
"Apa maksud nya ini Mas?"
Tanya Dara berusaha menyibak kebenaran upaya menepis prasangka.
Dara memandangi beberapa kopor bersejajar di teras rumah bagian depan. Yang Ia tahu pasti bahwa kopor-kopor itu adalah kepunyaan anak-anaknya, Azkia dan Alsava.
"Mulai sekarang anak-anak akan tinggal bersama ku. Aku tidak bisa membiarkan darah daging ku terlantar ulah Bunda nya yang suka kelayapan"
Tuduh Lukman ketus dan angkuh dengan pandangan sinis ke arah Dara.
"Terus, yang ngurus mereka disana siapa Mas? mereka mau kamu bawa-bawa ikut kamu ke kantor, gitu?"
Dara berusaha mengatur emosinya agar mampu setenang mungkin.
"Kak Dara tenang aja Kiki akan urus Azkia dan Alsava sebaik-sebaiknya itung-itung latihan jadi Ibu seutuhnya. Ya kan Mas?"
Jelas Kiki tanpa di minta.
"Iya. Kamu lanjutin aja kelayapan kamu yang gak jelas itu. Udah tahu cacat bukannya fokus di rumah malah kemana-mana gak karuan"
Sinis Lukman tiada henti.
Dara memandangi Azkia dan Alsava yang berdiri berdampingan dengan mbok Inem.
__ADS_1
'Ahh anak-anak ku' Lirih hati Dara.
"Maaf ya Mas Lukman yang terhormat perlu Anda ketahui bahwasanya Dara Herlambang istri sah Anda ini bepergian bukannya kelayapan tapi sedang mengupayakan kesembuhan dari kelumpuhan, yang mana usaha tersebut tidak di dapatnya dari Anda selaku suami yang mestinya setia mendampingi bukannya beristri lagi"
Sahut Lusi yang sedari tadi memendam emosi bernama amarah terhadap Lukman dan istri keduanya.
"Lusi! jaga ucapan mu. Kamu hanya orang asing di rumah ini tidak berhak ikut campur dalam urusan rumah tangga kami" Bentak Lukman.
"Oh ya? Kalau gitu perempuan ular di sisi mu itu juga tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga sahabat ku karena dia bukan hanya asing tapi juga hina! hanya perempuan rendah yang tega merebut suami teman sendiri, jika ada pengelompokan kasta terendah maka perempuan di samping mu itu bagian terendah nya"
Sahut Lusi tak kalah garang.
"Lusi!!"
Lukman semakin meninggikan intonasi suara nya.
"Hentikan! Ada anak-anak disini"
Pinta Dara dalam titah.
Dara tidak ingin perdebatan yang Lukman percikkan menjadi api yang dapat mempengaruhi psikologi anak-anaknya yang selama ini sedaya upaya senantiasa Ia jaga.
...***...
__ADS_1
Dara mengarahkan tuas kursi rodanya ke depan sehingga kursi roda tersebut bergerak maju dan telah berdekatan dengan anak-anaknya.
"Siapa yang mau ikut Ayah?"
Tanya Dara hati-hati berusaha bersikap senetral mungkin sebagai orang tua yang tidak egois karena bagaimanapun juga Lukman adalah Ayah anak-anaknya, punya hak dan kewajiban atas mereka.
Walaupun jauh di lubuk hati nya, Dara tidak tenang jika terpaksa harus membiarkan darah daging nya se atap bersama perempuan yang bukan hanya mencuri paksa suaminya namun juga telah merebut Ayah dari anak-anaknya.
Dan yang terpenting dari itu semua, anak-anak punya hak dalam menentukan pilihan nya.
Dara hanya bisa berdo'a agar yang kuasa ikut serta dalam pilihan yang akan anaknya tetapkan.
Azkia melepas genggaman tangannya dari pegangan Mbok Inem, melangkah ke arah Lukman.
"Ayah, Kakak sayang Ayah. Tapi Kakak gak mau kemana-mana dan gak mau pisah dari Bunda. Ayah juga gak boleh jahatin Bunda! bikin orang lain sedih itu dosa Ayah. Ayah pergi aja bareng tante bekas teman Bunda ini"
Kalimat dari Azkia itu spontan membuat mata semua yang ada di sana memerah.
Mata Lukman dan Kiki memerah karena panas menahan amarah. Sehingga tanpa permisi seketika mereka pergi keluar dari rumah Dara.
Selebihnya mata mereka yang disana memerah karena menampung tangis haru atas keluguan dan kemurnian hati dari seorang anak terhadap Bunda nya meski pun si anak kecil itu sendiri sekian bulan telah di abaikan oleh sang Ayah.
'Terima kasih Rabbi. Terima kasih nak, Azkia hati mu bersih, suci seperti makna nama mu'
__ADS_1
Syukur Dara dalam hatinya.
...***...