
Mendengar ucapan Radit, Kusnan melihat sekilas putra semata wayangnya lalu menatap Vega sang istri yang bereaksi hampir menangis.
Bukannya goyah dengan memberi lampu hijau atas permintaan buah hatinya, Kusnan lantas berdiri lalu tegas berkata, "Lebih baik kamu menghilang daripada Papi harus bermenantukan seorang janda beranak dua!"
Tanpa menoleh lagi kepada Radit atau sang Istri, Kusnan melangkah keluar dari rumah Radit.
Hiksss. Hiksss. Hikssss
Air mata mulai membasahi pipi Vega. Kesedihannya bukan karena pilihan sang anak menjatuhkan hati kepada seorang perempuan yang bukan berstatus seorang diri. Melainkan keras hati Kusnan lah yang membuat Vega terluka.
Sedari dulu, Kusnan memang keras terhadap Radit. Banyak hal yang di atur dan di larang untuk keseharian anaknya itu berdasarkan hasrat hati Kusnan saja bukan karena kepentingan murni demi tumbuh kembang Radit.
Hingga akhirnya selepas menuntaskan akselarasi tingkat SMA nya, Radit yang sudah tidak tahan dengan kekangan Papinya memilih kabur dari rumah mewah yang mereka tempati. Radit dengan berbekal modal dari sang Mami mulai menapaki hidup secara mandiri, memilih jalan hidup sebagai pelukis alih-alih meneruskan atau mengikuti jejak bisnis si Papi.
Bertahun-tahun hidup tanpa bayang-bayang Kusnan, Radit berhasil membawa pembuktian diri bahwa Ia mampu menentukan dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya sendiri. Radit berhasil menjadi pelukis pendatang baru yang handal dan diperhitungkan.
Semenjak itu pula Papinya pasrah menerima keputusan Radit untuk berkecimpung di dunia seni daripada harus kehilangan momen kebersamaan bersama anak lagi. Selama Radit kabur dari belenggu Kusnan bukannya laki-laki paruh baya itu tidak berusaha mencari keberadaan sang anak hanya saja, keterlibatan istrinya secara diam-diam dalam usaha pelarian Radit membuat Radit seolah menghilang di telan bumi, sulit sekali di cari.
Namun nyatanya, peristiwa kepergian sang anak dari sisinya tidak lagi membekas di ingatan Kusnan. Bahkan hatinya masih lah menandingi kerasnya bongkahan batu. Bagi Kusnan, pendapat dan pandangan sosial orang-orang terhadapnya adalah nomor satu, dalihnya demi sebuah kehormatan. Kusnan tidak sadar bahwa penghormatan yang Ia harapkan telah mengorbankan perasaan darah dagingnya sendiri. Radit yang terlanjur jatuh cinta dengan Dara tidak segan melakukan segala upaya cara demi menghalalkan perempuan tersebut termasuk menghilang dari keluarga intinya.
Vega memeluk Radit tanpa menghapus tetesan air mata yang membasahi wajahnya. Ada perih yang Ia rasa menyaksikan anak yang di sayang kembali mendapatkan tekanan akibat ego yang besar dari orang tuanya sendiri.
"Berjuang lah, lakukan apa yang menurut mu baik. Jika yang kamu idamkan bak mutiara, maka pantas-kan lah dirimu terlebih dulu untuk menggenggamnya." Ucap Vega tanpa melepas pelukannya.
Sejurus kemudian Vega berlalu meninggalkan Radit. Vega menyusul suaminya yang sudah sedari tadi membunyikan klakson mobil, memburu Vega untuk segera pergi dari rumah Radit. Siapa sangka niat hati Radit meminta restu malah berakhir dengan seteru.
...***...
Flashback off
"Berdasarkan cerita Radit itulah aku yakin dia yang sama sekali tidak bisa di hubungi telah menghilang," Lusi menutup ceritanya dengan asumsi.
"Lusi," Dokter Angga memanggil.
__ADS_1
Lusi segera menoleh ke sumber suara. Ia menjawab panggilan Dokter Angga, "Ya?"
"Menurut KBBI, menghilang berasal dari kata dasar hilang yang artinya tidak ada lagi; lenyap; tidak kelihatan. Sementara menurut cerita mu, aku menyimpulkan yang sedang terjadi dengan Radit bukan menghilang tapi mmmm ku rasa dia hanya butuh waktu sendiri," jelas Dokter Angga halus.
"Benarkah? tidakkah menurut mu dia sengaja mengasingkan diri karena rasa kecewa terhadap kedua orang tuanya?" Lusi kembali bertanya. Sedotan minumannya tidak luput Ia mainkan menutupi rasa khawatir.
"Kalau pun memang begitu, aku pikir itu bukan urusan kita," jawab Dokter Angga.
"Kok bukan urusan kita? jelas-jelas ini urusan kita. Dia berselisih paham dengan kedua orang tuanya hingga tidak bisa di hubungi dalam jangka waktu lama begini karena Dara. Dan Dara adalah bagian dari kita, iya kan?" entah kepada siapa permintaan persetujuan itu Lusi alamatkan.
Dokter Angga melihat Dara dari sudut matanya. Merasa kasihan, pasti Dara saat ini di landa rasa bersalah. Karena terhalang restu orang tua untuk menghalalkannya, hubungan Radit dengan orang tuanya kembali memburuk. Belum lagi kabar berita sang pelukis itu yang masih belum ada kejelasan.
"Benar, Dara adalah bagian dari kita. Tapi aku masih belum melihat benang merah antara Dara dengan Radit yang entah sedang kemana dan dimana," Dokter Angga mengedikkan bahu kekarnya.
Lusi menghembuskan nafas panjang. Lalu bergantian menatap Dara dan Dokter Angga dengan serius.
"Pak Kusnan, Papinya Radit itu, pasti tidak akan tinggal diam dengan menghilangnya sang anak. Dan sebagai informasi, Pak Kusnan itu adalah tipikal manusia yang suka menumpukan kesalahan kepada orang lain. Dengan kondisi begini bukan tidak mungkin beliau akan menimpakan kesalahan dengan Dara. Sebab karena Dara lah Radit pergi lagi dari kehidupan mereka." Lugas Lusi.
"Maaf ya Dara, aku tidak bermaksud menyudutkan kamu. Jadi please kamu jangan sampai terbebani dengan rasa bersalah karena hal ini. Aku sampaikan kerisauan ku ini karena khawatir kamu bakal jadi tumpuan rasa kesal Pak Kusnan, itu aja. Barangkali kalau kita bisa nemuin Radit, hal buruk begitu bisa di cegah," Lusi menggenggam erat tangan Dara.
"Lalu bagaimana kalau menjelang Radit berkabar Pak Kusnan benar-benar akan menumpahkan kesal, marah dan lainnya ke kamu?" Lusi masih berteman dengan gundah.
"Kenapa sampai kamu bisa berpikir sejauh itu Si?" tanya Dokter Angga.
"Karena selain menurut informasi yang ku dapat begitu, aku juga pernah menyaksikan langsung Pak Kusnan ini menyerang lawyer yang kalah menangani kasus sengketa lahannya. Saat itu Mas Sultan berhasil membuktikan bahwa lahan yang di garap Pak Kusnan untuk pembuatan perumahan memang bermasalah. Setelah di usut ternyata lawyer yang di serang Pak Kusnan itu benar-benar tidak di beri informasi detail oleh yang bersangkutan perihal lahannya. Nah, salah dia sendiri kan? tapi yang jadi sasaran kemarahannya malah si lawyer itu."
Dara dan Dokter Angga dengan khidmat mencerna tiap baris kata yang Lusi sampaikan.
"Jika orang lain saja tahu karakter Papinya begitu, mustahil Radit tidak mengetahuinya. Harusnya dia bukannya menghilang seperti ini tapi fokus menjaga Dara dari sikap buruk Papinya" Dokter Angga bergumam sambil memainkan kedua jemari tangannya yang saling menyilang di atas meja.
"Tuh kan, benar kan bahasa ku, MENG-HILANG. Kamu sendiri aja juga pakai bahasa gitu," Lusi membelalakkan matanya ke arah Dokter Angga.
Dara tertawa melihatnya. Dokter Angga yang tersadar telah menggunakan diksi Lusi yang tidak Ia sepakati seketika mengangkat tangan, menutupi mulutnya.
__ADS_1
"Sudah, sudah. Entah bahasa yang benarnya menghilang atau pun sekedar ngumpet, percaya dan yakin saja bahwa Radit dimana pun berada, dia dalam keadaan baik-baik saja dan akan lekas kumpul dengan kita seperti dulu lagi" Dara berusaha memberi mediasi soal diksi kepada Dokter Angga dan Lusi.
"Kalau tentang Papinya Radit, Pak Kusnan ya? Hmmm aku pikir tidak perlu terlalu di khawatirkan. Kalau pun dia menyerangku gak mungkin sampai membuat aku lecet-lecet kan. Kalau ternyata dia menuduhku yang macam-macam ya sudah biarkan saja. Toh aku memang tidak tahu menahu soal keputusan Radit yang pergi dari orang tuanya" Dara kembali menyambung kalimatnya.
"Tidak! tidak bisa begitu Dara. Mungkin kamu tidak akan sampai lecet tapi tindakan salah yang semena-mena tetap tidak bisa di abaikan. Sebelum semua itu terjadi bagaimana jika sebagai bentuk antisipasi, kami berdua bergantian mendampingi kamu dalam berkegiatan, hingga Radit muncul kembali" sahut Dokter Angga tegas.
"Sepakat. Aku setuju!" seru Lusi pula.
Dara tertawa, "Kalian itu ya .. lucunya kelewatan tahu! Sudah, sudah. Sebagai salah satu pusat pembahasan, aku minta kalian berdua untuk stop merisaukan hal-hal yang bersumber dari praduga. Jadi gak perlu ganti-gantian dampingi aku, udah kayak Lady di kerajaan aja pakai shift pendamping, hehehe. Nanti, kalau memang ternyata kekhawatiran kalian itu terjadi, aku pasti bakal hubungi kalian kok, Oke?!" Dara mengeluarkan pendapatnya.
Dokter Angga dan Lusi saling berpandangan. Lama saling diam akhirnya Dokter Angga angkat bicara,
"Baik. Tidak di dampingi secara langsung, tapi per empat puluh lima menit harus memberi kabar terkini tentang kondisi kamu, jangan di sanggah apa lagi di bantah, cukup di terima dan laksanakan saja. Karena kalau menolak, aku akan ajukan cuti supaya bisa full mendampingi kamu sampai ada kejelasan tentang Radit dan hingga Papinya memang bisa di nyatakan aman dari niatan menyerang."
Mendengar usulan yang mengandung titah dari Dokter Angga tersebut, membuat Lusi dan Dara hanya bisa terpana. Mereka sama-sama terlena oleh kesungguhan hati Dokter Angga untuk melindungi Dara.
"Terima kasih Tuhan, telah memberikan aku teman-teman yang baiknya luar biasa," Dara mengembangkan senyum manisnya sambil tulus memandang kedua teman di hadapannya itu.
Lusi membalas senyum Dara. Hatinya sedikit lega, setidaknya ada upaya yang Ia lakukan sebagai sahabat untuk melindungi teman karibnya dari hal-hal yang Ia khawatirkan.
Sementara Dokter Angga hanya diam tanpa ekspresi. Dengan hati yang bernarasi, 'Teman, teman. Lagi-lagi hanya di anggap teman. Radit, segeralah muncul ke permukaan dan selesaikan setiap persoalan karena aku juga harus segera bertindak untuk merubah kata teman menjadi pasangan.'
Pertemuan ketiga sahabat itu berlanjut dengan obrolan seputar banyak hal. Mulai dari membahas perkara serius, santai hingga hal kocak. Walaupun hati mereka masing-masing mengkhawatirkan keberadaan Radit, tapi mereka tidak ingin kentara saling menunjukkannya, khawatir malah akan menjadi pemicu semakin keruhnya suasana.
Selepas mereka saling berpisah dari cafe tersebut, sepasang mata yang sedari tadi mengawasi mereka segera menghubungi seseorang via telepon.
"Bos, Bu Dara sudah beranjak pergi. Baik, baik. Siap," yang sedari tadi mengawasi Dara, Dokter Angga dan Lusi terdengar patuh menjawab pembicaraan dari orang yang di teleponnya.
... ***...
Lempar like, hadiah, vote dll nya donk😁
Please, selalu ikuti kisah Dara ini yaa. Sama-sama kita jadi saksi bagi Dara dalam mendapatkan surga🙏🤗
__ADS_1
share ke yang lainnya bisa juga nihh biar makin banyak saksi kehidupan Dara😁