangka menikmati liburan dadakan kecuali Lusi.


Lusi memilih untuk tetap mengawasi jalannya terapi sebab khawatir terjadi nya perang dingin antara dokter Angga dan Radit. Ya. Radit yang kilatan mata nya menunjukkan ajakan perang ikut memilih menyaksikan proses terapi Dara.


Demikian lah liburan dadakan Dara yang di sponsori oleh Radit tanpa meninggalkan kelas terapi nya sebab dokter Angga yakin betul bahwa keinginan utama dari seorang Dara saat ini adalah kembali bisa berjalan seperti sedia kala.


... ***...

__ADS_1


__ADS_2