
"Siapa sih mbok?"
Dara berada di kursi roda yang di dorong oleh Rani bergegas mengikuti mbok Inem ke arah pintu utama rumah Dara demi melihat siapa gerangan tamu yang sedari tadi berulang kali membunyikan bel untuk datang ketika penghuni rumah baru saja hendak melakukan aneka rutinitas pagi selepas menjalankan ibadah subuh.
"Radit?" Tanya Dara bingung.
Radit sudah duduk di dalam rumah Dara, di ruang tamu yang beraksen gaya minimalis itu.
Radit meminta Dara memanggil setiap penghuni rumahnya kecuali pak Saleh yang memang tidak ada di rumah dan biasanya akan datang ke rumah tersebut tidak lama lagi untuk bersiap mengurusi hal-hal berkenaan kendaraan yang Dara miliki. Pak Saleh memang sedari dulu tidak menginap di kediaman Dara melainkan tinggal di kontrakan yang berada tidak jauh dari area rumah Dara.
Setelah semua berkumpul, Dara saling memperkenalkan mereka kecuali Rani dengan Radit, meski secara tidak sengaja sebelum nya di galeri anak-anak, mbok Inem dan Radit sudah pernah berpapasan.
Radit menuturkan maksud kedatangannya bahwa dia mengajak Dara serta anak-anaknya dan seluruh orang di rumah untuk pergi ke suatu tempat yang sudah Ia persiapkan untuk sama-sama menikmati libur akhir pekan. Dan mereka harus pergi pagi ini juga di karenakan perjalanan yang akan cukup menyita waktu.
"Radit, aku sungguh menghargai tawaran mu tapi seperti yang ku bilang tadi, aku tidak bisa. Sebenarnya itu karena hari ini adalah jadwal terapi ku dengan dokter Angga. Maaf ya, mungkin lain kali dengan persiapan yang lebih matang dan tidak mendadak begini" Jelas Dara.
"Ah ternyata dokter Angga masalah nya. Kenapa tidak bilang dari tadi? kalau soal itu sudah aku bereskan. Aku sudah menghubungi dokter Angga perihal ini" Ucap Radit santai.
"Hah?" Gumam Dara.
"Kalau kamu tidak percaya coba saja hubungi yang bersangkutan, dokter Angga si manusia sedingin salju itu" Lanjut Radit.
Karena desakan anak-anak, mbok Inem dan Rani akhirnya Dara yang merasa keberatan harus menghubungi dokter Angga di luar jam kerja nya memberanikan diri juga menekan tombol panggil di layar handphone nya lalu,
__ADS_1
"Baik lah. Terima kasih dok"
Ucap Dara kepada lawan bicara di ujung telepon meski tanpa tahu respon atas ucapannya tersebut tadi sebab dokter Angga secara sepihak sudah mematikan sambungan telepon.
"So, gimana Bun?" Tanya Azkia antusias.
Dara menghela nafas lalu dengan gaya khas dokter Angga dalam bicara, Ia ulangi penuturan dokter Angga dengannya di telepon tadi,
"Jika kamu menghubungi ku sepagi ini di luar jam kerja pula hanya untuk memastikan apa kah aku sebagai dokter sudah mengizinkan ketidak hadiran pasiennya untuk terapi di klinik hari ini, maka jawabannya IYA. Jadi pergi saja dan bersenang-senang lah"
"Yeayyyyy" Teriak kompak dari seisi penghuni rumah kecuali Dara.
"Tapi, kita belum ada persiapan. Bukan kah lebih baik kita pergi nya lain kali saja saat semua nya sudah di persiapkan dengan matang?"
Tanya Dara mengudara entah tertuju pada siapa. Dara hanya merasa bingung karena di ajak bepergian secara mendadak oleh Radit, lelaki yang belum lama menjalin hubungan pertemanan dengannya. Belum lagi harus membawa anggota keluarga dan penghuni rumah lainnya.
Ucapan Radit memecah konsentrasi Dara yang sedang bingung memberi keputusan.
"Hai..Halo.. Assalamu'alaikum, gimana? udah pada siap belum?" Lusi muncul dari pintu ruang tamu.
"Astaga Dara, kenapa masih belum siap sih? Tuh pak Saleh aja udah siap. Aduh yang lain juga masih pada pake baju tidur dan daster lagi" Gerutu Lusi.
Dara yang masih belum betul-betul paham dengan apa yang terjadi kembali semakin bingung dengan kemunculan pak Saleh yang sudah rapi dengan seragam khas orang siap muncak.
__ADS_1
"Lusi?" Dara berusaha minta penjelasan dari sahabatnya.
"Apa lagi sih? Aiss udah nanti aja lima W satu H nya"
Lusi bergerak duduk di sebelah Azkia dan Alsava yang juga ikut memasang raut bingung.
"Kalian di bantu mbak Rani ya siap-siap nya, tante bantu Bunda kalian dulu" Ucap Lusi.
"Assalamu'alaikum"
"Sultan?" Retoris Dara pada sumber salam.
"Salam itu di jawab Dara, bukannya menyapa apa lagi bertanya"
Yang memberi salam bernama Sultan sudah duduk di bagian lain kursi kosong di ruang tamu sambil mendekap seorang bocah laki-laki
yang tertidur dalam gendongannya. Mereka adalah Sultan, suami Lusi. Dan anak mereka yang sebaya dengan Azkia bernama Faatir.
Dara seperti di kepung dari segala penjuru arah.
Arah depan di kepung rasa tidak enak hati menolak ajakan seorang teman, dari arah kanan kiri tidak tega melihat raut muka anak-anak, mbok Inem, dan Rani yang air muka nya kompak menampilkan aura pengharapan yang bernarasi 'ayo pergi' dan penyempurna kepungan dari arah belakang yakni sahabat sendiri lengkap dengan keluarga nya.
Dan kepungan kian komplit serta sempurna dengan kehadiran pak Saleh yang sudah siap menyetir kendaraan menyupiri Dara sekeluarga.
__ADS_1
Alhasil, jadi lah pagi selepas subuh ini menjadi awal mula perjalanan dadakan untuk berliburan tak kalah mendadak nya bagi Dara dan rombongan nya.
...***...