Merubah takdir ' Mawar Putih '

Merubah takdir ' Mawar Putih '
BAB 43


__ADS_3

" Putri, apakah sungguh akan terjadi perang ?? "


Aku menengok ke belakang dimana suara pertanyaan itu berasal, di depan pintu yang terbuka berdiri Blance dan Deenna . Lebih tepatnya Blance yang di papah oleh Deenna, wajahnya yang biasanya merona itu kini pucat .


' Apa Blance sedang sakit ?? ' batinku


Aku yang terdiam pun membuat Blance semakin gelisah, ia berjalan maju ke arahku dengan cemas . Deenna berusaha mencegahnya untuk tidak gegabah tapi tak dihiraukannya .


" Putri, bukankah anda berkata jika bukan hal yang rahasia maka anda akan menjawabnya " katanya tergesa-gesa


Aku tersadar dari pikiranku dan melihat Blance yang biasanya tenang dan cuek, kini terlihat gelisah dan ketakutan membuatku bingung dengan apa yang terjadi ??...


" Putri, bagaimana dengan pertanyaanku ' apakah sungguh akan terjadi perang ?? ' " tanyanya dengan gelisah


Deenna yang melihat Blance semakin ceroboh dan tak sopan pun menjadi tidak tahan lagi, ia segera bergegas maju ke depa  untuk menarik Blance menjauh .


" Putri, mohon ampuni Blance . Ia sedang sakit saja, karna itu ia berbicara dengan tak jelas " ujar Deenna menjelaskan padaku


Tapi Blance menolaknya dan menepis tangan Deenna, aku semakin bingung di buat karena kelakuan mereka berdua . Alice dan Chacha yang memperhatikan di belakang kini ekspresinya terlihat sangat khawatir pada Blance .


Jadi aku mengangkat tanganku untuk menghentikan Deenna yang masih berusaha mencegah Blance untuk banyak bicara .


" Sudahlah tidak apa-apa Deenna " kataku


Deenna pun akhirnya menyerah dan melepaskan tangannya dari lengan Blance, tapi ekspresinya masihlah cemas seperti sebelumnya .


" Hah .... sudah jangan gaduh " ujarku lelah


" Putri .... maaf ... " cicit Blance sambil menunduk merasa bersalah juga


Aku melambaikan tanganku sebagai tanda untuk melupakan yang tadi, aku mendongak memperhatikan Blance yang berwajah pucat tak berani menatapku tapi terlihat jelas ia sungguh-sungguh ingin tahu tentang perang itu .


" Pertanyaanmu tadi, aku bisa menjawabnya " kataku perlahan


Blance terkejut, ia mengangkat kepalanya menatapku dengan tak percaya . Begitu juga dengan Deenna, Alice dan juga Chacha, mereka juga menatapku dengan ekspresi yang rumit . Tapi segera Blance menjadi ragu, ia khawatir aku membocorkan rahasia yang tidak boleh di katakan karena dirinya membuat kegaduhan tadi .


" Tapi, Putri ... " katanya ragu-ragu


" Jangan khawatir, tentang perang di perbatasan ini bukanlah hal yang tidak bisa dikatakan . Lagi pula para bangsawan sudah tahu sejak lama, hanya saja untuk pengumuman resmi bagi rakyat biasa akan segera di adakan nanti . Kalian hanya tahu lebih awal " kataku santai sambil menyesap sedikit teh bunga di cangkirku


Blance pun menghela nafas lega, karena tidak membuatku berada di posisi yang sulit . Deenna, Alice, dan Chacha juga melonggarkan ekspresi mereka . Setelah semua tenang kembali, keempat pelayan pribadiku itu kembali memusatkan perhatiannya padaku, menunggu dengan diam setiap informasi yang akan kukatakan .


" Jadi, ' apakah akan terjadi perang di perbatasan ?? ' . Ya, akan terjadi perang ... " kataku dengan serius


Semua orang di ruangan itu menghirup udara dingin, mata mereka terbuka lebar terkejut dengan informasi yang kutegaskan . Terutama Blance yang ekspresi nya semakin ketakutan, matanya merah seolah akan menangis saat ini juga .


" Hah .... jangan memasang ekspresi sedih seperti itu, lagi pula bukan Kekaisaran Benedicte yang akan berperang " kataku tak tahan dengan ekspresi mereka


" APA ??!!!! " teriak mereka serempak


Aku terjingkat lalu sedikit menggosok telingaku yang sakit sambil berkata


" Uhm, bukan kita yang berperang tapi Kerajaan Versailles dan Kerajaan Theodore " kataku sambil mengangguk


" Kerajaan Benedicte akan bersikap netral dan tidak memihak atau mendukung salah satu dari mereka . Jadi tenang saja, Yang Mulia Raja sudah mempersiapkan semuanya jika saja perang sungguh terjadi, seperti saat ini " lanjut ku


Keempat orang yang masih berdiri di depanku melongo dengan tidak percaya pada apa yang mereka dengar, setelah beberapa saat tangisan Blance memecah keheningan .


" hiks ... hiks ... hiks .... syukurlah .... tidak ada perang " tangis Blance menunduk sambil menutupi mukanya dengan telapak tangan


Deenna yang berdiri di samping Blance pun bergegas menghiburnya, aku terkejut melihat respon Blance yang mendadak menangis .


" Ada apa ini ?? kenapa Blance menangis ?? sebenarnya apa yang terjadi dengan Blance " tanyaku bingung


" Sebenarnya Putri, Blance berasal dari perbatasan . Dan ketika ia mendengar bahwa akan terjadi perang di perbatasan, Blance sangat khawatir dengan keluarganya yang ada di sana " jelas Deenna yang masih menepuk-nepuk pundak Blance agar ia tenang


Aku cukup terkejut dengan berita ini, harus ku akui juga selama ini aku tak pernah ingin tahu kehidupan dari para pelayanku . Yah ... benar, aku hanya menganggap mereka semacam bagian dari novel yang kubaca, atau NPC dari permainan yang sedang ku mainkan . Aku tak pernah menganggap mereka sungguh-sungguh orang yang ada di hidupku, sejujurnya aku masih belum bisa menerima sepenuhnya takdirku yang masuk ke dalam novel sialan ini .

__ADS_1


Aku berdehem sedikit, dan berpura-pura bersimpati dengan keadaan Blance seperti lainnya, ia sendiri masih berusaha mengendalikan tangis leganya .


" Kenapa tak memberitahuku ?? sejujurnya Blance, kau tak perlu khawatir . Perbatasan sangatlah aman sekarang, Yang Mulia Raja sudah memerintahkan untuk memperketat penjagaan . Percayalah ... bahkan lalat pun tak bisa masuk " kataku di akhiri dengan bercanda


Blance mendongak menatapku dengan mata yang basah dan wajah yang memerah, lalu ia mengangguk dengan sungguh-sungguh yakin sepenuhnya dengan perkataanku . Sudut hatiku merasa sedikit bersalah pada mereka ...


" Hamba percaya, Putri terimakasih " katanya sungguh-sungguh


Kata-kata tulusnya menusuk hatiku yang terdalam, wajah cantik di hiasi senyum manis yang terpasang terasa sedikit retak . Sudut bibirku sedikit berkedut, tapi aku menunduk sambil meminum teh bunga di cangkir untuk menghilangkan rasa masam yang tiba-tiba timbul .


Keempat pelayan pribadiku bersukacita dengan berita yang baru saja mereka dengar, Blance pun tersenyum kembali dengan ceria .


" Nah, kalau begitu mari kita lanjutkan tugas masing-masing . Hari sudah hampir siang, Putri sudah menunggu kita untuk melayaninya " kata Deenna mengakhiri suka cita ketiga orang tersebut


" Baik " sahut mereka serentak


Lalu Deenna pergi menyiapkan gaun yang akan ku gunakan untuk belajar bersama Tuan Louis dan Albert, sedangkan Chacha dan Alice pergi menyiapkan air hangat serta bunga dan wewangian untuk pemandianku . Blance di tinggalkan tetap di sini untuk menemani di sisiku dan menyajikan teh .


Aku melihat suasana di pagi hari lewat jendela yang terbuka, langit pagi yang mulai terang secara bertahap, kabut dan embun mulai terlihat, burung-burung pipit pun berterbangan dari sarang mereka untuk pergi mencari makanan . Udara sejuk mendinginkan kepalaku, membuatnya jernih dari jejak kebingungan tadi .


Blance berdiri di samping sambil mengamati suasana di luar seperti diriku, kami terdiam memikirkan pemikiran kami masing-masing hingga Deenna memanggilku untuk membersihkan diri .


.


.


.


Pukul 8 pagi hari, aku berjalan di jalan menuju ruang belajarku . Sepajang aku berjalan tak henti-hentinya aku melihat para prajurit istana yang sibuk berlalu-lalang  .


Aku menghela nafasku sambil menggerutu " Sangat menyebalkan ... memang di zaman apapun itu perang selalu membuat kepala pusing hanya dari melihatnya saja "


Aku memijit pelipisku pelan sambil mempercepat langkahku ke bangunan tempat belajarku . Sesampainya di depan pintu ruang belajarku, aku memasang senyum manisku dan membuka pintu perlahan .


" Kau sudah datang " seruku pada seseorang yang berdiri tegak menghadap jendela


" Iya, Putri " jawabnya


Aku menutup pintu dan berjalan ke arah Albert yang masih berdiri disisi jendela .


" Apa yang kau lihat di sana ??!! kau terlihat serius sekali .., " tanyaku dengan bercanda


Aku dan Albert menoleh ke luar jendela bersama melihat hal yang sejak tadi di pandangi Albert, terlihat jalanan utama yang mengarah dari gerbang dan istana utama, banyak sekali kereta kuda megah yang keluar masuk menuju istana utama . Bahkan ada beberapa yang sedang berjejer rapi di tepi .


" Wah .... ramai sekali !!! " seru ku ringan


" Baru kali ini aku melihat istana seramai ini " tambahku santai


" Hemb, sudah lama juga aku tidak melihat istana seramai ini, mungkin yang terakhir kali saat kelahiranmu " kata Albert santai


" Wah .... bahkan kau mengingat hari kelahiranku saat umurmu baru 3 tahun " kataku ragu


Albert menatapku dengan cermat, lalu tersenyum smirk khasnya dan berkata dengan percaya diri .


" Tentu saja, saya sangat-sangatlah cerdas Putri " katanya sombong


Aku mengerucutkan bibirku cemberut melihatnya tersenyum seperti itu padaku . ' Sial ...!! sangat tampan !! ' umpatku dalam hati


Aku maju mendekat ke arahnya, tangan kiriku meraih pundaknya dan berjinjit mendekatkan bibirku ke telinga Albert .


" Kau benar, karna itu aku memilihmu bukan ?? " bisikku di telinganya


Senyum Albert sedikit retak, tapi ia tetap berusaha mempertahankan ekspresinya yang percaya diri . Aku beralih menatap matanya yang abu-abu gelap dengan semburat cahaya keunguan lalu aku tersenyum dan menangkup wajahnya dengan kedua tanganku .


" Sangat tampan ... aku menyukainya juga " kataku riang


Albert tetap tersenyum menatapku, ia tak menanggapi ataupun menolak semua perkataanku . Tetapi tatapannya sangatlah mencolok, aku sangat ingin tahu apa yang ada di fikirannya saat ini .

__ADS_1


Aku merasa bosan Albert tak menanggapi profokasiku, ia bersikap seolah-olah pria dewasa yang pengertian terhadap kekasih kecilnya yang mencari perhatian . Aku pun berbalik kembali memperhatikan kereta-kereta kuda yang masih sibuk keluar masuk gerbang istana .


" Mengapa Tuan Louise masih belum datang juga .. " kataku malas sambil bersandar pada bingkai jendela yang besar


Albert masih diam membisu, ia tetap menatap ke luar dengan santai tapi aku tahu tatapannya kini sangat terfokus pada prajurit yang sedang berpatroli dan keluarga-keluarga bangsawan yang datang ke istana .


" Hei .... Albert, menurutmu bagaimana dengan perang itu ?? " tanyaku ingin tahu


Karena sikap Albert saat ini masih lah sama seperti biasanya, seolah tidak ada perang sama sekali di perbatasan . Ia terlihat santai, tenang, dan dingin .


" Apa yang bagaimana ?? ini bukan pertama kalinya mereka berperang " kata Albert datar


" Yang sedikit aneh ialah keputusan dari Yang Mulia Raja yang bersikap netral " lanjutnya lagi


" Memang kenapa ?? Apakah kau tidak sependapat ?? " tanyaku


" Tidak, justru aku sangat sependapat dengan pilihan itu . Hanya saja, aku merasa ini bukan sikap biasanya dari Yang Mulia Raja " jawab Albert santai


Aku terkikik mendengarkan jawabannya lalu aku menggodanya dengan berbicara " Wah  .... kau sangat mengerti Yang Mulia Raja, aku salut "


Aku mengancungkan ke dua jempolku pada Albert, lalu ia melirikku yang sedang menggodanya . Albert tersenyum lembut dan mencolek ujung hidungku gemas, aku pun terkikik sebagai tanggapan .


Kami pun terdiam kembali menatap luar jendela, setelah beberapa saat aku kembali berbicara .


" Tapi kau benar, itu bukan keputusan Yang Mulia Raja sendiri " kataku tiba-tiba


" Hah ??! " seru Albert tak mengerti karna aku tiba-tiba berbicara tanpa aba-aba


" Akulah yang menyarankan ayah untuk bersikap netral " kataku langsung


Albert sangat terkejut ketika paham apa yang kumaksudkan, aku melihat dengan jelas ekspresi terkejut yang terpancar di tatapan mata Albert yang rumit . Ia tersesat dalam pikirannya yang kacau dan melamun .


Aku tersenyum ketika berhasil mengacaukan pikirannya, lalu aku menambahkan bom nuklir yang membuatnya mati kutu .


" Aku tahu jika ayah bersikeras ikut campur dalam perang ini, maka akan menguntungkan pihak ketiga yang sedang menanti dengan percaya diri " kataku dengan raut waja yang polos


Albert membeku tak berkutik, aku tahu keluarganya juga ikut mengambil keuntungan dari peperangan dalam cerita novel aslinya . Keluarga Alberlart yang mengatur ekonomi Kekaisaran Benedicte, ia mengorupsi dana untuk para prajurit di perbatasan hingga mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit .


Namun itu semua keputusan dari Gilbert Alberlart, sedangkan Albert ia tak menyukai solusi perang itu tapi ia juga masih tak punya kuasa untuk menentang keputusan ayahnya yang seorang Kepala Keluarga .


Kali ini mendengar pernyataanku yang menyarankan keputusan itu secara langsung, ia terdiam . Albert tengah berfikir bahwa aku sudah ikut campur dalam mengatur urusan Kekaisaran, ia pun sangat ingin aku berpihak padanya . Jika bisa Albert ingin mengendalikanku sepenuhnya .


......................


Malam harinya ...


Raja Damien, Ratu Carissa dan aku tengah menikmati makan malam bersama . Suasana sangat hening, hanya denting garpu dan pisau bertabrakan ke piring terdengar nyaring mengisi sunyi .


Aku melirik Raja Damien yang terlihat lelah, kantong mata hitam pandanya terlihat sangat buruk untuk dilihat . Sedangkan Ratu Carissa masih tersenyum anggun dan kalem tapi terlihat jelas gurat khawatir dan kegelisahan yang samar di sorot matanya .


" Ayah kapan pengumuman untuk rakyat akan di lakukan ?? " tanyaku tiba-tiba memecah keheningan


Raja Damien tak menyangka putrinya langsung membahas hal yang membuatnya pusing dari tadi pagi, sayang sekali yang membahas itu putri tersayangnya jika itu orang lain maka ia akan langsung mengumpat dengan keras .


Jadi Raja Damien hanya bisa tersenyum dan menanggapi dengan separuh hati .


" Esok pagi pukul 10.00 " jawabanya sabar


" Apakah ibu ikut ?? " tanyaku lagi


Ratu Carissa berhenti sejenak dari aktivitas makan malamnya, lalu menatap putrinya dan berkata dengan lembut .


" Tentu saja sayang, ini acara resmi bagi Kerajaan . Jadi Ratu harus hadir juga " katanya menjelaskan dengan sabar


" Aku ingin ikut ...!!! " seruku dengan polos


Raja Damien dan Ratu Carissa terkejut dengan permintaanku, Ratu Carissa pun menolak dengan halus dan memberi berbagai alasan .

__ADS_1


" Tidak bisa Clea, kau belum debut . Clea tak bisa begitu saja tampil di depan masyarakat, jadi baik oke ..., tunggu di istana " ujar Ratu Carissa sabar


__ADS_2