Merubah takdir ' Mawar Putih '

Merubah takdir ' Mawar Putih '
BAB 39


__ADS_3

Suasana hutan di sore hari sangatlah sepi, saat ini matahari sudah tenggelam . Langit perlahan-lahan menjadi gelap, kami memacu kuda secepat mungkin untuk sampai ke rumah tua itu .


.


.


.


Beberapa saat lalu, kami menghabiskan sepanjang hari di sungai hingga senja . Curtis dan aku buru-buru kembali ke tempat wanita-wanita desa itu, untungnya mereka belum pergi . Kami kembali tepat waktu ketika mereka sedang berberes-beres peralatan dan hendak pulang .


Setelah mengucapkan terimakasih dan memberikan beberapa koin perunggu untuk mereka, dan diwarnai dengan sedikit adegan tarik ulur yang selalu berakhir dengan kemenanganku . Kami pun segera memacu kuda kami menuju kembali ke desa, aku sedikit melihat kembali ke belakang pada gadis yang naksir pada Curtis . Dari tadi hingga saat kami pergi, dia hanya menundukkan kepalanya dan berdiri cukup jauh dari kami . Aku sungguh masih penasaran dengan ceritanya ...


Ketika kami sedang memacu kuda ke arah desa, Curtis berteriak ke arahku .


" Aku akan kembali ke villa sendiri, kau tunggulah di gerbang desa . Untuk menghemat waktu " teriaknya ke arahku


" Baik " teriakku balik


Setelah mendengar jawabanku, Curtis langsung memacu kudanya secepat kilat


. Aku terbengong dengan mulut yang terbuka syok, ' apa selama ini aku sudah salah berkata sembarangan, bersikap sombong dengan memamerkan kemampuan sepele yang ku miliki di depannya . Sungguh memalukan ... ' batinku tertekan . Kami pun berpisah ke arah masing-masing . Aku melajukan kudaku ke arah gerbang desa .


Aku berhenti di depan gerbang desa sederhana yang hanya terbuat dari kayu lapuk di beberapa sisinya, aku menunduk bosan . Jariku pun bergerak menyusuri ukiran indah di kotak biola yang tergantung di kuda, lalu setelah bosan aku memainkan rambut hitam di leher kuda Curtis ini . Aku mengelusnya ringan .


" Sangat patuh " kataku memuji


" Sama seperti pemiliknya, hihihi " gumamku lalu terkikik senang


5 Menit kemudian Curtis datang dengan menunggang kuda sangat cepat di tengah-tengah jalan desa yang ramai, membuat orang-orang menyingkir takut tertabrak . Ia lalu berhenti di depanku, kudanya meringkik dengan keras dan kaki depannya berdiri ke atas . Lalu kembali menapak dengan keras, membuat debu berterbangan .


Curtis memberikan jubahnya tadi pagi yang kupakai, untuk ku kenakan kembali . Kulihat Curtis ternyata mengendalikan kuda hanya dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lainnya memegang keranjang piknikku yang besar .


" Kakak tampan, kenapa melaju secepat itu ?? Bagaimana jika melukai orang " tanyaku sebal


" Tidak mungkin " jawabnya singkat


" Huh !! dasar keras kepala " seruku keras


Curtis sudah melaju duluan meninggalkanku yang sudah siap untuk mengomel padanya, aku cemberut lalu ikut melajukan kudaku mengikuti di belakangnya .


.


.


.


Setelah menembus hutan, sampailah kami di depan rumah tua itu . Curtis melompat turun duluan dan membuka gerbang karatan di depan, aku pun mengikuti di belakangnya sambil menarik kuda-kuda itu .


Curtis memimpin di depan memasuki halaman yang tenang, matahari sudah terbenam sepenuhnya . Halaman ini pun menjadi gelap gulita tak ada penerangan . Aku mencengkeram erat tali kuda di tanganku dan mengikuti tepat di belakang Curtis .


Curtis memperhatikan sekeliling dengan seksama, dan tak menemukan ada yang janggal . Lalu ia mengikat kuda di halaman dan membawa keranjang di sebelah tangannya sedangkan sebelahnya lagi menggandengku menuju ke pintu depan, Curtis meraih ranting kecil yang terselip di tengah-tengah pintu . Ranting itu tetap utuh seperti sebelumnya .


" Untuk apa itu ?? " tanyaku penasaran


" Sebagai tanda, apa ada orang yang masuk atau tidak " jawabnya datar


" Wah ... kakak tampan, aku tidak mengira kau bisa sepintar ini " kataku memuji


Curtis hanya melirikku sedikit dan bergumam sekenanya, ia lalu membuka pintu rapuh itu perlahan-lahan agar tidak rubuh lagi . Derit pintu nyaring menggelitik telingaku dan membuat bulu kudukku merinding . Aku segera bergegas ke samping Curtis dan merangkul lengannya dengan tanganku yang bebas dari membawa kotak biola .


Curtis tak merespon apapun atau mengejekku kali ini, mungkin ia tahu aku takut seperti sebelumnya .


" Kakak tampan, kapan kau memasang ranting itu ?? " tanyaku mencoba mengalihkan perhatianku


Aku mulai ketakutan, padahal ini sudah ke dua kalinya aku memasuki rumah tua ini . Tapi rasanya masih sama menyeramkan seperti sebelumnya .

__ADS_1


Curtis berjalan ke arah laci di sisi ruangan, untuk mengambil lentera minyak kecil yang di tinggalkan sebelumnya, aku mengikuti dengan cermat setiap langkah Curtis sambil memegangi lengannya .


Curtis pun menuntunku ke arah kamar tidur sambil membawa lentera kecil itu di depan . Setelah sampai di depan pintu lalu kami terdiam, Curtis menoleh ke arahku dan aku menatapnya dengan pandangan bertanya ' ada apa ? '


" Buka pintunya " katanya datar sambil menganggukkan dagunya ke arah pintu


Aku menoleh ke kedua tangannya yang kini sedang memegang keranjang dan lentera, lalu berseru mengerti .


" Ah ... iya .. iya .. " sahutku


Setelahnya aku melepaskan kaitan tanganku di lengan Curtis dan bergegas maju membuka pintu itu . Pintu berderit terbuka, menampakkan ruangan gelap gulita dengan siluet korden putih yang menyeramkan di baliknya, aku segera kembali bersembunyi di belakang Curtis dan memegang lengannya erat-erat .


Curtis menuntunku masuk ke dalam ruangan itu dan berhenti di tengah ruangan . Lalu ia meletakkan keranjang di samping kakiku, ia juga menyerahkan lentera kecil itu kepadaku . Aku menerimanya, Curtis maju ke depan untuk memindahkan karpet berdebu yang menutupi jalan rahasianya .


Jari Curtis menyusuri celah yang tak terlihat dari pintu rahasia itu, lalu tangan kanannya meraih belati lipat di sakunya . Aku yang sudah melihat belati itu sebelum tak terlalu terkejut lagi, Curtis menancapkan ujung belati itu di celah pintu rahasia lalu mencongkelnya sedikit .


Ceklek


Suara kunci terbuka, Curtis membukanya lebar-lebar . Aku maju ke depan, dan melihat tangga besi yang menempel di dinding ke arah bawah tanah .


" Aku akan turun dulu, membawakan barang-barangmu " kata Curtis padaku


" Baiklah " jawabku


Curtis meraih kotak biola serta keranjang piknik itu dengan satu tangan, lalu melompat turun dengan ringan tanpa kesulitan . Aku cukup terkejut, melihatnya yang tiba-tiba melompat tanpa menuruni tangga . Begitu kakinya menginjak lantai dasar, seketika lampu kristal yang ada di sisi dinding menyala serentak menerangi lorong bawah tanah .


" Turunlah " seru Curtis dari bawah


" Iya " teriakku


Aku meninggalkan lentera minyak di sisi pintu rahasia lalu berpegang dengan hati-hati di tangga besi, dan merangkak turun ke bawah . Curtis mengawasi dengan seksama dari dasar dan ketika aku akan sampai dasar, ia membantu memegangi pinggangku agar tidak jatuh .


Aku melompat ringan dari anak tangga terakhir ke lantai di bawah, lalu melemparkan senyum ke arah Curtis .


" Hah ... sampai juga " kataku sambil menghela nafas .


Aku menyerahkan jubah itu ke tangan Curtis lalu melepaskan jubah yang ku kenakan . Aku maju ke depan lalu berjinjit untuk memakaikannya pada Curtis, Curtis menunduk memudahkanku mengikat tali di lehernya . Pandangan kami bertemu, ada sorot keengganan untuk berpisah di dalam matanya .


( Catatan : awalnya autor ingin mengembalikan jubahnya di bab 29 tapi lupa sampai sekarang, wkwkwk )


Aku tersenyum lembut sambil menepuk-nepuk pita yang kuikatkan .


" Jangan sampai ketinggalan lagi " kataku datar


" Uhm " gumamnya sambil menundukkan pandangannya


Aku melihatnya sedang menahan perasaannya lagi, menghela nafas dalam hati lalu berjinjit lebih tinggi dan bertumpu pada kedua pundak . Aku memiringkan kepalaku lalu ... ' cup ' aku mencium lembut pipi kirinya .


" Sampai bertemu akhir bulan depan " bisikku di telinganya


Lalu aku segera berbalik meraih keranjang di tanah dan berlari ke dalam lorong rahasia . Aku berlari dengan kencang tanpa menoleh ke belakang ataupun sempat untuk melihat reaksi Curtis bagaimana . Aku hanya berlari untuk kabur, karena saat inipun wajahku terasa panas .


' Akh ...... Cleo , apakah sekarang kau sedang masa-masa puber ke 2 ' teriak batinku frustasi


Di sisi lain Curtis yang di tinggalkan di belakang, masih mematung tak sadar . Ia berdiri pada posisi yang sama, tak berubah sedikitpun setelah Cleo menciumnya dan lari . Curtis masih berusaha mencerna apa yang barusan terjadi, otaknya memanas ketika memproses kejadian tadi .


Curtis menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya, wajah merah padam menjalar ke leher dan kedua telinganya .


" Aaaahhh ... " teriaknya teredam


Ia menutupi erat mulutnya juga agar suara itu tak bergema di sepanjang lorong lalu sampai ke telinga gadis kecilnya, hal itu akan membuatnya sangat malu saat mereka bertemu lagi .


Bertemu lagi .... ya, mereka akan bertemu lagi ... . Sungguh kali ini Curtis tak bisa mengendalikan emosinya yang meluap-luap, jantungnya berdebar dengan kencang . Seluruh ekspresi yang di rasakannya saat ini tercermin jelas di raut mukanya .


Bahkan Curtis pun tak tahu bagaimana caranya ia keluar dari rumah tua itu dan kembali ke kediaman Colombain, ia serasa sedang melayang terbuai dengan perasaannya yang memabukkan saat ini .

__ADS_1


.


.


.


" Hah ... hah .... haah ..... "


Deru nafasku tersendat-sendat, aku berlari dengan sangat kencang di sepanjang lorong rahasia . Jantungku berdetak dengan kencang dan wajahku memerah, entah karena Curtis atau kekurangan oksigen karena berlari cukup lama barusan . Aku tak terlalu memikirkannya lagi, aku menghapus asal-asalan keringat yang mengucur di dahiku


Kini aku berdiri di depan pintu masuk jalan rahasia di belakang rak buku, aku meraih lampu kristal redup di dinding lalu menariknya perlahan .


Ceklek


Kunci terbuka, celah kecil terlihat di antara dinding batu pintu rahasia . Lampu kristal otomatis mati ketika aku membuka kunci itu, aku menoleh ke belakang pada lorong rahasia yang gelap gulita .


' Apa kakak tampan, sudah pergi ' terbersit di pikiranku


Aku menggeleng kepalaku keras-keras, menyingkirkan permikiran itu seketika . Lalu aku menarik pintu dinding, terpampanglah perpustakaan kerajaan yang megah dan klasik . Cahaya lampu kristal besar yang ada di perpustakaan masuk ke dalam lorong, menerangi sedikit kegelapan di dalamnya .


Aku segera mengangkat kakiku berjalan keluar dari lorong rahasia, dan mendorong menutup rak dinding yang berperan sebagai pintu .


Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, merasa tak ada yang berubah sejak kutinggalkan tadi pagi . Berarti tidak ada seseorang yang masuk dengan paksa ke dalam perpustakaan, aku menengok melihat jam besar di pojokan . Mataku melotot lebar, melihat pukul berapa sekarang .


" Akh .... !!! sial ... tinggal 15 menit lagi, aku terlambat !!! " teriakku sambil berlari ke arah pintu perpustakaan .


Aku bergegas membuka kunci pintu besi raksasa itu, lalu keluar dari perpustakaan kerajaan . Suasana malam hari di lingkungan istana yang akrab, segera menyapa pemandanganku . Tapi aku tak punya waktu untuk bernostalgia ataupun mengeluh karena waktu terlalu cepat berjalan, aku segera berlari kencang kembali ke istanaku sambil membawa sebuah keranjang yang di tangan .


Para prajurit istana yang bertugas melakukan patroli terheran-heran karena aku berlari seperti di kejar sesuatu . Di tengah perjalanan kembali, aku bertemu dengan Alice dan Blance yang berjalan tergesa-gesa ke arah perpustakaan, mungkin mereka berniat menyusulku .


" Putri !!! " seru mereka serentak ketika melihatku


Mereka segera bergegas ke sisiku, aku berhenti di jalan dan terengah-engah kehabisan nafas .


" Putri, kenapa anda kembali sangat terlambat ?? " keluh Alice


" Benar Putri, kami semua mencemaskan anda yang tak kunjung kembali " sahut Blance


Aku yang terlalu lelah berlari dan masih ngos-ngosan pun, tak punya tenaga untuk meladeni mereka . Jadi aku menjejalkan keranjang piknik pada mereka lalu melanjutkan larianku .


" Hah .. hah ... haahhh .... Ambil ini, ayo ... kita terlambat ... " kataku terbata-bata


Mereka pun ingat kembali pada tujuan mereka datang ke perpustakaan untuk menjemput Putri Clea agar tak terlambat di acara makan malam rutin bersama di istana utama .


" Ah .... benar " seru Alice teringat


" Putri .... jangan berlari !! nanti jatuh !! " teriak Blance padaku yang sudah jauh di depan


Mereka pun bergegas ikut berlari mengejar aku yang sudah agak jauh . Kami bertiga berlarian dengan kencang sehingga hanya memakan waktu 5 menit untuk sampai di istana tempat tinggalku .


Deenna sedang berjalan mondar-mandir di ruang tamu istana, sedangkan Chacha ia sedang menunggu dengan cemas di samping sofa . Derap kaki aku berlari masuk kedalam istana dan mengejutkan mereka . Penampilanku sedikit berantakan karena berlari di sepanjang jalan, bulir-bulir keringat bergelantungan di wajahku yang memerah . Nafasku terputus-putus ketika aku membuka mulutku untuk berbicara pada mereka .


" Ha .. hah .. ha ... jangan .. tanya ... sekarang, ayo siap-siap dulu " kataku


Deenna dan Chacha segera sadar selah mendengar suara lemahku, mereka lalu memapahku berjalan ke dalam ruang tidurku . Alice dan Blance pun yang mengikuti berlari di belakangku, baru saja sampai . Deenna melirik tajam pada mereka yang penampilannya ikut berantakan juga .


" Darimana saja kalian, cepat bantu Putri bersiap-siap " cetus Deenna pada keduanya


Mereka pun hanya bisa menunduk dan menjawab dengan pelan " Baik "


Blance bergegas ke dapur istana untuk menaruh kembali keranjang piknik di tangannya, dan menyimpan kotak biola milik Putri kembali ke ruang alat musik .


Sedangkan Alice berjalan mendahului untuk menyiapkan bak mandi air panas terlebih dahulu, tepat saat Alice selesai menyiapkannya, aku dan Chacha masuk . Mereka berdua memandikanku secara kilat lalu kembali ke ruang ganti di mana Deenna sudah siap sedia .


Aku di dandani secepat mungkin oleh 4 orang pelayanku sekaligus, setelah 15 menit kemudian aku sudah siap untuk menghadiri makan malam bersama Raja Damien dan Ratu Carissa yang mungkin saat ini sudah menanti kedatanganku .

__ADS_1


Aku dan Deenna berjalan cepat ke istana utama, aku selalu melihat waktu di sepanjang jalan ke istana utama . Aku sadar sudah terlambat 10 menit, otakku mulai berputar untuk mencari alasan yang akan digunakan pada Raja dan Ratu nanti .


__ADS_2