Merubah takdir ' Mawar Putih '

Merubah takdir ' Mawar Putih '
BAB 26


__ADS_3

" Mari belajar sebuah lagu lagi dengan biola " kataku langsung


" Tentu sesuai keinginan anda, Yang Mulia Putri " kata Lady Marie langsung menyetujui


" Terimakasih Lady Marie " kataku sambil tersenyum lembut lalu menoleh ke arah pelayanku


" Alice, bawakan biola untuk kami " perintahku


" Baik Putri " jawab Alice cepat


Alice pun segera pergi mengambil alat musik yang di inginkan oleh Putri Clea . Seraya menunggu Alice kembali, aku mengobrol santai dengan Lady Marie tentang para gadis bangsawan . Lady Marie selalu menjawab setiap pertanyaan yang kutanyakan tentang berita terbaru yang terjadi, tapi Lady Antoinette bukanlah seseorang yang ceroboh . Ia akan menghindar atau menjawab dengan berbelit ketika aku bertanya sesuatu yang kompleks, sama seperti kejadian di rumah kaca milik Yang Mulia Ratu . Lady Marie Antoinette sama sekali tidak menyinggung soal kejadian tadi pagi .


Tak lama Alice pun kembali dengan membawa 2 set biola untuk kami, aku menerima biola kesayanganku . Biola ini pemberian dari Raja Damien sengaja di pesankan ke pengrajin khusus untukku ketika pertama kali belajar musik, ada juga piano dan harpa tapi jarang sekali ku gunakan semenjak aku berlatih beladiri . Biola ini berwarna putih bersih dengan taburan serpihan berlian yang akan bersinar jika terkena cahaya juga ukiran rumit di tepinya dihias dengan cat emas yang mencolok .


Aku pun meminta Lady Marie untuk mengajarkan sebuah lagu yang tenang padaku . Lady Marie pun menyanggupinya dan mengajarkan sebuah lagu yang simple tapi enak di dengarkan dengan suasana santai . Aku mencobanya menghafal setiap nadanya sepanjang sore sesuai arahan Lady Marie dan akhirnya berhasil, Lady Marie terus memujiku karena kepintaranku dalam bermusik . Aku tersenyum malu sebagai tanggapan lalu merendah dengan sopan, aku pun meminta Lady Marie untuk mengulas kembali lagu-lagu yang pernah kupelajari .


Lady Marie sedikit mengernyit bingung akan permintaanku kali ini tapi ia berfikir mungkin aku khawatir jika lupa jadi ia pun menyanggupinya dengan senang hati . Aku pun mulai memainkan 7 set lagu yang pernah kupelajari sebelumnya, aku berencana untuk memainkan biola untuk Curtis esok saat di kebun jadi aku ingin Lady Marie memeriksanya lagi apa ada nada yang kulupakan atau tidak .


Kami pun bermain biola sepanjang sore hingga matahari akan terbenam Lady Marie menyudahinya dan pamit untuk kembali . Aku pun mengangguk ringan dan mengucapkan terimakasih lalu menyuruh Deenna untuk mengantarkan Lady Antoinette ke kereta kudanya di depan .


Aku pun kembali ke kamar tidurku untuk bersiap-siap makan malam bersama Raja Damien dan Ratu Carissa . Aku selesai bersiap-siap hingga matahari terbenam dan sudah gelap, aku pun berjalan ke ruang makan di istana utama bersama dengan pelayanku . Aku sangat lelah hari ini sampai menguap di sepanjang jalan ke istana utama, para pelayan yang bersamaku pun menoleh dengan khawatir .


" Putri, apa sebaiknya kita kembali ?? anda terlihat sangat lelah " ujar Deenna mewakili yang lain


" Tidak perlu, aku hanya sedikit mengantuk " jawabku sambil tersenyum


Para pelayan pun diam kembali . Aku pun tiba-tiba teringat soal kemarin


" Deenna, bangunkan aku esok pagi . Aku akan belajar di perpustakaan istana lagi " ujarku tiba-tiba


" Baik Putri " jawab Deenna sopan


" Dan buatkan aku sekeranjang besar  berbagai kue kesukaanku untuk teman belajarku . Aku akan di dalam perpustakaan sepanjang hari, jadi kalian tidak perlu cemas " kataku


" Baik Putri . Maafkan hamba jika sebelumnya bertindak di luar keputusan Putri " kata Deenna menunduk menyesal


" Lupakan saja, itu salahku juga tidak mengingat waktu . Kali ini aku akan kembali sebelum makan malam jadi tak perlu cemas " kataku sambil menoleh pada mereka


" Ah ... dan juga jangan ganggu aku mengerti . Jika ada yang datang berkunjung tolak saja " tambahku


" Baik Putri " jawab mereka serempak


Aku pun selesai berbicara sambil berjalan hingga sampai ke depan istana utama, aku pun berjalan ke arah ruang makan melewati lorong istana yang di jaga para prajurit dan sampai di depan pintu ruang makan . Deenna mendorong pintu itu hingga terbuka lebar untukku di dalam terdapat meja makan besar dan luas dengan banyak kursi yang berjejer rapi di sekelilingnya . Di ujung meja sudah ada Raja Damien dan Ratu Carissa yang duduk menungguku datang sambil mengobrol .


" Saya memberi sedikit pelajaran pada Nyonya Casiopeia tadi pagi, Yang Mulia tidak keberatan bukan ?? " ujar Ratu Carissa lembut sambil menatap pasangannya


" Tentu saja tidak . Saya percaya pada keputusan Ratuku, jika anda sudah turun tangan berarti merekalah yang berbuat salah " ujar Raja Damien tenang


Raja Damien sudah mendengar tentang kejadian saat pesta teh di rumah kaca yang diadakan Ratu Carissa pagi hari tadi, Raja Damien pun setuju dengan keputusan sang Ratu untuk sedikit memberikan pelajaran pada keluarga bangsawan Cassiopeia yang mulai sombong tersebut . Apalagi mereka berani memasukkan hidungnya pada kehidupan Putri Clea yang mana itu jelas melampaui garis batas kesabaran dari Ratu Carissa yang sangat memanjakan Putrinya . Jadi tidak heran jika keluarga Cassiopeia berakhir untuk di permalukan tadi .


Ceklek


Mereka pun menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka lalu tersenyum senang ketika melihatku berjalan masuk dari arah pintu, aku berjalan cepat menghampiri mereka dan memeluk ringan satu persatu sebelum kembali duduk di sebelah kiri Raja Damien . Aku tersenyum cerah pada mereka dan mulai bertanya .


" Apa yang sedang ayah dan ibu bicarakan ?? " tanyaku ringan


" Membicarakanmu " ujar Raja Damien ringan


" Aku ?? " tanyaku terkejut


" Iya kamu " sahut Ratu Carissa pelan


Aku terbengong bingung dibuatnya, ' apa aku berbuat kesalahan tanpa kusadari ?? ' pikirku bingung . Ketika Raja dan Ratu pun melihatku yang kebingungan, mereka pun tertawa karena merasa ekspresiku lucu melihatnya . Aku yang sadar sedang dipermainkan oleh Raja dan Ratu pun segera memasang wajah cemberut sebal sambil melipat 2 tanganku di dada, Raja dan Ratu pun semakin tertawa gemas di buatnya . Setelah beberapa saat akhirnya mereka pun selesai tertawa lalu mulai membujukku untuk tidak marah lagi .


" Sayang, kami sedang membicarakanmu yang berkuda tadi pagi . Putriku terlihat seperti seorang yang ahli berkuda " puji Ratu Carissa ringan


" Benarkah ?? " tanyaku polos

__ADS_1


" Tentu saja, Clea pasti belajar dengan keras bukan ?? " tanya Ratu Carissa lagi mengalihkan perhatianku


" Ehm, aku belajar sangat keras " sahutku sambil mengangguk lucu


" Aku juga hampir jatuh beberapa kali " keluhku kemudian


" Benarkah ?? apa kau terluka ?? ibu sangat cemas kau jatuh saat melihatmu melewati taman tadi " ujar Ratu Carissa khawatir


Aku segera menggelengkan kepalaku, " Tidak ibu tak perlu khawatir, Kapten Molly dan Albert akan menjagaku supaya aku aman " kataku ringan


Ratu Carissa pun menghela nafas lega, Raja dan Ratu pun tidak ingin mencampuri hubungan Putrinya dengan Tuan Muda Albelart itu . Mereka hanya memantaunya dari jauh, selama Tuan Muda Albelart tidak berlaku macam-macam dan Putrinya bahagia maka mereka akan membiarkannya saja .


" Apa kau senang Clea ?? " tanya Raja Damien tiba-tiba


Aku menangguk dengan semangat seraya berseru " iya ... aku senang "


Raja dan Ratu yang melihatku tersenyum senang dengan mata yang berkilauan indah pun saling memandang dengan makna sama, ' sepertinya keputusan kita sudah benar ' itulah yang mereka pikirkan .


" Ibu, tunggu aku sedikit lebih ahli lagi lalu aku akan mengajakmu berkuda bersama " ujarku senang


Ratu Carissa tertawa senang lalu mengangguk ringan, " Baiklah, ibu akan menunggumu selama apapun jadi tak perlu terburu-buru . Bersenang-senanglah sayang " ujar Ratu Carissa lembut dan aku tertawa dibuatnya


" Ayah setelah aku diperbolehkan keluar istana nanti, apakah aku boleh ikut Albert berkuda di perkebunannya ?? " tanyaku antusias


" Tentu . Tunggu hingga kau selesai debutante mu di masyarakat " kata Raja Damien ringan


" Uhm, terimakasih ayah " ujarku senang


" Baiklah mari kita mulai makan malamnya " kata Raja Damien mengakhiri obrolan ringan tersebut


Para koki dan pelayan pun mulai mengeluarkan hidangan satu persatu . Kami pun mulai makan malam yang nikmat lalu kembali ke urusan masing-masing, aku cepat-cepat kembali ke istanaku untuk beristirahat dengan cukup .


Di kamar tidurku Blance dan Chacha sedang melepas perhiasan dan gaunku, selesai mengganti gaunku aku segera naik ke tempat tidur dan beristirahat dengan nyaman .


.


.


.


Aku menggulung badanku di selimut hangat dan lembut bersembunyi dari udara dingin pagi hari, terdengar suara korden yang di tarik terbuka oleh Deenna . Sinar matahari pun memasuki kamar tidurku, aku menggeliat merasa terganggu . Lalu bangkit duduk dan merentangkan tanganku untuk merenggangkan badanku . Deenna membuka tirai yang menutupi tempat tidurku dan mengikatnya di tepi, aku menguap sedikit dan menatapnya dengan mata setengah sadar .


" Deenna suruh Alice memasukkan beberapa wewangian ke bak mandinya . Aku merasa kulitku sangat kering akhir-akhir ini " kataku ringan  setengah sadar


" Baik Putri " jawab Deenna lalu berjalan ke kamar mandi


Aku menguap lebar-lebar dan merenggangkan tubuhku yang kaku lagi, lalu berbalik ketika Deenna sudah berjalan kembali ke arahku . Ia membantuku turun dan memakai jubah tidurku lalu menuntunku ke arah kamar mandi, di sana Alice dan Blance sedang menungguku sambil menaburkan beberapa kelopak mawar di atas air hangat di bak mandi .


Melihat kedatanganku pun, mereka menghampiri ku dan membantuku membuka pakaian tidurku lalu menuntunku untuk berendam di air hangat dengan wangi kelopak bunga mawar dan vanilla yang sudah di siapkan .


" Putri, apa anda suka wanginya ?? " tanya Alice pelan


" Uhm " gumamku sambil mengangguk sedikit


Aku membiarkan mereka untuk mencuci rambutku serta menggosok dan memijat tubuh . Setelahnya mereka memakaikan jubah mandi untukku, lalu aku berjalan ke luar ke ruang ganti yang terdapat Deenna dan Chacha yang sedang menungguku . Aku berjalan menghampiri mereka .


" Deenna aku ingin baju yang ringan dan nyaman untuk di pakai tapi pastikan tetap terlihat cantik " kataku pada Deenna


" Baik Putri " jawab Deenna langsung


Chacha termenung di samping memperhatikan Deenna yang sedang memilah gaun di lemari . Aku menoleh padanya dan bertanya " Chacha apa aku tidak punya uang ?? "


" Hah ?? " ujar Chacha spontan


Raut wajahnya seolah mengatakan ia tak mengerti dengan maksudku, Deenna yang sedang memilih gaun pun spontan menoleh kebelakang ketika mendengar pertanyaanku . Aku terbatuk canggung lalu menggaruk ujung hidungku malu, '  bodoh !!! mana ada seorang Putri tidak punya uang ?? kenapa perkataanku begitu kacau ?? ' pikirku menyesali otakku yang tidak cemerlang hari ini


" Maksudku koin uang, aku ingin memberikan beberapa hadiah pada pelayan di istana " kataku mencari alasan

__ADS_1


" Ah ... begitu " gumam Chacha pelan


Deenna pun menoleh kembali fokus ke gaun-gaun di lemari, Chacha berjalan ke lemari tempat perhiasan dan aksesorisku di simpan . Ia membuka laci di bagian bawah dan mengambil peti kotak kayu yang cukup besar dengan ukiran yang mewah, karna ukurannya Chacha perlu memanggil Alice di kamar mandi untuk mengangkatnya .


Sedangkan Deenna sudah selesai memilih  gaun untuk ku pakai, ia menjajarkan 3 gaun yang cantik dengan model, warna dan aksesoris yang berbeda . Deenna menunjukkan padaku 3 gaun sederhana tersebut .


" Putri, bagaimana menurut anda ?? " tanya Deenna


Aku melihat 3 gaun tersebut dan menunjuk pada sebuah gaun putih panjang dengan aksen warna biru langit jika terkena cahaya serta sulaman dengan butiran mutiara cantik yang menghiasi seluruh gaunnya .


" Yang ini sepertinya nyaman " kataku


Deenna pun langsung membantuku berganti pakaian dengan bantuan Alice yang sudah selesai membantu Chacha mengeluarkan peti kotak dari lemari .


Aku memakai selesai gaun tersebut dan duduk di depan cermin yang besar, membiarkan Deenna dan Alice menyisir rambutku dengan perlahan . Sedangkan Chacha ia sedang menunggu di pinggir dengan peti kotak di samping kakinya .


" Buka kontaknya " kataku pada Chacha


Chacha pun mengangkat tutup peti kotak kayu itu yang tidak dikunci, dan ketika terbuka terlihat kemilau emas yang bersinar dari dalam . Aku menjulurkan kepalaku untuk melihat setumpuk koin emas yang di biarkan begitu saja di dalam peti kotak tanpa aku ketahui keberadaannya .


' Ck, ck, ck, ck aku sungguh menyia-nyiakan barang berharga selama ini ' keluhku dalam hati .


" Ambil separuh untuk di bagikan pada pelayan sesuaikan dengan tingkatannya, Deenna bantu Chacha . Sisanya masukkan ke sebuah kantong " kataku menginteruksi


" Baik Putri " jawab Deenna dan Chacha bersamaan lalu mereka mulai membagi 2 uang koin tersebut dan memasukkan separuhnya pada kantong putih kain sutra dengan tali benang emas .


" Alice buat rambutku lebih sederhana " kataku sambil menengok ke belakang


" Baik Putri " sahut Alice lalu mulai menata rambutku dengan kepangan kecil di sisi-sisi di hias dengan jepitan bentuk bunga  chamomile yang lucu serta ikat rambut pita satin biru yang mencolok .


Selesai bersiap-siap, aku keluar ke ruang teh untuk sarapan pagi . Pelayan dapur sudah menyiapkan hidangan sup pear dan roti kismis untuk sarapan, aku menyantap hidanganku dengan perlahan .


" Deenna apa pesananku kemarin sudah selesai ?? " tanyaku ringan di sela makan


" Sudah di siapkan Putri " jawab Deenna singkat


" Uhm " gumamku mengerti


" Alice, ambilkan biolaku " kataku pada Alice usai menyudahi sarapanku


Aku turun ke bawah di mana Blance tengah menungguku di ruang tamu istanaku sambil membawa sebuah keranjang piknik besar yang berisi berbagai kue, aku berbalik ke arah Chacha dan meminta kantung berisi koin emas yang sejak tadi di pegangnya . Aku memasukkan kantung tersebut ke dalam keranjang makanan di ikuti tatapan penasaran yang lainnya, tak lama Alice datang sambil menenteng kotak biola di tangannya .


" Deenna dan Chacha lakukan tadi yang kusuruh " kataku sambil berbalik menatap mereka


" Baik Putri " jawab Deenna dan Chacha serentak


" Alice dan Blance, ikut aku ke perpustakaan istana " ujarku berbalik berjalan diikuti oleh Alice dan Blance


Aku keluar dari istanaku berjalan ke jalan setapak melewati istana utama, para pelayan sedang sibuk di sepanjang jalan karena ini masih pagi mereka menjalankan tugasnya masing-masing . Udara pagi sangat sejuk mengikis semua sisa rasa kantukku, burung pipit berterbangan kian kemari di sepanjang taman istana yang sedang memasuki puncak musim semi . Aku tersenyum riang di sepanjang jalan setapak menuju perpustakaan istana .


Tak lama kami pun sampai di depan pintu besi perpustakaan yang sudah di perbaiki oleh pelayan pengurus dan sekarang nampak seperti sebelumnya, aku mendorong pintu itu agar terbuka lebar . Di dalam perpustakaan ruangan terang karena lampu utama masih menyala .


" Taruh semuanya di atas sofa itu " perintahku sambil menunjuk sofa besar yang dekat dengan perapian


Alice dan Blance pun menaruh keranjang serta kotak biolaku di atas sofa yang kutunjuk, lalu berjalan kembali menghampiriku .


" Sudah, kalian kembalilah ke istana . Aku akan membaca buku sendiri di perpustakaan ini " perintahku


Alice mendongak ingin mengatakan sesuatu tapi langsung kupotong ucapannya " tap.... "


" Aku akan kembali sebelum makan malam, jadi tak usah khawatir . Juga aku tidak ingin di ganggu siapapun !! " ujarku final dengan wajah serius


Alice dan Blance pun hanya bisa menunduk tak membantah lagi, lalu memberi hormat sopan padaku dan berjalan pergi keluar sambil menutup pintu perpustakaan . Aku menunggu beberapa saat hingga tak terdengar suara langkah kaki mereka dari luar, aku pun berjalan ke arah jendela dan membuka gorden untuk melihat keadaan setelah di pastikan tidak ada seorang pun di luar aku pun mengunci pintu perpustakaan itu .


Setelah memastikan pintu sudah terkunci rapat aku berlari ke tangga menuju lantai 3 untuk mengambil jubah Curtis yang ku sembunyikan di laci meja belajarku yang lama . Setelah menemukan di sudut laci, aku melihat jubah musim dingin itu sudah agak kotor karena di simpan lama di laci berdebu . Aku menepuk-nepuk ringan bagian yang berdebu tersebut sembari berjalan menuruni tangga ke bawah lagi .


Setelah agak bersih, aku melipat sedikit jubah tersebut dan menaruhnya di atas keranjang makanan . Aku berbalik berjalan ke arah rak buku di pojok bawah tangga, aku berjongkok, menunduk, dan mengulurkan lenganku ke bawah kolong rak buku . Tanganku meraba-raba mencari buku yang menjadi kunci untuk membuka pintu rahasianya, setelah tanganku meraih sebuah benda yang terasa seperti buku aku segera menekan kebawah permukaan benda tersebut hingga terdengar bunyi nyaring di ruangan perpustakaan itu .

__ADS_1


Ceklek


__ADS_2