Merubah Neraka Menjadi Surga

Merubah Neraka Menjadi Surga
18. Makna sebuah lukisan


__ADS_3

"Haii Nona, ah maksud ku nyonya"


Radit menggaruk kepala nya yang sama sekali tidak gatal di balik topi fedora merah marun yang Ia kenakan.


"Jangan kaku begitu Radit. Cukup panggil aku dengan Dara"


Pinta Dara sambil menggerakkan tuas di kursi roda nya. Sehingga Dara dan Radit yang beberapa lalu saling tidak sengaja bertatap muka dan menyapa kini bersisian menghadap sebuah lukisan yang baru saja selesai di kerjakan.


Dara di antar Pak Saleh dan di temani Rani kembali mengunjungi galeri yang beberapa waktu lalu jadi tempat pameran bagi lukisan Radit, seorang pelukis pendatang baru yang sedang naik daun.


Dara memanfaatkan ruang lukis bagi umum untuk menguaskan perasaan dan pikiran nya dalam sebuah kanvas yang siap menjelma lukisan. Tak di sangka Radit pun ternyata disana sehingga mereka kini pun dari bertegur sapa mulai mengurai cerita.


"Ah iya. Dara, apa makna lukisan ini? kali ini aku benar-benar tidak memahaminya meski sedari tadi ku pandangi dengan penuh penghayatan"


Radit mengernyitkan kedua alis tebal nya, pertanda Ia memang gusar kebingungan dan berharap segera menemukan sebuah jawaban.


Dara memandangi Radit lalu bertutur,


"Apa kamu pernah dengar ini? bahwa makhluk yang sulit di pahami itu adalah perempuan"


"Ya. Sering kali aku dengar istilah itu lalu?" Tanya Radit tidak sabaran.


"Ada kala nya lukisan itu seperti seorang perempuan, sulit di pahami jadi ada baiknya hilangkan keinginan memahami makna sebuah lukisan agar kamu dapat menikmatinya sebagai sebuah karya"


"Tapi Dara, apa yang kamu tuang di kanvas ini menggugah rasa penasaran bagaimana mungkin menghilangkan rasa keingintahuan atas maknanya jika lukisannya saja sudah membuat yang memandang bertanya-tanya"


Dara berusaha menahan tawa melihat antusias Radit terhadap makna lukisannya, Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan yang masih meninggalkan jejak-jejak warna warni cat yang di gunakan saat melukis.


"Apa yang membuat rasa penasaran mu muncul saat melihat lukisan ini?"


Dara menunggu jawaban Radit sambil ikut cermat memandangi hasil gerakan jemarinya di kanvas.


"Yang pertama..."


"Wah ada banyak nampaknya" Potong Dara pada kalimat Radit yang tergantung.


Radit tersenyum menanggapi keisengan Dara yang demikian lalu kembali melanjutkan detail penyebab rasa penasaran nya,


"Yang pertama, bagaimana bisa tanaman melati dapat tumbuh subur dengan bunga lebat yang bermekaran di tengah padang bambu? yang kedua, kenapa burung merpati itu memilih hinggap pada bunga melati yang kekuatannya rentan ketimbang di bambu yang lebih tinggi dan kuat dan yang ketiga, ku mohon beri aku penjelasan nya"


...***...

__ADS_1


"Meski telah berlumuran darah serta nanah derita, aku hanya setia kepada pemilik keharmonisan yang tiada kenal kata bosan untuk berkembang pun menyengajakan bahkan memaksakan bertumbuh bersama nan kuat, berumur panjang namun tiada lupa polah bersahaja agar ku maknai derita akan menjadi suka"


Dara menjawab rasa gusar penasaran Radit dengan sebuah bait puisi.


"Puisi?" Retoris Radit.


Dara mengangguk.


Radit segera mengeluarkan handphone nya dari kantong celana jeans yang Ia kenakan.


"Karya siapa? aku akan searching makna nya sehingga paham maksud lukisan mu itu"


"Buah karya Dara Herlambang tapi aku ragu itu akan muncul di kata pencarian" Dara tertawa kecil.


"Please, aku serius Dara. Karya siapa puisi yang kau narasikan tadi itu?" Radit benar-benar di kuasai rasa penasaran tingkat dewa.


"Dara Herlambang" Ucap Dara dengan intonasi dan mimik wajah yang sama-sama tegasnya.


Radit memandangi Dara. Kembali Radit letakkan handphone nya ke tempat semula sesaat setelah Ia dapatkan keseriusan dalam jawaban Dara.


"Sepertinya ini tentang, lukisan disebut puisi bisu dan lukisan berbicara puisi" Ucap Radit.


"Iya" Balas Dara.


"Dara, maaf sebelumnya aku bukan bermaksud mencampuri urusan pribadi mu tapi aku sudah mendengar banyak dari Lusi mengenai rumah tangga mu dan jika aku tidak salah menafsirkan, lukisan yang kamu buat ini adalah sebuah keyakinan mu untuk membalikkan keadaan. Apa kah demikian?" Radit bertanya penuh kehati-hatian.


"Dan, aa.. aku benar-benar hanya tidak bisa menghilangkan rasa penasaran ku dengan makna lukisan ini oleh karenanya aku ingin memastikan dugaan ku tadi sebatas karena lukisan ya sebatas karena aku butuh kepastian tentang makna nya" Sambung Radit kembali.


"Radit, karena Lusi sudah cerita kepada mu maka aku yakin kamu orang yang dapat di percaya dan itu artinya kamu teman ku jadi ya akan ku jawab pertanyaan sebagai selayaknya teman"


"Siap. Terima kasih atas pertemanan ini Dara" Radit tersenyum lebar menampakkan jajaran deretan gigi nya yang putih dan tersusun rapi.


"Dugaan mu benar. Lukisan ini merupakan ungkapan sekaligus persiapan hati sang pelukis untuk membalikkan keadaan" Terang Dara.


"Sebagai seorang teman lagi, bisa kamu rinci kan kepada ku detail nya?"


Pinta Radit dengan kedua tangan di katupkan di depan dadanya sebagi simbol sebuah permohonan.


"Aku harus tersanjung atau terhina di tanya begini oleh seorang suhu di antara pelukis?" Dara mendelikkan kedua mata nya kepada Radit.


"Lebih dulu dan lama di dunia per-lukisan bukan berarti aku suhu buktinya lukisan-lukisan mu ini jika di pajang akan segera jadi buruan kurator seni"

__ADS_1


"Jadi kamu bertanya detail rincian lukisan ku ini sebagai calon pembeli atau penikmat seni?" Tanya Dara.


"Hahaha.... hahhhaa.. Dara, selain ahli melukis ternyata kamu ahli mengalihkan pembicaraan" Pungkas Radit.


...***...


Radit kembali memandang lukisan Dara yang jadi bahan pembahasan sedari tadi. Lalu Ia arahkan tangannya menunjuk lukisan dengan telapak tangan yang terbuka sambil mengangkat kedua bahunya.


Dara yang ke sekian kali nya menerima tanya dari Radit tersenyum lalu menjelaskan,


"Bambu, bermakna kuat, bersahaja, serta berumur panjang, sementara tanaman melati punya makna sebagai sebuah keharmonisan yang terus berkembang dan burung merpati mempunyai makna keserasian, keharmonisan, dan kesetiaan. Aku rasa cukup itu detailnya selebihnya kamu maknai sendiri saja"


Radit berulang kali mengangguk-angguk mendengar penjelasan Dara tersebut.


"Dara, kamu hebat" Puji Radit.


"Kenapa?" Tanya yang di puji.


"Setiap orang adalah lukisan, jika tak membiarkan diri terperangkap bingkai dan kamu lebih dari keduanya sebab dengan sengaja membingkai kehidupan dalam lukisan dan memberi nya nyawa dalam keseharian. Aku benar-benar kagum pada mu"


"Bahkan sedari awal pertama kali kita berjumpa, aku sudah jatuh cinta" Sambung Radit dalam hati nya.


Dara hanya diam tidak menanggapi lagi ucapan Radit demi menghindari pembicaraan menjurus ke arah yang tidak di inginkan.


Dara menyadari ada yang terlihat beda dalam tatapan Radit terhadap nya namun sebagai seorang perempuan Ia tidak ingin merasa terlalu percaya diri sehingga mengambil kesimpulan sendiri yang berakibat dengan perubahan sikap yang kentara, di khawatir kan lawan bicara pun bisa salah sangka.


Terlebih lagi sebagai seseorang yang masih menyandang gelar istri walau tiada pernah oleh si suami di nafkahi, Dara harus menjaga marwah diri sehingga lebih baik membatasi tema percakapan saja.


"Dara, terus lah melukis. Aku benar-benar serius saat bilang bahwa kamu handal. Ini bisa jadi sesuatu yang besar jika kamu seriuskan"


"Terima kasih Radit. Aku juga berniat begitu. Sebagai seorang pakar aku mohon bimbingan dan arahan dari mu" Ucap dan pinta Dara tulus.


"Mulai lagi"


Radit merasa risih saat di gelari oleh Dara dengan kata-kata yang baginya belum pantas Ia sandang.


"Dan, aku tidak tahu detail nya bagaimana tapi apa pun yang akan kamu lakukan untuk membalikkan keadaan kehidupan mu saat ini aku mendukung dan mendo'akan yang terbaik bagi proses dan hasil nya. Semangat teman baru ku" Tutur Radit tulus.


Dara mengangguk tersenyum.


'Ketika harapan di izinkan menguasai perasaan maka tumpul lah akal pikiran dan rusak lah kebahagiaan. Mas Lukman, sudah cukup ku gantung pengharapan terhadap kesadaran mu yang akan mampu membawa perubahan. Sudah terlalu sering bahkan jadi terbiasa temperamen ku dan anak-anak kau permainkan demi simpanan, selingkuhan sekaligus istri kebanggaan mu itu. Maka bersiap saja mengucapkan salam perpisahan untuk kebahagiaan di atas neraka yang kamu ciptakan. Mas Lukman, Kiki, semua ada masa nya!'

__ADS_1


Urai Dara di batinnya sambil menatap lukisan yang di jadikan nya refleksi diri untuk membalikkan keadaan.


...***...


__ADS_2