Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
15. Satu hari dua kejutan


__ADS_3

Pilihan untuk menitipkan hati kepada seseorang yang tidak bisa menerima kekurangan dan keterbatasan pada diri ini, telah mengantarkan ku berada pada garis hidup penuh beban dan tekanan.


Hingga menjadikan kewarasan ku nyaris hilang akibat memikul berat nya derita ujian pengkhianatan.


Betapa jalan hidup sudah memperkenalkan aku si yatim piatu dengan cobaan, kecelakaan dan bencana dalam hidup.


Meski kerelaan ku jadikan teman namun tidak urung sakit nya demikian pedih tatkala segala bentuk kepahitan harus juga di teguk sendirian.


Tapi anak-anak ku? Azkia dan Alsava, para permata hati ku. Bagaimana dengan mereka?


Aku tidak pernah bisa menjamin bahkan menentukan bahwa hari-hari yang di lalui anak-anak ku akan selalu indah tanpa harus merasakan empedunya kehidupan. Barangkali saat ini pun mereka tanpa sepengetahuan ku sudah pernah mencicipi nya.


Azkia dan Alsava, para gadis kecil ku itu masih teramat butuh sosok Ibu yang mata nya tiada terpejam demi menjaga mereka di kala sakit menyerang. Melindungi mereka dari pandangan buruk yang di miliki mata dunia.


Mereka masih sangat membutuhkan seorang Ibu yang kedua tangan nya kekar sehingga mampu mendorong mereka menjauhi perkara seputar masalah yang pelik.


Mereka masih memerlukan sebuah bibir berikut sepotong hati dari Ibu nya yang meski tak luput dari dosa terhadap diri pribadi namun tiada akan jemu mengingatkan serta mendo'akan kebaikan untuk setiap sisi kehidupan sang belahan jiwa, anak-anak tercinta.


Dan walau pun saat ini jelas dalam keadaan tidak sempurna tapi anak-anak butuh kaki ku. Anak-anak butuh kaki yang kuat dari aku sebagai seorang Ibu demi mengiringi setiap fase kehidupan yang akan mereka jalani.


Aku sungguh memang lelah. Tapi aku tidak bisa menyerah. aku harus melalui detik demi detik kehidupan ini dengan versi terbaik dari diri ku, seorang Dara Herlambang.


Agar sebagai seorang Ibu, Bunda dari mereka yang sungguh demikian ku kasihi, bisa aku temani anak-anak ku melewati hal-hal yang tidak di sukai serta menyelesaikan setiap tantangan yang di sajikan kehidupan.


Terlebih, aku harus memastikan anak-anak tidak mengalami apa yang mendera ku kini.


Meski hasil usaha jauh dari harapan, hal itu sama sekali tidak boleh mengalahkan tekad diri ini untuk membuktikan bahwa takdir hidup ku tidak kejam.


Sudah cukup aku di lumpuhkan oleh mematikannya racun sebuah pengkhianatan. Aku tidak bisa lagi melalui banyak kesulitan. Sebab masih banyak indah nya mutiara kehidupan yang harus aku selami.


Dan untuk mewujudkannya jelas bukan perkara gampang. Aku sudah pasti akan di hadapkan dengan aral melintang yang suka rela datang berulang.


Namun, bukan kah sebuah perjalanan memang terlebih dahulu di awali dengan langkah kecil?


Maka aku harus bisa melangkah!!!


Akan aku lakukan semua upaya dengan tenang tanpa meluputkan kerja keras dan ikhtiar yang lebih dari sekedar kegigihan.


Akan aku buat kamu merasakan bagaimana panas serta perih nya kehidupan yang kamu ciptakan untuk ku ini Mas.


Jika hidup ku kini seperti neraka akibat keegoisan dan keserakahan mu yang dengan sadar telah menggerus komitmen sebuah pernikahan. Maka kamu harus menyesali semua itu!


Tuhan pemilik alam, bantu aku mencipta keajaiban.


"Kita udah sampai Bu" Suara pak Saleh.


"Iya Pak" Dara menekan sebuah tombol yang berada di bagian samping handphone nya.


Kini handphone itu tidak lagi menampakkan semburat cahaya. Membuat beberapa baris tulisan Dara yang di ketiknya sebagai motivasi diri demi pulih kembali tersebut tidak lagi terbaca di benda pipih canggih melainkan telah di tancapkan, tertanam dalam pikir dan hati seorang Dara Herlambang.


...***...


"Tidak ada obat terbaik selain tekun dan yakin"


Dokter Angga menyerahkan selembar kertas kepada Dara. Ada senyum kecil yang manisnya berlebih di sudut bibir dokter spesialis ortopedi tersebut.


Dara menerima kertas yang di berikan. Melihatnya sekilas lalu memandang dokter Angga dan meminta dalam tanya,


"Rincian detailnya dok?"


"Baik. Hasil pemeriksaan ini menunjukkan komponen beracun dalam kaki mu sudah tidak ada lagi, itu di tandai dengan mulai muncul nya rasa sakit maupun nyeri yang kamu rasakan saat melakukan beberapa sesi terapi. Artinya saat ini kita tinggal meningkatkan kualitas terapi kamu untuk merangsang otak dan organ utama dari kaki agar bisa kembali bergerak mandiri"


Jelas dokter Angga dengan tatapan setenang danau dan intonasi layak nya robot di sertai mimik wajah kaku se-dingin es.


Dara beberapa kali mengangguk.


"Ayo kita mulai dok!" Seru Dara.

__ADS_1


"Ya?" Dokter Angga masih belum menangkap maksud ajakan Dara.


"Bukannya kita harus meningkatkan kualitas terapi?"


Perjelas Dara kembali dengan mengutip salah satu bahasa yang di gunakan dokter Angga beberapa saat lalu.


Dokter Angga tersenyum.


Tidak terasa seiring berjalannya waktu meski masih tidak lepas dari pembawaan nya yang dingin namun saat ini dokter Angga cukup sering secara spontan menampakkan senyum manisnya ke hadapan Dara.


"Dokter adalah dokter hebat yang menawan dan sepertinya akan terlihat semakin mempesona kalau lebih sering tersenyum seperti ini" Tutur Dara membuat dokter Angga kembali ke mode es.


"Karena kamu seperti anak kecil yang akan di belikan mainan, jadi ayo kita mulai sesi terapi ini" Dokter Angga bersiap menjalani tugasnya.


Seperti narasi yang telah di tuang dalam tulisan dan pikiran berikut sanubari terdalam, Dara dengan tekad yang terbilang hebat menjalani setiap arahan dokter Angga dengan seksama.


Rasa sakit, nyeri, dan ngilu yang teramat menyakitkan tidak Dara hiraukan. Dia hanya berfokus harus kembali melangkah.


... ***...


"Angga!!!"


Histeris manja dari gadis cantik berperawakan bak super model itu membuat dokter Angga dan Dara yang terkejut seketika menghentikan kegiatan terapi yang sedang di jalankan.


"Jesika?" Retoris dokter Angga kepada perempuan yang sedang mengembangkan senyum lebar itu.


Jesika seketika menghamburkan diri nya ke dalam pelukan dada bidang milik dokter Angga.


"I'm sorry honey" Nada kemayu dari Jesika.


Dokter Angga mendorong kecil Jesika hingga lepas dari pelukannya. Dokter Angga mundur beberapa langkah dari Jesika.


"Jesika. Please jangan membuat masalah lagi terlebih ini di klinik, tempat kerja ku" Tegas dokter Angga.


Dokter Angga melangkah berlalu meninggalkan Jesika. Ia mendekat ke arah Dara yang berdiri dengan alat bantu di sisi tangan kanan dan kirinya.


Jesika menarik paksa tubuh dokter Angga yang hendak memindahkan Dara ke kursi rodanya. Pegangan dokter Angga pada tangan Dara terlepas.


Dara yang beberapa waktu lalu alat bantu berdirinya telah di lepaskan, kini tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan hingga...........


"Hampir saja"


Sebuah tangan dengan segera menangkap tubuh Dara yang nyaris terjatuh.


Dara seperti pernah mendengar suara ini sebelumnya. Dara mendongakkan kepala kepada si penolongnya.


"Tuan?" Dara kembali terkejut sekaligus heran.


...***...


"Perkenalkan nama ku Radit, Radit Corak"


Si pemilik suara mengulurkan tangannya kepada Dara yang sudah duduk di kursi roda.


Selepas menyelamatkan Dara yang hampir jatuh, Radit sigap berteriak memanggil Rani yang berada di luar ruangan untuk membantu memindahkan Dara ke kursi roda nya.


'Radit Corak? Apa itu berarti si tuan ini adalah pelukis pendatang baru yang mengadakan pameran waktu itu?' Dara bertanya-tanya pada batinnya.


"Hei.. Haloo" Radit mengibas-ngibaskan telapak tangannya yang sedari tadi menunggu jabatan tangan dari Dara.


"Oh, hei maaf. Ah iya nama ku Dara"


Dara mengulurkan tangannya dan di sambut segera oleh Radit.


"Cih. Lihat! klinik tempat mu bekerja ini oleh si perempuan tidak tahu diri malah di jadikan tempat untuk menggoda pria lain" Jesika memandang Dara sinis.


"Jesika hentikan! Sudah berkali-kali aku katakan bahwa Dara adalah pasien ku. Lihat lah dirimu Jesika! Bagaimana aku bisa terus bertahan dengan mu jika setiap pasien ku selalu kamu jadikan bahan tuduhan! Ini yang terakhir kalinya aku katakan, hubungan kita sudah berakhir dan untuk selamanya! jika kamu masih bersikap seperti ini maka aku akan mengambil langkah tegas melaporkan mu ke pihak kepolisian atas dasar perbuatan tidak menyenangkan. Sekarang keluar dari ruangan ku dan jangan pernah kembali!!!"

__ADS_1


Jesika yang di hardik oleh dokter Angga terlihat terkejut, air mata mulai meleleh ke pipi tirus nya serta merta Ia berlari meninggalkan ruangan tersebut.


... ***...


"Dara, maafkan atas ketidaknyamanan tadi" Dokter Angga menampakkan wajah penuh sesal nya.


"Hanya itu?" Radit memelototi dokter Angga.


Dokter Angga serius memandangi Radit yang berdiri bersisian dengan kursi roda Dara.


"Tuan, sebelumnya terimakasih sudah membantu pasien saya. Dan untuk Anda ketahui bahwa yang di izinkan masuk ke ruangan ini hanya yang berkepentingan jadi silahkan Anda keluar!"


Dokter Angga mengambil nafas sejenak lalu memandang Rani yang masih berdiri di belakang kursi roda majikan nya.


"Demikian pula dengan kamu Rani. Silahkan tunggu di luar dulu"


"Tidak perlu berterima kasih karena saya melakukan nya bukan demi Anda tapi demi nona ini. Berkenaan dengan kepentingan, saya jelas berkepentingan dengan nona ini sebab temannya, Lusi meminta saya untuk menggantikan dia menjemput si nona"


Radit tampak santai menjelaskan dengan kedua tangan yang di masukkan ke kantong celana jeans nya.


"Baik. Tapi untuk saat ini sesi terapi pasien saya yang bernama Dara ini belum selesai. Itu artinya untuk sekarang silahkan Anda tunggu di luar terlebih dahulu sampai waktunya tiba bagi Anda untuk melaksanakan kepentingan Anda tersebut tadi" Jelas Dokter Angga berusaha santun.


"Tapi tidak ada yang bisa menjamin kejadian seperti tadi tidak terulang lagi. Dan saya keberatan harus meninggalkan nona Dara di sini bersama biang penyebab masalah" Balas Radit tegas.


Dokter Angga kembali menghela nafas. Meski tidak terlihat secara kasat mata tapi kentara helaan itu seakan penuh beban.


Barangkali sisi tenang seorang dokter Angga mulai goyah di hadapkan dengan laki-laki muda penuh semangat membara seperti Radit Corak.


"Rani, kamu temani dulu teman Lusi ini di luar ya, nama nya pak Radit"


Pinta Dara pada Rani yang sedari tadi masih belum beranjak dari dalam ruangan yang seperti bahasa dokter Angga bahwa di khususkan untuk orang dengan kepentingan.


Rani terlanjur asyik menyaksikan kegaduhan antara dua lelaki tampan di hadapannya.


"Nona, aku Radit Corak. Jangan tambahkan gelar pak di depan nama ku dan tadi aku juga sudah kenalan dengan Rani jadi nona tidak perlu memperkenalkan kami lagi"


Radit membungkukkan badan nya sehingga dapat dengan jelas melihat Dara lalu mengukir senyum ramah.


"Nyonya! Bukan nona dan kita juga sudah berkenalan tadi nama ku Dara, semoga kamu tidak lupa"


Tegas Dara sembari perlahan menggerakkan tuas di kursi roda nya yang membuat Ia berada beberapa jarak berjauhan dari Radit.


"Baiklah Dara. Sepeninggal ku nanti bagaimana jika kejadian seperti tadi terulang lagi?" Tanya Radit.


"Oleh karena itu lah aku pikir dengan adanya kalian di luar ruangan terlebih lagi jika tepat di depan ruangan bisa mencegah kejadian serupa berulang dengan memeriksa dan memastikan identitas serta kepentingan tiap orang yang ingin masuk kemari"


Sahutan Dara terhadap Radit itu membuat Rani dan dokter Angga menahan tawa sementara Radit menekuk muka baby face nya.


"Baiklah. Jika ada yang janggal segera teriakkan nama kami ya Dara"


Radit mengangguk kecil memberi kode pada Rani untuk undur diri dari ruangan yang bukan teruntuk bagi mereka.


Rani dan Radit beranjak meninggalkan dokter Angga dan Dara yang mengulum senyum tipis efek geli menahan tawa.


Klek.


Pintu ruangan yang baru sekejap mata tertutup kembali terbuka.


Radit menyembulkan wajah nya, di hadapkan kepada dokter Angga. Lalu Radit meletakkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya ke depan bola mata nya yang sipit. Radit membalik arahkan kedua jarinya itu ke arah dokter Angga sambil berkata,


"I Will back"


Poni dengan rambut melebihi bawah telinga milik Radit perlahan menghilang seiring dengan pintu ruang dokter yang di tutup cukup kencang.


Dara dan dokter Angga sontak saling berpandangan. Tiada kata yang terucap namun tiba-tiba tanpa aba-aba mereka tertawa.


... ***...

__ADS_1


__ADS_2