
" Kalau begitu ini adalah kesalahan saya . Yang Mulia Putri mohon ampunannya " ujar Kapten Molly dingin
Aku segera melambaikan tanganku sambil mengucapkan ' tidak apa-apa ' . Kapten Molly kembali diam, ia terlihat tidak sedang menyesali perkataannya melainkan kesal karena ucapan Albert atau kenyataan, mungkin . Sedangkan Albert terlihat tidak peduli justru ia merasa sedikit senang jika Kapten Molly terganggu, Albert hanya ingin cepat-cepat melewati kawasan para pelayan ini . Suasana menjadi canggung seketika, aku memulai pembicaraan mencoba mencairkan suasana .
" Nampaknya sudah siang, ayo mari segera kembali ke lapangan latihan untuk makan bersama " kataku riang
Kapten Molly mendongak melihat langit yang terik, lalu menyetujui " Baik Yang Mulia Putri "
Kapten Molly pun memacu kudanya kembali berlari memimpin jalan keluar dari wilayah kediaman para pelayan dan prajurit istana . Kami pun melewati perkebunan sayuran segar di istana, terlihat para gadis kecil pelayan sedang memetik sayur-sayuran, paprika dan tomat yang sudah matang . Mereka menoleh sekilas ketika mendengar suara tapak kaki kuda lalu segera menunduk ketakutan lagi . Aku pun menoleh sedikit ke arah hamparan hijau ladang sayuran yang segar itu lalu segera kembali fokus untuk mengikuti Kapten Molly .
Setelahnya kami melewati taman belakang istana dengan kolam-kolam ikan hias yang lebarnya berbeda-beda dengan patung khas eropa yang berdiri di tengahnya . Kapten Molly mengendarai kuda berkelok-kelok melewati kolam ikan besar dan kursi taman yang ada, ada juga beberapa pohon rindang yang ada di tepi halaman .
Kapten Molly berbelok ke arah pepohonan rindang tersebut, aku sedikit terkejut Kapten Molly memilih jalan pintas ini karena semak-semak di sana cukup tinggi tapi Kapten Molly hanya melewatinya dengan santai . Kami berkuda menerobos semak belukar yang sangat tinggi, dan ternyata ini mengarah ke wilayah perpustakaan istana yang ada di wilayah paling belakang istana Kerajaan Benedicte .
Aku menoleh sejenak pada bangunan berbentuk menara tinggi nan tua itu, kilas kejadian melintas sejenak membuatku tersenyum kecil . Pintu besi di depan perpustakaan sudah di perbaiki sehari setelah kejadian pendobrakan hari itu, masih teringat jelas olehku ketika aku dengan bodohnya terguling di anak tangga karena ketakutan oleh suara Raja Damien .
Ah .... aku juga masih mengingat malam pertamaku keluar dari istana Kerajaan Benedicte, aku menari dengan bebas di tengah alun-alun kota bersama para gadis rakyat jelata . Juga kakak tampan yang berperilaku dingin dan acuh tak acuh tapi sangat perhatian dan hangat dalam sikapnya menjagaku . Kami juga berjanji untuk bertemu setiap hari libur di akhir bulan, hehehe aku mempunyai seorang teman yang sesungguhnya sekarang . Tunggu ... Curtis tidak mungkin melupakan hari janji kita kan ?? awas saja jika ia berani melupakannya ...!!! Huh ... !!!
Pikiran ku berkeliaran kesana-kemari tak jelas dan tanpa terasa kini kami sudah kembali ke arena pelatihan . Kami masuk sambil masih menunggangi kuda, dari arah gerbang terlihat lapangan pelatihan tidak terlalu padat seperti tadi hanya tersisa beberapa puluh orang saja . Aku menoleh ke kanan-kiri di tepi lapangan, banyak sekali prajurit-prajurit tadi sedang istirahat dan makan siang bersama-sama . Mereka bersenda gurau bersama-sama apalagi ketika salah seorang temannya sedang menceritakan lelucon yang menimbulkan tawa di seluruh penjuru .
Mereka terlihat senang dan bahagia karena inilah pertemanan yang tulus sebenarnya . Para Kapten prajurit ataupun pemimpin tiap regu duduk dan bercanda bersama, Kapten Dan menoleh ketika melihat kami kembali . Ia akan bangkit berlutut untuk memberikan salam padaku tapi aku segera melambaikan tangan untuk mencegahnya, mengingat kejadian pagi ini masih membuat jantungku melompat keluar .
" Tidak perlu terlalu sopan, nikmati istirahat kalian " ujarku santai
" Terimakasih Yang Mulia Putri " ujar Kapten Dan mewakili semua orang
Akhirnya mereka hanya mengangguk singkat untuk memberi salam, aku pun tersenyum sopan membalasnya . Kami pun berkuda ke arah ruang peristirahatan khusus yang biasanya, ketika sampai di didepan bangunan sederhana tersebut Kapten Molly melompat turun dari kudanya diikuti olehku dan Albert . Para prajurit yang bertugas pun segera mengambil alih kuda dari tangan kami, aku sedang mengelus-elus surai pirang milik Blake ketika Kapten Molly datang ke arahku .
" Yang Mulia Putri silakan beristirahat dengan Tuan Muda Albelart " kata Kapten Molly
' Apa ia masih marah dengan Albert ya ?? ' pikirku bingung
" Kapten Molly tidak akan makan siang bersama kami ?? " tanyaku sopan
" Tidak perlu Yang Mulia Putri, karena rekan sesama prajurit sedang beristirahat juga maka saya akan bergabung dengan mereka " katanya santai
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku mengerti, ternyata Kapten Molly hanya ingin bergabung dengan teman-temannya maka aku tak bisa mencegahnya bukan .
" Baiklah saya mengerti, nikmati waktu istirahat anda juga Kapten Molly " kataku menyetujui
Kapten Molly pun memberi hormat singkat lalu pergi ke arah rekan sesama prajuritnya . Aku masuk ke dalam bangunan bersama Albert dari kejauhan sudah ada Deenna, Alice, Blance dan Chacha serta pelayan dapur sedang menungguku di depan pintu . Ketika mereka melihat kedatanganku para pelayan segera gaduh lalu Alice segera berlari ke arahku sambil memekik keras .
" Yang Mulia Putri datang .... Yang Mulia Putri datang .... " seru beberapa pelayan
" Putri ..... putri ..... anda sangat keren sekali tadi siang " seru Alice sambil berlari, bahkan suaranya sampai terlebih dahulu daripada orangnya
" Pelan-pelan ... jangan berlari " kataku pada Alice yang sudah ada di hadapanku
" Benar, Alice !! kau ini berlarian di hadapan tuanmu sangat tidak sopan !! " tegur Deenna keras
Alice serta pelayan-pelayan yang berseru antusias tadi segera menunduk diam karena Deenna sudah marah, aku segera melambaikan tanganku agar Deenna tidak terus mengomel . Albert mengikuti dengan diam di belakangku, kami memasuki ruangan para pelayan mulai menyajikan piringan hidangan di atas meja .
" Aku lapar ... Deenna ayo cepat siapkan makanannya " keluhku sambil menyeretnya masuk ruangan
Blance membantuku menyeka tanganku dengan handuk hangat, Blance mengelap dengan lembut kulitku yang sedikit kemerahan karena berkuda di luar arena . Albert pun menyeka sendiri tangannya dengan handuk dan air hangat yang di sediakan pelayan lainnya . Setelahnya aku dan Albert pun menikmati hidangan makan siang yang di sediakan, menu utama hari ini ialah ayam panggang dengan saus asam manis yang menggugah selera .
__ADS_1
Chacha dan Alice sedang sibuk memotong ayam utuh dan memisahkan tulang dari dagingnya untuk di sajikan kepadaku dan Albert . Aku memotong daging ayam yang ada di piringku menjadi sesuap kecil dan mengunyahnya dengan perlahan, tiba-tiba sesuatu terlintas di kepalaku .
" Apakah daging ayam di istana kita masih banyak ?? " tanyaku tiba-tiba pada Deenna yang berdiri menunggu di sampingku
" Jika saya tidak salah mengingat, mungkin sekitar 30 ekor daging ayam utuh masih tersimpan di kediaman Putri " jawab Deenna sopan, ia sendiri agak bingung mengapa Putri tiba-tiba bertanya tentang ayam
" Kalau begitu suruh koki dapur untuk menggunakan semua daging ayam yang siap untuk di masak hidangan seperti ini " kataku sambil menunjuk ayam panggang yang lezat di depanku
" Lalu berikan pada semua prajurit yang sedang beristirahat di luar, lakukan dengan cepat agar tidak menunda latihan . Kau bisa gunakan semua pelayan di kediaman untuk membantu, bawa juga pelayan-pelayan ini tinggalkan Alice dan Blance untuk melayaniku " perintahku langsung
Deenna sedikit terkejut dengan perintahku yang tidak biasa, tapi segera pulih lalu menunduk sopan mengerti
" Baik Putri, akan saya laksanakan sekarang " ujarnya mengerti
Deenna dan Chacha berbalik dengan para pelayan kecil tadi memberi hormat sopan akan berbalik meninggalkan ruangan ketika aku tiba-tiba berseru menghentikan . Deenna berbalik menunggu perintahku lagi
" Tunggu !!! mintalah 30 ekor lagi di istana utama dan pinjamlah beberapa kokinya juga untuk membantu memasak . Aku akan menjelaskan nanti pada ayah saat makan malam " tambahku
" Baik Putri, saya mengerti " kata Deenna sopan lalu berbalik pergi sepenuhnya .
Kini tersisa 4 orang di dalam ruangan, aku, Albert, Alice dan Blance . 2 orang sibuk menikmati hidangan dan 2 orang lagi sibuk menyajikan hidangan di piring, aku mengunyah ayam lezat ini dengan senang hati . Rasanya yang manis asam seperti barbeque sangat sesuai dengan seleraku, sayang sekali di sini tidak ada saus cabai yang pedas jika ada maka aku akan bisa menghabiskan seekor ayam seorang diri karena aku seorang pencinta makanan pedas .
Albert yang melihatku sedang menikmati hidangan ayam di depanku mengerutkan keningnya heran, ia sungguh tak bisa menyamai jalan pikiranku yang ingin memberi hidangan ayam panggang mewah kepada prajurit istana yang rendah . Albert melirikku sedikit, aku juga menyadarinya jika Albert melirikku ingin mengatakan sesuatu dari tadi, aku meletakkan alat makanku dan mengelap sedikit sudut mulutku .
" Aku sudah selesai . Alice, Blance bantu aku merapikan diri " kataku sopan
" Albert, nikmati makananmu aku akan segera kembali " ujarku padanya
Lalu aku beranjak berdiri ke dalam ruangan, Albert hanya berdehem mengerti . Tatapannya mengikuti sampai ke dalam ruangan, di dalam ruangan Blance dan Alice mulai mengganti baju beladiriku dengan set yang baru mereka pun menyeka sedikit tubuhku yang berdebu dengan handuk hangat .
Nampaknya gadis remaja ini sudah menahan ucapannya sedari tadi karena ada Deenna, sekarang karena hanya ada kita bertiga di sini ia tak bisa menahannya lagi . Aku tersenyum lembut melihat Alice yang masih antusias hingga wajahnya memerah lucu, lalu aku melirik Blance yang dengan tatapan memujanya padaku . Aku sedikit malu, dan batuk dengan canggung .
" Uhuk, kalian terlalu berlebihan, nyatanya aku tidak sepandai itu . Dan juga, jika kalian melihat pertama kalinya aku naik kuda maka itu akan menjadi konyol " ujarku malu
" Tidak Putri, saya bersungguh-sungguh !! bagi kami Putri adalah yang terbaik dan juga itu wajar jika seseorang baru belajar melakukan sedikit kesalahan kan ?? " puji Alice menggebu-gebu lalu menoleh ke arah Blance mencari dukungan
Blance pun segera mengangguk-anggukkan kepalanya dengan keras tanda ia setuju dengan Alice . " Benar Putri, anda adalah yang terbaik " puji Blance juga
Aku pun hanya terkikik senang melihat tingkah mereka .
" Baiklah, terimakasih atas pujiannya . Ayo cepat selesaikan bajuku " kataku mengingatkan
" Baik Putri " ujar mereka serempak
Alice dan Blance pun diam dan kembali serius merapikan baju beladiriku, lalu mulai menata ulang rambutku yang berantakan terkena angin tadi saat berkuda . Aku melihat Alice yang sedang serius menyisir rambutku dari pantulan cermin, tiba-tiba sebuah kejadian melintas di benakku . Aku pun segera meliriknya dan berkata
" Oh ya Alice " panggilku singkat
Alice yang di panggil pun menghentikan kegiatan menyisirnya lalu mendongakkan kepalanya melihat ke arahku dari kaca, sedangkan Blance hanya diam mendengarkan dari sisi lainnya.
" Aku melihatnya tadi ... " ujarku misterius, Alice pun mengerutkan keningnya semakin tidak mengerti
" Aku melihat dengan jelas ekspresimu yang terbengong lucu tadi, hihihi " godaku lalu terkikik geli
Alice yang mengerti pun segera menjadi memerah malu di seluruh wajahnya, aku pun semakin tersenyum dan terkikik geli . Blance yang ikut mendengarkan di samping juga tak bisa menahan tawa yang ditekannya hingga lolos dari bibir, Blance pun hanya pura-pura menunduk menyisir rambutku tapi terlihat jelas bahunya bergetar menahan tawa . Alice pun semakin salah tingkah dan malu karenanya .
__ADS_1
" Putri .... jangan menggoda lagi .... " rengeknya malu
" Hahahaha... " aku pun tertawa menanggapinya
Setelah merapikan diri aku keluar dari ruang dalam dan melihat Albert yang duduk santai bersandar di sofa sambil menyangga pelipisnya dengan kepalan tangan, ia tengah memejamkan matanya seperti sedang tidur tapi aku tahu ia hanya sedang menungguku .
Aku melihat 2 orang pelayan kecil sedang menunduk menunggu perintah di dekat pintu masuk, aku menoleh ke Alice dan Blance yang di belakangku .
" Bereskan piringnya " perintahku
" Baik Putri " sahut mereka pelan
Aku pun melambai pada 2 orang pelayan tersebut, mereka berjalan mendekat sambil menunduk patuh .
" Bagaimana dengan hidangannya ?? " tanyaku santai tapi anggun
" Me.. menjawab Putri, dapur ... ah bukan maksud saya hidangannya sudah selesai sebagai dan sedang di bagikan " kata salah seorang dari mereka gugup dan terbata-bata
" Ehm ... aku mengerti " sahutku mengangguk-angguk
" Kalian bantu bereskan piring itu, lalu kembalilah untuk membantu di dapur istana " perintahku
2 orang pelayan itu pun segera membungkuk hormat lalu membantu Alice dan Blance membereskan meja . Setelahnya aku menyuruh semua orang pergi agar aku dapat berbicara dengan Albert yang sudah menungguku sedari tadi .
" Alice, Blance, kalian juga pergilah terlebih dahulu " perintahku lagi
Alice dan Blance pun segera mengerti, mereka menunduk memberi sopan lalu ikut berjalan keluar sambil menutup pintu juga . Kini tersisa hanya aku dan Albert yang ada di ruangan tersebut, aku tersenyum manis lalu berjalan ke arah Albert yang masih duduk bersandar di atas sofa .
Aku mendekat ke arahnya dan berdiri di depannya, Albert membuka matanya sedikit dan melirikku malas . ' ****, sangat tampan ' batinku, aku pun mendekat lalu duduk di atas pangkuannya, kulingkarkan lenganku di leher Albert lalu tersenyum menggoda .
" Ingin bertanya apa ? " tanya manja
Albert mengangkat pandangannya lalu menatapku dengan cermat, matanya yang dingin, tenang, dan angkuh itupun sangat menggodaku .
" Kenapa harus begitu peduli pada prajurit kecil ?? " tanyanya dengan nada datar tapi aku dapat merasakan ia tengah jengkel
" Hihihi .... kukira hal serius apa ? " kikikku geli
Albert hanya memejamkan matanya lagi semakin jengkel karena aku tidak menjawab langsung, aku pun menangkup sebelah pipinya dan mencolek ujung hidungnya gemas agar Albert memandang ku lagi . Aku mendekatkan wajahku dan berbisik pelan di hadapannya
" Seperti katamu, hanya beberapa prajurit kecil kenapa harus di pikirkan " bisikku pelan di depan wajahnya
" Ku kira anda tidak setuju dengan ucapan saya tadi " ujar Albert menjelaskan
" Albert jangan terlalu banyak berfikir, setiap orang punya pandangan berbeda tapi bukan berarti aku bertentangan denganmu juga " ujarku pelan
Albert tersenyum menggoda dan menyipitkan matanya, ia pun melingkarkan lengannya di pinggangku dan menarikku mendekat ke arahnya . Aku pun semakin mengeratkan lenganku di leher Albert, dan bersandar manja di pundaknya . Aku mengecup pelan di pipi kanannya lalu berkata
" Mari kembali, Kapten Molly sudah menunggu " kataku
" Berikan aku lebih dulu " ujar Albert menggoda
Albert pun maju dan mengecup bibirku singkat lalu tersenyum lembut padaku . ' Ah, sial kapan aku menjadi dewasa ?? ' batinku mengumpat . Kami pun saling terkikik geli dan menggoda satu sama lain .
Tanpa di ketahui mereka, ada Kapten Molly di luar ruangan yang mendengar perbincangan mereka, Albert dan aku memang berbicara dengan pelan tapi Kapten Molly memiliki ilmu beladiri yang tinggi dan jika ia ingin mendengar maka itu akan sangat mudah .
__ADS_1
Kapten Molly awalnya ingin berterimakasih karena hidangan lezat yang di bagikan kepada para prajurit, itu memang hal yang sederhana bagi Putri tapi sungguh berarti bagi prajurit seperti mereka . Kapten Molly pun juga sempat berpikir jika Putri tidak sependapat dan berbeda dengan bangsawan lainnya seperti Tuan Muda Albelart tapi siapa yang mengira jika Putri pun tidak jauh berbeda dengan bangsawan lainnya meskipun tidak seburuk itu . Kapten Molly pun menghela nafasnya sebal lalu berbalik kembali ke arena pelatihan, tidak jadi menemui Putri Clea .