Merubah takdir ' Mawar Putih '

Merubah takdir ' Mawar Putih '
BAB 33


__ADS_3

Curtis POV


Aku mengernyit bingung dengan tingkah mereka yang aneh, tapi saat ini aku sedang tidak dalam mood untuk peduli akan hal-hal yang remeh jadi kuputuskan untuk tak memperdulikannya .


Aku akan mengalihkan pandanganku ke arah lain ketika suara Cleo tadi terngiang lagi .


' Oh ya !! kakak tampan jangan lupa bawakan kotak biolaku juga nanti '


Aku memejamkan kembali mataku dan menghela nafas keras, ' sangat mengesalkan ' batinku . Aku berfikir ingin sekali mencoba tak menurutinya saat ini, tapi entah kenapa tanpa kusadari tubuhku sudah berbalik dan mulutku sudah memanggil Pak Lin kemari .


" Pak Lin !! " seruku keras


Pak Lin dan Elis yang sedari tadi ragu-ragu dan takut pun terlonjak kaget dengan suara keras Tuan Mudanya yang memanggil, Pak Lin menelan ludah kesulitan ' Tuhan ... aku dalam masalah ' pikirnya . Ia sungguh menyesali menuruti rasa ingin tahunya sehingga datang kemari tadi .


Pak Lin pun maju perlahan dengan hati-hati, kepalanya ia tundukkan sedalam mungkin . Raut wajah Tuan Mudanya sangatlah menakutkan saat ini, ia mengernyitkan alisnya sangat marah, sorot matanya tajam, ia mengatupkan rahangnya dengan keras, dan nada suaranya sangatlah mengintimidasi, mencekik siapapun hingga ketakutan . Jantung Pak Lin berdebar keras menanti kemarahan yang akan di luncurkan oleh Tuan Mudanya, sedangkan Elis ia masih sembunyi di sudut villa masih .  Kadang kepalanya mengintip keluar dari tembok bangunan memperhatikan situasi ini dengan cemas dan khawatir .


Aku tak memikirkan sama sekali ekspresi apa yang ada pada raut wajahku saat ini, aku mencoba sebaik mungkin untuk mengendalikan kekesalanku agar tak berimbas pada orang lain . Tapi aku sedikit bingung mengapa semua orang melihatku dengan raut wajah ketakutan ??!!


" Bawakan kemari, kotak biola milik Cleo " perintahnya datar


Pak Lin mendongak sedikit dengan keterkejutan di hatinya, ia mengira akan di marahi olehku karena rasa ingin tahunya yang berlebihan . Tapi ia tak menyangka hanya akan mendapatkan perintah sederhana seperti ini, tanpa kalimat amarah satu katapun .


Aku yang melihat Pak Lin masih mematung tak bergerak sedikitpun seusai aku berkata menjadi sangat tak senang, aku mengernyitkan dahiku melihat ekspresinya yang terkejut seolah tidak percaya . ' Apa ia ingin aku memarahinya juga ?? ' batinku


" Cepat " ulangku dengan nada lebih dingin


Pak Lin pun tersadar lalu memberi hormat dan berlari kecil kembali ke dalam villa untuk mengambil barang . Tak lupa ketika melewati tingkungan, ia meraih Elis yang masih mengintip dengan cemas di balik tembok .


" Tuan ... kudanya " cicit bocah laki-laki kecil tadi


Aku menoleh dan menemukan bocah itu kini tengah menunduk sambil memegang tali pengekangan kuda dan berdiri di belakangku, terlihat peralatan untuk berkuda pun sudah di pasang dengan rapi di punggung kuda . Aku berjalan menghampiri kuda tua ini, ' lumayan ' batinku sambil memperhatikan kelayakan kuda tua yang biasanya menganggur di villa .


" Hemb " gumamku puas


Bocah pelayan itu mengerti maksudku dan memberikan tali pengekang yang ditangannya ke padaku, aku menggenggam talinya dan melompat ringan ke atas kuda . Kudanya terkejut dan meringkik pelan tapi masih berdiri tegak dengan patuh, ' aku harus bergegas, sebelum gadis nakal itu tersesat ' pikirku .


Jadi aku menjejak kudanya hingga melaju cepat meninggalkan bocah pelayan laki-laki itu tanpa sepatah katapun . Bocah itu menghela nafas lega melihat kepergianku, ia pun kembali duduk di atas tumpukan jerami sebelah tiang bambu sambil memandangi koin emas yang dia dapat tadi .


Aku melajukan kudaku keluar dari villa, ketika sampai di pintu depan villa aku berpapasan dengan Pak Lin yang berlari keluar membawa kotak biola yang kuminta tadi . Pak Lin berlari terburu-buru ketika mendengar suara tapak kaki kuda yang datang . Dan ketika ia sampai di pintu depan tepat ketika aku lewat, aku berhenti menunggu Pak Lin yang berjalan cepat kemari menyerahkan kotak itu .


Setelah menerimanya tanpa sepatah katapun aku kembali melajukan kuda dengan cepat keluar dari villa, melewati gerbang dan berlari menuruni bukit melewati kebun buah di sisinya .


Kuda tua ini tak seburuk perkiraanku, ia masih dapat berlari dengan cepat dan lincah di jalan berbatu perkebunan . Aku melewati kebun buah dengan kencang dan beberapa pekerja yang mendengar derap kaki kuda yang keras pun menoleh memberi salam ketika aku lewat . Aku melajukan kudaku kencang hingga mencapai kaki bukit dengan waktu sangat singkat .


' kemana kiranya gadis kecilku pergi ?? ' pikirku


Aku berfikir sambil melajukan kudaku perlahan keluar dari area perkebunan . Aku masih tenggelam dalam pikiranku ketika terdengar suara akrab yang memasuki pendengaranku .


" Kakak tampan !! " serunya


Aku menoleh ke arah suara itu berasal dan melihat gadis kecilku berada di posisi yang sangat tidak enak di pandang ....


Cleo POV


Aku menggoda Curtis lalu kabur secepat mungkin untuk menghindari amukannya, aku melajukan kuda melewati perkebunan dan menuruni bukit . Para perkerja yang berada di samping jalan setapak melihatku dengan ekspresi yang lucu, mereka terkejut, heran, dan kagum secara bersamaan melihat seorang gadis bangsawan yang berkuda seperti seorang pria .


Aku tersenyum dan melambaikan tangan pada mereka ketika ku lewati, ' bodohnya kau Cleo, kau kan tak tahu arah !! bertindak sembarangan sampai kabur duluan tapi ujung-ujungnya tetap harus menunggu Curtis datang . Bukankah ini sama saja dengan menyerahkan kepalamu dengan suka rela ' renungku dalam hati sambil memperlambat laju kudaku .


Aku menoleh ke kanan dan ke kiri melihat sekeliling kebun buah, tak terasa sudah sampai bawah bukit . Aku menghentikan laju kudaku dan berbelok ke belakang .


" Kenapa lama sekali ?? " gumamku


' Apa Curtis marah dan memutuskan tak mengikutiku , tak mungkin kan kakak tampan semudah itu merajuk ??!! ' pikirku

__ADS_1


Aku memutuskan untuk menunggu disini jadi aku melompat turun dari kuda dan mengikatnya di salah satu cabang pohon apel yang rendah . Aku berjalan-jalan mengelilingi pohon-pohon apel yang sedang dalam musim berbuah, aku memilih salah satu yang bercabang lebat dan mudah untuk di panjat . Aku tersenyum miring dan melepas sepatuku, menyisakan kaus kaki sutra tipis yang tak mengganggu lalu aku mulai memanjat ke atas pohon apel yang rindang itu .


Aku memilih salah satu cabang yang tebal dan nampak kokoh, lalu aku menempatkan diriku dengan nyaman di atasnya . ' Huh .... untung saja aku memakai gaun yang ringan hari ini ' pikirku senang . Aku membuat posisi diriku yang paling nyaman untukku tanpa memperdulikan sekitar, karena kuperhatikan tadi sangat sepi . Jadi aku bersandar di batang pohon dan menaikkan sebelah kakiku ke dahan sedangkan yang satunya ku biarkan bergantung santai ke bawah . Aku meraih sebuah apel yang matang di atasku dan mulai menggerogotinya, gaunku sedikit tersingkap sampai ke lutut karena posisi dudukku yang ceroboh .


Semilir angin bertiup membawakan udara yang sejuk dan segar khas dataran tinggi, aku tersenyum senang dan mulai bersenandung riang sambil sesekali menggerogoti apel di pohon .


" Baiklah, aku akan menunggu kakak tampanku dengan tenang disini " gumamku kecil


Beberapa saat kemudian terdengar suara derap kaki kuda yang menuruni bukit, aku melirik sekilas dan berkeluh dalam hati ' akhirnya datang juga .... ' .


Curtis menunggangi kuda dengan kencang menuruni bukit, ' sepertinya kuda tua itu cukup kuat juga ' batinku . Curtis sesekali melihat-lihat ke sekitar untuk mencariku, aku tersenyum kecil dan berseru kencang .


" Kakak tampan !! " seruku keras


Curtis berhenti dan menoleh ke arahku, ia langsung mengernyitkan alisnya tak suka . Aku tertawa kecil melihatnya yang memandang ke arahku dengan jengkel, aku terkikik senang .


" Kakak tampan kenapa lama sekali ?? " kataku manja dengan mulut cemberut


" Turun !! " katanya dingin


Aku menggigit apelku dengan santai dan melirik ke bawah lalu menatap Curtis dan berpura-pura takut .


" Tidak bisa, sangat tinggi " kataku memelas


Curtis tetap tak berreaksi apapun, ia tak menanggapi leluconku kali ini .


" Turun !! " katanya lagi singkat


Aku menyerah menggodanya dan mulai menghabiskan gigitan terakhir apelku lalu melemparnya secara sembarangan ke belakang .


" Tidak sopan " gumamnya pelan


Curtis yang melihatnya semakin kesal pun berpura-pura merajuk kali ini, aku mengatupkan bibirku erat dengan cemberut sambil melempar muka ke arah lain .


Curtis menghela nafas lelah melihatku yang mulai merajuk padanya, ia melompat turun dari kudanya dan berjalan ke bawah pohon tempatku duduk . Curtis berdiri tegak dan mengadah menatap diriku dengan datar lalu berkata dengan lembut, nada suaranya seolah membujukku yang kesal .


" Turunlah, nanti jatuh " ujarnya singkat


Aku menoleh kebawah lalu menghadapnya dan tersenyum manis, kurentangkan kedua tanganku ke arahnya . Curtis kebingungan, ia mengernyit heran .


" Tangkap aku " kataku sambil melompat turun tiba-tiba dari atas


Curtis sangat terkejut, matanya melebar melihatku yang tiba-tiba melompat tanpa memberitahunya lebih awal . Curtis melompat ringan ke depan dan menangkapku dengan kedua tangannya, aku di pegangnya erat di pelukannya seolah takut aku akan terluka . Aku pun memeluk lehernya erat-erat dan mencium aroma khas tubuh Curtis, yang dingin dan menenangkan tak tercampur oleh parfum .


Setelah kaki kami menapak tanah, aku melepaskan peganganku di lehernya dan merengsek keluar dari pelukan Curtis, ia melonggarkan tangannya tapi masih memegangi pinggang sedikit agar aku tidak limbung . Setelah memastikan aku berdiri dengan tegak, ia melepaskan tangannya . Curtis menatapku dingin, tapi dalam sorot matanya yang tajam itu terdapat banyak keluhan dan ketidakpuasan terhadapku .


Aku tersenyum tenang, menunggunya mengeluarkan kata-kata keluhan yang tertahan di mulutnya kini .


" Kenapa ?? " tanyanya singkat


Aku memasang ekspresi bingungku, padahal aku sangat tahu maksud dari pertanyaannya itu .


" Apa ??!! " tanyaku balik dengan ekspresi polos


Curtis mengernyitkan alisnya tak sabar, melihatku yang berputar-putar seolah tak mengerti .


" Kau tahu itu berbahaya .. " geramnya tertahan


Aku melemparkan senyum manis andalanku dan berkata pelan, " bukankah ada kau di sini ... "


" ..??? " kali ini giliran Curtis yang  mengernyitkan alisnya tak mengerti maksudku .


" aku percaya padamu .... " kataku sambil menatapnya tulus

__ADS_1


Curtis tercengang, ia tak bisa berkata-kata


" Kakak tampan, aku yakin kau tak akan membiarkanku terluka jadi aku melompat tanpa ragu " lanjutku


Sorot mata Curtis bergejolak penuh emosi yang tak bisa di sembunyikannya, meskipun ekspresinya masih datar tapi daun telinga kini merah padam . Aku tersenyum dalam hati melihat pria polos di hadapanku ini, aku menatapnya dan yakin ketulusanku tersampaikan langsung padanya .


Aku meraih dan menarik tangannya yang masih berdiri mematung . Curtis melihat tangan kami yang terpaut, lalu menundukkan wajahnya dalam-dalam . Rona merah cerah menyebar di seluruh wajah hingga leharnya .


" Ayo jalan " kataku


" Uhm " gumamnya singkat


Kini Curtis sangatlah penurut, ia mengikuti apapun kataku seperti anak yang penurut . Ia juga sepenuhnya lupa akan keluhan  padaku sebelumnya .


.


.


.


Kami menunggangi kuda masing-masing melewati pasar di jalan utama desa, aku menoleh ke kanan dan ke kiri dengan rasa ingin tahu .


" Apa yang kau inginkan ?? " tanyanya


" Entahlah ... " gumamku bingung


Aku melihat sekeliling dan memperhatikan orang-orang sekitar yang melihat ke arahku dengan penasaran, aku mulai melihat penampilanku sendiri lalu menengok ke arah Curtis yang masih acuh tak acuh terhadap sekitar . ' apa aku masih terlalu mencolok ?? ' pikirku .


" Kakak tampan, ayo ke penjahit terbaik di desa ini . Aku ingin buat beberapa baju " kataku


Curtis sedikit bingung dengan permintaanku, tapi ia tak mempermasalahkannya lebih jauh dan segera memimpin untuk pergi ke penjahit terbaik yang di ketahuinya .


Kami berkuda melewati jalan besar dan berbelok ke beberapa belokan sampai ke sebuah rumah yang cukup luas dan unik . Aku turun dari kuda, lalu Curtis mengikatnya ke pagar yang ada di halaman . Kami berjalan masuk ke dalam, desain interior bangunan ini cukup unik dan penuh warna . Kain-kain berwarna-warni menghiasi dinding-dinding, pita-pita serta renda menjulur turun dari langit-langit, ada juga beberapa aksesoris dan manik-manik yang berdesakan di rak-rak kecil ujung .


Seorang gadis kecil yang cukup imut berlari menghampiri kami, mungkin ia seorang pelayan di sini .


" Tuan dan nyonya, apa ada yang bisa saya bantu ?? " tanya polos dengan suara cempreng


Curtis yang mendengar perkataan polos dari pelayan kecil ini, ia tersedak dan terbatuk-batuk serta telinganya mulai memerah malu . Sedangkan aku terkikik pelan sebagai respon, gadis kecil itu menjadi bingung melihat respon kami setelah ia berbicara .


Seorang wanita paruh baya keluar dengan terburu-buru ketika mendengar suara kami, ia nampak panik melihat penampilanku yang sangat mencolok serta tempramen Curtis yang tinggi . Ia juga menyadari bahwa status kami tinggi, sehingga ia segera bergegas kedepan dengan gugup .


" Tuan Muda dan Nona, mohon maafkan kelancangan putriku ... " ujarnya sambil menunduk dalam-dalam ke arah kami


" Sudahlah, aku tidak tersinggung sama sekali . Tidak perlu terlalu sopan " kataku ringan


Wanita itu menegakkan tubuhnya dengan gugup ia masih ragu-ragu, ia melirikku yang tersenyum ramah padanya . Melihatku yang sungguh-sungguh tak mempermasalahkan perbuatan tak sopan putrinya pada kami, dan masih tersenyum dengan ramah, ia pun segera melepaskan ketegangannya sendiri dan bersikap sopan .


" Tuan Muda dan Nona, adakah yang bisa saya bantu ?? " tanyanya sopan


" Aku ingin membuat beberapa gaun yang nyaman " kataku


" Keterampilan saya sangat biasa, mari saya tunjukkan beberapa model rancangan gaun yang kubuat . Mungkin ada yang beruntung menarik minat nona " kata wanita itu lalu menunjukkan jalan ke bagian dalam ruangan


Aku mengikutinya ke bagian dalam ruangan dengan Curtis yang setia mengekor di belakang tanpa sepatah katapun, di sana terdapat beberapa gaun yang terpajang . Baik itu sudah jadi maupun yang setengah jadi terdapat ciri khasnya yang sederhana khas pedesaan, aku mengikutinya ke arah mesin jahit sederhana di sudut ruangan .


Ia lalu merogoh buku yang seperti tumpukan lembaran di ikat bersama, ia lalu membawanya ke arahku dengan gugup .


" Nona, usahaku sangat kecil sehingga tak memiliki gambar contoh untuk desain gaunku . Ini adalah beberapa sketsa saat aku membuat gaun, anda dapat melihatnya jika berkenan " jelasnya gugup


Aku menerima buku itu dengan sopan dan tetap tersenyum lembut .


" Tidak perlu sungkan, terimakasih " kataku santai

__ADS_1


Catatan dari emelin : " lagi sibuk banget nih, jadi sakit ... maaf banget kalo telat-telat update "


__ADS_2