Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
41. Radit menghilang


__ADS_3

Tiga anak manusia yang saling beda latar belakang dan kepribadian, berdasarkan kesepakatan di grup kontak bertemu di sebuah cafe.


Tanpa menunggu pesanan masing-masing datang, pertemuan dadakan itu segera berubah menjadi rapat darurat.


"Ini serius. Kita harus selesaikan masalah darurat ini! Hitungan tiga hari ke depan, genap tiga minggu Radit menghilang," ungkap Lusi serius sebagai pembuka narasi.


"Sibuk ngajakin ngumpul cuma untuk ini? kamu bilang darurat, aku gak lihat unsur kedaruratan sama sekali dari topik pembahasan seputar seorang pria yang tidak kanak-kanak lagi di duga menghilang," tukas Dokter Angga dingin.


Bergegas meninggalkan klinik tanpa terlebih dulu pulang ke rumah untuk sekedar dapat mandi ataupun merapikan diri sehabis seharian dinas sebagai Dokter Ortopedi, Dokter Angga kecewa mendapat kenyataan hal darurat yang di sampaikan Lusi di grup mereka hanya soal seorang pria dewasa yang menurutnya hilang, si Radit.


Dara hanya diam. Belum tahu harus merespon apa dan bagaimana.


"Angga, Dara. Kita sama-sama punya waktu yang berharga jadi untuk sekedar berbincang urusan gak penting jelas mubazir. Tapi jangan lupa, Radit juga bagian berharga dari kita, kita memang belum berteman berpuluh tahun tapi sudah cukup menghabiskan banyak waktu berkualitas bersama-sama. Mungkin kalian anggap ini sepele karena tidak masuk akal bagi seorang laki-laki dewasa, sehat seperti Radit bisa menghilang lain halnya jika Ia masih balita jika tidak ada kabar berita selama hampir tiga minggu bisa di pastikan menghilang karena di culik. Ya, tapi memang inilah kenyataannya, Radit menghilang!" seru Lusi dengan wajah penuh kekhawatiran.


Dara menepuk halus punggung Lusi, berusaha menyalurkan energi tenang atas kegusaran sahabatnya itu.


"Baiklah. Coba jelaskan kenapa kamu berpikir begitu, bahwa Radit menghilang. Kamu tidak sedang berteman dengan paranormal kan sehingga seketika pandai memprediksi?"


Dokter Angga membungkus narasi dengan sedikit kelakar, berusaha ambil peran sebagai teman yang baik dengan memberi ruang bagi Lusi untuk mendetailkan kecemasannya.


"Maaf, permisi .. ini pesanannya ya Kak," kedatangan seorang pramusaji dengan beberapa gelas minuman di atas nampan yang Ia bawa membuat obrolan ter-jeda.


Lusi meraih gelas berisi jus buah mangga pesanannya, menyeruputnya pelan. Lalu menggapai air mineral berukuran mini di atas meja kemudian meneguknya hampir setengah dari isi botol. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya perlahan.

__ADS_1


"Aku gak tahu apakah menceritakan ini dalam keadaan genting begini termasuk menyebar aib atau tidak tapi aku pikir, aku harus menceritakan ini dulu ke kalian berdua sebagai dasar pertimbangan apakah asumsi ku bahwa Radit menghilang itu benar atau tidak," prolog Lusi.


"Ya Lusi. Lanjutkan, cerita aja." Pinta Dara.


Dokter Angga mengangguk pelan. Isyarat yang sama dengan Dara agar Lusi melanjutkan cerita. Soal aib, mereka sudah sama-sama dewasa untuk memfilter perihal sebuah kepantasan dalam menentukan topik pembicaraan.


Jadi meski Lusi akan menceritakan sesuatu berhubungan dengan aib Radit, bagi mereka itu bukanlah apa-apa. Mereka akan meninggalkan jejak noda aib seketika itu juga bersama berlalunya waktu. Prinsip mereka soal ini sama, tidak penting menyimpan adegan buruk kehidupan orang lain dalam memory ingatan kita, bisa error otak kita jika terlalu banyak menyimpan sesuatu yang suram dan kelam.


"Tepat sehari sebelum Radit gak bisa di hubungi via phone ataupun medsos, dia nelpon aku terus minta izin sama suamiku untuk bicara serius sama aku lewat telepon. Setelah di izinkan oleh Mas Sultan, dia cerita kalau dia bertengkar hebat dengan kedua orangtuanya,"


... ***...


Flash back on di kediaman Radit.


"Apa pun akan Papi turuti tapi tidak dengan merestui kamu untuk menikahi seorang JANDA, lebih TUA pula dari kamu!" hardik Kusnan, Papi Radit.


"Lagi-lagi alasannya status. Please Papi, yang akan menikah dan berumah tangga itu kan Radit jadi yakinlah dengan pilihan Radit terlepas apa pun status perempuan itu,"


"Cih. Sudah merasa hebat ya kamu! oii Nak, jangan anggap status dan umur pasangan dalam berumah tangga itu tidak penting. Hitungan umur akan semakin bertambah tapi sisa hidup berkurang. Sedangkan di antara kalian berdua perempuan itu lah yang lebih tua. Apa kamu mau jadi duda di saat sedang butuh-butuhnya seorang pendamping hidup? Lalu menghabiskan waktu mengurusi anak-anak yang bukan darah daging mu. Hah? iya? lagipula jika perempuan pilihan mu itu memang perempuan baik-baik kenapa bercerai?" Papi Radit beberapa kali meninggikan intonasi suara tanpa menghilangkan nada bicaranya yang sinis.


Radit yang sedari tadi bersitegang dengan sang Papi tepat setelah menyampaikan maksud hatinya untuk melamar Dara, kini terdiam seribu bahasa, seperti mainan kehabisan daya.


Radit diam bukan karena sepakat dengan pernyataan Papi nya tapi sebab sudah kehabisan kata untuk meyakinkan orang tua tersebut jika cinta tidak memandang usia, status dan lainnya melainkan berpijak pada kenyamanan dan berpegang pada komitmen.

__ADS_1


Radit melirik Maminya sekilas, lalu merapatkan diri ke arah Maminya. Radit benamkan satu sisi kepalanya di paha sang Ibunda.


"Mami, tolong aku,' lirih Radit iba.


Perempuan paruh baya dengan style kasual dan terlihat anggun itu mengusap-usap pelan dan halus kepala Radit, anak tunggalnya. Vega, itu nama Mami Radit, Ia bingung dan tidak tahu harus berbuat apa atas ketidakcocokan antara anaknya dan anak sang sahabat sementara kedua pasangan baru menikah itu akan tinggal terpisah.


"Papi .." Vega memanggil suaminya lembut.


"Stop! Mami jangan berusaha membenarkan pilihan Radit. Ini salah Mam, salah! Lihat, anak kita masih muda dan berbakat jadi dia harus di dampingi oleh seorang wanita yang selevel dengannya bukan wanita TUA beranak DUA dengan status JANDA! mau taruh dimana muka kita dengan para kolega dan sejawat lainnya kalau sempat mereka tahu kenaifan anak semata wayang kita ini!" Kusnan menggeram.


"Papi, setidaknya coba lah bertemu dulu dengan Dara. Nilai dia secara langsung, bukan hanya sekedar dari stigma Masyarakat yang selalu memandang rendah seorang perempuan berstatus single parents," dari balik pangkuan Maminya Radit kembali berujar, bersedih hati.


"Radit, jangan pernah melakukan sesuatu yang sudah pasti tidak ada faedahnya! sampai kapanpun baik Papi maupun Mami tidak akan merestui kamu dengan perempuan itu! jadi tidak perlu ada agenda bertemu-bertemu segala," tegas Kusnan.


Mendengar narasi yang demikian membuat dada Radit terasa sesak.


"Tapi Radit hanya mencintai Dara," Radit kembali bersuara meski tanpa tenaga dalam tapi cukup untuk memberi kesan serius.


"Buang cinta konyol mu itu Radit!" hardik Kusnan.


"Restui Aku dengan Dara atau aku akan menghilang selamanya!" Radit balas bersuara tegas.


... ***...

__ADS_1


__ADS_2