
Gulungan padi emas bergoyang tertiup angin, beberapa burung pipit terbang mengintari di atasnya untuk mencuri beberapa bulir padi . Mereka memanfaatkan peluang dari para petani yang sedang istirahat di bawah pohon rindang . Para petani desa itu saling berbincang dengan akrab, ramah dan terbuka satu sama lain, para gadis dan ibu-ibu sedang menyiapkan hidangan yang di bawa mereka dari rumah untuk makan siang bersama-sama .
Setelah selesai makan siang dan istirahat sejenak, mereka kembali ke sawah untuk memanen padi yang telah siap panen . Mereka saling bergotong-royong untuk memotong batang padi di sawah lalu menumpuknya di tepi hingga membuat sebuah gunung padi yang besar . Sedangkan para wanita dan gadis menumbuk lesung di tepi sawah sambil bercanda ria bersama-sama, kadang para gadis seusiaku menyanyi untuk mengiringi suara irama lesung padi . Anak-anak kecil berlarian riang di tepi sekeliling sawah sambil membawa kincir bambu, tawa mereka terdengar sampai ke telingaku .
Aku memperhatikan mereka di bawah naungan pohon rindang di atas bukit yang tak jauh dari sawah tempat para petani itu beraktifitas . Setelah tadi berkeliling pasar dengan singkat aku menemukan tidak ada hal yang menarik, mungkin karena desa Reives ialah desa kecil sehingga tak ada pedagang yang tertarik sehingga semua barang di pasar ialah buatan tangan dari penduduk setempat .
Aku melihat tak ada lagi yang bisa menarik minatku, lalu mulai mengeluh pada Curtis . Curtis pun membawaku ke pinggir desa untuk beristirahat sambil melihat pemandangan hamparan padi yang menguning cantik . Kami mengikat kuda di bawah bukit kecil, membiarkan mereka untuk merumput di bawah bukit sambil beristirahat sejenak . Sedangkan aku menghabiskan waktu di atas bukit sambil mencicipi berbagai rasa permen yang kubeli tadi .
Aku duduk berselonjor sedangkan Curtis, ia berbaring nyaman di atas rumput hijau . Menggunakan bantal sebelah lengannya, Curtis menutup mata abu-abunya yang selalu tajam itu . Bulu matanya lentik mengaburkan fitur dingin di wajahnya, kini wajah tampan itu sangat memikat yang melihatnya .
" Kakak tampan , aku bosan ... " keluhku lagi
Curtis diam, ia hanya membuka matanya sedikit dan melirikku yang sedang mengulum permen sambil cemberut . Lalu ia menutup matanya lagi, tak menanggapiku .
" Kenapa tak ada pertunjukan yang menarik di pasar ... ?? " ujarku tetap mengeluh meskipun tak di tanggapi
" Kakak tampan, apa kau tahu tempat yang menarik ?? " kataku sambil menoleh kearahnya
" Lain kali " kata Curtis singkat tanpa membuka matanya
Aku terdiam lalu menghela nafas panjang, aku melemparkan tubuhku kebelakang dan ikut berbaring di rumput seperti Curtis .
" Ha ...... sangat bosan .... " teriakku
Curtis mengernyitkan alisnya terganggu tapi tetap tak bergeming seperti sebelumnya . Aku menutup mataku menikmati suara gemerisik daun pohon yang bergesekan tetiup angin, tawa anak kecil di kejauhan, dan nyanyian disertai irama lesung dari petani .
Aku tersenyum tenang dan hampir tertidur ketika aku tiba-tiba teringat sesuatu . Aku melompat duduk sambil berteriak sehingga mengejutkan Curtis yang tiduran di sampingku .
" Ah !!! aku ingat ..!!! " teriakku tiba-tiba
Curtis terkejut dan membuka matanya kaget, nyatanya ia akan memarahiku tapi ia kebingungan melihatku yang sudah berlari menuruni bukit .
" Cleo !! " serunya memanggilku
" Sebentar ... " teriakku tanpa menoleh
Aku berlari menuruni bukit ke arah kuda-kuda beristirahat, aku mengambil kotak biolaku yang tergantung di pelana kuda . Lalu kembali berlari ke atas bukit tempat Curtis menungguku dengan kebingungan .
" Aku mengambil ini " kataku sambil menunjukkan kotak biola yang ku tenteng di tangan
" Aku berencana memamerkan padamu tentang kemampuan bermusikku, hah ... panas sekali ... " kataku diakhiri keluhan
Aku mendaki ke atas dengan susah payah, lalu melemparkan pantatku kembali di samping Curtis dan menghela nafas lega sambil menyeka keringatku dengan lengan gaunku yang lebar .
Curtis melihat butir keringat berkilau yang terlewat di dahiku, ia mengambil sapu tangan kain di sakunya dan membantuku menyekanya dengan perlahan . Aku tersenyum singkat lalu kembali fokus membuka kotak biola kesayanganku .
Kotak biola ini sekali lihat sangat mewah tapi Curtis hanya meliriknya sekilas tadi pagi dan tak merasakan rasa penasaran lainnya . Aku mengangkat biola putih salju yang sangat indah, lalu tersenyum sambil mengusapnya sedikit .
" Ini biola kesayanganku, tubuh ini lemah jadi aku tak di ijinkan keluar is ... rumah . Maka dari itu aku hanya bisa belajar berbagai hal untuk mengisi waktu luang " kataku sambil menunduk melihat biola di tanganku
Curtis menatapku datar, tapi sorot matanya menatapku dalam . Seolah ia mewakili perasaannya yang tak bisa ia katakan, " pasti sulit " katanya singkat
Aku menegakkan kepalaku dan menoleh ke samping menatap Curtis, aku tersenyum dengan tak berdaya lalu berkata pelan .
" Hmm, sedikit . Hah ... bagaimanapun aku harus sempurna untuk bisa bertahan ... " ujarku
Lalu aku mengalihkan pandangan menatap lurus ke depan ke arah penduduk riang di kejauhan, senyum indah merekah di bibir merah cerahku .
__ADS_1
" Lagipula tubuh ini mempunyai otak yang pintar, jadi tak terlalu membuatku susah ... " kataku ceria kembali
Curtis melihat berbagai perubahan emosi yang kontras dengan sekejap mata pada gadi kecilnya, ia selalu merasa gadis kecilnya sangatlah berbeda dari gadis seusianya . Kadang ia bersikap kekanakan, jahil, dan ceroboh sesuai usianya . Kadang juga ia mempunyai trik, rencana, dan pola pikir yang selayaknya milik orang dewasa . Kadang Curtis berfikir apakah setiap gadis bangsawan kelas atas selalu di tuntut menjadi sempurna, hingga mengakibatkan gadis kecilnya dewasa sebelum waktunya, hal itu mengakibat Curtis sering tak mengerti cara bicara Cleo yang sedikit aneh . Seperti saat ini ia berkata ' tubuh ini ' bukankah normalnya ' tubuhku ', kata-katanya seolah badan yang di pakai bukan miliknya .
Tapi bagaimana pun dan seperti apapun gadis kecilnya, bagi Curtis ia tetaplah Cleo .. Cleo-nya ....
Curtis termenung diam menatap Cleo yang kini tersenyum cerah kembali, ia sadar tak bisa mengatakan atau ikut campur dalam aturan keluarga bangsawan karna ia bukanlah siapa-siapa bagi gadis di hadapannya ini .
Aku tersenyum lalu bangkit sambil mengangkat biolaku .
" Mau melihat pertunjukan musik langsung, aku menjamin kau tak akan menyesal " seruku lantang sambil tersenyum iseng
Curtis tanpa sadar menaikan sudut bibirnya menatap gadis kecilnya yang tersenyum mempesona di hadapannya, ia menaikkan sebelah alisnya menanggapi perkataanku . Ekspresi dinginnya melembut lalu ia bergumam pelan setuju .
" Uhm " gumamnya
Aku tersenyum sedikit lalu menaikan biola kesayanganku ke pundakku aku menutup mataku dan mulai memainkannya, aku meresapi melodi yang mulai mengalun pelan sangat elegan khas gadis bangsawan yang terdidik dengan rapi tapi tetap tersirat juga melodi bebas tak terkekang ciri khas diriku .
Curtis mendengarkan permainan sempurna alunan melodi yang naik turun dengan halus, ekspresi nyaman dan tentram yang terpahat di wajah nan cantik jelita gadis kecilnya . Curtis menatap dengan terpesona pada penampilan yang memikat setiap inci di tubuhnya, ia tak berkedip sedikitpun sampai akhir lagu ...
Aku membuka mataku dan pandangan kami bertemu bersamaan, aku tersenyum tulus pada pemuda di hadapanku ini . Pemuda pertama yang aku percayai da perlakukan dengan sungguh-sungguh selayaknya seorang teman sejati . Aku menurunkan biolaku dan maju selangkah, ku turunkan pinggangku, membungkuk ke depan tepat wajah kami berhadapan tanpa jarak .
" Bagaimana ?? tidak menyesal bukan ??! " tanyaku dengan keyakinan sepenuhnya
Curtis menatapku dalam diam yang panjang, ekspresi dinginnya hilang tapi raut wajahnya tetap datar tak berekspresi . Tapi terdapat gelombang emosi yang dalam berputar di pandangan matanya yang biasanya acuh tak acuh .
Curtis membuka mulutnya ingin menjawab ketika tiba-tiba terdengar bunyi ranting yang patah di semak tak jauh dari posisi mereka saat ini .
" Siapa ??!!!! " seru Curtis lantang
Curtis berdiri secara langsung dan mengarahkan diriku di belakang punggungnya, ia menatap dengan nyalang ke arah semak-semak asal suara tersebut . Curtis meruntuki dirinya yang sempat lengah dan tak memperhatikan sekitarnya, selama ini ia selalu peka dan sensitif terhadap hal-hal apapun yang di sekitarnya . Kali ini ia terlalu terfokus pada penampilan memikat dari gadis kecilnya sehingga tak sadar ada seseorang yang sudah sedekat ini dengan mereka .
Aku berpegang pada lengan Curtis dan mengintip sedikit pada semak-semak yang kini bergoyang dengan suara yang gemerisik kasar .
3 kepala kecil muncul dengan takut-takut dari balik semak-semak tadi, 3 anak kecil ini merupakan bagian dari anak-anak yang sedang bermain bersama-sama di tepi ladang di bawah . ' kenapa mereka ada di sini ?? ' pikirku bingung .
Merasa tak ada yang berbahaya lagi aku segera keluar dari balik punggung Curtis, 3 orang anak kecil itu terdiri dari 2 bocah laki-laki yang seperti berusia 5 tahun dan seorang bocah perempuan yang lebih muda, mungkin sekitar 4 tahun .
Wajah anak-anak kecil itu sangat ketakutan, mereka sangat gugup hingga akan menangis . Bocah perempuan yang berada tengah-tengah terlihat sangat ketakutan, ia berpegang erat pada tangan bocah laki-laki di sampingnya sambil menundukkan kepalanya . Wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca, ia menggigit bibirnya kuat-kuat menahan tangis .
' Kenapa kesannya kami sedang menindas mereka ?? ' batinku
Plak
Aku menampar lengan Curtis keras, lalu mulai mengomel, Curtis menaikkan sebelah alisnya bingung .
" Lihat ... kau menakuti mereka kakak tampan !!! " seruku sambil mengedipkan sebelah mataku
Curtis diam tak merespon, aku tersenyum ramah pada ketiga bocah yang masih melirik kami dengan takut-takut itu .
" Bo ... anak kecil, apa yang kalian lakukan bersembunyi di sana ?? " tanyaku ramah
Mereka masih menunduk saling melirik satu sama lain, akhirnya seorang bocah laki-laki kurus di sebelah kiri memberanikan dirinya maju dan menjawab pertanyaanku .
" K .. ka .. kami mendengar suara musik ... kami, kami hanya penasaran ... " katanya sepelan nyamuk
" Ah ... kalau hanya ingin mendengar tak perlu sembunyi . Ayo duduk bersama !! " kataku santai
__ADS_1
Ketiga bocah itu kini terkejut, mereka mengadah menatapku dengan tak percaya . Aku tersenyum lembut meyakinkan mereka yang ragu-ragu dan sambil memilin baju kusam yang mereka gunakan .
" Ayo ... tak perlu takut, kami tak akan memakanmu " kataku iseng
Aku meraih dan menarik lembut tangan kurus dari bocah laki-laki yang berbicara denganku tadi, ia nampak terkejut ketika aku menariknya . Ia bingung, sedikit takut tapi tak melawan, anak perempuan dan laki-laki yang terakhir pun mengikuti di belakang dengan masih sedikit ketakutan dan penasaran .
Aku menarik mereka kembali ke bawah bayangan pohon, Curtis mengikuti dengan patuh di belakangku . Aku kembali melemparkan pantatku dengan nyaman di atas rumput yang cukup tebal, Curtis kembali ke posisi tiduran di tempatnya tadi . Ia menutup matanya, sikapnya berubah kembali menjadi acuh tak acuh seperti biasanya .
Aku menoleh heran melihat ketiga bocah itu masih berdiri tak jauh dari kami .
" Hah .... ayo duduk !! " kataku sambil menepuk-nepuk rumput di tanah
Mereka saling melirik kembali ketika mendengar perkataanku, seperti ada yang tak bisa mereka katakan . Bocah perempuan kecil yang berada di tengah-tengah itu melirik kecil ke arah Curtis yang tengah berbaring cuek . Aku menoleh melihat Curtis yang masih menutup matanya tidak peduli, ' apa mereka takut pada Curtis ?? ' pikirku
" Jangan takut, ayo duduk sini . Kakak ini hanya terlihat galak saja, tapi sebenarnya dia orang yang baik " kataku menjelaskan
Akhirnya mereka duduk dengan pelan-pelan di sampingku, mereka mencari posisi yang terjauh dari Curtis . Aku tersenyum geli melihat tingkah mereka .
" Mau permen " kataku sambil menawarkan berbagai jenis permen yang ada di kotak
Mata anak-anak kecil itu segera berbinar cerah ketika melihat berbagai permen lezat yang ada di kotak, mereka sepenuhnya melupakan ketakutan mereka tadi .
" Ambillah yang kalian suka " kataku sambil tersenyum lembut
Mereka melihatku sedikit sebelum mengambil 1 buah permen kesukaan mereka masing-masing .
" Terimakasih " seru mereka bersamaan
" Tak masalah, ambil lagi sesuka kalian " kataku
Lalu mereka mulai menikmati permen di mulut mereka, wajah mereka memerah karena senang . Anak-anak ini walau terlihat kurus dan berpenampilan sedikit lusuh tapi mereka telihat tetap sehat, jadi aku berfikir ' desa kecil ini tak terlalu miskin ' .
Aku meraih biolaku dan mulai memainkan sebuah lagu lagi . Tapi begitu aku selesai, aku melihat anak-anak kecil itu menatapku dengan kekaguman yang terlalu berlebihan . Aku terbatuk canggung terhadap tatapan polos mereka, membuatku sedikit salah tingkah .
Curtis melirik dan tersenyum sedikit melihatku yang kikuk, ia kembali menutup mata agar aku tak bertambah malu . Bocah-bocah itu bertepuk tangan dengan antusias .
plok ... plok ... plok ..
" Nona, sangat bagus !! " seru bocah laki-laki kurus itu
Bocah laki-laki satu-satunya mengangguk-angguk setuju .
" Nona, sangat pintar !! ... dan cantik " kata bocah perempuan malu-malu
Bocah laki-laki tadi kembali mengangguk-angguk setuju . Aku tertawa canggung, lalu mulai mengalihkan topik .
" Hahaha ... terimakasih " kataku kikuk
" Oh ya, apa yang kalian lakukan di sini ?? " kataku mengalihkan obrolan
Tapi sedetik kemudian aku menyadari pertanyaanku barusan terkesan bodoh, ' tentu saja mereka menemani orang tuanya bukan ?? ' runtukku dalam batin . Curtis ingin tertawa melihat reaksiku yang canggung, tapi ia hanya menahan di dalam . Ekspresinya masihlah kaku dan datar di luar .
Untunglah yang kutanyai ialah seorang anak kecil yang masih polos, jadi mereka tak berfikir ada yang salah dengan pertanyaanku dan menjawabnya dengan jujur .
" Aku menemani ibu dan kakek " ujar bocah perempuan itu sambil mengunyah permen cokelat yang cukup besar di mulutnya
" Ah ... begitu ya ... " sahutku sambil menggaruk-garuk ujung hidungku yang tak gatal
__ADS_1
' Ah .... sial !! aku benar-benar tak bisa bergaul dengan anak kecil !!! ' batinku frustasi