
Di pandangi secara cermat demi menunggu jawaban darinya oleh kedua lelaki pemuja sang sahabat, membuat Lusi sedikit bergidik sekaligus geli.
'jatuh cinta memang luar biasa' bisik Lusi dalam hatinya terhadap Dokter Angga dan Radit.
"Harus berapa lama lagi kami menunggu jawabanmu?" Dokter Angga mulai gusar.
"Serasa jadi pegawai di pertengahan bulan yang nunggu datangnya awal bulan depan, lama banget." Radit ikut-ikutan gusar.
Lusi menutup mulut dengan telapak tangannya, menahan tawa atas ketidaksabaran kedua temannya itu.
"Oke. Siapa sih yang bisa gak jatuh cinta sama Dara? Apa lagi Dara yang sekarang. Dia it ..."
"Sudah cantik, elegan, cerdas, baik hati, tangguh lagi," Radit memotong Lusi yang mulai angkat suara.
"Dan dia adalah sosok Ibu yang hebat, teman yang hangat, insan yang peduli pada sesama, dia pribadi luar biasa," sambung Dokter Angga pula.
Lusi mengikuti arah pandang Dokter Angga dan Radit, kedua pemuda yang sedang merah jambu hatinya itu menatap Dara dengan binar kekaguman. Lusi kembali senyum-senyum sendiri.
"Jadi gimana Buk Desainer? kira-kira mungkin gak si Bayu itu bakal jadi saingan kami?" Radit mengulang tanya.
"Mungkin saja," jawab Lusi cekatan.
"Sudah ku duga," Dokter Angga bergumam.
Sementara Radit raut mukanya setelah mendengar jawaban Lusi langsung berubah seperti wajah prajurit yang siap siaga.
Lusi geleng-geleng kepala melihat reaksi keduanya. Meski sangat berbeda, yang satu tenang, yang satu dramatis tapi sama-sama menunjukkan kegusaran.
"Informasi sudah, pandangan pribadi informan juga sudah jadi sekarang gantian, kabulkan permintaanku" Lusi menagih janji.
"Siap. Mau apa? bilang saja. Semua kami turutin, mau beli apa? yang paling mahal juga boleh" sahut Radit. Sementara Dokter Angga dengan tenang menunggu respon Lusi selanjutnya.
"Aku dan Dara sudah berteman akrab dari kami SMA sampai sekarang, masing-masing dari kami punya bocah, keakraban kami tetap sama malah semakin lengket. Bagiku, dia bukan hanya sahabat tapi saudara. Kakak sekaligus adik perempuan ku. Sehingga semua yang terbaik dalam hidupnya adalah kebahagiaan yang selalu aku inginkan. Aku gak minta kalian belikan apa-apa. Cukup terus jaga, hargai dan hormati Dara seperti yang kalian lakukan selama ini," Lusi memandang ke arah Dara sekilas.
"Terima kasih lho selama ini walau dengan perasaan suka yang terpendam, kalian sudah menjaga marwah Dara sebagai seorang perempuan terhormat. Apa lagi semenjak dia menyandang status single parent. Meski menyukainya kalian mampu menghargai statusnya itu dengan menjalin hubungan sebagaimana mestinya. Dan satu lagi, harapanku walau nantinya cinta kalian tertolak, tidak membuat kedekatan di antara kita semua berubah. Tetap santai kayak di pantai. Sudah, itu saja. Gimana? bisa kan mengabulkan permintaan ku ini?"
"Mending minta beli apa gitu yang mahalnya kelewatan ketimbang ini, berat bestie" sanggah Radit.
"Berapa ton beratnya?" Lusi menanggapi dengan candaan.
__ADS_1
"Tidak terhitung lagi. Tentang menjaga, menghargai dan menghormati Dara, aku sih yakin bisa terus gitu. Yang berat itu membayangkan cinta tertolak oleh Dara dan antara kita tetap biasa-biasa saja, masak iya aku bisa pasrah gitu lihat pujaan hati bersama saingan sendiri?" Radit melirik Dokter Angga.
"Gak usah di bayangin! di jalani saja" ucap Dokter Angga tanpa melihat Radit.
"Semua permintaan mu tadi akan aku kabulkan. Aku tidak akan biarkan cinta ini di tolak oleh Bundanya Azkia dan Alsava, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan soal keakraban kita. Terima kasih atas informasinya tentang si saingan itu." Ucap Dokter Angga datar tapi cukup menggetarkan dalam pendengaran Lusi.
...***...
"Permisi. Bisakah ikut serta berbincang dengan Ratu acara?"
Bayu dan Dara menoleh ke sumber suara di belakang mereka. Dokter Angga sudah berdiri tegap di antara Dara dan Bayu. Melihat kedekatan pujaan hati dengan orang lain dari kejauhan membuat hatinya ketar-ketir. Oleh karenanya saat ini Dokter Angga berada disana.
Meski Dokter Angga tidak tahu pasti apa yang akan di lakukan nya diantara teman lama tersebut, namun setidaknya memastikan kedekatan dua pasangan beda jenis kelamin itu hanya sekedar antara tuan rumah dan tamu acara saja sudah membuat hatinya sedikit tenang.
"Kak Bayu, kenalin. Ini Dokter Ortopedi ku dulu. Dan sekarang dia juga bagian dari proyek "rumah kita" ini. Angga, ini teman lama ku, dia baru saja kembali dari Mesir"
Dara yang tidak menyadari ada kilatan cemburu dalam mata Dokter Angga dengan santainya meminta dua laki-laki itu saling berkenalan.
'Memang harus kenal dulu untuk tahu kelemahan lawan' tukas Dokter Angga di batinnya.
Dokter Angga mengulurkan tangannya. Di sambut oleh Bayu. Kemudian bergantian mereka saling menyebutkan nama masing-masing.
Radit tiba-tiba muncul. Tidak ingin kalah langkah Ia turut serta ingin berkenalan dengan saingannya.
'Om?'
Jika dalam mode bersuara, begitulah kebingungan Dara dan Bayu mengulang panggilan yang Radit sematkan untuk Bayu.
Bayu menerima uluran tangan Radit. Dan formalitas kenalan kembali berulang.
Lusi dari posisi semula mengembangkan bibirnya membentuk senyuman menyaksikan yang terjadi di antara Dara dan para pemujanya.
Senyum Lusi itu merupakan bentuk dari rasa bahagia karena sahabatnya setelah lepas dari jerat buaya berkedok manusia bernama Lukman, kini di kelilingi laki-laki tampan dengan latar belakang orang terpandang.
'Bakal pusing tujuh lingkaran bin pusing kamu Dara, harus pilih yang mana coba. Semua setara rupawan nya, sama baiknya, sama-sama terjamin juga kehidupannya. Hihihi," Lusi mengoceh seorang diri di dalam hati.
"Tadi aku sudah sempat dengar sekilas tentang kalian dari Dara, bahwasanya kalian banyak membantu dalam berdirinya 'rumah kita' ini. Terima kasih atas dedikasinya untuk Adinda Dara ya," Bayu sungguh-sungguh dan tulus dalam bertutur kata.
"Adinda?" Dokter Angga dan Radit kompak terheran-heran.
__ADS_1
"Oh itu, iya. Sedari dulu aku memang memanggil mitra kalian ini begitu .."
Bayu memberi jeda pada narasinya. Ia pandang Dara dengan tatapan teduh, lalu kembali berucap dengan penuh kelembutan,
"Bukan begitu? Adinda Dara,"
Dara yang mengulum senyum hendak mengangkat suara, tapi lebih dulu di dahului oleh kalimat Radit yang nyelekit.
"Mitra? ohh bukan begitu diksinya tuan dari masa lalu. Perlu Om ketahui bahwa kami berdua ini oleh Nona Dara bukan sekedar mitra dalam pengelolaan 'rumah kita' tapi lebih dari itu karena jauh sebelumnya, kami sudah menjadi teman bahkan sahabat. Ya kan Nona?"
Radit menaikkan kedua alisnya, sebagai bentuk meminta persetujuan dari Dara. Dara tertawa menanggapinya. Radit selalu begitu, bersikap spontan dan apa adanya. Hal itu juga lah yang membuat Dara merasa nyaman berteman dengannya.
"Iya Kak, yang Radit sampaikan itu benar. Kami bertiga, berempat dengan Lusi saling berteman akrab. Boleh di bilang seperti sahabat,"
Radit merekah kan senyum lebar, puas dengan klarifikasi Dara.
"Jadi begitu, baiklah, maaf atas kesalahan ucapan ku sebelumnya ya Radit,"
Bayu mengembangkan senyum, menampakkan deretan gigi putihnya yang berjejer rapi. Mata sipitnya jadi terlihat seperti tertutup karena senyum lebar yang manis dan menawan itu.
"Dan semoga yang Maha Kuasa jadikan kalian sahabat sehidup se-surga, yang selalu saling mendukung dan menolong dalam kebaikan," Bayu kembali berkata, di akhiri dengan senyuman seperti sebelumnya.
"Aamiin" Dara dan Radit mengiyakan kalimat mengandung pengharapan dari Bayu tersebut.
Tapi tidak dengan Dokter Angga. Ia menatap Bayu dan Dara secara bergantian. Lalu batinnya berujar,
'Sahabat? tidak. Aku ingin hubungan kita bukan sahabat se-surga Dara, melainkan sahabat dalam mahligai rumah tangga.'
... ***...
Haiii kita sudah sampai dalam perjalanan Dara menemukan c.i.n.t.a nihhđ¤
Ngomong-ngomong, kalian tim nya siapa?
Lukman yang mau hijrah, Dokter Angga, Radit, atau Kak Bayuđ
Yukk ahh ikutin terus kisahnya đ¤Š
â¤ď¸MNMS
__ADS_1