
Aku terbangun di tengah malam, duduk termenung memikirkan mimpi aneh yang kualami tadi .
Deenna yang sedang berjaga di luar mendengar suara pergerakan dari kamar tidur, ia pun membuka pintu kamar tidurku dan masuk untuk menemuiku .
" Putri, anda sudah bangun " katanya sambil menutup pintu
" Ehm " aku berdehem mengiyakan, ' suaraku sedikit serak mungkin karena baru bangun ' pikirku
" Saat makan malam tadi, saya sudah mencoba membangunkan anda tapi Putri tidak mau bangun . Selain itu wajah anda terlihat damai dan nyaman saat tidur sehingga saya tidak memaksa lagi " ujar Deenna sambil berjalan ke arahku dan menyingkap tirai tempat tidurku
" Astaga Putri, mengapa anda menangis " teriak Deenna panik campur khawatir ketika ia melihatku
Aku duduk diam di atas tempat tidur, ketika Deenna berteriak aku menangis akupun terkejut juga, kuangkat tanganku ke pipiku yang ternyata memang basah .
" Ah ... aku tidak sadar " ucapku pelan
" Putri, apa anda sedang sedih ?? anda bisa cerita pada hamba " tanya Deenna perlahan
Ia terlihat sangat khawatir padaku, ia duduk di tepi tempat tidur di sampingku dan bertanya dengan hati-hati .
" Aku tidak sedang sedih, sungguh Deenna jangan khawatir " kataku sambil tersenyum
" Begitukah ... saya lega mendengarnya . Yah benar, mungkin itu hanya mimpi buruk " ucap Deenna berceloteh seorang diri
" Mimpi buruk ya .... tapi mimpi itu sangat indah " gumamku ketika mendengar celoteh Deenna
" Hah ?? " seru Deenna tidak mendengar gumamanku
" Tidak apa-apa, ayo keluar sebentar aku ingin minum teh " kataku pada Deenna
Deenna pun membantu memakaikan jubah tipis padaku agar tidak terkena angin dingin malam hari . Aku berjalan keruang santai di depan kamar tidurku, aku membuka tirai korden yang menutupi jendela lalu duduk di sofa di sebelahnya .
" Putri, teh susu untuk malam hari " kata Deenna menyajikan teh didepanku
" Terimakasih, duduklah Deenna temani aku minum teh sebentar " kataku pada Deenna
" Suatu kehormatan Putri " ucap Deenna hormat lalu duduk di sofa sampingku
Kami minum teh dengan diam, aku melihat pemandangan dari luar jendela yang gelap gulita karena balkon kamar tidur ku yang menghadap ke taman bunga mawar .
Ada lampu-lampu taman kecil di setiap sudut taman mawar sebagai penerangan yang sederhana tapi tidak cukup untuk menghilangkan kegelapan yang ada .
Lampu-lampu taman itu bahkan tidak menjangkau danau di ujung taman apalagi tempat itu, pikirku berkeliaran . Mimpi buruk kah ?? tapi aku merasa Clea tidak menganggap itu sebagai kenangan yang buruk justru aku merasa Clea sangat menghargai kenangan itu sehingga sangat sangat merindukannya .
Pria itu ?? sebenarnya siapa pria itu ?? kenapa ia bisa muncul di sana ?? dan yang lebih penting kenapa aku tidak bisa mengingat wajah sekeras apapun aku mencoba ingat, aku hanya mengingat senyum miring khasnya penuh percaya diri ...
Aku menutup mataku mencoba tidak memikirkannya lagi, aku menghabiskan secangkir teh susu hangat itu dan kembali ke tempat tidur . Aku menyuruh Deenna untuk kembali istirahat dan tidak menungguku sampai tertidur karena aku tidak merasa mengantuk sama sekali, sedangkan Deenna sudah terlihat sangat kelelahan .
Aku berbaring bolak balik di atas tempat tidur tidak dapat menemukan posisi yang nyaman sehingga aku memutuskan untuk duduk kembali bersandar di tumpukan bantal lalu membaca beberapa buku yang ada di atas laci, sungguh di saat-saat ini lah aku paling merindukan handphone di duniaku .
Entah berapa lama aku membaca sampai aku jatuh tertidur dengan sendirinya . Aku bangun dengan wajah mengantuk karena tidur yang kacau semalaman, aku membiarkan para pelayan memandikan serta mendandaniku semaunya .
Rasanya aku tidak bisa membuka mataku, sangat mengantuk sehingga sesekali aku masih menguap .
" Putri, apa tidak sebaiknya hari ini libur saja " kata Deenna khawatir
" Tidak perlu, jika pembelajaran tiba-tiba di batalkan maka Albert dan Tuan Louise akan datang dengan sia-sia " kataku sambil mencoba untuk sadar
" Tapi Putri, anda tidak tidur nyenyak semalam jika anda tetap memaksakan diri anda bisa jatuh sakit " kata Alice cerewet
" Jangan cemas, aku tidak serapuh itu tahu " kataku santai
Para pelayan masih menatapku dengan khawatir, ingin mencoba membujuk lagi .
" Tapi Putri, .... " ucapan Deenna terpotong olehku
" Sudahlah jangan cerewet di sini, Deenna buatkan teh pahit untukku agar aku tidak mengantuk lagi dan Alice bawakan biolaku " kataku memerintahkan
__ADS_1
Deenna dan Alice segera melakukan perintahku, kini tersisa Blance yang sedang mengepang kecil di tepi rambutku serta Chacha yang merapikan pita-pita rumit di gaunku . Mereka berdua adalah pelayan yang pemalu juga pendiam, sehingga ruangan itu menjadi sepi seketika .
" Blance, aku ingin pakai jepit rambut sederhana saja " kataku pelan
" Baik Putri " sahut Blance sambil memilih pita rambut sutra sederhana dengan beberapa untaian mutiara di tepinya .
Aku berdiri membiarkan mereka merapikan gaunku sedikit, setelahnya aku berjalan keluar dari kamar tidur ke ruang teh yang di sana ada Deenna yang menyiapkan secangkir teh pahit serta sup labu yang ringan .
Aku memakan sarapanku dengan cepat lalu meneguk secangkir teh pahit dengan tergesa-gesa, aku tersedak hingga seluruh rasa pahit menyelimuti rongga mulut sampai pangkal hidungku . Deenna yang melihatnya segera panik .
" Putri, minumlah perlahan " ujarnya cemas
" Tidak apa-apa, aku ada janji segera di ruang belajar " kataku seraya berdiri
Aku menyeret paksa langkahku untuk berjalan cepat menuju ruang belajar, sesekali para pelayan kecil yang berpapasan dengan kami akan mengintip kepadaku yang terus menguap mengantuk di lorong istana .
Sesampainya di depan ruang belajar aku mengambil biolaku yang ada di Alice, membuka pintu dan melangkah memasuki ruangan . Sesuai dugaanku Albert sudah menunggu di dalam ruangan, ia tengah berdiri menghadap jendela besar melihat pemandangan kesibukan pagi di istana kerajaan .
Aku memasuki ruangan dan meletakkan biolaku di atas meja, Albert berbalik menatapku . Aku tersenyum lebar dan berjalan kearahnya, Albert membukanya lengannya lebar untuk memelukku . Aku pun dengan senang hati juga ingin memeluk pria tampan itu .
" Tidurmu tidak nyenyak " katanya pelan di telingaku
" Tidak, aku tidur dengan sangat nyenyak " ujarku pelan
" Pembohong kecil " gumamnya sambil mencubit hidungku
" Akh, sakit .... " rengekku manja, Albert hanya terkekeh menanggapinya
" Kata siapa aku berbohong, aku sungguh tidur dengan nyenyak sampai-sampai melewatkan makan malamku di istana utama " kataku sebal
" Benarkah ?? lalu kenapa tadi aku melihatmu selalu menguap di sepanjang jalan kemari ?? " kata Albert tidak percaya
" Itu karena terlalu awal tidur sehingga aku terbangun di tengah malam dan tidak dapat tidur kembali " jelas ku semakin pelan di ujung
Albert hanya bergumam menanggapiku, aku menoleh untuk melihat ekspresinya apakah ia marah atau khawatir tapi apalah daya Albert jarang sekali mengungkapkan emosinya dan selalu memasang wajah datar seperti sekarang .
" Albert aku sudah membawa biola, soal lagu terbaruku apa mau kumainkan sekarang " kataku sambil mengangkat biolanya
Albert menoleh, melihat ku yang menggenggam biola di tanganku . Albert ingat tentang janji lagu kemarin, tapi ia sungguh tidak berminat untuk mendengarkan musik sekarang . Tapi Albert juga tak bisa menolak perkataan seorang Putri, jadi ia memilih opsi yang bisa mengalihkan perhatian Putri seperti biasanya .
" Putri, sekarang anda lelah jadi mari kita dengarkan esok saja " kata Albert sambil tersenyum lembut
Suaranya pelan dan lembut, seolah ia menolak tapi tak ingin melukaiku . Aku menatapnya sedikit lalu meletakkan biola itu di sudut sisi meja, lalu duduk perlahan di kursi ku .
Albert yang melihatku tidak senang, dan sudah menduga itu . Ia pun menghampiriku lalu duduk di tepi meja depanku, Albert tersenyum menggoda kearahku .
" Putri, apa kau marah ?? " tanyanya sambil tersenyum
" Tidak, apakah Putri ini terlihat sedang marah !! " jawabku ketus
Albert terkekeh pelan sambil menutupi bibirnya dengan punggung tangannya . Aku meliriknya yang sedang menertawakan ku menjadi semakin kesal dibuatnya .
Akupun memalingkan mukaku tak ingin menatapnya . Albert yang melihatku semakin kesal segera terbatuk ringan untuk menghentikan tawanya, ia pun mencondongkan tubuhnya ke arahku .
Tangan kirinya ia letakkan di sisi kanan lengan kursiku untuk menopang, tangan kanannya menjepit daguku ringan dan menekannya sedikit agar aku mau menatapnya .
Aku menoleh kearahnya, wajah kami tanpa jarak berhadapan sehingga ujung hidung kami saling bersentuhan . Aku bahkan dapat merasakan setiap hembusan nafas Albert yang beraroma herbal mint menerpa wajahku, mata kami bertemu satu sama lain .
Bola mata biru keunguan yang gelap itu sangat memikat, tatapannya sangat-sangat lembut hingga dapat memikat wanita manapun . Aku terlena oleh wajah tampan yang memikat itu, Albert tersenyum menggoda membuat wajahku memerah malu .
" Apa anda masih marah padaku, Putri ?? " tanyanya dengan suara yang dalam
Kepalaku kosong lalu secara otomatis aku menggeleng, aku seperti tersihir sehingga ketika mendengarkan suara yang dalam itu aku segera merespon sesuai keinginan Albert . Aku tersedak kebingungan ketika aku sudah sadar, aku benar-benar ' mengangkat batu untuk menghancurkan kakiku sendiri ' .
" Albert, kau ... kau .. mempermainkanku " keluhku tak bisa berkata-kata
Albert hanya tertawa senang lalu mengusap-usap puncak kepalaku . Aku pun hanya cemberut lucu, lalu menguburkan kepalaku di pelukannya . Albert dengan gemas juga membalas pelukanku, sambil terus tertawa .
__ADS_1
' Sialan !!! nona ini sungguh ingin tubuh ini cepat besar, agar bisa menerkam remaja tampan ini ' batinku mengumpat
" Berhentilah tertawa ... " rengekku kesal
" Baiklah, jangan marah lagi oke . Aku tahu Putri lelah jadi jangan memaksakan dirimu, kita bisa mendengarnya esok " kata Albert pelan padaku yang dipeluknya
" Ehm " gumamku pelan
Aku memeluk pinggang Albert, membenamkan wajahku di pelukannya . Albert mengelus pelan setiap helai surai rambutku yang hitam legam, aku merasa seperti sedang dibelai manja dan semakin mengantuk dibuatnya . Aku memejamkan mataku pelan, menghirup aroma wangi khas Albert yang terasa seperti campuran antara kopi cokelat dengan harum mint sejuk yang samar .
Aku sungguh sangat menyukai wangi itu, terasa manis, elegan, dan memikat . Aku jatuh tertidur begitu saja dalam sekejap mata di pelukan Albert, Albert menunduk menatap ku yang tertidur nyenyak di pelukannya . Albert tersenyum tak berdaya, awalnya ia heran mengapa aku tidak berbicara lagi dan ternyata aku tertidur begitu saja tanpa aba-aba .
Albert meraih lonceng kecil disisi meja yang digunakan untuk memanggil para pelayan yang sedang menunggu di luar . Albert menopang pundakku dengan sebelah lengannya agar aku tidak jatuh, ia menggoyangkan pelan sedikit jauh lonceng kecil itu dariku agar aku tidak terganggu .
Kring ... kring...
Lonceng bergoyang dan berbunyi pelan, aku sedikit terusik karena suaranya dan segera mengeratkan pelukanku di pinggang Albert . Albert yang melihatku terganggu segera mengelus pelan rambutku hingga aku nyaman kembali .
.
.
Deenna, Alice, serta seorang pelayan kecil kediaman Albela yang sedang menunggu sambil mengobrol di luar ketika mendengar suara lonceng walaupun pelan . Deenna reflek segera menatap Alice, lalu bangkit berdiri sambil merapikan sedikit gaunnya .
" Biar aku yang masuk " kata Deenna pelan pada Alice
Alice pun hanya mengangguk mengerti, lalu segera larut kembali ke obrolan yang tertunda tadi . Setelah membenarkan gaun Deenna bergegas ke arah pintu, ia mengetuk pelan meminta ijin masuk .
" Putri, saya akan masuk " katanya sopan
Tidak ada sahutan dari dalam, Deenna sedikit bingung tapi ia segera memutar gagang pintu dan berjalan masuk kedalam ruangan . Ketika Deenna berjalan masuk ke dalam ruangan, ia sangat terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya .
Sang Putri Clea yang sedang tertidur nyenyak bersandar di pelukan Tuan Muda Albelart, serta Tuan Muda Albelart yang sedang mengelus surai rambut hitam Tuan Putri dengan senyum lembut memanjakan .
Deenna tercengang dibuatnya, ia dan semua orang di kerajaan memang tahu jika Tuan Muda Albelart dan Tuan Putri memiliki hubungan yang dekat . Terlebih para pelayan pribadi Putri, yang mengetahui bahwa dua remaja itu saling menyukai . Apalagi para Putra dan Putri bangsawan selalu merahasiakan hubungannya dari orang dewasa, jadi Deenna hanya mengira mereka hanya sebatas suka akan wajah yang cantik dan tampan itu saja .
Tapi Deenna tak pernah mengira ia akan melihat secara gamblang dengan mata kepalanya sendiri seperti ini hubungan dari Tuan Putri . Deenna sedikit terkejut, tapi segera memperbaiki ekspresinya menjadi sopan lagi .
Deenna menutup pintu perlahan agar tidak menggangu Putri yang sedang tidur, ia pun berjalan perlahan ke arah meja Putri Clea dan berhenti agak jauh sambil menunduk memberi hormat sopan lalu diam menunggu perintah . Albert tidak melirik sama sekali ke arah pelayan yang datang, ia tetap mengelus lembut rambut Putri agar ia tidur nyenyak .
" Sampaikan kabar pada Tuan Louise jika pembelajaran di tunda sampai siang hari karena Putri kelelahan " katanya datar tak peduli
" Putri bersikeras jika tak ingin menunda pembelajaran hari ini " kata Deenna pelan dan sopan
Albert sedikit tak senang seorang pelayan membantah ucapannya, tapi melihat itu pelayan pribadi Tuan Putri maka Albert hanya bisa melepaskannya .
" Aku akan bertanggungjawab jika Putri marah " kata Albert dingin
Deenna terdiam sejenak lalu ia mengangkat sedikit pandangannya melihat Tuan Putri yang sudah tertidur dengan nyenyak , ia pun menunduk kembali memberi hormat lalu berjalan keluar ruangan memutuskan mencari Tuan Louise .
.
.
Klik
Pintu tertutup kembali, Albert menoleh sejenak ke arah pintu yang sudah tertutup rapat . Ia mengernyit tidak senang, para pelayan itu sangat setia pada Tuan Putri mereka ketika Albert memerintahkannya pelayan itu tidak mengindahkan sama sekali .
Albert menundukkan pandangannya tersenyum sinis, mereka hanya para pelayan tapi tidak memandang sama sekali padanya . Sungguh menjengkelkan pikirnya tapi pelayan itu bisa melanggar perintah jika itu untuk kebaikan Tuan Putri mereka . Ini juga merupakan kesalahan dan bisa menjadi celah yang dapat di manfaatkan .
Albert menunduk melihat Putri Clea tertidur dengan nyenyak di pelukannya, Albert berfikir posisi ini sungguh tidak nyaman jadi ia mengangkat perlahan Putri Clea dan membaringkannya di sofa ruangan itu . Tetapi Putri Clea bergerak-gerak tidak nyaman dalam tidurnya di atas sofa empuk itu . Albert tersenyum kecil lalu mendekat, membawa sang Putri ke dalam pelukannya sendiri .
Albert tersenyum kecil sambil membelai lembut surai rambutnya, Albert berfikir ia sungguh tertarik pada Putri cantik dan pintar ini . Albert merasa hanya Putri Clea lah yang pantas dan sejajar menjadi pendampingnya dan sang Putri sendiri juga menanggapi perasaan tersebut .
Albert pun mulai mengklaim jika sang Putri juga hanyalah miliknya . Tapi kemarin Albert merasa jika sang Putri sedikit bertingkah aneh, bagaimana tidak ketika sang Putri berbohong untuk pertama kalinya padanya Albert merasa marah tapi tak dapat mengeluh .
Albert sangat menyadari jika Putri Clea bukanlah gadis cantik polos sepenuhnya, Putri ialah gadis pintar dan cerdik yang dapat dengan mudah menyembunyikan emosinya sejak usia dini . Tapi Albert dapat melihat dengan jelas kemarin di tempat itu, sangat-sangat banyak gejolak emosi yang tak dapat ditahannya meledak keluar tergambar jelas di mata dan ekspresinya .
__ADS_1
Meskipun setelahnya Putri memberi penjelasan yang masuk akal tapi Albert tahu jelas jika itu bukan hanya sekedar ketakutan saja . Kini Albert menjadi sangat penampilan dengan tempat itu .