
Dan di sinilah kami sekarang, di depan rumah tua bobrok yang terlihat sangat menyeramkan .
.
.
.
.
.
.
20 menit lalu
" Emmm... pulang ya... hehehe " kataku gugup sambil menggaruk hidungku
" Ada apa ?? " tanya Curtis langsung
" Kau tahu kan aku menyelinap keluar tanpa sepengetahuan ayah dan ibuku jadi... jadi... ini... " kataku gugup
" Katakan saja langsung " ujarnya tidak sabar
" Jadi jalan rahasianya ada di rumah tua di tengah hutan tadi " kataku cepat sambil menunduk memejamkan mataku erat
Curtis menghela napas, lalu berbalik sambil berkata " Ayo kuantar " ujarnya terdengar biasa saja seolah tidak terjadi apapun .
Beberapa bangsawan besar memang memeliki jalan rahasia ataupun ruang rahasia di rumah mereka, maka dari itu Curtis tidak heran sekalipun . Kami kembali menunggangi kuda ke arah luar ibukota lalu memasuki lingkungan hutan yang sepi lagi . Ketika kami sampai di depan rumah tua itu, aku kembali merinding ketakutan tidak ingin masuk kedalam ' Sial !!! apa aku harus masuk !!! jika tidak masuk lalu bagaimana caraku kembali ' pikirku dilema tanpa sadar mencengkram lengan Curtis . Curtis yang memperhatikanku gemetar ketakutan serta bingung, sedikit tersenyum muncul di sudut bibirnya lalu berbisik .
" Tidak masuk ?? takut ?? " tanyanya mencoba mengejekku .
Sial, aku sungguh tak bisa membantah dan berpura-pura lagi akhirnya aku mendongak dan menganggukkan kepala dengan muka memelas . Curtis yang melihatku tidak membantah lagi dan terlihat sangat ketakutan, ia pun menghela nafasnya lalu berkata
" Ayo kutemani jika kau tak keberatan " ujarnya menawarkan, karena ini adalah pintu rahasia milik keluarga bangsawan yang tidak sembarang orang bisa tahu, jadi ia bertanya dulu .
Aku yang melihatnya menawarkan diri menemani masuk, segera mengangguk setuju tak memikirkan rahasia keluarga atau apapun itu . Dan Curtis juga adalah orang yang terkenal dengan sifatnya yang jujur dan adil di novel asli maka ia pasti tidak akan membocorkan rahasia ini pada siapapun .
Kami pun memasuki halaman yang sangat gelap dengan rumput tinggi dan tanaman liar yang tidak terawat, kadang terdengar suara serangga-serangga di tengah sunyinya suasana hutan itu . Aku merapatkan diriku ke arah Curtis, menggenggam tangannya erat-erat lalu menunduk sambil memejamkan mataku ketakutan. Curtis yang melihatku memejamkan mata sambil gemetar ketakutan segera membimbing langkahku agar tidak tersandung, kami berjalan di halaman lalu menaiki tangga di beranda depan rumah dan berjalan ke arah pintu depan sambil memperhatikan pintu yang rubuh dan rusak, Curtis mengernyit curiga ada yang masuk secara paksa .
" Pintunya rusak " tanyanya heran
" itu... itu aku yang merusaknya " kataku pelan
" Ah kukira seorang pencuri merusaknya " katanya ringan
Aku yang mendengar itu langsung membuka membuka mataku lalu menoleh memelototinya sambil berseru kesal .
" Pintunya sudah mau ambruk, aku hanya menendangnya sedikit jadi mempercepat proses rubuhnya " ujarku kesal .
Aku kesal dan melupakan sejenak ketakutanku tadi dengan berani membuka mataku, ketika tersadar lagi segera memeluk Curtis mencari perlindungan kembali . Curtis yang melihatku bersembunyi lagi menghela nafasnya, tapi ia sedikit rileks karena badanku tidak lagi bergetar ketakutan dan juga sudah berani membuka mataku untuk melihat sekeliling .
Kami pun memasuki rumah tua itu, gelap gulita menyapu indra pengelihatan kami di dalam rumah sama sekali tidak terjamah cahaya bulan . Aku mencekram kemeja Curtis sambil melihat ruang tamu yang kosong dan persis sama dengan yang aku lihat sebelumnya . Tiba-tiba seekor tikus berlari merengsek ke dalam gaunku, aku terkejut bukan main aku pun berteriak, mengumpat sambil melompat tidak karuan .
" Aaaaa..... tikus... tikusss.... pergi .... pergi sana sialan .... tikus sialan ...!!! " ujarku
" Diam !!! sangat tidak sopan " bentaknya sambil mengomel, aku yang mendengarnya segera cemberut kesal .
Curtis lalu pergi menggeledah laci-laci dan menemukan sebuah lentera minyak kecil yang sudah tua . Curtis menyalakannya lalu berjalan ke arahku .
" Di mana pintunya ?? " tanyanya singkat
" Di dalam kamar, di bawah tempat tidur " kataku sambil menunjuk pintu satu-satunya
ruangan di tempat ini
Curtis berjalan memimpin di depan dengan membawa lentera kecil sebagai penerangan sambil menggandeng tanganku . Kami masuk ke kamar tidur di rumah ini, berjalan ke arah ranjang tua yang rusak dan berdebu . Curtis mengerutkan kening terganggu lalu menyerahkan lentera itu kepadaku, aku yang menerima lentera masih bingung ketika melihat Curtis yang mengangkat tempat tidur besar itu dengan mudah lalu memindahkannya agak jauh . Lalu ia berjongkok melihat lipatan lantai kayu yang sedikit terhapus debunya .
__ADS_1
" Disini ?? " tanyanya
Aku berjalan mendekat sambil membawa lentera lalu berjongkok di sampingnya ikut memperhatikan lantai . Lalu menangguk membenarkan tebakannya, ' pintunya tertutup apa aku perlu mencari tombol rahasia lagi ' pikirku masih menganalisa ketika kulihat Curtis mengeluarkan sesuatu dari satu celana panjangnya yang ternyata itu sebuah belati lipat kecil . Aku membelalakkan terkejut melihat seorang remaja yang membawa-bawa sebuah belati di sakunya dan ketika ia dengan santainya menancapkan belati itu di sela-sela lantai kayu yang debunya terhapus lalu mencungkilnya dengan perlahan .
Cklek
Terdengar bunyi kunci yang terbuka, aku melihat sebuah celah terbuka di bawah lantai kayu tadi, Curtis membuka perlahan pintu kayu itu untukku . Terlihat sebuah tangga besi yang menempel di dinding mengarah ke bawah dan di ujungnya sebuah lorong dengan lampu kristal yang kuno dan cantik menerangainya lalu Curtis menoleh ke arahku sambil berkata " Cepat masuk "
Aku meletakkan lentera kecil tadi di lantai dan berdiri menangangkat rokku lalu merangkak menuruni tangga, ketika sudah turun separuh aku baru teringat sesuatu lalu kembali naik lagi . Curtis yang melihatku kembali naik segara bingung mengerutkan keningnya lagi .
" Kenapa ?? " tanyanya
" Eh itu... emm... apa... apa aku bisa menemuimu lagi ?? " tanyaku hati-hati, sambil menatapnya berharap
Curtis memandang wajahku lalu berujar pelan " Setiap akhir bulan di waktu siang hari " ujarnya menjelaskan dengan wajah datar . Aku yang mendengarnya mau menemui ku lagi segera tersenyum senang .
" Kalau begitu sampai jumpa lagi di akhir bulan depan " kataku sambil tersenyum .
Aku kembali menuruni tangga besi itu hingga mencapai dasar, lalu mengadah melambaikan tanganku pada Curtis yang melihat dari atas . Lalu pergi untuk menyusuri lorong panjang itu lagi kembali ke perpustakaan istana Kerajaan Benedicte .
Curtis yang sudah melihat ku pergi dengan aman, menutup pintu kayu itu dengan bunyi ' cklek ' tanda terkunci otomatis . Lalu ia mencari sesuatu untuk menutupi pintu rahasia itu dan menemukan sebuah karpet kotor yang ada di lemari . Selesai ia yakin pintu rahasia itu tidak terlihat lagi, ia berbalik membawa lentera minyak kecil itu kembali ke ruang tengah . Menutup pintu ruang tidur, mematikan lentera minyak dan mengembalikannya ke dalam laci di meja aula lalu ia keluar ke pintu depan, dan tersenyum sendiri melihat pintu yang roboh ia pun mengangkat dan membenarkannya sedikit .
Setelahnya ia berbalik berjalan ke arah kuda yang menunggu di depan gerbang, Curtis melompat duduk di atas kuda lalu menoleh memperhatikan sekitar jikalau ada seseorang yang melihatnya, ia khawatir jika ada orang yang melihat maka itu akan berbahaya bagi Gadis kecil itu . Setelah memastikan dengan cermat tidak ada orang di sekitar, Curtis pun memacu kencang kudanya ke arah ibukota kembali ke kediaman keluarga Colombain . Sudut bibirnya tersenyum tidak sabar menunggu akhir bulan depan untuk bertemu Gadis Kecilnya .
Sementara itu di istana Kerajaan Benedicte...
Siang hari itu, Raja Damien yang dalam suasana hati baik setelah kegiatannya bersama dengan Ratu Carissa pergi menemui Putri Clea di istananya untuk meminta maaf dan berniat berbicara lagi soal pelajaran militer yang ingin di pelajarinya . Tetapi ketika sampai di istana Putri Clea, yang di carinya malah tidak ada di kediamannya . Pelayan pribadinya Deenna mengatakan bahwa Putri Clea berada di perpustakaan istana .
" Putri berkata ingin berada di perpustakaan istana, tapi jika Yang Mulia Raja ingin bertemu maka saya akan menyampaikannya " ujarnya pelan
" Hah.... sudahlah jika seperti itu nanti malam saja aku akan berbicara dengannya " jawab Raja Damien
" Jika Yang Mulia datang menemui Putri di perpustakaan sekarang pasti Putri akan sangat senang " kata Deenna meyakinkan
" Kurasa mungkin dia masih kesal padaku sekarang " ringis Raja Damien
Deenna yang melihat kepergian Raja Damien menjadi semakin sedih melihat pertekaran ayah dan anak itu . Deenna pun memutuskan untuk pergi ke perpustakaan seorang diri untuk memberikan kabar pada Putri bahwa Yang Mulia Raja datang berkunjung berniat untuk berbaikan dengannya . Deenna berfikir jika Putri mendengarnya maka ia akan sangat senang .
Deenna pun pergi dengan semangat ke arah perpustakaan istana, sesampainya di sana ia akan membuka pintu tapi terkunci dari dalam . Deenna pun berfikir bahwa sang Putri masih sedih dan marah sehingga ia mengunci pintunya agar tidak ada yang masuk . Deenna memutuskan mengetuk pintu perpustakaan itu tapi tidak ada sahutan apapun dari dalam, ia pun mencoba mengetuk lebih keras lagi sembari berfikir ' mungkin Putri tidak mendengarnya ' tetapi tetap tidak ada sahutan apapun dari dalam .
" Putri, Yang Mulia Raja datang untuk menawarkan anda makan siang bersama " teriak Deenna tetapi tetap keheningan yang menyambutnya .
' mungkin Putri sungguh marah kali ini ' pikirnya sambil menunduk lalu berbalik pergi kembali ke istana Putri Clea .
Sore harinya para pelayan pribadi Putri Clea merasa cemas memikirkan Putri Clea yang belum kembali juga dari perpustakaan . Dari siang mereka bergantian bolak-balik pergi ke perpustakaan untuk memeriksa apakah pintunya sudah terbuka atau belum . Deenna yang sangat gelisah mondar-mandir di ruang tamu sembari sesekali menengok ke arah pintu masuk . Blance, Alice, dan Chacha pun juga duduk dengan cemas pada keadaan Putri mereka .
" Deenna apa yang harus kita lakukan, Putri belum juga kembali .... " tanya Alice yang cerewet
" Aku ... aku tidak tahu ... Putri hanya berkata untuk tidak mengganggunya " kata Deenna pelan sambil berlinang air mata
" Tapi Putri bahkan tidak membukakan pintu untuk makan siang... " tambah Blance pelan
" Apa kita pergi saja melapor ke Yang Mulia Ratu " usul Alice
" Tapi bagaimana jika Putri tahu ia akan bertambah marah karena kita tidak mematuhinya " jawab Blance
" Sudahlah kita tunggu sebentar lagi bila sampai saat makan malam Putri belum juga kembali aku akan pergi menghadap Yang Mulia Ratu sendiri " ucap Deenna final
Akhirnya sampai saat makan malam akan mulai pun Putri Clea belum juga keluar dari perpustakaan . Deenna segera bergegas pergi ke istana utama untuk menemui Ratu Carrissa . Sesampainya di istana utama, Ratu Carissa yang sedang berdandan di dalam ruangannya untuk menghadiri makan malam rutin bersama Raja dan Putrinya . Ia dalam suasana hati yang baik dan mengira bahwa Raja Damien sudah berbaikan dengan Putrinya sampai saat Deenna yang datang dengan kecemasan yang tak bisa di sembunyikan lagi .
" Salam untuk kemuliaan kami Yang Mulia Ratu " salam Deenna sambil menunduk hormat
" Bangunlah Deenna, katakan ada apa ?? " kata Ratu Carrissa lembut
Deenna yang mendengar perkataan Ratu bukannya berdiri malah berlutut sambil menundukkan kepalanya .
" Yang Mulia Ratu tolong bujuk Putri, Putri Clea mengurung dirinya di perpustakaan istana semenjak pagi tadi dan tidak kunjung keluar hingga sekarang, Putri Clea berpesan untuk tidak mengganggunya ... tapi Yang Mulia Ratu, Putri sudah melewatkan makan siangnya tadi ... jika Putri tidak kunjung keluar dan melewatkan makan malam juga maka Putri bisa sakit " ujar Deenna khawatir
__ADS_1
Ratu Carrissa yang mendengar perkataan Deenna segera berdiri cemas, lalu bertanya " Apakah Yang Mulia Raja tadi tidak berbicara dengan Clea ?? "
" Yang Mulia Raja tadi berkunjung ke kediaman, dan ketika mengetahui Putri sedang berada di perpustakaan beliau mengundurkan dirinya kembali ke istananya " jelas Deenna
" Hah.... kalau begitu ayo kita pergi dulu ke perpustakaan untuk membujuk Clea " ujar Ratu seraya memakai jubahnya keluar dari ruangan lalu berbalik memerintah seorang pelayan
" kamu pergilah ke ruang makan dan laporkan ini pada Yang Mulia Raja " kata Ratu
Pelayan itu mengangguk pergi melaksanakan perintahnya, Ratu Carissa pergi dengan beberapa pelayannya dan Deenna yang memimpin ke arah perpustakaan . Dari kejauhan terlihat Alice dan Chacha yang sedang menunggu dengan cemas di depan pintu masuk perpustakaan . Deenna berjalan lebih cepat menghampiri mereka .
" Apa Putri belum juga keluar ?? " tanya Deenna
Alice dan Chacha hanya menggelengkan kepalanya mereka sangat cemas hingga tidak memperdulikan cuaca yang dingin, lalu memberikan hormat pada Ratu Carrissa yang muncul . Ratu Carrisa menyuruh mereka berdiri lalu memberikan kode kepada Deenna agar mengetuk pintu .
" Putri, sudah waktunya makan malam " kata Deenna
Hening
" Putri, Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu sedang menunggu anda " bujuk Deenna lagi
Hening
" Putri, bukalah pintunya... anda harus makan " bujuk Alice yang ikut maju
Hening lagi
" Putri, tolong jawablah " teriak Deenna dengan suara tercekat menahan tangis
Ratu Carissa yang melihatnya akhirnya maju sendiri mengetuk pintu itu.
" Sayang, ini ibu bukanlah pintunya mari kita bicara lagi " bujuk Ratu Carissa
Tetap hening
" Sayang ... Clea ... buka pintunya ... " teriak Ratu tegas
Tetapi hanya keheningan yang menjawab
" Clea .... " teriak Ratu lagi
" Clea ... apa kau mendengar ibu ... " teriak Ratu cemas kali ini
" Apa Clea tidak menjawab sekalipun saat kalian memanggilnya " tanya Ratu khawatir, para pelayan yang mendengar pertanyaan Ratu Carissa pun menggeleng satu persatu . Ratu Carissa yang melihat tanggapan dari para pelayan pribadi Putri Clea segera tersedak cemas .
" Clea ....!!! Clea apa kau dengar.... !! " teriak Ratu cemas bukan main kali ini, ia tidak mengetuk lagi melainkan menggedor pintu itu .
Tapi apalah daya pintu itu terbuat dari besi baja yang kuat, sehingga meskipun Ratu Carissa menggedor sampai telapak tangannya memerah dan berdarah sekalipun pintu itu tetap tidak bergeming sedikitpun . Ratu Carissa yang melihat situasi ini tidak akan berhasil, segera memerintahkan pelayannya pergi menggambil kunci cadangan perpustakaan .
" Pergilah cepat ke kepala pelayan, ambil kunci cadangan perpustakaan istana " kata Ratu Carissa pada seorang gadis pelayannya
Gadis itu lalu berbalik berlari tergesa-gesa ke arah istana utama . Ratu Carissa berjalan bolak-balik dengan cemas, sedangkan Deenna dan Alice tetap mengetuk keras pintu itu sambil memanggil Putri, berharap ada sahutan dari dalam .
" Putri ..."
" Putri Clea ... "
15 menit kemudian,
2 orang pelayan yang ditugaskan berbeda datang berlari dengan tergesa-gesa, memberi salam lalu melaporkan hasil dari tugas mereka .
" Yang Mulia Ratu kepala pelayan berkata kunci perpustakaan hanya ada satu dan tidak ada cadangannya " ujar gadis pelayan kedua
" Yang Mulia Ratu, saya sudah menunggu lama di ruang makan tetapi Yang Mulia Raja tidak kunjung muncul akhirnya saya mencoba bertanya kepada kesatria pribadi Yang Mulia Raja, dia berkata bahwa ada pertemuan darurat dengan penasehat kerajaan " ujar gadis pelayan pertama
Ratu Carissa menghela nafas tidak berdaya mendengar jawaban kedua pelayannya, lalu berbalik memerintahkan 4 pelayannya yang lain untuk pergi mencari beberapa prajurit .
" Kalian carilah beberapa prajurit di dekat sini, cepatlah " ujar Ratu cemas, 10 menit kemudian 4 orang prajurit penjaga dan 2 orang prajurit patroli berjalan cepat ke arah Ratu Carissa lalu berlutut memberi hormat .
__ADS_1
" Kalian cepat bangunlah dan dobrak pintu perpustakaan itu " ujar Ratu memerintahkan