Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
16. Hari kelahiran sekaligus hari kehilangan


__ADS_3

"Dara" Lusi menepuk pelan pundak Dara.


"Gimana? udah bisa di hubungi?" Sambung Lusi yang kini sudah duduk di sebuah kursi plastik di hadapan Dara.


Dara menggeleng lemah, menundukkan kepalanya. Dua manik cokelat terang yang terlindung oleh bingkai bulu mata yang lentik itu mulai terasa hangat oleh genangan air mata.


Bayangan Azkia ketika di rumah tadi begitu happy saat hendak berangkat ke panti asuhan membuat dada Dara serasa sempit, sesak.


Hari ini, tepat tujuh tahun yang lalu Azkia terlahir dari rahim Dara yang saat itu proses kelahiran nya di temani oleh suami siaga, Lukman.


Demi mengenang serta bersyukur atas kelahiran dan pertumbuhan nya hingga sekarang membuat Dara dan Azkia berkeinginan menggelar syukuran di sebuah panti asuhan.


Sebagai seorang anak meski Azkia terbilang cukup mandiri bahkan sudah mulai tampak cikal bakal menjadi perempuan tegar, tetap saja di hari yang bahagia seperti ini Azkia ingin bersama orang-orang terdekat terlebih kedua orang tua nya. Dan hal tersebut sudah Azkia utarakan kepada Dara juga Ayah nya.


Apa hendak di kata. Janji sang Ayah, Lukman yang akan datang merayakan peringatan hari lahir putri sulungnya tinggal sebagai rangkaian kata-kata tanpa makna.


Sedari tadi Dara telah berusaha menghubungi Lukman sebab keterlambatan nya dalam menjemput Azkia di rumah. Namun nihil.


Hingga saat mereka memutuskan berangkat duluan ke panti asuhan sampai sekarang sudah berada di tempat yang di maksudkan Lukman masih belum ada kabar kejelasan.


Dara melihat sekelilingnya. Anak-anak panti tampak bersemangat saling berbincang, bercanda ria. Alsava pun tampak senang berbaur dengan mereka di temani oleh Rani.


Deg.


Mata Dara melihat yang berulang tahun, Azkia. Air mata Dara leleh saat itu juga tatkala melihat putri sulungnya yang beberapa saat lalu memancarkan wajah sumringah penuh bahagia kini kebalikan nya, raut muka Azkia demikian suram nya. Sedih dan kecewa membuat aura bahagia dari gadis kecil itu hilang seketika.


Lusi yang sedari tadi mengikuti arah pandang Dara lekas menggenggam tangan sahabat nya itu lalu bergantian menyeka bulir air mata miliknya serta di pipi Dara.


... ***...


"Maaf Bu, tidak lama lagi akan masuk waktu ibadah shalat Dzuhur. Acara anak nya mau di lanjutkan sekarang atau di mulai bakda Dzuhur Bu?"


Seorang perempuan muda salah satu pembina di panti asuhan tersebut sopan menghampiri dan menyatakan maksud nya kepada Dara.

__ADS_1


"Bunda, ayo kita mulai acara nya"


Belum lagi Dara angkat suara memberi jawaban, yang berhajatan sudah duluan menghampiri dan memberinya keputusan.


"Sayang?" Bimbang Dara pada Azkia.


Azkia duduk di kursi sebelah Lusi, menarik nya ke depan hingga maju dan telah beberapa jarak dari hadapan Dara, Bunda nya.


"Bunda, tadi bahkan dari kemarin-kemarin malahan memang kakak pengen pengen pengen banget Ayah barengan kita. Mulai dari jemput, ngantar kesini, terus ngerayain ulang tahun kakak sama-sama. Pokoknya semua nya pengen bareng Ayah.."


Azkia diam sejenak. Tertunduk dan memainkan jari jemarinya. Lalu sedetik kemudian kembali menatap Dara.


"Tapi kata om dokter dan om imut, yang terpenting dari acara ulang tahun itu bukan hanya bareng siapa ngerayain nya tapi untuk apa tujuan nya"


Dara membelai rambut hitam panjang putrinya yang tergerai dan berhiaskan bando berwarna ungu muda.


"Terus apa tujuannya sayang?" Tanya Dara lembut.


"Berbagi bahagia milik Azkia, Bunda, Adek dan kita semua dengan orang yang kurang beruntung yaitu teman-teman di panti ini Bunda"


Dara merentangkan kedua tangannya. Azkia menghamburkan diri nya ke dalam dekapan hangat pelukan seorang Bunda.


"Terimakasih kak. Terimakasih sayang. Terimakasih sudah jadi anak yang luar biasa hebat. Terimakasih nak" Pelukan Dara kepada sang putri semakin erat.


Ada rasa yang lebih dari sekedar ungkapan syukur dan terima kasih yang tidak dapat Dara terjemahkan menyaksikan putri nya yang mampu seketika merubah haluan sebuah kesedihan menjadi suka cita.


'akan ada perhitungan untuk kesedihan yang sempat singgah kepada putri ku akibat ke ingkaran mu Mas!' Geram Dara dalam batinnya.


... ***...


Beberapa pembina tampak saling berbincang hangat dengan Lusi, mbok Inem dan Rani sembari menikmati makanan yang mereka bawa dari beberapa toko kesukaan Azkia.


Demikian pula pak Saleh dan pembina panti asuhan lainnya. Mereka mengobrol santai di area pelataran teras panti di temani beberapa suguhan.

__ADS_1


Sementara dari ruang aula panti asuhan terdengar pekik tawa riang gembira milik makhluk-makhluk mungil tanpa dosa. Kedua anak-anak Dara, Azkia dan Alsava tampak berbaur bercengkrama dengan anak panti asuhan di temani oleh dokter Angga dan Radit yang memang di undang dalam perhelatan ini.


Dara yang melihat dari kejauhan tidak mampu membendung air mata haru melihat kebahagiaan anak-anaknya.


Akhirnya meski tanpa kehadiran sosok Ayah yang sempat di harap di nanti-nanti, acara syukuran peringatan kelahiran Azkia yang ke tujuh tahun berjalan lancar tanpa ada kendala berarti.


Azkia tampak senang demikian pula segenap penghuni panti dan beberapa tamu yang di undang.


Sesekali Dara tersenyum kecil menyaksikan tingkah dokter Angga dan Radit yang tampak konyol demi membuat anak-anak tertawa.


'om dokter dan om imut, terima kasih. tanpa petuah dari kalian mungkin putri ku masih di rundung kesedihan'


Batin Dara tatkala menyadari bahwa campur tangan dari kedua lelaki yang di anggap sebagai teman baru nya itu, dokter Angga dan Radit lah sebagai salah satu sebab terselenggara nya acara ini sesuai harapan sebab sebelumnya sempat ada halangan.


Drtt. Drtt. Drtt


Beberapa notifikasi pemberitahuan yang berasal dari handphone Dara beberapa saat lalu untuk ke sekian kali nya kembali masuk.


Dara menggugah tanya ada apa gerangan. Kenapa begitu ramai. Akhirnya Ia tatap juga layar canggih yang sudah dalam genggaman nya tersebut.


Senyum yang sebelumnya beberapa kali menghias bibir Dara kini beralih menjadi senyum sinis ketika mengetahui sumber notifikasi pemberitahuan dari handphone nya adalah unggahan dari media sosial sang suami, Lukman,


Akhirnya punya teman main bola😄


Selamat datang putra kembar ku, junior Lukman Gentala dan terima kasih sayang @kikichan kamu adalah perempuan terhebat yang pernah aku miliki


"Ohhh jadi gitu, dapat anak baru lupa punya anak lainnya!"


Dara menoleh ke asal suara. Ternyata tanpa di sadari nya Lusi ikut nimbrung menyaksikan apa yang Dara saksikan dari layar canggih sebuah alat komunikasi bergelar android.


"Hari kelahiran anak nya ini sekaligus adalah hari kehilangan bagi nya Si" Gumam Dara.


"Maksud kamu apa Dara?"

__ADS_1


Lusi di sergapi rasa khawatir pikiran buruk nya bermain-main di dalam kepala terhadap apa yang akan di lakukan Dara.


... ***...


__ADS_2