
" Aaaaaaaa....... tidak .... " teriak orang-orang
" Aku tidak sanggup melihat lagi " kata penjual sayur
" TIDAK ..!!! PUTRIKU...!!! " teriak wanita paruh baya ibu dari anak itu
Gadis kecil itu sangat ketakutan, ia hanya bisa berjongkok di sana dengan wajah yang memutih pucat ketakutan sambil mencengkram bolanya erat-erat .
Sesosok tubuh mungil berlari kencang tepat ketika kuda itu terkejut dan mengamuk .
" AWAS !!!!! " teriak seorang pria yang berdiri paling depan
Tanpa berpikir panjang aku langsung menerjang maju ke arah bocah kecil itu, aku berlari secepat yang kubisa di bawah teriakan dan antisipasi dari orang-orang . Jantungku berdetak sangat keras, kepalaku kosong sesaat hanya terlintas pikiran untuk berlari menyelamatkan anak kecil itu . Tubuh mungilku merunduk di bawah kaki kuda-kuda yang terkejut, meraih dan memeluk erat-erat anak kecil yang ketakutan itu .
Dan dengan sebuah dorongan keras kami berguling bersama ke sisi lain jalanan . Aku menutup mataku erat-erat sambil memeluk tubuh kecil yang bergetaran, dapat kurasakan kaki kuda yang menghentak ingin menghancurkan kami di bawah di belakang punggungku .
Nyaris saja ... aku tak lolos, jika saja jubah panjang yang kupakai tidak berkibar menghalangi pandangan dari kuda itu menyebabkan ia tak tahu persis posisi kami dan salah mendaratkan kakinya .... Kami pun selamat.
Kuda-kuda yang mengamuk itu tak bisa menemukan sesuatu untuk melampiaskan emosinya sehingga ia tetap gelisah meringkik, mengibas-ngibaskan kepalanya ke kanan kiri, dan menghentakkan kaki-kakinya di tanah . Sedangkan gerbong kereta yang di bawa oleh kuda-kuda itu kehilangan keseimbangannya sejenak karena kuda yang berhenti tiba-tiba menyebabkan gerbong itu oleng ke kanan, samar-samar di antara keriuhan suara terdengar pekikan dari arah gerbong kereta mungkin penumpangnya ketakutan . Untungnya kusir pengemudi itu terampil, ia segera mengambil cambuk kuda dan melemparkan beberapa cambukan pada kuda sehingga kuda itu tenang seketika . Kuda-kuda dengan cepat di tenangkan jadi gerbong kereta tidak sampai roboh ke samping, mungkin kualitas gerbong kereta yang tergolong mewah juga salah satu faktor ia tak gampang roboh . Tapi kejadian ini cukup menyebabkan kusir itu pucat ketakutan, ia melirik dengan hati-hati pada pintu kereta di belakangnya .
Setelah berguling-guling beberapa kali, seluruh gaun putih yang kugunakan kotor karena debu di jalan, rambut pirang palsu yang ku gunakan berantakan menutupi wajahku, jubah yang kupakai terlepas dan sekarang sedang di hancurkan di bawah kaki kuda yang marah . Aku perlahan bangkit duduk di bawah tatapan terkejut semua orang .
" Dia ... dia ... mereka ... mereka selamat !!! " seru seseorang memulai
" Ya ... anak kecil itu juga benar-benar selamat !!! " seru lainnya
" Wah .... gadis kecil itu sungguh pemberani ... " kata seorang lainnya
" Benar .... setuju ... " sahut lainnya dan di tanggapi dengan anggukkan banyak orang
Segera suara penuh diskusi membengkak naik, tapi tak ada seorangpun yang masih berani mendekat untuk menolong kami . Di bawah suara yang bising penuh omong kosong itu aku sama sekali tidak berminat, aku menundukkan kepalaku pada sosok kecil yang masih bergetar di pelukanku .
" Kau ... kau tidak apa-apa ?? " tanyaku ragu-ragu
Jujur ... aku sama sekali tak berbakat untuk dekat dengan anak kecil, jadi aku dengan kikuk bertanya pada anak kecil yang masih bersembunyi di pelukanku . Tangan mungilnya sudah lama melepaskan bola kain jelek miliknya berganti mencengkram erat bagian depan gaun yang kupakai .
Setelah mendengar suaraku, anak kecil itu dengan takut-takut mengadah melihat ke atas padaku . Mata besar itu penuh air mata, ada dua aliran sungai di pipinya, sudut mata dan hidungnya memerah karena menangis, bibirnya cemberut menekan erat-erat agar tak terdengar isak tangisnya, rambutnya berantakan karena berguling-guling bersamaku tadi . Dahiku mengkerut jijik ketika melihat ingus akan keluar dari hidungnya, ingin rasanya aku cepat-cepat mendorong anak kecil itu jauh-jauh tapi aku tak tega melakukannya ketika mata besar nan polos itu terlihat mengiba .
Tapi aku tak pernah berpengalaman untuk menghibur anak kecil juga, sesaat aku bingung apa yang harus di lakukan . Tepat ketika aku akan berbicara, sesosok wanita paruh baya ibu dari anak ini bergegas keluar dari kerumunan di sisi lain jalan .
Wanita agak tua itu berjalan dengan tergesa-gesa terlihat seperti berlari menghampiri kami yang masih terduduk di tepi jalan .
" Rara ... " panggilnya sambil berjalan ke arahku
__ADS_1
Anak kecil itu segera menoleh ke asal suara itu, dan melihat ibunya yang kini sudah ikut terduduk bersama kami . Anak kecil itu segera tak bisa menahan tangisannya lagi, ia berbalik melepaskan cengkramannya pada bajuku dan melemparkan dirinya pada pada pelukan wanita paruh baya di depan kami .
" Hua ...... "
Suara tangisan yang meledak terdengar segera ketika anak kecil itu memeluk ibunya, seperti melampiaskan segala ketakutannya tadi .
" Rara .... putriku .... putriku ... syukurlah .... " gumam wanita itu sambil memeluk putrinya erat-erat di dadanya .
Aku melihat mereka dengan datar lalu bangkit berdiri dengan santai, aku menunduk melihat gaun putih kotor yang kupakai sekarang . Aku mulai menepuk-nepuk dengan ringan pada bagian debu yang tidak terlalu tebal .
Setelah beberapa saat wanita paruh baya ibu dari anak kecil itu teringat dengan orang yang sudah menyelamatkan putrinya, lalu ia mendongak berniat untuk berterima kasih . Tapi ketika ia melihat aku yang sedang menepuk-nepuk debu pada gaunku, ia sangat terkejut .
Tatapan mata kami bertemu sesaat, aku melihat ekspresi terkejut dengan ketidakpercayaan yang jelas pada wanita paruh baya itu . Aku hanya diam dan mengalihkan pandanganku dengan acuh tak acuh seraya merapikan rambut palsuku yang berantakan .
' sepertinya bergeser sedikit ' pikirku sambil meraba-raba rambut palsu yang kugunakan
" Cantik ... "
" Cantik sekali .... "
" Ya tuhan .... sangat cantik "
" Sepanjang hidupku, baru kali ini aku melihat gadis secantik ini "
" Sepertinya ia dari keluarga bangsawan "
" Dengan wajahnya yang secantik itu, bagaimana mungkin ia dari keluarga biasa-biasa saja "
Ketika aku sibuk membenarkan rambut palsuku, secara tak sadar aku sudah melupakan untuk menutupi penampilanku . Di tambah dengan aku kehilangan jubah yang kupakai tadi, segera saja fokus perhatian banyak orang kini bergeser pada wajahku dengan cepat .
Bisik-bisik yang semakin riuh membuatku gugup dan takut, aku melihat berbagai pasang mata kini serentak menatap padaku . Tak ada tempat aku bisa sembunyi, sontak aku hanya menunjukkan mukaku dalam-dalam dan berusaha menutupi wajahku dengan helaian rambut palsu yang kugunakan .
" Nona ... ini ... saya ... tidak, maksudku yang rendah ini sangat berterima kasih karena menyelamatkan nyawa putri ini . Hutang ini akan kami ingat seumur hidup kami " kata wanita itu setelah tersadar dari keterkejutannya
Wanita tua itu berlutut di depanku, sontak menambah fokus perhatian semua orang . Aku yang merasa tidak nyaman tadi semakin merasa terganggu dan kesal . Hal ini membuat suaraku semakin datar dan nada bicaraku sedikit kasar ketika berbicara balik .
" Tak perlu, aku hanya lewat . Minggir " kataku acuh tak acuh
Wanita paruh baya itu cukup terkejut ketika mendengar nada bicaraku yang dingin dan kasar . Ia hanya berfikir aku marah dan kesal karena kejadian ini, jadi ia hanya diam dan menyingkir sambil tetap berlutut dan menunduk .
Aku melangkahkan kaki ku tergesa-gesa ingin segera pergi meninggalkan hal-hal sialan serta orang-orang yang menyebalkan dan penuh omong kosong .
Tapi .... sebelum langkah ketiga kuambil terdengar teriakan menggelegar dari arah belakangku .
__ADS_1
" BERHENTI DISANA !!! "
Kakiku sontak berhenti melangkah, ingin rasanya aku mengadah ke langit dan mengumpat keras-keras . Kenapa aku tidak bisa lepas dari perhatian semua orang ?? padahal aku hanya ingin jalan-jalan dengan santai, tapi akhirnya aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menahan semuanya di dada . ' Sial !!! sungguh hari yang buruk, seharusnya aku melihat kalender dulu sebelum menyelinap keluar . Apa sudah terlambat untuk menyesal ... ' batinku nelangsa .
Aku berbalik dengan santai, seolah tidak ada yang terjadi . Lain halnya dengan wanita paruh baya bersama putri kecilnya yang masih berlutut di tanah tak jauh dariku, tubuh mereka bergetar ketakutan tak berani mengangkat kepala sedikitpun, sedangkan anak kecil itu menahan tangisannya lagi dan meringkuk ketakutan di samping ibunya .
Raut wajahku tetap datar dan tidak peduli melihat ke arah depan dengan dingin . Pintu gerbong kereta terbuka, seseorang turun dari dalam gerbong sambil menggosok-gosok pelipis dan sikutnya . Seorang remaja berusia sekitar 15 tahun atau lebih, wajahnya biasa saja tapi kini memerah karena marah, dengan badan pendek gemuk yang terlihat seperti gumpalan lemak menjijikkan . Ia menatap nyalang pada kusir kereta yang kini berdiri ketakutan pada di samping kereta, wajahnya pucat pasi dengan badan yang gemetar ketakutan, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil meremas erat cambuk kuda di tangannya .
" KAU !!! PELAYAN TIDAK BERGUNA ... !!! " teriaknya sembari menunjuk pada muka kusir kuda itu
Kusir itu terkejut dan semakin ketakutan, ia segera berlutut di depan gumpalan lemak itu . Tapi, sepertinya gumpalan lemak itu belum cukup melampiaskan amarahnya sehingga ia tetap menendang dengan keras pada perut kusir kuda yang sudah berlutut memohon pengampunan .
" KAMU !!! SAMPAH !!! KAU HANYA MENGENDARAI KERETA DAN HAMPIR MENCELAKAI TUAN MUDA INI ...!!! " teriaknya marah sambil tetap menendang dan menginjak-injak kusir kereta yang kini sudah tersungkur di tanah .
Seolah belum puas hanya dengan menendang dan menginjak saja, sorot matanya yang kejam itu melihat cambuk kuda yang tergeletak di tanah terlepas dari tangan kusir kereta yang kini sudah meringkuk kesakitan dan tak berdaya di tanah . Gumpalan lemak itu menyambar cambuk kuda itu lalu mengangkatnya tinggi-tinggi seakan akan mencambuk dengan keras pada kusir kuda yang malang itu .
Sontak orang-orang di sisi jalan serempak memekik tertahan pada tindakan kejam dari Tuan Muda itu, aku yang melihat dari sisi lain jalan semakin mengernyit dalam pada sikap sombong dan kejam gumpalan lemak itu
Ctass.....
" Aaakkhh...... " teriak kusir kuda itu
Cambukan pertama di jatuhkan dengan keras mengenai punggung kusir kuda itu, kusir kuda itu memekik kesakitan tapi tak berani mengelak atau melawan sedikitpun . Ia hanya meringkuk di tanah sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangannya . Orang-orang biasa di sisi jalan hanya bisa menonton dengan tatapan kasian, beberapa tak sanggup melihat dan memalingkan kepalanya ke samping .
' Orang-orang bodoh ini apa tak bisa melakukan apapun !!! Bagaimana bisa mereka tetap menunduk diam ketika seseorang disiksa dengan tidak adil ' pikirku marah
Mungkin jika situasi normal, aku akan berfikir dengan aturan jaman kuno di dunia ini . Tapi aku yang sedang marah sekarang tengah di liputi emosi jadi tak berfikir jernih, melihat banyak orang yang tak berusaha menolong dan melakukan apa-apa pada seorang anak kecil yang hampir tertabrak kereta lalu kini seorang kusir yang di siksa dengan kejam di depan mata mereka tapi mereka tetap tidak ingin ikut campur . Sungguh orang-orang egois dan bodoh !!!
Ketika gumpalan lemak itu mengangkat tangannya akan mencambuk lagi, aku yang sudah marah menjadi tidak tahan untuk tidak masuk mencari masalah .
" Apa kau bodoh ??!! Kau sendiri yang mencari masalah tapi melampiaskan kesalahanmu pada orang lain " kataku dingin
Gumpalan lemak itu yang mendengar seseorang menyelanya memberi pelajaran pada pelayannya, apalagi nada bicaranya yang memaki dirinya membuatnya semakin marah . Jadi gumpalan lemak itu segera melupakan kusir kereta malang yang ada di tanah dan menoleh dengan penuh amarah ke arahku .
Begitu pula dengan orang-orang biasa di sekitar, mereka menghirup udara dingin mendengar kata-kataku yang tajam dan langsung .
Gumpalan lemak itu menoleh lalu melihatku yang berdiri di sisi lain jalan . Seorang gadis kecil berusia sekitar 11 atau 12 tahun, memakai gaun sutra sederhana berwarna putih, meskipun sekarang tidak bersih lagi melainkan ada beberapa noda kotor di setiap beberapa sisi, rambut pirang bergelombang yang panjang yang agak berantakan . Tapi wajahnya adalah yang menyita perhatian, wajah cantik ... sangat cantik, raut wajah mungil, dengan kulit putih dan halus, hidung kecil dan runcing bak boneka, bibir merah yang kini menipis karena marah, mata biru sebiru lautan yang berkilau di bawah sinar matahari, sangat mempesona . Ia tak pernah melihat gadis secantik ini di manapun . Meskipun wajah itu datar tanpa ekspresi dengan sorot mata yang marah tapi tetap tak bisa tidak menarik fokus perhatian dari gumpalan lemak itu .
Aku melihat dengan jelas perubahan ekspresi dari gumpalan lemak yang kini melihatku, dari marah menjadi terkejut, bingung, kagum, terpesona, lalu menjadi ekspresi cabul serakah yang menjijikkan . Aku mengerutkan dariku dengan erat, yang awalnya aku melihatnya dengan amarah kini menjadi tatapan yang merendahkan . Seolah melihat seorang bajingan yang hanya mengandalkan status saja . Aku mulai berfikir dari keluarga mana gumpalan lemak bodoh ini berasal sebenarnya ??
Gumpalan lemak itu terbatuk sedikit untuk mengubah nadanya bicara yang awalnya akan memaki, tapi tak jadi setelah melihat parasku . Ia lalu beralih merapikan penampilannya sedikit lalu berjalan maju dengan sikap angkuh dan sombong .
" Uhuk ... Nona ini, sepertinya ada kesalahpahaman di sini " katanya perlahan dengan wajah yang memerah malu-malu sambil menatapku
__ADS_1
Aku mengerutkan dahiku jijik pada sikap tidak tahu malu gumpalan lemak ini, apa dia kira aku buta dan bodoh sepertinya ??