
"Hmmm, Bunga matahari" Ujar Dokter Angga.
Dara mengangguk.
"Apa kamu juga memberikan nya untuk dirimu sendiri?" Tanya Dokter Angga.
"Tidak" Jawab Dara.
"Kenapa?" Dokter Angga serius bertanya.
"Kenapa harus memberikan bunga matahari untuk diri ku sendiri? Sementara aku memberikan nya khusus untuk Dokter?" Terang Dara.
Dokter Angga bangkit dari kursi kerjanya. Berjalan mendekati pot berisi bunga matahari pemberian Dara yang beberapa waktu lalu di letakkan Rani di ruangan tempat mereka berada tersebut. Dokter Angga memandangi tanaman tersebut kemudian menatap Dara dan bertanya,
"Kenapa kamu memilih memberikan ku bunga ini?"
"Seperti yang pernah Dokter lakukan. Memberikan tanaman sebagai sebuah perlambang dari maksud hati. Jadi aku pun ingin melakukan hal yang sama pada mu selaku Dokter ku. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan kerja keras mu dalam membimbing ku selama ini. Sehingga akhirnya sekarang aku bisa berjalan lagi" Terang Dara.
Dara berdiri dari kursi tempat Ia duduk dan berdiri di hadapan Dokter Angga lalu melangkahkan kaki mendekati Dokter Angga kemudian mengulurkan tangan kanannya.
"Terima kasih Dokter" Ujar Dara tulus dan sungguh-sungguh.
Dokter Angga menjabat tangan Dara itu. Mereka bersalaman. Senyum merekah di wajah Dokter dan Pasien itu.
"Apa kah aku salah pilih Dok? Tadi saat hendak membeli, terlebih dulu kepada penjual aku menjelaskan keinginan yang ingin aku sematkan dalam tanaman yang akan ku beri. Lalu si penjual sekaligus pemilik toko bunga itu bilang bahwa bunga matahari adalah jenis tanaman yang melambangkan ungkapan rasa terima kasih. Apa kamu tidak menyukainya?"
Dara merunut tanya kepada Dokter Angga dengan wajah khawatir dan hati gelisah jikalau pemberian nya kepada Dokter Angga tidak sesuai antara maksud dan tujuan yang di inginkan.
"Tidak. Aku menyukainya" Dokter Angga mengangkat pot bunga tersebut ke atas meja nya.
"Hanya saja, jika benar kamu bermaksud mengucapkan terima kasih lewat media ini, semestinya kamu tidak hanya memberikan nya kepada ku. Tapi juga untuk diri mu sendiri Dara"
"Maksud Dokter?" Wajah Dara diliput tanda tanya.
"Berterima kasih juga lah kepada diri mu sendiri. Karena berkat tekad dan kegigihan usaha mu kamu bisa merealisasikan keinginan mu untuk sembuh"
__ADS_1
Dokter Angga menatap Dara serius meski ungkapan nya datar dan masih dingin seperti hari-hari biasanya.
"Tapi tanpa bimbingan Dokter ini semua tidak akan terjadi" Pungkas Dara.
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan sebagai seorang Dokter. Jika tanpa seorang pasien yang sungguh-sungguh bekerja sama maka semua tidak ada artinya, sia-sia belaka" Dokter Angga tersenyum kecil.
"Jika kamu tidak ingin memberi hadiah kepada diri mu sendiri atas apa yang kamu raih, maka tidak perlu dilakukan. Kamu tunggu saja kiriman dari ku" Sambung Dokter Angga.
"Ya?" Retoris Dara.
"Sebagai dokter aku akan memberikan hadiah kepada pasien ku atas kerja kerasnya dalam mewujudkan tekad. Sehingga dia yang dulu berada di kursi roda kini siap berlarian kemana saja. Kamu tunggu saja hadiahnya" Jelas Dokter Angga.
"Ahh begitu. Tapi Dok, sebaiknya tidak usah. Karena aku khawatir nanti pertukaran hadiah diantara kita jadi tidak berkesudahan. Besar kemungkinan jika Dokter mengirimi ku hadiah maka aku akan membalas kebaikan Dokter itu dengan hadiah lainnya pula"
"Hahaha hahaha hahaha" Terdengar suara tawa antara keduanya.
"Ayo kita pindahkan bunga ini ke taman di luar" Ajak Dokter Angga.
"Wahh jangan-jangan Dokter tidak suka ya jika melihat bunga pemberian ku di ruangan ini maka akan memberi kenangan buruk tentang pasien ngeyel seperti ku" Canda Dara.
"Konyol" Tepis Dokter Angga. Lagi-lagi Ia menyunggingkan sebuah senyum walau pun kecil namun tetap terlihat manis.
Dara yang mengekor berjalan di belakang dokter Angga ikut mengikuti arah pandangan sang Dokter saat ini.
"Baiklah. Ayo kita pindahkan" Antusias Dara.
Dara bergerak cepat menuju kursi roda nya. Lalu duduk di sana dan bersiap mengendalikan arah pergerakan kursi roda menggunakan tuas yang tersedia sebagai bagian penunjang penggunaan alat bantu berjalan tersebut.
"Dara. Kamu lupa cara berjalan atau memang sudah kecanduan duduk di sana?"
Dokter Angga bertanya. Bingung dengan sikap Dara. Sudah bisa berjalan normal tapi masih ingin menggunakan kursi roda untuk berkegiatan.
"Tentu saja aku ingat bahkan sangat sangat ingin berjalan juga berlari dengan kedua kaki ku ini Dokter" Dara berkata penuh semangat.
"Lalu?" Lanjut Dokter Angga.
__ADS_1
Dara mengarahkan kursi roda nya mendekati Dokter Angga.
"Aku ingin kamu menolong ku Dok. Tolong rahasiakan dulu tentang kesembuhan ku ini Dok" Dara memelas.
"Aku tidak mengerti" Respon Dokter Angga datar.
"Aku hanya tidak ingin kabar pulih nya aku dari kelumpuhan akan di ketahui oleh suami ku dan istri mudanya. Karena ada beberapa hal yang masih harus aku lakukan menggunakan kursi roda ini. Jadi tolong aku untuk merahasiakan kesembuhan ku ini Dok" Jelas dan pinta Dara pula.
Dokter Angga terdiam untuk beberapa saat.
Lalu Ia mengangguk, mengambil bunga matahari dari meja nya dan membuka pintu kemudian menatap Dara dan berkata,
"Baiklah. Aku akan merahasiakan nya. Apa pun yang ingin kamu lakukan semoga semua itu baik dan benar serta dapat berjalan dengan lancar"
"Rani, bantu aku membawa Nyonya mu ke taman klinik ini" Sambung Dokter Angga kepada Rani yang duduk menunggu mereka di depan ruangan dokter Angga.
Setelah memindahkan bunga matahari dari pot ke tanah kosong di taman, Dokter Angga dan Dara memandangi indah nya bunga matahari tersebut.
"Dara, kamu tahu kiasan lain yang terkandung dalam bunga matahari?" Tanya Dokter Angga.
Dara menjawab dengan gelengan.
"Bunga matahari yang mekar sesuai arah matahari adalah bentuk ungkapan bahwa akan ada seseorang yang dapat membantu mu menemukan arah dalam hidup dan karir" Dokter Angga melihat ke arah Dara sekilas kemudian melanjutkan penjelasannya,
"Selain itu, jenis bunga yang dapat tumbuh hingga 2.5 meter ini konon katanya juga dapat memberikan do'a untuk pertumbuhan pribadi dan karir bagi si penikmatnya. Jika memang itu semua benar adanya maka sebagai Dokter aku ingin para pasien ku dapat merasakan setiap arti dari filosofi keberadaan bunga matahari ini"
Dara mendongak untuk melihat raut wajah Dokter Angga yang ternyata sama-sama sinkron menunjukkan keseriusan antara nada bicara dan riak muka nya.
"Terima kasih atas bunganya Dara" Ucap Dokter Angga.
Kini pandangan serius Dokter Angga yang juga di ikuti oleh Dara itu tertuju ke seberang dan di taman. Yang mana terlihat beberapa orang dari berbagai usia sedang duduk di kursi roda milik mereka masing-masing.
"Semoga dengan tangan, bahasa dan sikap dingin mu mereka lekas pulih sehingga juga bisa segera berjalan seperti ku Dok" Harap Dara.
"Maka mereka butuh energi, semangat dan usaha sebesar yang kamu miliki" Tukas Dokter Angga menanggapi harapan Dara.
__ADS_1
'Jika pun mereka memiliki itu semua semoga tanpa tujuan seperti yang aku niatkan Dok, demi membalas sakit hati untuk menyembuhkan luka diri' Monolog Dara.
... ***...