
Dara, Lusi, Radit, dan Dokter Angga baru saja menyelesaikan meeting mereka di sebuah cafe.
Berangkat dari pengalaman pernah mencicipi pahitnya hidup dalam keadaan lumpuh, membuat Dara berinisiatif untuk merealisasikan mimpi dan harapannya terkait pergerakan demi kemaslahatan sesama manusia.
Dara, membawa serta para sahabat dalam misi mewujudkan mimpinya. Selain karena mereka tersebut di atas adalah orang yang mumpuni di bidangnya masing-masing, juga karena Dara percaya bahwa Lusi, Radit dan Dokter Angga satu visi dalam membantunya untuk mewujudkan impian mulia.
Dan hari ini merupakan pertemuan final di antara mereka membahas peresmian wujud nyata dari impian Dara tersebut. Impian yang akan segera terealisasi itu yakni, Dara membangun sebuah sanggar seni, sebuah sanggar seni yang tidak biasa. Sanggar seni yang beda dari sanggar seni pada umumnya.
Dimana sanggar seni ini khusus untuk seni lukis dan fashion desain yang diperuntukkan bagi penderita cacat lumpuh yang kurang beruntung dalam hal ekonomi sehingga mengalami keterbatasan biaya dalam melakukan pengobatan.
Dara yang sudah berhasil pulih dari kelumpuhannya, ingin mereka penyandang cacat yang serupa dapat merasakan juga nikmatnya berjalan dengan topangan kedua kaki sendiri secara normal.
Jika pun setelah berikhtiar ternyata takdir Tuhan tidak mampu mereka taklukkan, Dara berharap para penyandang cacat itu dalam kehidupan bermasyarakat tetap dapat berdaya meski dengan kekurangan yang ada di diri mereka lewat ciptaan karya dengan nilai jual. Entah itu lukisan maupun hasil desain pakaian.
Konsepnya, para penyandang cacat lumpuh baik yang mengalami kelumpuhan bawaan dari lahir ataupun akibat kecelakaan akan di tangani pengobatannya di bawah kepemimpinan Dokter Angga selaku Dokter Ortopedi. Dara melalui Dokter Angga juga sudah menjalin kerjasama dengan Dokter lainnya yang di anggap berperan dalam proses penyembuhan para pasien.
Nantinya seiring dengan proses penyembuhan para pasien, mereka yang kurang mampu secara finansial akan di arahkan untuk mempertajam kemampuan serta keinginan dalam mempelajari seni lukis dan fashion desain. Masing-masing akan di bina langsung di bawah pengawasan Radit Corak, sang pelukis muda ternama, dan Lusi, fashion Designer handal. Sebagai bekal mereka menyambung kehidupan dalam keadaan baru sembuh ataupun masih dalam kondisi keterbatasan fisik.
Dara sadar, tidak ada keuntungan dari segi nominal yang akan Ia dapatkan dari mewujudkan impiannya ini. Malah justru Dara yang berkorban habis-habisan dari segala unsur demi merealisasikan impiannya ini. Berkorban waktu, pikiran, tenaga, dan yang utama berkorban secara materi dalam jumlah yang terbilang tidak sedikit.
Namun sedikitpun hal tersebut bukanlah aral penghalang bagi seorang Dara Herlambang. Sebab bayangan dapat saling berbagi harapan, merangkul yang kesusahan, melepas mereka yang membutuhkan dengan bekal pengalaman dan kemampuan lewat sanggar seni yang Ia dirikan, adalah visi utama dari impiannya.
"Dara, bertemu perempuan hebat multi talenta sepertimu benar-benar sebuah anugerah" ucap Radit.
Radit menopang dagu runcingnya, khusyuk memandang Dara.
"Di pertemukan dengan orang-orang berhati besar seperti kalian juga sebuah kado kehidupan yang aku syukuri" sahut Dara pula.
__ADS_1
Dara memandangi satu per satu teman-teman akrabnya itu. Yang beberapa bulan ini telah menjadi mitra sekaligus rekan terbaik dalam misi mewujudkan sebuah impian dari seorang Dara Herlambang.
"Pak pelukis, bukannya disini ada dua perempuan hebat multi talenta ya?" sindir Lusi merespon pujian Radit untuk Dara dengan intonasi bercanda.
"Benar sekali rekan. Hanya saja perempuan hebat multi talenta yang terkenal sebagai designer kawakan itu sudah ada yang punya jadi agak segan jika harus di sanjung secara blak-blakan. Sementara si Komisaris Utama perusahaan Herlambang, sang visioner ehemmm .. masih singl-"
"Tuan pelukis, sejak kapan status hak paten kepemilikan jadi tolak ukur kehebatan seorang perempuan yang multi talenta?" Dokter Angga dengan dinginnya menyela narasi Radit yang terdengar akan segera menjurus menjadi sebuah gombalan untuk Dara Herlambang.
"Yee gak begitu juga maksudnya Mister salju. Serius amat sih. Santai dikit ah, kan hawa disini jadi seratus delapan puluh derajat semakin dingin. Tiba-tiba berasa di kutub Utara gak sih bestie?"
Candaan Radit dalam menanggapi kalimat Dokter Angga membuat para anak manusia yang di pertemukan oleh keadaan, di eratkan sebab kedekatan emosional itu tertawa ringan bersamaan.
... ***...
Drrttt. Drrttt. Drtttt.
Dara melirik layar handphonenya yang berada di atas meja cafe. Getaran tersebut merupakan sebuah panggilan telepon dari seseorang yang Dara beri keterangan di kontaknya dengan nama 'Kiki'.
Lusi yang ikut melirik ke android sahabatnya itu memberi kode lewat gerakan tangan agar Dara menerima sambungan telepon tersebut.
"Ya?" Dara menjawab telepon dari Kiki.
"Kak Dara, Assalamu'alaikum, maaf mengganggu. E ... anu ... hari ini bisakah Kiki bertemu dengan Kakak?"
" 'Alaikumsalam. Bukankah memang beberapa jam lagi kita akan bertemu di kantor polisi?" sahut Dara kepada Kiki.
Respon atas permintaan Kiki itu Dara sampaikan dengan penuh penekanan karena memang hari ini meski di ruangan yang berbeda mereka untuk kesekian kalinya akan kembali bersitatap muka di kantor polisi.
__ADS_1
Perjumpaan tidak terencana antara Dara dan Kiki yang cukup sering terjadi di kantor polisi merupakan bagian tindak lanjut dari laporan yang Dara ajukan kepada pihak kepolisian kepada Kiki atas dasar penyerangan yang Ia lakukan kepada Rani beberapa waktu yang lalu.
Dan kini proses laporan tersebut berbuntut pada dugaan tindakan kriminal berujung menyebabkan cacat, yang Kiki lakukan terhadap Dara. Sehingga mereka sebagai tersangka dan saksi oleh keadaan, di paksa acap kali bersua.
"Ya Kak, tapi maksudnya Kiki ingin bertemu empat mata dengan Kak Dara di luar kantor polisi. Bagaimana Kak? Kiki mohon sekali kesediaannya Kak," jelas Kiki penuh harap dengan nada yang sangat memelas.
Dara melihat arah jarum dalam jam di pergelangan tangannya.
'Masih ada waktu sebelum ke kantor polisi' gumam Dara dalam hati.
"Temui aku di cafe hijau hitam sekarang. Aku sudah disini." Tegas Dara. Beberapa detik kemudian Ia mematikan sambungan telepon.
Dara sendiri cukup penasaran apa yang membuat Kiki ingin bertemu langsung dengannya. Perasaan itu pula yang di rasa oleh teman meeting Dara. Sehingga mereka memutuskan untuk tetap berada di cafe hijau hitam itu. Keberadaan mereka disana juga sebagai bentuk dukungan moril kepada sahabat yang akan bertemu mantan perebut suaminya terdahulu.
Beberapa menit berikutnya, tatapan milik mata Dara, Lusi, Radit dan Dokter Angga tertuju pada perempuan berjilbab model bergo, mengenakan blouse sederhana selutut, dengan celana bahan katun yang tampak dekil, sandal jepit aus jadi alas kakinya, dan salah satu tangannya membawa sebuah keranjang. Perempuan itu celingukan mengedar pandangan ke penjuru cafe.
"Aku kesana dulu ya," pamit Dara pada para teman sekaligus mitra misinya. Mereka mengangguk mengiyakan.
Dara dan Kiki kini sudah duduk saling berhadapan.
"Langsung ke intinya saja. Ada apa?" cetus Dara.
Brukkkkk.
Baru saja duduk di kursi nyaman yang di sediakan cafe, Kiki menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Kiki bertekuk lutut di hadapan Dara.
... ***...
__ADS_1