
"Sudah" Tukas Dokter Angga.
Rani membereskan beberapa peralatan yang sudah di gunakan Dokter Angga dari kotak P3K.
Selepas kepergian Lukman, seluruh korban amukan Lukman masuk ke rumah Dara.
Rani membantu Dokter Angga membersihkan dan mengobati luka di sudut bibir dan sebagian pipi kiri Radit. Hasil dari pukulan kepalan tangan Lukman yang naik darah akibat di kuasai amarah.
Mbok Inem di bantu pak Saleh menemani para buah hati Dara juga putra semata wayang Lusi bermain di ruang keluarga.
"Rani, bisa kah kamu ambilkan cermin untuk ku?" Pinta Radit.
"Cermin? Ada sih tapi ukurannya besar sekali Pak. Sebesar ukuran badan. Ahh ada yang gak terlalu besar tapi pada nemplok di tembok semua Pak" Jawab Rani.
"Mmm begitu ya. Kok kayak cicak ya? pada nemplok" Radit berkelakar.
"Hehehe Bapak. Nempel di dinding maksudnya Pak. Kalau boleh tahu, memang nya untuk apa ya Pak?" Rani balik bertanya.
"Aku mau melihat bentuk wajah ku saat ini" Radit meraba-raba pelan daerah muka nya yang tadi jadi pelampiasan kemurkaan Lukman.
"Nih" Dokter Angga menyodorkan telepon seluler canggih miliknya yang sengaja di setel sudah pada aplikasi video.
"Tidak begitu parah. Tidak perlu di besar-besarkan" Lanjut Dokter Angga.
"Heii manusia salju, aku bukan nya ingin mempergede-gede kan!" Tukas Radit.
Radit memiring-miringkan wajahnya ke atas ke bawah ke samping kanan dan kiri secara bergantian di hadapan gambar diri nya dalam layar handphone milik Dokter Angga.
"Masih kelihatan kok gantengnya" Radit menaikkan satu alisnya sambil menyerahkan handphone milik Dokter Angga kepada yang bersangkutan.
Semua yang ada di ruang tamu tertawa melihat tingkah kocak Radit. Meski sebelumnya sempat meringis kesakitan ketika di obati oleh Dokter Angga. Kini Ia tampak sudah baik-baik saja. Hanya saja pipi nya terlihat agak bengkak. Sudut bibir nya juga jelas memperlihatkan ada sebuah luka.
"Maaf" Sela Dara.
Yang berada di ruangan tersebut serempak melihat Dara.
"Maafkan aku. Sikap Mas Lukman sudah kelewatan, aku merasa bersalah dan malu kepada kalian semua" Dara menundukkan pandangan nya.
Benar kata Dara bahwa dia merasa malu. Sehingga untuk menatap sahabat lama dan teman-teman barunya itu pun Ia merasa tidak mampu.
"Yang salah itu Mas Lukman bukan kamu. Malahan kamu tuh yang jadi korban. Jadi jika ada yang harus minta maaf, itu ya si Mas Lukman" Lusi menggebu-gebu.
"Lagipula seperti kata Radit di depan tadi, kita semua paham kok dengan sikap Lukman" Sambung Sultan.
"Tapi aku juga sepantasnya minta maaf. Sebab karena ajakan ku ke villa lah yang membuat kita terpaksa serta tersiksa mendengar kemarahan suami Dara. Maafin aku ya semuanya" Radit memasang wajah bersalah.
"Radit. Kamu sama sekali tidak perlu meminta maaf. Justru kami khususnya aku berterima kasih sekali atas undangan mu tadi. Sehingga anak-anak ku dan yang lainnya bisa menikmati liburan akhir pekan. Sekali lagi terima kasih dan maafkan perlakuan suami ku tadi. Wajah mu nyaris bonyok karena ulah nya" Dara memandang Radit sekilas lalu kembali tertunduk.
"Seperti nya saat ini baik kamu, para gadis kecil dan yang lainnya sudah aman dari serangan suami mu. Jadi aku mohon izin dulu" Sela Dokter Angga.
"Dokter.." Dara menggantung kalimat nya.
"Iya?" Dokter Angga bingung.
"Maafkan sikap Mas Lukman, suami ku" Jawab Dara. Raut wajah nya masih tidak berubah dari gambaran muka seseorang yang terbebani akibat merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Dara. Berhenti lah meminta maaf atas kesalahan orang lain. Jika ternyata kamu merasa tidak enak hati karena tingkah polah orang terdekat mu, cukup pastikan kepada kami bahwa kamu baik-baik saja. Tunjukkan bahwa yang menyakiti mu tidak mampu membuat mu terluka. Sikap mu yang seperti itu jauh lebih di butuhkan oleh kami sebagai teman-teman mu"
Tutur Dokter Angga yang duduk tepat di seberang Dara. Hanya sebuah meja panjang yang memisahkan jarak fisik di antara mereka.
Tidak ada yang salah dari ucapan Dokter Angga. Yang lain di ruangan itu pun ikut setuju dengan ungkapan Dokter Angga melalui anggukan. Hanya saja batin Dara masih belum menerima perlakuan memalukan dari suaminya kepada mereka.
Mereka yang bukan siapa-siapa namun secara suka rela telah ada dalam duka serta tangis yang menghampiri hari-hari Dara. Bahkan berusaha mencipta ria dan tawa dalam kehidupan Dara dan keluarga kecilnya.
Seharusnya mereka menerima perlakuan yang sepadan bukan malah di hinakan oleh seseorang yang menyombongkan status sebagai 'suami' demi menunjukkan ego diri padahal nol besar dalam realisasi.
"Ya sudah. Supaya adil. Mari kita semua saling memaafkan tanpa ada yang merasa paling bersalah. Okay?!" Saran Lusi.
"Sepakat tanpa sanggahan alias siap" Ucap Radit semangat.
Semua dari mereka tertawa termasuk Dara.
Di tengah penderitaan yang di lahirkan Lukman untuknya, Dara bersyukur.
Telah Tuhan hadirkan orang-orang dalam figur teman yang tulus untuk membersamai nya melewati hari-hari sepi tanpa sosok suami.
Menggantikan rekan juga kerabat yang jumlah nya lebih dari teman baru yang Ia miliki sekarang. Kehadiran teman baru dalam hidup Dara akhir-akhir ini membuat nya menyadari ternyata rekan dan kerabat yang pernah Ia miliki dulu hanya singgah dalam keseharian Dara yang sejahtera tanpa berkeinginan bertahan ketika Dara di sapa Kemalangan.
"Baiklah. Selain Dokter Angga, kami juga akan pamit" Sultan si jaksa kondang sudah berdiri di ikuti istri nya, Lusi.
"Istirahat lah. Jangan di jadikan beban pikiran" Lusi menepuk dan mengelus lembut punggung Dara.
Dara mengangguk dan berkata tulus,
"You too. Terimakasih ya"
"Apa lagi?" Tanya Dokter Angga kepada Radit yang masih duduk di kursi tamu rumah Dara.
"Apa nya?" Radit balik bertanya.
"Aku sudah mau pulang, Lusi dan suaminya juga sudah pergi. Kamu?" Desak Dokter Angga.
"Aku juga akan pulang. Kamu duluan saja. Kita kan bawa mobil masing-masing" Radit sewot.
"Tidak. Aku akan pulang setelah kamu juga ikut bergerak keluar dari rumah ini" Tegas Dokter Angga.
"Aisss. Duluan aja sih. Kita gak se akrab itu untuk pulang bareng" Sewot Radit untuk yang kedua kalinya.
Dokter Angga menghela nafas.
"Kamu juga tidak dalam posisi yang sedemikian akrab untuk menetap lama di rumah ini. Dengan kondisi cuma sendiri tanpa di temani orang lain kecuali penghuni asli dari rumah ini. Sementara, suami Dara tidak sedang berada pula di kediaman ini. Paham!" Jelas Dokter Angga.
Radit berusaha mengembangkan senyum di bibirnya yang luka untuk menutupi rasa malu.
Meski ada rasa sedih harus segera berpisah dari Dara tapi Radit tidak mengelak atau pun menghindari ucapan Dokter Angga. Lagipula dia harus menyadari serta menghormati posisi Dara saat ini.
Dara tersenyum kecil melihat perangai kedua teman lelaki di depannya itu.
Sekian menit kemudian Dokter Angga dan Radit pun telah berlalu menuju tujuan masing-masing.
Meninggalkan Dara bersama tangis yang sekian lama sedari tadi telah di bendung nya. Dara meluruhkan tangisan karena masih di liputi oleh rasa tercela bernama malu, kesal dan kecewa atas perbuatan Lukman terhadap sahabat dan teman-teman nya.
__ADS_1
...***...
"Bunda.."
Anak-anak Dara datang, memeluk Dara.
Untuk beberapa saat ketiga anak beranak itu saling berpelukan tanpa suara. Air mata Dara ikut menemani mereka.
Mbok Inem dan Rani yang mengantar kedua anak majikan nya ikut menyeka air yang mulai mencuat keluar dari masing-masing sudut mata mereka.
"Bunda, kenapa Ayah sekarang bikin kita nangis terus?"
Pertanyaan lugu dari putri bungsu Dara, Alsava. Dara menyeka air matanya. Ia usap lembut kepala anak nya itu tanpa tahu harus memberi jawaban apa atas rasa penasaran yang mendera sang anak.
"Maaf kan Bunda Nak" Air mata kembali berurai dari kedua mata indah Dara. Hanya untaian kata itu yang mampu Ia ucapkan kepada anaknya.
'Untuk entah yang ke berapa kali nya, mohon di luaskan lah jiwa kalian oleh yang maha kuasa untuk memaafkan Bunda yang tidak bisa menjaga kalian dari rasa iba sehingga tangisan ikut menjadi saksi pertumbuhan kalian'
Dara hanya kuasa melanjutkan kalimatnya ke hati nya saja. Jangan sampai narasi yang akan Ia lontarkan semakin membuat belahan jiwanya, anak-anaknya tersayang di terpa resah gelisah dan kesedihan.
"Ayah jahat. Kakak gak mau lagi berteman sama Ayah" Tutur Azkia.
"Iya. Adek juga gak mau" Alsava ikut menyepakati pernyataan kakak nya.
"Bunda, mulai sekarang kita berteman bertiga aja ya. Eh sama mbok Inem, Mbak Rani, Pak Saleh, Tante Lusi, Om Sultan, Adek Faatir, Om pelukis dan Om Dokter juga. Pokoknya berteman sama semua kecuali sama Ayah. Biarin Ayah berteman nya sama Tante Kiki aja" Lanjut Azkia.
"Kenapa begitu kak?" Tanya Dara.
"Karena Kakak dan Adek gak mau lihat Bunda sedih-sedih lagi!" Ada keseriusan dan ketegasan dalam permintaan Azkia, si putri sulung Dara.
"Emang Kakak dan Adek bisa dan mau hidup jauh-jauhan sama Ayah?" Selidik Dara.
Tak ayal kedua putri nya mengangguk serentak.
"Dulu-dulu Kakak gak mau sih. Tapi Ayah juga gak pernah pulang jadi Kakak sekarang biasa aja tuh gak barengan Ayah lagi" Jawab Azkia.
'Benar kah itu nak?' Retoris Dara bermonolog.
"Kalau Adek yang penting sama Bunda dan Kakak. Gak ada Ayah gak pa-pa. Ayah jahat" Sambung Alsava.
'Yaa Rabb anak ku' Pekik Dara dalam batinnya.
"Gimana Bunda?" Azkia tetiba melempar tanya.
"Apa nya sayang?" Dara balik bertanya.
"Kita berteman sama semua orang kecuali Ayah. Dan Bunda gak boleh sedih-sedih lagi" Tegas Azkia.
'Ahh sulung ku yang cantik dan baik, benar kah kamu sudah begitu besar atau keadaan yang memaksa mu bertindak sedramatis ini?' Ungkap Dara kembali pada hatinya.
Dara mengangguk-anggukkan kepala nya. Menyetujui keinginan anaknya.
Azkia mengacungkan jari kelingking nya ke hadapan Dara lalu mengaitkan nya ke jari kelingking Dara yang juga sudah di kembangkan. Selanjutnya bergantian mereka melakukan hal serupa dengan si bungsu Alsava.
'Bersabar lah hingga waktu nya tiba Nak. Janji ini akan Bunda buktikan. Kita hanya perlu sedikit waktu untuk mengganti tangisan dengan gelak tawa. Bunda janji' Monolog Dara.
__ADS_1
...***...