Merubah takdir ' Mawar Putih '

Merubah takdir ' Mawar Putih '
BAB 17


__ADS_3

Pepohonan di tepi danau sangat rindang di musim semi, burung-burung pipit juga berkicau di dahan pohon .


Aku duduk di bawah pohon menikmati mengunyah sandwich lezat yang di siapkan para pelayan tadi, Albert duduk di sampingku menata set teh bunga  setelahnya ia berbaring membaca buku yang di bawanya .


Aku melihat danau di depan yang jernih sebening kristal .


" Aku ingin memancing " gumamku pelan tanpa sadar


" Apa kau berkata sesuatu ?? " tanya Albert tanpa menoleh sepertinya mendengar gumamanku


Aku tersenyum manis dan berbohong tanpa ragu " Aku berkata danaunya cantik " ujarku sambil tersenyum manis


" Ehm, musim semi sudah tiba " katanya mengangguk tapi masih fokus dengan bukunya


" Ah, aku mempelajari lagu baru kemarin . Sayang sekali aku lupa membawa biola tadi " kataku cemberut


" Saya akan mendengarkannya besok pagi " kata Albert santai


" Ehm, kalau begitu tunggu aku besok pagi-pagi di ruang belajar " kataku memerintah


Albert mengangguk singkat, aku kembali menyomot sebuah sandwich terakhir di kotak makan . Aku mengunyah sandwich itu perlahan ketika mataku menangkap sesuatu, aku menaruh kembali sandwich yang sudah ku gigit itu di dalam kotak lalu berdiri tiba-tiba .


Albert menatap heran kepadaku yang berdiri lalu tiba-tiba aku berlari ke kanan menyusuri tepi danau . Albert bangkit duduk terkejut dan berlari mengejarku juga .


" Putri, anda mau ke mana ?? " teriaknya ke arahku


Aku berbalik ke belakang dan berseru


" Albert, aku melihat pohon buah di sana " kataku sambil menunjuk seberang danau di kejauhan .


" Meski begitu anda harus memberitahuku dulu " katanya ketika sudah mengejar posisiku


" Kau membuatku terkejut ketika tiba-tiba berlari " lanjut protes Albert lagi


" Maaf  " kataku sambil menunduk  berpura-pura manis


" Hah ... sudahlah ayo pergi bersama " katanya menyerah begitu mudah


Albert menggandeng tanganku berjalan ke mengelilingi danau hingga ke seberang . Aku menarikan sedikit ke arah pepohonan yang lebat .


" Jangan terlalu jauh " katanya mengingatkan


" Tidak jauh, tadi aku melihatnya sekitar sini " kataku berjalan berkeliling sambil melihat sekitar .


Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah, menoleh ke kanan-kiri mencari pohon buah yang kulihat tadi . Aku menyeret tangan Albert agar ia cepat mengikutiku dan ketika sebuah pohon yang kucari memasuki pemandanganku, aku berteriak kegirangan dan berlari ke arah pohon tersebut .


" Aaaaa .....  aku menemukannya " teriakku


" Putri, hati-hati dengan langkahmu " pekik Albert terkejut dan segera mengejar


Ketika sampai di sebuah pohon persik yang tidak terlalu besar, pohon itu ramping dengan tinggi sekitar 2,5 meter dengan buah yang tidak terlalu lebat karena masih awal musim panas sekarang .


" Albert lihat, ini namanya buah persik " kataku sambil menoleh kearahnya


Albert berdiri di sampingku dengan raut datar menatap buah persik yang pucat kemerahan .


" Buah apa ini ?? " katanya datar


" Ini buah dari benua timur tengah di seberang lautan, mereka menyebutnya buah persik " kataku menjelaskan


Albert menatapku curiga, tatapannya seolah berkata ' bagaimana kau bisa tahu ? '


Uhuk,


Aku terbatuk gugup, lalu tersenyum malu


" Ini ada beberapa buku di perpustakaan kekaisaran yang menyebutkan tentang tumbuhan di benua timur tengah, mungkin mereka pemberian dari Kerajaan Hilaire " kataku berbohong


' Sialan, hampir saja nona ini dicurigai karna mulut ember ini ' batinku mengumpat


Albert mengangguk mengerti lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke pohon persik itu .


" Ehm, apa buahnya bisa di makan ?? " tanyanya tanpa menoleh


" Tentu saja, yang kemerahan berarti sudah matang dan katanya rasanya manis " kataku sambil melihat beberapa buah yang kemerahan


Tapi aku sesekali melirik reaksi Albert, ' Apa ia sungguh percaya ?? ' pikirku


" Kau menginginkan buah itu ?? " tanya Albert menoleh padaku


Aku mengangguk keras dengan mata berbinar, aku sungguh-sungguh menginginkan buah persik itu . ' Sudah berapa lama sejak aku pindah di dunia ini belum makan buah persik ' tanya hatiku pada diriku sendiri


" Kalau begitu aku akan memanggilkan beberapa pelayan " kata Albert sambil berbalik ingin pergi


" Tidak perlu " kataku mencegah sambil meraih tangan Albert


Albert berbalik ke arahku dan menatapku tenang seolah berkata ' lalu ?? '


" Kita berdua bisa mengambilnya sendiri kan, lagipula itu tidak tinggi " kataku sambil tersenyum manis


" Putri, kita tak bisa memanjat pohonnya " kata Albert mengingatkan


Seorang bangsawan tidak pernah berperilaku tidak sopan apalagi untuk statusku yang seorang putri, meskipun kami masih tergolong anak remaja tetapi perilaku memanjat pohon juga merupakan tindakan tidak sopan dan para putra putri bangsawan diharuskan mempunyai kehormatannya sendiri .

__ADS_1


" Aku tahu " kataku sambil cemberut


" Tapi Albert bisa menggendongku " kataku pelan lalu tersenyum manis kearahnya


Albert mengerutkan kening seperti tidak setuju dengan usulanku karena itu juga perilaku yang tidak sopan antara pria dan wanita . Aku yang melihatnya akan menolak segera meraih tangannya dan memohon dengan mata berkaca-kaca .


" Ayolah .... " kataku memelas sambil menggoyangkan lengannya


Hah ....


Albert menghela nafas lalu berjalan ke arah pohon dan tiba-tiba berlutut dengan punggung menghadapku .


" Ayo naik " katanya pelan


Aku tersenyum dan bergegas ke arahnya, aku mengangkat rokku tinggi-tinggi dan naik kepundaknya, paha putih dan halus tersingkap dan menempel di tengkuk Albert . Albert memerah malu tapi tetap memegang pahaku erat dengan tangan yang berkeringat gugup agar aku tidak jatuh .


" Berpeganglah pada pohon " katanya dari bawah, suaranya sedikit tertekan


" Em, aku tahu . Albert bergerak sedikit ke kiri " kataku memerintah sambil meraih cabang pohon untuk pegangan


Albert bergeser ke kiri perlahan agar aku tidak jatuh .


" Yah cukup " kataku sambil meraih 3 buah persik kemerahan seukuran genggaman tangan .


Lalu aku memerintahkan Albert untuk bergerak ke kiri dan kanan untuk mengambil buah persik lainnya . Albert menuruti semua perintahku dan bergerak dengan perlahan .


Ketika sudah lebih dari selusin persik di pelukanku, aku meminta Albert untuk turun .


" Albert sudah cukup " kataku menunduk


Aku berpegang erat pada batang pohon dan Albert berlutut perlahan agar aku tetap stabil . Aku turun sambil memeluk buah persik di sebelah lenganku, menoleh ke arah Albert untuk berterimakasih .


Tapi yang kulihat justru wajah gugupnya yang merona merah cerah hingga leher dan telinganya . Aku tercengang di buatnya .


" Albert, apa kau kepanasan ?? " kataku iseng mencoba menggodanya tapi siapa yang tahu balasan yang kudapat sungguh kejam


" Tidak, ini karena Putri yang berat " katanya datar


Aku tercengang mendengar balasan Albert, lalu wajah ku refleks memerah malu juga ingin marah . Aku melemparkan sebuah persik di lenganku ke arah Albert yang langsung di tangkap dengan refleknya .


Humph ...


Dengan mendengus dan melempar mukaku, aku berbalik masuk lebih dalam ke arah hutan .


Albert menggaruk ujung hidungnya canggung, ia tahu aku marah karena perkataan asalnya . Ia segera berlari menyusulku yang sudah berjalan jauh meninggalkannya .


" Putri, anda mau kemana " katanya ketika sudah berada di sisiku


Aku melemparkan mukaku lagi menolak menjawabnya .


" Tak usah di jelaskan !! aku tahu, intinya aku tidak gendut mengerti " kataku sambil cemberut


" Saya mengerti " kata Albert sambil tersenyum lembut, lalu menggandeng tanganku mencoba membujukku yang marah .


" Putri, ini bukan jalan kembali " katanya khawatir melihat ku yang semakin berjalan ke dalam pepohonan


" Aku tahu, tapi aku melihat beberapa pohon persik di sisi sana tadi " kataku antusias melupakan kemarahanku pada Albert yang seolah tidak pernah terjadi .


Albert pun hanya mengangguk, ingin melarang tapi khawatir aku akan marah lagi . Albert pun hanya mengikuti keinginan ku sambil menggandeng tanganku erat .


Danau tempat piknik kami tadi sudah tak terlihat tertutup oleh pepohonan yang rindang, kami memasuki pepohonan yang semakin rapat banyak semak-semak di sisi jalannya .


Albert mengernyit heran dan melirikku sedikit ke arahku melihat ' apakah aku salah jalan atau tidak ', tapi melihat ekspresiku yang yakin dan tidak cemas sama sekali akhirnya Albert hanya menarik tubuhku agar merapat padanya .


" Perhatikan langkahmu " katanya ketika aku menoleh padanya


Aku pun hanya mengangguk mengerti, dan merapatkan tubuh kami membiarkan Albert berjalan menuntunku melewati semak-semak .


Kadang-kadang tepi gaunku yang berrenda menyangkut di semak yang berduri aku sedikit menariknya dan membuat robekan kecil di ujung renda itu . Albert menunduk melihatnya lalu menatapku yang muram sambil menunduk melihat ujung gaun yang robek sedikit tetapi masih dengan sebelah lengan memeluk buah persik tadi .


Albert berfikir aku kesal karena gaunku robek, tapi yang kupikirkan malah ' gaun sialan, sangat mahal tapi bahkan dengan ranting yang kecil pun bisa robek '


" Apa masih jauh ?? " tanyanya padaku


" Sepertinya sedikit lagi " kataku lalu berjalan lagi kedepan melupakan gaun sialan itu


" Kenapa tidak meminta pelayan saja yang mengambilnya " tanya Albert bingung


" Kau tidak tahu, saat musim semi nanti pohon persik akan di penuhi bunga yang bermekaran . Sangat indah, aku ingin memastikan lokasinya sekarang " kataku bersemangat


" Bagaimana kau tahu jika itu indah ?? " katanya spontan


degh


' Sial ..... mulut gagak ini bisakah diam saja ' runtuk batinku, ingin rasanya aku menampar mulutku sekarang juga


Aku menoleh menatap Albert sambil tersenyum manis,


" Tentu saja dari lukisan timur tengah di perpustakaan kekaisaran " jawabku yakin


" Kalau begitu aku ingin melihat lukisan itu juga, apakah sungguh sangat indah " kata Albert entah penasaran atau sedang menguji .


" Tentu saja kau bisa melihatnya nanti di perpustakaan kekaisaran " katanya menyetujui langsung

__ADS_1


' Haruskah aku mulai mencari pelukis asing untuk melukis pemandangan musim semi bunga persik nanti ' pikirku mulai berkerja


Kami berjalan sambil berbincang tak terasa pepohonan hutan dan semak belukar tadi sudah hilang digantikan dengan rumput halus kecil membentang dan pohon-pohon persik dewasa yang penuh dengan buah kemerahan berjejer di depan mata .


" Wah .... Albert lihat sangat indah .... " seruku senang


Spontan aku melepaskan tangan tangan Albert langsung berlari ke arah pepohonan buah persik yang matang . Aku mengitari satu persatu pohon dan memetik beberapa buah yang matang di cabang rendah .


Albert yang merasakan kekosongan di genggaman tangannya sedikit sedih, tapi ketika melihatku yang berlari senang mengitari pohon ke pohon seperti anak kecil . Albert hanya menghela nafas dan  tersenyum tak berdaya menatapku .


Albert melihat sekeliling pohon buah-buahan yang asing di depannya . Tapi ia harus mengakui bahwa mereka terlihat sedikit indah meskipun tidak terawat


Albert memperhatikanku yang masih sibuk mencari buah persik matang di sekitar pohon persik . Albert lalu menatap kejauhan dan melihat pohon hijau besar yang mencolok di tengah pohon buah persik yang merah .


Albert pun berjalan ke arah pohon itu, ia menoleh ke arahku yang masih sibuk meraih buah di dahan-dahan yang rendah . Albert pun memutuskan tidak menggangu dan berjalan seorang diri ke arah pohon itu .


Aku memetik setumpuk buah persik yang segar dan memeluknya erat-erat di kedua lenganku . Aku berbalik ke arah pohon di ujung akan mengajak Albert untuk kembali ke istanaku, tetapi yang kucari malah tidak ada di sana .


Aku menoleh kesana kemari mencari-cari Albert, ' mungkin ia berjalan-jalan di sekitar sini ' pikirku sambil berjalan mencari Albert di sekitar


" Albert " teriakku


" Albert " teriakku lagi sambil berjalan


" Albert " teriakku


" Saya di sini Putri " suara Albert terdengar di kejauhan


Aku menoleh ke arah sumber suaranya dan melihatnya menatap sebuah pohon hijau besar yang rindang dengan kayu berwarna hitam sehitam tinta . Aku langsung tahu jika itu pohon bunga sakura tua yang berusia ratusan tahun bahkan dari jauh .


Aku berjalan ke arah itu juga, dan aku melihat punggung Albert yang sedang menatap ke arah pohon itu .


Aku berjalan ke sisinya dan berseru sebal " Aku mencarimu tahu "


Tapi Albert tetap tidak menyahut ataupun menoleh ke arahku, ia seperti terbius dan menatap ke arah bawah .


Pepohonan buah persik terletak di dataran yang lebih tinggi, sehingga perlu melihat ke bawah untuk melihat pohon bunga sakura yang berada di depan .


Pohon bunga sakura itu sangat besar dan rindang usianya mungkin ratusan tahun dengan batang hitam legam yang kokoh dan tebal setebal lengan 4 pria dewasa dan cabang yang menjulur ke sisi-sisinya .


Tapi bukan pohon itulah yang membuat Albert terpaku, tapi sebuah bangunan kecil di sisi belakang pohon itu . Bangunan itu terlihat bergaya campuran antara eropa dan asia tenggara . Dinding bangunannya memang terbuat dari bata tapi pintu dan kisi-kisi jendelanya merupakan khas asia tenggara .


Aku tercengang melihatnya sehingga tanpa sadar melepaskan buah-buah persik di lenganku . Buah-buah persik yang segar kemerahan dan montok itu jatuh berguling guling di sekitar kakiku tetapi aku tidak memperdulikannya lagi .


Mataku melotot dan bibirku sedikit terbuka melihat bangunan itu, aku tidak mungkin salah jendela kayu berukir dengan penutup kertas minyak dan pintu geser berukir yang rumit itu pasti budaya milik asia tenggara .


Albert menatapku yang terbengong terkejut bahkan melupakan buah-buahan persik yang sangat antusias kupetik tadi menjadi heran .


" Apa Putri tahu bangunan apa itu ?? " tanya Albert membuyarkan lamunanku


' Yah ... bangunan apa itu ?? berada di sudut istana dan tidak diketahui siapapun tapi tetap terawat dengan baik ' pikiranku mulai berkerja


Albert yang melihatku tersadar dari keterkejutan lalu mendengar pertanyaannya dan mulai berfikir dengan serius, tidak menggangu konsentrasiku tapi menunggu dengan diam-diam di samping .


' Terletak tersembunyi, sederhana, tapi indah ' pikirku serius


degh,


Tiba-tiba suatu pikiran terbersit di benakku, dan tanpa sadar aku memekik tertahan . Albert yang melihatku sedikit memekik tiba-tiba lalu menatapku dalam .


" Anda ingat, Putri ?? " tanyanya pelan di sampingku


Aku bergidik ngeri dibuatnya, tanganku sedikit gemetar mendengar suara Albert di sampingku padahal biasanya kami mengobrol dengan sangat dekat tapi aku tidak pernah bereaksi seperti ini .


Entahlah mungkin ini reaksi bawah sadar tubuh ini ketika di hadapankan dengan bangunan didepan serta Albert yang berdiri di sampingku . Tubuhku menjadi gemetar ketakutan, wajahku memucat .


Albert yang melihatku menunduk diam sepertinya ada sesuatu yang salah, ia lalu menoleh menatapku dan melihat tubuhku gemetar dan wajahku yang pucat . Albert menjadi sangat panik dan khawatir di buatnya .


" Putri, ada apa ?? " katanya lembut sambil meraih tanganku


Tapi reaksiku sungguh tidak terduga, aku menampik kasar tangan Albert yang mencoba meraih lenganku . Aku berteriak terkejut mundur beberapa langkah dan terjatuh kebelakang sambil membelalakkan mataku ketakutan menatapnya, Albert terkejut bukan main melihat reaksiku .


" Pu .. putri ... ada apa ?? ini saya Albert " katanya tergagap terkejut


Albert juga bingung, khawatir, dan sedih melihat ekspresiku yang seolah takut padanya . Selesai Albert berbicara, aku mulai sadar akan tindakanku yang aneh dan berlebihan tadi .


Aku pun bingung dan tubuh ini merespon ketakutan dengan sendirinya sehingga mataku berkaca-kaca, suaraku tercekat, air mata akan turun kapan saja .


" Albert ... aku takut " lirihku pelan dengan suara serak


Entahlah apa yang kupikirkan sekarang, aku hanya tahu tubuh ini merespon dengan tidak wajar bila ada di tempat ini . Albert yang bingung melihat penolakanku menjadi sangat khawatir melihatku yang akan menangis, ia bergegas ke arahku dan menenangkanku .


" Jangan takut, saya di sini Putri " katanya sambil memelukku


Aku tetap tidak merasa lebih baik malah menjadi menangis terisak-isak sedih di pelukan Albert, dan Albert yang merasakan aku malah menangis sedih di pelukannya menjadi khawatir dan bingung harus berbuat apa .


" Aku mau pulang ... " rengekku di sela isak tangis


" Baik, baiklah jangan menangis lagi oke ... ayo kembali sekarang " kata Albert lembut sambil memelukku


Albert tidak bertanya apapun lagi, dan mengangkatku ala bridal style menggendongku di pelukannya . Albert berbalik lalu berjalan cepat menyusuri pohon-pohon buah persik, membawaku yang masih ketakutan dan terisak sedih di pelukannya .


Aku melingkarkan lenganku erat di sekitar leher Albert dan menutup mataku serta membenamkan wajahku di ceruk lehernya . Tubuh ini masih gemetar ketakutan dan menangis sedih, mungkin ini reaksi asli dari tubuh ini ketika melihat tempat kejadian yang menyiksanya sampai akhir hayatnya saat itu .

__ADS_1


Aku di gendong dipelukan Albert yang berjalan cepat meninggalkan pepohonan buah persik di belakang, tak ada yang peduli lagi dengan buah persik segar itu lagi .


__ADS_2