
Dara yang duduk di atas kursi roda di dorong oleh mbok Inem menuju ruang tamu.
Dari ruang tengah Dara seperti mengenali sosok yang sedang berdiri menghadap dinding di ruang tamu rumah nya. Tapi dengan segera Dara berusaha menghilangkan prasangka tersebut.
'Mana mungkin dia disini' Tepis Dara pada prasangka nya.
"Permisi Pak, ini Bu Dara nya" Ucap mbok Inem pada tamu di rumah majikan nya itu.
...***...
Sang tamu yang sebelumnya sedang berdiri menatap lukisan karya Dara di dinding rumah itu demi mendengar nama orang yang hendak di temui membalikkan badannya hingga bersitatap dengan sang empu rumah, Dara.
"Es?" Kata Dara spontan tanpa sadar menyebutkan gelar yang Ia sematkan untuk Dokter Angga.
"Maaf?" Dokter Angga bertanya meski wajahnya datar tanpa menunjukkan raut heran atas diksi Dara tadi.
"Eh, dokter Angga. Silahkan duduk dok" Dara yang sudah tersadar atas sikap spontan nya yang sembrono itu berusaha menghargai kehadiran sang tamu.
Selagi berdiri menuju posisi duduk, dokter Angga menarik tipis kedua ujung bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang membuat Dara dalam hati bergumam,
'Manis'
"Dara, ini bukan kunjungan medis jadi cukup panggil saya dengan panggilan saya sehari-hari, Angga" Dokter Angga mengulurkan tangannya kepada Dara.
'Kenapa seperti baru kenalan?' Dara bingung namun tanpa segan menerima uluran tangan dari dokter yang hanya ingin di panggil dengan sebutan Angga itu.
"Aku pikir kita se-umuran karena itu aku hanya menyebut mu dengan nama tanpa embel-embel lainnya, apa kamu keberatan?"
'Sudah terlanjur baru minta izin?' Dara kembali bergumam pada dirinya sendiri.
Pertanyaan dokter Angga di jawab nya dengan sebuah anggukan.
"Jadi, maksud aku datang ke sini untuk meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi antara kita"
Dokter Angga menjeda kalimat nya karena kehadiran Rani yang menghidangkan dan menyilahkan tamu majikannya menikmati sajian yang tersedia.
"Pak dokter, silahkan di minum" Tanpa menunggu respon dari yang di tawarkan minuman Rani kembali berlalu dari ruang tamu.
"Aku salah karena tidak lekas berupaya memberi klarifikasi kepada mu. Tapi mengajari Jesika bukan lah tugas ku terlebih lagi dia bukan siapa-siapa ku" Sambung dokter Angga.
"Barangkali bisa lebih di perinci dok?" Pinta Dara.
"Angga" Sahut Angga mengingatkan Dara bahwa panggil dia tanpa awalan dok atau pun dokter.
__ADS_1
"Ah iya, barangkali bisa lebih di perinci Angga?" Hati-hati Dara menyebutkan kata terakhir dari kalimat nya.
...***...
"Baik. Awalnya aku bingung dengan apa yang kamu maksudkan saat menelepon ku, akhirnya aku mencari informasi mengenai apa yang terjadi lewat Lusi, lalu setelah mengetahui nya aku pikir ada baiknya aku menjelaskan kesalahpahaman ini pada mu saat kita selesai melakukan terapi. Tapi ternyata tindakan itu salah aku malah membuat kesalahpahaman makin berlarut hingga akhirnya sampai membuat kamu tidak mengikuti kelas terapi mu lagi"
"Baik lah, lalu?" Tanya Dara.
"Perempuan temperamen yang menyerang mu di galeri seni itu namanya Jesika. Satu tahun yang lalu kami pernah berpacaran bahkan hampir bertunangan namun hingga saat ini dia tidak pernah menerima kenyataan bahwa hubungan kami telah berakhir dan yaa begitulah dia berani bertindak lancang untuk posesif terhadap kehidupan pribadi ku"
'Woww wajahnya mulai menunjukkan ekspresi' Dara terus menyimak penjelasan dari dokter Angga yang bersuara nge-bass.
"Bagaimana?" Tanya dokter Angga.
"Apanya?" Dara balik bertanya.
"Apakah keterlambatan ku dalam klarifikasi di maafkan?" Tutur dokter Angga.
"Ahh itu, sebenarnya tidak pun dokter eh kamu klarifikasi begini aku juga sudah tidak ambil pusing lagi dengan kejadian itu"
"Benar kah? lalu kenapa kamu tidak lagi datang ke klinik?" Dokter Angga kembali menghujani Dara dengan tanya.
"Anak ku yang bungsu beberapa hari yang lalu kurang enak badan jadi aku memutuskan untuk fokus kepadanya saja sampai dia pulih" Terang Dara.
"Hanya karena kejadian itu? hahahaha ternyata kamu bisa konyol juga ya" Dara merasa geli dengan kekhawatiran dokter Angga yang tidak beralasan tepat itu.
Dokter Angga untuk yang kesekian kalinya menunjukkan senyum nya yang langka.
"Lalu ini?" Dara melihat beberapa benda di atas meja, yang di bawa oleh dokter Angga.
"Oh ya, ini. Aku tidak tahu apa makanan kesukaan kamu dan anak-anak jadi aku bawakan makanan kesukaanku saja untuk bisa kalian nikmati"
Dokter Angga mengangkat beberapa kotak yang Dara tahu betul apa isinya karena sebenarnya itu adalah makanan kesukaan anak-anaknya, ayam goreng.
"Lalu ini, kamu tahu sendiri apa ini" Dokter Angga menunjuk sebuah pot berisi tanaman.
"Bunga mawar" Jawab Dara.
"Mawar putih" Jelas dokter Angga.
"Ya, bunga mawar putih. Tapi untuk apa?" Dara heran untuk apa seorang tamu berkunjung membawa tanaman.
"Permintaan maaf" Tukas dokter Angga.
__ADS_1
Dara mengedikkan bahunya ke arah dokter Angga, Dara belum mengerti analogi antar mawar putih dengan permintaan maaf.
"Di perinci lagi?" Tanya dokter Angga kembali.
Dara mengangguk.
"Mawar putih, memiliki aroma wangi yang lembut, ini merupakan lambang dari kesucian dan atau ketulusan. Sedangkan setiap kelopaknya yang berwarna putih menggambarkan tentang ketulusan dari permohonan maaf. Kenapa harus tanaman mawar putih bukan buketnya saja? Agar kamu rela merawat dan memelihara nya sebagai bentuk penerimaan atas tawaran sebuah persahabatan murni tanpa adanya tendensi"
"Wow terinci sekali" Dara kagum pada penjelasan dokter Angga.
"Jadi?" Dokter Angga lagi-lagi tiba-tiba bertanya.
"Jadi?" Dara benar-benar bingung dengan pertanyaan tiba-tiba dari dokter Angga.
"Tawaran persahabatan" Ucap dokter Angga.
"Ahh itu" Dara mulai paham maksud pertanyaan dokter Angga setelah sebersit teringat salah satu penjelasan dokter Angga tentang mawar putih.
"Baik. Persahabatan tanpa tendensi" Dara tersenyum bukti tulus menerima tawaran persahabatan dari dokter Angga.
'Tidak ada yang salah dengan persahabatan' Yakin Dara pada dirinya.
...***...
"Bundaaa"
"Bunda"
Anak-anak Dara, Azkia dan Alsava sudah bangun dari tidur siang nya, mereka menghampiri sang Bunda dengan manja.
Sejurus kemudian Dara memperkenalkan dokter Angga kepada anak-anaknya.
Pada dasarnya Dara harusnya tidak lagi perlu merasa canggung menyaksikan kepiawaian seorang pribadi yang bersikap dingin, dokter Angga dalam mengambil hati para anak kecil seperti yang Ia Iakukan saat ini terhadap Azkia dan Alsava, mengingat sebelumnya Dara sudah pernah melihat bagaimana kedekatan dokter Angga dengan para pasiennya yang masih berumur belia.
Anak-anak Dara pun meski baru ini kali pertama nya berjumpa dan berkomunikasi dengan dokter Angga tapi seolah sudah saling lama mengenal dan terlihat jelas dari raut serta sikap Azkia dan Alsava bahwa mereka menyukai dokter Angga sehingga dalam waktu yang relatif sebentar mereka telah menjalin keakraban.
Ahhh sepertinya ini bukan bentuk suatu kecanggungan melainkan rasa kagum yang berulang.
Dara tersenyum senang menyaksikan pemandangan hangat tersebut di depan matanya.
Kehangatan yang dokter Angga berikan kepada anak-anaknya menjalar hingga menyentuh jantung hati milik Dara.
...***...
__ADS_1