
" Kakak tampan, tetaplah bersamaku ... jangan berpaling dariku, bisakah ?? " tanyanku dengan tulus
Curtis tetap diam . Aku pun tercengang dengan apa yang kudengar tadi . Aku menempelkan diriku erat di punggung Curtis, dan bersandar dengan nyaman padanya . Jadi kami tidak memiliki jarak sedikitpun, awalnya aku mengira wajah Curtis memerah karena panas matahari .
Tapi kemudian semakin aku berkata-kata dengan serius soal perasaanku padanya barusan, aku mendengar jantungnya yang berdegub dengan kencang ....
' Oh **** ... apa ini seperti tebakanku ... ' batinku
' Bagaimana aku tak tahu artinya ... ??!! Oh ayolah ... aku bukan gadis kecil yang polos !!! . Awalnya aku mengira sikapnya yang canggung dan malu-malu padaku dikarenakan wajahku yang cantik ini .. ' pikirku bingung
' Ya kan ??! pria normal mana yang tidak salah tingkah di hadapan seorang gadis cantik !!? ' teriak batinku
Aku terdiam termenung pada pikiranku sendiri ketika suara Curtis menyadarkanku .
" Uhm, aku ... aku akan selalu berada di sisimu " katanya dengan suara bergetar
' Oke, benar dugaanku '
Aku mengendalikan diriku dan mulai berfikir ' tidak apa-apa Cleo, anggap saja kau tak menyadari apapun seperti sebelumnya . Lagipula di sukai oleh pria seperti Curtis bukanlah hal yang buruk ' .
Aku mulai menganalisis keadaan , mencoba mencairkan suasana yang canggung . Tiba-tiba mataku terfokus pada reaksi Curtis yang gugup, lalu aku tertawa kecil dan mulai menggodanya lagi .
" Hihihi ... kakak tampan, apa kau malu ?? suaramu bergetar tadi ... hihihi " kataku sambil tertawa geli
Blusss
Seketika wajahnya merah padam dan terbatuk-batuk gugup, aku yang melihatnya mulai tertawa dengan keras . Curtis mengerutkan alisnya erat, ia berkata dengan dingin kembali untuk mengingatkanku yang tertawa terbahak-bahak
" Tidak sopan " ujarnya dingin
" Hahahah ... ahahaha .... ah ... " bukannya diam aku malah tertawa semakin keras
Curtis menghela nafas keras lalu diam berusaha tak peduli lagi, setelah beberapa saat akhirnya tawaku mereda . Curtis tak mengucapkan sepatah katapun, aku pun menyadari bahwa ia sedang kesal .
" Kakak tampan, jangan marah " bujukku
" Aku hanya sedang senang jadi aku tertawa dengan keras " kataku menjelaskan
" Hmm " gumamnya pelan setelah menghela nafas menyerah
Aku tersenyum senang melihatnya yang menyerah dengan mudah kembali lalu tertawa kecil kembali
' Kakak tampan, jangan khawatir ... karena kau tulus padaku, maka akan kubalas kembali . Kau milikku ... tak akan ku lepaskan ' batinku
Kami terdiam kembali dengan pikiran masing-masing, aku mengamati sawah dengan padinya yang membentang luas di sepanjang penglihatanku . Di kehidupanku sebelumnya, aku terlalu fokus untuk bertahan hidup seorang diri di jaman milenial yang serba kompetitif . Aku tak pernah sempat untuk berpergian ke tempat-tempat lain untuk menghibur diri, kehidupanku amatlah monoton dari rumah ke tempat kerja dan kembali lagi ...
Aku menghirup udara sejuk dan tersenyum kecil, lalu kembali berfikir untuk mengganggu Curtis .
" Kakak tampan, soal tadi kelanjutannya bagaimana ?? " tanyaku penasaran
Curtis terdiam sejenak, memikirkan yang maksudku .
" Maksudmu tentang gadis-gadis desa tadi .. karna kehidupan yang sulit dan terbatas, banyak orang tua yang menikahkan anak perempuannya sedini mungkin . Membiarkan mereka mengurus kehidupannya masing-masing " ujar Curtis datar
" Hah !!! sialan, bukankah itu sangat tak bertanggungjawab . Apakah mereka tak pernah berfikir sulitnya kehidupan mereka setelahnya " makiku penuh amarah
" Tidak sopan " ujar Curtis dingin
" Tidak, bukan begitu kakak tampan . Jangan perhatikan kata-kata kasarku, maksudku ini membuat orang sangat marah . Kalau tak bisa bertanggungjawab pada anak-anak, ya ... jangan melahirkan mereka dong ... " omelku penuh dengki
" Hmmm ... " gumam Curtis pelan
Entah ia setuju atau tidak dengan pola pikirku, ia tetap diam berjalan sambil menatap ke depan . Aku tetap menggerutu dengan tak jelas di belakang .
" Tapi itu lebih baik daripada di jual menjadi budak " gumamnya pelan
" Hah ??!! " seruku bertanya, karena gumaman Curtis terlalu pelan untuk kudengar .
" Bukan apa-apa " kata Curtis sudah singkat
Kami pun terdiam kembali, sebenarnya aku bukan sepenuhnya tak mendengar perkataan Curtis tadi . Aku hanya mendengar kata terakhirnya yaitu ' budak ' . Apa di dunia ini masih ada perbudakan ?? itu artinya ada transaksi jual beli manusia seperti di film-film kolosal yang biasa ku tonton .
Tapi aku tak pernah melihat penjualan budak secara langsung di desa Raives atau hanya belum saja ....
Ah .... !!! sial .... sial, berhentilah memikirkan hal-hal yang rumit Cleo . Bukankah di jamanmu juga ada berbagai macam perbuatan jahat dan hal-hal ilegal, hanya mereka tak melakukannya secara terang-terangan .
Aku tersenyum kembali dan mulai menggoda Curtis,
" Kakak tampan, bagaimana dengan gadis tadi ?? " tanyaku iseng
Curtis diam, bingung . Ia pun bertanya tak mengerti " gadis ??! "
" Gadis desa manis yang mengikuti di belakang mu tadi " kataku menjelaskan
" Ah .. " Curtis mengingatnya lagi, gadis menyebalkan itu ...
" Iya ... bagaimana, bagaimana ... apa ia sudah menyatakan perasaannya padamu ??! " tanya ku antusias
Curtis mengernyitkan alisnya tak suka, ia merapatkan bibirnya tak berniat menjawab pertanyaanku .
__ADS_1
" Kakak tampan, aku sedang bertanya padamu !!! " seruku dengan cemberut karena diabaikan
Curtis tetap diam, tatapan datarnya mengarah ke depan . Tak bergeming sedikitpun, seolah tak ada yang sedang berbicara padanya .
Aku yang masih penasaran, akan terus mengoceh mengganggu Curtis sampai aku mendapatkan jawabannya . Tapi sebelum aku sempat membuka mulutku lagi untuk melanjutkan omelan, Curtis sudah menyela terlebih dahulu .
" Kita sudah sampai " katanya singkat
Aku yang masih belum klik dengan maksud Curtis, mengulanginya dengan bingung .
" Sam ... Ah ... " seruku mengerti
Aku mengangkat kepalaku menatap ke depan, kami sedang melewati semak-semak serta bebatuan yang besar mengganggu pemandangan . Dan ketika kami sampai di tepi sungai, terlihat keseluruhan dari sungai besar yang hanya kulihat dari jauh tadi .
Sungai ini sangat besar, lebarnya mencapai 10 meter . Berbeda dengan sungai kecil di belakang villa yang hanya 2 meter, alirannya pelan dan dangkal . Sungai ini memiliki arus yang sangat deras, dan itu terlihat dari permukaan air yang sejernih kaca .
Aku memanjat batu demi batu untuk naik ke batu terbesar di sisi sungai, Curtis segera membantuku agar tak terjatuh . Setelah berdiri di batu terbesar itu, kami dapat melihat ke kedalaman sungai di depan . Arusnya sangatlah deras, dengan bebatuan hitam di dasarnya . Aku menunduk untuk melepaskan sepatu dan kaos kakiku agar tidak basah .
Kakiku yang seputih warna gaunku menapak di atas batu hitam kelam, sangat kontras untuk di lihat . Curtis mengernyitkan alisnya, ia khawatir jika sisi tajam batu bisa menggores di kakiku yang halus terawat dengan teliti .
" Apa yang kau lakukan ?? " tanyanya tertekan
" Merendam kaki " sahutku santai
Aku menyingkap gaunku lalu duduk dengan posisi yang nyaman dan menurunkan kakiku ke atas permukaan air yang jernih . Curtis segera duduk di sampingku untuk berjaga-jaga, ia sangat khawatir jika aku tiba-tiba terpeleset jatuh ke air .
Suhu rendah air menyapa ujung jari kakiku yang menyentuhnya, aku terkejut dan memekik ringan .
" Aaaa .... dingin !! " seruku terkejut
" Kalau dingin, jangan merendam kaki " sahut Curtis dingin
Aku meliriknya sedikit dan melihat ekspresinya yang datar seperti biasanya, aku tahu Curtis kini sedang khawatir terhadapku, tapi aku berpura-pura tak tahu dan enggan mendengarkannya .
Aku kembali mencelupkan kakiku perlahan-lahan hingga sampai ke mata kaki, aku mengerutkan dahiku awalnya karena suhu rendah yang tiba-tiba menyelimuti . Tapi setelah menyesuaikan beberapa waktu, kini hanya terasa sedikit dingin, sejuk dan kesegaran mengalir melewati kakiku .
Aku tersenyum dan mulai menggoyang - goyangkan kakiku ke depan dan kebelakang, air memercik si sepanjang kakiku bergerak . Badanku ikut bergerak seirama dengan gerakan kakiku, Curtis semakin gugup di buatnya .
Ia mengulurkan tangannya hendak memegang pundakku agar aku lebih stabil, tapi ia berulangkali ragu-ragu dan slalu berhenti di tengah jalan .
Aku yang merasakannya pun menjadi gemas sendiri, jadi aku langsung meraih tangannya yang berhenti di tengah ragu-ragu itu dan meletakkannya di pundakku .
" Pegangi, aku tak bisa berenang " kataku santai
Curtis cukup terkejut, ia terbatuk-batuk karena malu sudah ketahuan . Tapi Curtis tetap mengeratkan pelukan di pundakku, untuk menjagaku meski wajahnya sudah merona merah .
Aku tersenyum senang, menikmati semilir angin menjelang sore hari yang mulai dingin . Aku menyenandungkan lagu favoritku di kehidupan sebelumnya .
Curtis cukup diam sepanjang lagu, ia hanya melirikku sesekali dengan penasaran . Mungkin ia tak mengerti apa yang sedang kunyanyikan, tapi melihat ekspresiku yang bahagia . Curtis pun ikut tersenyum lembut, dan menikmati waktu bersama ini .
" Apa yang kau nyanyikan " tanyanya datar
" Kenapa ?? apa suaraku bagus ?? " tanyaku balik
Curtis menaikkan sebelah alisnya, mendengar pertanyaan balikku . Ia pun membalasnya berkata dengan iseng .
" Lagunya yang bagus " katanya datar
Aku yang melihat sorot matanya yang menatapku dengan jahil itu, membuatku mendengus dengan keras .
" Huh !! "
Curtis tersenyum sedikit di sudut bibirnya, menang .
" Itu lagu dari suatu tempat ... suatu tempat yang ingin aku kembali kesana lagi ... " jawabku sambil menerawang
" Tempat ?? apakah indah ?? " tanya Curtis lagi
" Indah ..?? entahlah ... aku tak tahu " jawabku ambigu
Curtis mengernyitkan alisnya heran . Aku yang melihat dahinya berkerut lagi, spontan mengangkat tanganku untuk mengelusnya . Aku tersenyum, melihatnya yang salah tingkah tapi berpura-pura terlihat biasa saja .
" Itu lagu dari daratan lain di seberang lautan, ayahku mendapatkan salinannya " kataku berbohong dengan lancar
" Uhm " gumam Curtis mengerti
Kami terdiam lagi sejenak, lalu aku tiba-tiba berkata .
" Kau yang pertama " kataku
" Hmm ?? " gumam Curtis tak mengerti
" Orang yang mendengarkan lagu itu, lagu favoritku . Liriknya menyampaikan pesan pada seseorang " kataku langsung
" Pesan ?? apa ?? " tanya Curtis penasaran
" ' ungkapkan perasaanmu padaku ' " kataku sambil tersenyum menatapnya
Curtis terbatuk-batuk, ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain menghindari tatapanku . Ujung daun telinganya memerah cerah, aku tertawa kecil melihat reaksinya .
__ADS_1
' dasar pemalu ' pikirku
" Kakak tampan, mau memainkan sesuatu ?? " ajakku antusias
Curtis menatapku tanpa kata, tapi sorot matanya seolah berkata ' apa ?? '
" Lempar batu " seruku riang
" Lempar batu ??? " katanya mengulang dengan bingung
" Uhm " gumamku sambil mengangguk
" Biar ku tunjukkan " seruku sambil bergegas berdiri .
Curtis pun berdiri serentak mengikuti di belakangku, aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari batu yang cocok . Kakiku yang telanjang menapaki bebatuan hitam yang kasar, Curtis mengernyitkan alisnya tak suka, ia khawatir batu tajam bisa melukai kakiku .
" Batu seperti apa yang kau cari ?? " tanya Curtis
" Bulat dan sedikit pipih " jawabku
" Tunggu disini, biar aku saja yang mencari " katanya datar lalu pergi
Aku kembali duduk dan menunggu Curtis memungut beberapa batu untuk di gunakan . 5 menit kemudian, ia kembali sambil membawa setumpuk kecil batu yang cocok dengan ciri-ciri yang kusebutkan tadi .
Aku tersenyum sambil bangkit berdiri, aku meraih sebuah batu yang menurutku ' oke ' lalu bersiap untuk melemparkannya .
" Kakak tampan, lihat baik-baik " kataku sombong
Aku melemparkan batu itu dengan sisi yang rendah, sehingga batu itu memantul beberapa kali di permukaan air lalu hanyut terbawa arus dan tenggelam .
" 3 lompatan, tidak buruk " seruku sombong
" Kakak tampan, cobalah " kataku pada Curtis
Curtis mengernyitkan alisnya sambil berfikir, ' apa aku harus melakukannya juga ?? ' . Akhirnya Curtis hanya bisa menghela nafas menyerah, setelah melihat tatapan mataku yang berbinar-binar semangat .
Curtis meraih sebuah batu di bawah, lalu bersiap melemparkannya dengan posisi yang sama sepertiku . Batu itu terlempar dengan kuatnya, sehingga hanya memantul 2 kali dan tenggelam
" 2 lompatan, wah ... kakak tampan, lumayan juga " seruku sambil mengacungkan jempolku
Curtis mengernyitkan sambil menatap sungai di depan, ia nampak tidak puas dengan hasil yang di dapatkannya . Curtis membungkuk meraih batu lagi, tapi aku menghentikannya sambil cemberut . Curtis menaikkan sebelah alisnya bingung
" Giliranku .. " kataku sebal
Curtis pun segera menyingkir dengan ekspresi dingin, ada sedikit tak terima di dalam ekspresinya tapi ia tak bisa mengungkapnya atau aku akan mengomel tanpa henti kembali . Aku maju dengan senyuman kemenangan, lalu mulai melempar lagi batu pilihanku .
" Yey ... 4 lompatan " seruku senang
Lalu berbalik menatap Curtis dengan senyum lebar dan mata yang berbinar meminta pujian, Curtis maju lalu menepuk puncak kepalaku pelan . Ia tak berkata apa-apa, tapi terasa ketulusan dalam tindakannya .
Setelahnya Curtis maju ke depan lalu melempar batu yang di genggamannya, satu .. dua .. tiga lompatan lalu tenggelam . Curtis menaikkan sebelah alisnya mulai paham caranya .
" Wah ... cukup hebat!! bertambah satu lompatan lagi " seruku senang
Sekarang giliranku, aku maju kembali dan melemparkan batuku . satu ... dua ... tiga ...
" Sial ... hanya tiga " umpatku tak senang
" tidak sopan " sahut Curtis dingin
Aku bertingkah seperti tak mendengarnya, " kakak tampan, giliranmu " kataku santai
Curtis hanya bisa berlapang dada atas semua kelakuan gadis kecilnya, ia pun menghela nafas sedikit lalu maju ke depan melemparkan batunya .
satu .. dua .. tiga .. empat .. lima .. lalu tenggelam ..
Aku menatap dengan tak percaya, mulutku terbuka lebar melihat ke arah sungai . Curtis berbalik dengan raut datar seperti biasanya, tapi ada kesombongan yang tersirat dari ekspresi dinginnya . Sudut mulutnya sedikit naik, tersenyum samar .
" Bagaimana ... bagaimana bisa ..??! " kataku tak percaya
" Kenapa tidak ?? " tanya Curtis balik masih dengan smirk andalannya
" Tapi, kau kan baru saja belajar !!! " seruku tak percaya
" Aku yang memainkan selama bertahun-tahun pun tak bisa lebih dari 3 lompatan, kakak tampan ... bagaimana bisa ... " lanjut gumamku masih tak terima
" Bukankah itu karena kau payah " kata Curtis singkat
" Apa ??!!! " teriakku tak percaya
Aku yang terpancing emosiku mulai berdebat dengan Curtis .
" Huh !!! Jangan sombong, baru juga 5 lompatan . Anak kecil di tempatku pun bisa melakukannya, kau hanya beruntung sesaat !!! Jika bisa dapatkan 7 lompatan, lalu aku akan berlutut di depan mu !!! " ocehku penuh emosi
" Tentu " sahut Curtis santai
Ia menatap dengan jahil pada gadis kecilnya yang berhasil terpancing amarahnya dengan mudah sekali, Curtis tersenyum lembut padaku yang menggerutu dengan wajah yang cemberut .
Hah ....
__ADS_1
Jadilah sepanjang hari ini hingga sore hari kami berkompetisi melempar batu ..