
"Nak Dara," Pak Nugroho menyapa.
"Ah iya Paman. Akhirnya datang juga, Dara pikir Paman tidak datang," Dara menyalami Pak Nugroho.
"Selamat ya, semoga amal ibadahnya ngalir untuk mendiang orang tuamu" Pak Nugroho mengusap lembut kepala Dara yang tertutup jilbab berwarna hijau.
Ucapan tulus dari Pak Nugroho tersebut serasa menyejukkan di hati Dara. Besar harapan Dara berdirinya sanggar seni "rumah kita" memang menjadi salah satu sebab amal jariah bagi kedua orang tuanya yang sudah di alam berbeda. Sebab Dara mendirikan sanggar tersebut di atas tanah milik orang tuanya.
"Aamiin. Terimakasih do'a nya Paman"
"Mana mungkin Paman tidak menghadiri peresmian maha karya kamu ini Nak, Paman terlambat karena jalanan dari bandara kemari cukup padat, macet,"
"Bandara?" tanya Dara.
"Sebentar," Pak Nugroho melihat layar telepon selulernya, hendak melakukan panggilan.
Tulililit. Tulililit. Tulilililit.
Suara handphone berdering. Sumbernya tepat di belakang Pak Nugroho.
"Assalamu'alaikum," suara bariton dari pemilik handphone.
"Kak Bayu?" Dara hampir menjerit saking terkejutnya, mendapati bahwa suara tersebut merupakan suara yang puluhan tahun silam selalu menjadi obat penenang sekaligus alarm dalam beberapa momen kehidupan Dara.
"Huss. Salamnya di jawab dulu Adinda," sahut pemilik raga seperti model papan atas tersebut pula.
"Iya, wa'alaikumsalam. Ya ampun Kak Bayu"
Dara dan lelaki bernama Bayu tersebut saling bersalaman.
"Nah ini dia penyebab Paman ke bandara" sela Pak Nugroho. Kembali Ia masukkan handphone miliknya ke saku jas. Urung melakukan panggilan karena yang hendak di hubungi sudah ikut berbaur bersamanya.
"Aish .. sudah besar masih minta jemput sama Ayahnya? malu sama anak SD ihh " Dara berkelakar.
"Hahaha .. kamu tuh ya Dinda, masih saja suka meledek Kakak," ucap Bayu.
"Kak Bayu juga, panggilan Adinda ke Dara nya masih aja lengket" Dara tak ingin kalah dalam saling menilai.
"Sampai kapanpun tetap akan begitu Adinda Dara, terima saja, sudah resiko umur lebih muda begitu." Balas Bayu.
"Siap orang tua," jawab Dara lagi.
Mereka bertiga tertawa bersama. Selanjutnya mengalir perbincangan hangat antara ketiganya. Sehangat rindu dari teman lama yang sudah lama tidak saling jumpa, mereka adalah Dara dan Bayu.
... ***...
"Ehemm .. sepertinya saingan bakal bertambah nih bos,"
Suara Lusi membuat Radit dan Dokter Angga tersentak. Mereka yang duduk bersebelahan di sebuah sofa dan sedang memandangi Dara dari kejauhan seketika terlihat salah tingkah.
"Apaan sih Buk Desainer?" tanya Radit berusaha tenang dan santai sambil merapikan rambut setengah gondrongnya.
__ADS_1
"Ihhh kura-kura dalam perahu," jawab Lusi dengan nada mengolok.
"Cakep" timpal Radit dengan candaan.
"Yakin nih pura-pura gak tahu? hah? yakin?" Lusi semakin menggoda Radit.
"Pak Dokter juga mau kura-kura dalam perahu nih ceritanya?" goda Lusi kepada dokter Angga pula.
"Gak. Aku mau udang di balik bakwan saja,"
Gelak tawa spontan keluar dari mulut Lusi dan Radit.
"Hahaha .. lucu-lucu, ternyata kamu yang sedingin salju bisa bercanda juga," sahut Radit.
"Jiahh Radit, berusaha mengambil kesempatan untuk mengalihkan pembicaraan nih yaaa" timpal Lusi kembali.
"Tahu aja. Sebenarnya kamu itu Desainer atau Detektif sih Buk?" tanya Radit bercanda.
"Tergantung keadaan," jawab Lusi sambil terkekeh.
"Jadi, dia adalah saingan?"
"Ya?" Lusi yang asyik bercanda dengan Radit terperangah oleh pertanyaan Dokter Angga.
"Laki-Laki yang kami pandangi tadi, yang sedang bersama Dara itu, apakah dia saingan kami?" Dokter Angga memperinci pertanyaannya.
"Kami?" Radit mempertanyakan diksi Dokter Angga.
Dokter Angga menjawab pertanyaan Radit dengan kembali bertanya.
"Wah .. Dokter, ternyata Anda selama ini juga menyukai Dara?"
"Radit, kamu menggunakan kata juga. Artinya kata kami yang ku ucapkan tadi benar. Menunjukkan bahwa Kamu dan Aku menaruh hati dengan Dara. Jadi stop memperpanjang perkara kata kami. Apa kamu tidak ingin tahu jawaban dari pertanyaan yang ku sampaikan kepada Lusi tadi?" pungkas dokter Angga dingin.
Radit yang sempat terperangah menyadari kecurigaannya selama ini ternyata benar, bahwa Dokter Angga juga menyukai Dara seperti dirinya, berusaha menghilangkan aura terkejutnya.
Radit mengangguk cepat, sepakat dan membenarkan narasi Dokter Angga bahwa mereka perlu tahu kepastian apakah ada lagi laki-laki selain mereka berdua yang ingin memikat hati Dara.
Dua laki-laki yang punya wajah menyenangkan untuk dipandang itu menatap Lusi, harap-harap cemas menanti jawaban dari sahabat sang pujaan.
Lusi secara bergantian memandangi kedua laki-laki yang berteman dengannya dan Dara itu. Lalu Ia mengarahkan pandangan kepada Bayu dan Dara yang sedang berbicara akrab sambil sesekali terlihat bercengkrama dengan Alsava dan Azkia yang berada di gendongan dan gandengan Dara.
"Aku tidak tahu," jawab Lusi polos.
"Hah?"
"Apa?"
Dokter Angga dan Radit bersamaan merespon ucapan Lusi.
"Tapi tadi Kamu bilang saingan bertambah, terus sekarang bilang gak tahu. Jangan bikin bingung seperti menghadapi ujian nasional gini dong Buk Desainer" keluh Radit.
__ADS_1
Radit yang memiliki wajah tipe baby face terlihat menggemaskan dengan raut muka bingungnya.
Sementara Dokter Angga diam membeku, memandangi dengan tatapan dingin keakraban Dara dan Bayu di ujung sana.
"Hehehe, tadi Aku bercanda bro. Habisnya kalian sangat fokus merhatiin Dara dan Bayu, kentara banget lagi kepo sama Dara si pujaan hati," Lusi tersenyum lebar.
"Bayu," lirih Dokter Angga.
Dokter Angga mengalihkan pandangan kepada Lusi. Kemudian kembali bertanya,
"Kamu tahu nama laki-laki itu. Berarti kalian saling mengenal. Jadi, ceritakan padaku tentang laki-laki itu,'
"Pada Kami." Radit menimpali.
Dokter Angga melirik Radit. Sadar bahwa disana ada dua anak Adam yang menyukai Dara membuat Dokter Angga menganggukkan kepalanya kepada Radit. Saat ini mereka bersaing tapi sama-sama sedang butuh informasi tentang saingan lainnya.
Lusi menahan tawa melihat tingkah keduanya.
"Mmmm .. adakah yang cuma-cuma berkenaan cinta?" Lusi berlagak pura-pura bingung sekaligus lugu.
"Katakan, apa yang kamu inginkan? katakan saja. Aku akan mengabulkannya" sahut Radit cepat.
Radit seolah paham bahwa ini bukan pemberian informasi secara sukarela melainkan harus ada pertukaran diantaranya.
"Aku pun begitu," sahut Dokter Angga pula.
"Ahh, apa pun ya?" Lusi memastikan.
Kedua laki-laki di hadapannya serentak sigap mengangguk.
"Baiklah. Jadi, laki-laki bernama Bayu itu adalah teman lamanya Dara. Dia anak keduanya Pak Nugroho, Direktur di perusahaan Dara. Karena orang tua mereka bersahabat, jadilah Bayu dan Dara juga dekat, selain memang karena Bayu juga orangnya baik, sopan, cerdas, berwawasan, dan tidak kalah tampan dari kalian berdua" jelas Lusi.
"Lalu?" cecar Dokter Angga.
"Hmmm .. apa lagi ya?" Lusi bingung harus memberi informasi apa lagi.
"Status?" sahut Radit.
"Ah iya, jomblo!" seru Lusi.
"Kenapa? padahal dia terlihat beberapa tahun lebih tua di atas kita dan menurut penuturan mu sepertinya kepribadiannya juga bagus tapi masih sendiri?" tanya Dokter Angga lagi.
"Berarti beberapa tahun sangat tua di atas ku, kenapa bisa masih jomblo padahal keren kece badai gitu?"
Radit menambah tanya untuk memperjelas bahwa usianya beberapa tahun lebih muda dari Dara, Lusi, dan Dokter Angga yang memang seumuran.
"Penyebab jomblo bukan soal umur aja kali gaes. Aku dengar Bayu itu beberapa tahun belakangan menetap di luar negeri. Selain karena melanjutkan pendidikannya lagi juga karena merintis usaha disana. Barangkali itu bisa jadi sebab kenapa sampai saat ini dia masih jomblo," ucap Lusi pula.
"Jadi, dalam kacamata pandangan seorang perempuan, menurutmu apakah dia akan menjadi saingan kami?" tanya Radit serius.
... ***...
__ADS_1