
Aku melihat bocah laki-laki kecil itu memiliki ekspresi yang terlihat bodoh dan lucu, membuatku terkikik senang . Bocah itu masih memandangi sekeping koin emas di atas tangannya yang bergetar hebat tapi masih dengan keras kepala tak membiarkan sekeping koin itu jatuh ke tanah .
Ia lalu tersadar dan mendongak menatap Curtis, seolah meminta penjelasan . Aku tersenyum melihatnya dan berujar pelan .
" Untukmu juga, tak bisa di tolak dan tak bisa dikembalikan " kataku cepat-cepat di bagian akhir
Bocah itu menatapku seolah melihat hantu lalu ia segera menoleh ke arah Tuan Mudanya . Curtis masih dengan ekspresi datar dan sikap santainya memasukkan kembali kantong putih itu kedalam baju mantelnya, ia sama sekali tak terganggu dengan sikap pelayan kecilnya yang tengah kebingungan .
Ketika ia selesai dengan tindakannya, ia mengadah melihat bocah laki-laki kecil itu tengah menatapnya dengan tatapan yang campur aduk . Bocah laki-laki itu tengah kebingungan dan menatap Curtis seolah meminta penjelasan atau apapun itu yang dapat menyelamatkannya . Curtis hanya menatapnya sebentar dan berkata sepatah kata dengan dingin dan ekspresi datar .
" Tabung dan simpan baik-baik " katanya datar lalu berbalik ke kandang kuda
Aku terkikik pelan melihat bocah itu yang kini menimang koin di tangannya seolah memegang bayi yang rapuh . Aku pun berbalik mengikuti Curtis ke kandang kuda, aku mengekor di belakangnya terus-menerus sambil melihat 3 ekor kuda yang ada di kandang .
Ketiganya ialah kuda jantan berwarna coklat muda, dengan ukuran yang paling besar dan gagah ialah yang kami gunakan untuk datang kemari tadi pagi . Untuk 2 yang terakhir ialah kuda pengangkut barang biasa yang di gunakan para pekerja untuk menarik kereta barang yang membeli kebutuhan di villa .
" Kakak tampan apa kuda-kuda ini jinak ?? " tanyaku pada Curtis
" Uhm " gumamnya singkat
" Apa mereka pemarah ?? " tanyaku lagi
" Tidak, mereka kuda tua " jawab Curtis
" Kalau begitu mereka tak bisa melaju cepat .. " kataku lagi
Curtis menoleh ke arahku dan melirikku dari atas kebawah dengan datar, aku yang di tatap seperti itu pun menjadi bingung dan melihat penampilanku lagi dari atas kebawah seperti Curtis .
' tidak ada yang aneh ' batinku
Aku akan bertanya kenapa, ketika kudengar suara Curtis di atas kepalaku membuatku kesal lagi .
" Kuda ini cukup untuk ukuranmu " katanya dingin
" Huh !!! kakak tampan, apa kau sedang meremehkanku lagi ??! " tanyaku kesal
Curtis tak menghiraukan ocehanku yang akan meledak keluar, ia segera masuk ke dalam kandang dan melepaskan tali pengikat kuda dari tiangnya .
" Hei, jangan diam . Keluarkan kudanya !! " seru Curtis ke arah bocah laki-laki yang mematung di belakang
Bocah laki-laki kecil yang sedari tadi berdiri sambil memandangi koin di tangannya dengan bodoh pun terkejut mendengar seruan dari Curtis, ia mengerjap pelan dan tersadar dari lamunannya . Ia dengan hati-hati membungkuk sekeping koin itu dengan sapu tangan lusuh yang diambilnya dari saku celana lalu ia menyimpannya kembali dengan hati-hati di saku bajunya .
Bocah laki-laki itu lalu lari tergopoh-gopoh menghampiri kami, ia bergegas membantu Curtis mengeluarkan kuda dari kandangnya . Aku yang merasa tak di hiraukan lagi kembali mengomel tanpa henti .
" Kakak tampan, kau mengindahkanku lagi "
" Apa sekarang kau sedang pura-pura tak mendengarku "
" Hei, jangan lupa !! baru tadi kau berkata akan mendengarkanku "
" Kakak tampan .... " rengekku kesal
Curtis berpura-pura tuli, ia tetap menunggu kudanya di keluarkan dari kandang dengan ekspresi datar tak terpengaruh ocehanku . Bocah laki-laki itu sesekali melirik kami dengan bingung, ia sedari tadi melamun sehingga melewatkan apa yang membuat nona ini kesal pada Tuan Mudanya . Ia pun sedikit bingung mengapa juga Tuan Mudanya yang selalu dingin dan tak sabar dalam menghadapi orang lain menjadi pendiam ketika di omeli oleh nona ini .
Bocah laki-laki itu menggiring kuda ke hadapan Curtis, ia memegang tali kendali dan menunggu dengan patuh . Aku yang melihatnya diam setelah mengeluarkan seekor kuda pun bingung .
__ADS_1
" Hei !! kenapa kau mengeluarkan hanya satu ekor ??!! " tanyaku bingung
Bocah itu juga bingung ketika mendengar pertanyaanku, ' apakah satu ekor tidak cukup ?? apa mereka saling marah sehingga tak ingin menunggang kuda bersama ?? ' pikirnya bingung . Ia pun menoleh ke arah Curtis untuk mendengarkan apa yang harus dilakukan, aku yang melihat bocah laki-laki itu tak segera mengambil kuda lagi malah menengok ke arah Tuan Mudanya untuk meminta pendapat menjadi kesal karena merasa omonganku tak di dengar oleh siapapun termasuk pelayan kecil di depannya ini .
" Hei !! kau tak mendengarku !! kenapa kau tak segera mengambil kuda lagi melainkan melihat Tuan Muda mu !! " bentakku kesal
Bocah laki-laki kecil itu terkejut mendengar suara kerasku, Curtis mengernyitkan alisnya dan menatapku datar . Aku yang di tatapnya seperti itu segera mengangkat daguku tinggi-tinggi, merasa tak bersalah sama sekali .
" Apa ?? apa ??! aku tak boleh marah pada pelayanmu ?? bukankah kita teman dekat, kita sepakat milikmu ialah milikku juga . Aku sudah bersikap baik pada pelayanmu, tapi mereka tak mendengarkanku . Jadi aku tak boleh marah gitu ?? " cerocosku tanpa henti
Curtis pun menghela napasnya menyerah akan omelanku, ia masih mengernyitkan alisnya tak senang .
" tak sopan " gumamnya kesal
" memang " sahutku sewot mendengar gumamannya
Curtis pun menghela nafasnya lagi melihat tingkahku, ia memijit alisnya sedikit dan berkata pelan
" Gunakan kuda ini saja " katanya
" Baiklah " kataku singkat
Curtis sedikit terkejut aku langsung menyetujuinya dengan mudah, tapi ia tetap memasang ekspresi datar seolah tak peduli . Aku maju ke depan kuda yang di pegang oleh bocah laki-laki itu, bocah laki-laki itu hendak pergi mengambil bangku pijakan agar aku mudah naik ke atas kuda seperti sebelumnya . Aku yang mengerti niatnya segera menghentikannya .
" Tak perlu !! aku bisa naik sendiri " kataku padanya
Bocah laki-laki itu menoleh dan menatapku dengan tak yakin, aku berdecak kesal karena ekspresi yang sangat jujur itu .
" Huh !! kau pun tak percaya !! sudah sini berikan tali kendalinya !! " kataku kesal
Bocah itu menjadi malu ketika aku mengetahui apa yang ia pikirkan, ia menjadi tak enak hati kepadaku . Jadi ia langsung menyerahkan tali kendali kuda yang dipegangnya ketika aku meminta .
Curtis yang terkejut sesaat pun tak menampilkan ekspresi apapun di mukanya, ia maju selangkah ke depan hendak naik kuda juga bersamaku . Aku yang mengetahui niatnya, kini tersenyum miring dan menjalankan rencana yang kupikirkan tadi .
Aku menarik tali kekang kuda itu dengan keras, sehingga kuda itu meringkik kencang sambil mengangkat kedua kaki depannya . Curtis terkejut dan mundur beberapa langkah, begitu pula dengan bocah itu yang terjengkang kebelakang . Curtis tak bisa lagi mempertahankan ekspresi datarnya khasnya, ia mendongak dengan khawatir melihat ke arahku .
Aku tersenyum tetap tenang dan mengendalikan kuda itu dengan lihai, kuda itu menjadi tenang kembali dan aku mengelus surainya pelan . Aku melirik Curtis yang kini ekspresinya sangat menarik untuk di pandang, jadi aku tertawa dengan senang hati tanpa menahannya .
" Hahaha .... maaf, apa aku mengejutkanmu kakak tampan ?? " tanyaku dengan nada menggoda
" Hihihi ... siapa suruh kalian meremehkanku !! " seruku dengan sombong sambil tetap tersenyum senang
Aku berbalik mengendalikan kuda itu agar berputar beberapa kali di situ sambil terus tersenyum senang dan berbicara dengan riang dengan Curtis yang menatapku dengan kesal . Raut wajahnya tak bisa lagi berekspresi tenang, datar dan dingin, itu membuatku sangat senang sehingga terus terkikik sesekali .
" Ah ya ... aku akan menggunakan kuda ini " seruku bermain-main
Curtis diam, ia tetap memperhatikan apa yang akan kulakukan .
" Kakak tampan , kau mengalahlah padaku ya ... " kataku sambil memasang ekspresi berpura-pura memelas
Tatapan matanya kini menjadi semakin dingin, tapi aku tak takut sama sekaliĀ melainkan semakin senang karena berhasil menggoda dan memecahkan ekspresi kakak tampanku yang dingin ini .
" Dan untukmu .... maaf, tapi mungkin kuda tua di sana cukup untukmu " kataku tersenyum senang sambil mengganguk-angguk manis
Kini Curtis memejamkan matanya marah, urat nadi di dahinya menonjol, wajahnya sedikit merah karena kesal . Aku yang melihat Curtis akan segera meledak pun segera berpikir untuk kabur menyelamatkan diriku dahulu .
__ADS_1
Jadi aku segera memacu kuda untuk pergi dari situ dan berlari keluar menuruni bukit . Kuda itu melesat cepat dengan aku yang tertawa senang di atasnya .
" Kakak tampan aku pergi dulu ... " kataku cepat-cepat kabur dari situ
" Oh ya !! kakak tampan jangan lupa bawakan kotak biolaku juga nanti " seruku bersama sosokku yang menghilang ke halaman depan
Setelah aku selesai menambahkan bahan bakar ke dalam api lalu bergegas kabur tak terlihat lagi, Curtis membuka matanya yang penuh amarah . Ia menggertakkan giginya keras-keras dan menggeram dengan marah .
" CLEO .... !!! dasar gadis nakal !!! " serunya penuh amarah
Bocah laki-laki kecil yang sedari tadi terduduk di bawah karena terkejut pun menjadi ketakutan mendengar geraman kekesalan Tuan Mudanya sekarang, selama ia berkerja ia tak pernah melihat Tuan Mudanya semarah ini . Yang selalu ia lihat ialah sosok Tuan Mudanya yang tenang dan dingin seolah tak tersentuh orang lain, ia tak pernah menyangka bahwa Tuan Mudanya juga bisa memiliki berbagai emosi seperti saat ini .
Tapi bocah laki-laki sungguh berfikir betapa berani nona yang baru dilihatnya dua kali itu sehingga mampu membuat Tuan Mudanya semarah ini, mungkin hubungan mereka lebih dekat dari yang bocah laki-laki itu pikirkannya .
.
.
.
Pak Tua Lin dan Elis yang masih berada di halaman depan pun mendengar derap kaki kuda yang berlari dari arah halaman samping tempat kandang kuda, mereka menoleh serempak ke arah asal suara tersebut . Awalnya mereka mengira Tuan Muda akan muncul menunggangi kuda dengan nona Cleo di belakangnya, tapi siapa yang mengira jika yang dilihat oleh mereka berdua justru nona Cleo seorang diri menunggangi kuda yang berlari melewati mereka .
Aku melemparkan senyum dan melambai perlahan pada Pak Lin dan Elis yang masih berada di halaman depan, mereka membeku melihatku yang seorang diri menunggangi kudanya .
" Aku pergi dulu .. !! " seruku pada mereka
Lalu aku kembali melajukan kudaku berbelok keluar dari gerbang villa dan berlari di jalan setapak bukit . Pak Lin dan Elis yang melihat kepergianku seorang diri dan sosokku yang sudah menghilang di luar gerbang pun menjadi semakin bingung . Mereka saling berpandangan dengan pertanyaan yang sama . Yang ada dipikiran mereka berdua ialah hal yang sama ' dimana Tuan Muda ?? '
Mereka pun menoleh ke arah halaman belakang dengan bingung dan penasaran, tapi tak terlihat tanda-tanda kuda lain yang akan keluar . Mereka pun saling pandang dengan bingung lagi, Elis pun menghela nafasnya dengan keras .
" Apa yang terjadi ?? mengapa nona pergi seorang diri ?? " tanya Elis bingung
Pak Lin hanya diam, ia pun sama bingungnya dengan Elis . Pak Lin pun menghela nafas keras juga .
" Ayo lihat " kata Pak Lin
Elis pun mengangguk dan berjalan bersama Pak Lin ke kandang kuda di halaman samping . Mereka berjalan perlahan dan diam-diam, tapi alangkah terkejutnya mereka dengan suara Tuan Mudanya yang sedang marah-marah . Suara itu bahkan sudah terdengar sebelum mereka sampai ke kandang kuda, sehingga dapat di pastikan bahwa kali ini Tuan Mudanya sangatlah kesal sehingga kehilangan kendali emosinya . Pak Lin dan Elis pun saling berpandangan dengan pikiran yang sama ' apa yang membuat Tuan Muda sangat marah ?? '
.
.
.
Curtis POV
" CLEO .... !!! dasar gadis nakal !!! " geramku sangat kesal
Aku sungguh tak menyangka gadis kecil itu akan berani mempermainkanku, apa ia sungguh berfikir aku tak akan tega memarahi atau menghukumnya sedikitpun . Gadis kecil ini apa ia tak berfikir bagaimana perasaanku ketika kuda itu meringkik keras sambil mengangkat kaki depannya, rasanya jantungku berhenti berdetak . Aku sangat gugup dan khawatir ia akan terluka tapi apa yang kudapatkan ... ??
Gadis nakal itu malah tertawa senang melihatku yang sangat terkejut .... sangat, sangat tak sopan . Gadis kecilku ... kupikir .... aku terlalu memanjakanmu, sehingga kau pun berani bermain-main terhadapku .
Aku menoleh ke bawah, pelayan kecil itu kini memandangiku dengan tatapan ketakutan dan sedikit rasa heran serta takjub . Aku merasa aneh dan terganggu dengan ekspresinya yang bodoh itu, membuatku semakin kesal saja .
" Kenapa kau hanya bengong dan diam saja, cepat keluarkan kuda lagi !! " seruku
__ADS_1
Mungkin aku tak bisa meluapkan kekesalanku pada Cleo sehingga pelayan kecil di hadapanku ini terkena imbasnya . Suaraku sedikit keras dan kalimatnya penuh amarah, dan aku tak tahu bagaimana ekspresiku saat ini hingga pelayan kecil itu sangat terkejut dan ketakutan . Ia bangkit dan tergopoh-gopoh berlari ke arah kandang kuda, ia mungkin sangat ketakutan hingga saat berlari ia tersandung oleh kakinya sendiri dan jatuh terjerembab ke depan . Beruntungnya tanah di sekitar kandang kuda tertutup oleh jerami sehingga ia tak terluka sama sekali .
Aku mencoba untuk mengendalikan diriku lagi dengan melihat sekitar agar kembali tenang, dan tak sengaja sudut mataku menangkap Pak Lin dan Elis yang tak terlalu jauh dari sini . Mereka terlihat sedang ragu-ragu, aku mengernyit bingung dengan tindakan mereka yang aneh .