Merubah takdir ' Mawar Putih '

Merubah takdir ' Mawar Putih '
BAB 38


__ADS_3

" Kakak tampan, tetaplah bersamaku ... jangan berpaling dariku, bisakah ?? " tanyanku dengan tulus


Curtis tetap diam . Aku pun tercengang dengan apa yang kudengar tadi . Aku menempelkan diriku erat di punggung Curtis, dan bersandar dengan nyaman padanya . Jadi kami tidak memiliki jarak sedikitpun, awalnya aku mengira wajah Curtis memerah karena panas matahari .


Tapi kemudian semakin aku berkata-kata dengan serius soal perasaanku padanya barusan, aku mendengar jantungnya yang berdegub dengan kencang ....


' Oh **** ... apa ini seperti tebakanku ... ' batinku


' Bagaimana aku tak tahu artinya ... ??!! Oh ayolah ... aku bukan gadis kecil yang polos !!! . Awalnya aku mengira sikapnya yang canggung dan malu-malu padaku dikarenakan wajahku yang cantik ini .. ' pikirku bingung


' Ya kan ??! pria normal mana yang tidak salah tingkah di hadapan seorang gadis cantik !!? ' teriak batinku


Aku terdiam termenung pada pikiranku sendiri ketika suara Curtis menyadarkanku .


" Uhm, aku ... aku akan selalu berada di sisimu " katanya dengan suara bergetar


' Oke, benar dugaanku '


Aku mengendalikan diriku dan mulai berfikir ' tidak apa-apa Cleo, anggap saja kau tak menyadari apapun seperti sebelumnya . Lagipula di sukai oleh pria seperti Curtis bukanlah hal yang buruk ' .


Aku mulai menganalisis keadaan , mencoba mencairkan suasana yang canggung . Tiba-tiba mataku terfokus pada reaksi Curtis yang gugup, lalu aku tertawa kecil dan mulai menggodanya lagi .


" Hihihi ... kakak tampan, apa kau malu ?? suaramu bergetar tadi ... hihihi " kataku sambil tertawa geli


Blusss


Seketika wajahnya merah padam dan terbatuk-batuk gugup, aku yang melihatnya mulai tertawa dengan keras . Curtis mengerutkan alisnya erat, ia berkata dengan dingin kembali untuk mengingatkanku yang tertawa terbahak-bahak


" Tidak sopan " ujarnya dingin


" Hahahah ... ahahaha .... ah ... " bukannya diam aku malah tertawa semakin keras


Curtis menghela nafas keras lalu diam berusaha tak peduli lagi, setelah beberapa saat akhirnya tawaku mereda . Curtis tak mengucapkan sepatah katapun, aku pun menyadari bahwa ia sedang kesal .


" Kakak tampan, jangan marah " bujukku


" Aku hanya sedang senang jadi aku tertawa dengan keras " kataku menjelaskan


" Hmm " gumamnya pelan setelah menghela nafas menyerah


Aku tersenyum senang melihatnya yang menyerah dengan mudah kembali lalu tertawa kecil kembali


' Kakak tampan, jangan khawatir ... karena kau tulus padaku, maka akan kubalas kembali . Kau milikku ... tak akan ku lepaskan ' batinku


Kami terdiam kembali dengan pikiran masing-masing, aku mengamati sawah dengan padinya yang membentang luas di sepanjang penglihatanku . Di kehidupanku sebelumnya, aku terlalu fokus untuk bertahan hidup seorang diri di jaman milenial yang serba kompetitif . Aku tak pernah sempat untuk berpergian ke tempat-tempat lain untuk menghibur diri, kehidupanku amatlah monoton dari rumah ke tempat kerja dan kembali lagi ...


Aku menghirup udara sejuk dan tersenyum kecil, lalu kembali berfikir untuk mengganggu Curtis .


" Kakak tampan, soal tadi kelanjutannya bagaimana ?? " tanyaku penasaran


Curtis terdiam sejenak, memikirkan yang maksudku .


" Maksudmu tentang gadis-gadis desa tadi .. karna kehidupan yang sulit dan terbatas, banyak orang tua yang menikahkan anak perempuannya sedini mungkin . Membiarkan mereka mengurus kehidupannya masing-masing " ujar Curtis datar


" Hah !!! sialan, bukankah itu sangat tak bertanggungjawab . Apakah mereka tak pernah berfikir sulitnya kehidupan mereka setelahnya " makiku penuh amarah


" Tidak sopan " ujar Curtis dingin


" Tidak, bukan begitu kakak tampan . Jangan perhatikan kata-kata kasarku, maksudku ini membuat orang sangat marah . Kalau tak bisa bertanggungjawab pada anak-anak, ya ... jangan melahirkan mereka dong ... " omelku penuh dengki


" Hmmm ... " gumam Curtis pelan


Entah ia setuju atau tidak dengan pola pikirku, ia tetap diam berjalan sambil menatap ke depan . Aku tetap menggerutu dengan tak jelas di belakang .


" Tapi itu lebih baik daripada di jual menjadi budak " gumamnya pelan


" Hah ??!! " seruku bertanya, karena gumaman Curtis terlalu pelan untuk kudengar .


" Bukan apa-apa " kata Curtis sudah singkat


Kami pun terdiam kembali, sebenarnya aku bukan sepenuhnya tak mendengar perkataan Curtis tadi . Aku hanya mendengar kata terakhirnya yaitu ' budak ' . Apa di dunia ini masih ada perbudakan ?? itu artinya ada transaksi jual beli manusia seperti di film-film kolosal yang biasa ku tonton .


Tapi aku tak pernah melihat penjualan budak secara langsung di desa Raives atau hanya belum saja ....


Ah .... !!! sial .... sial, berhentilah memikirkan hal-hal yang rumit Cleo . Bukankah di jamanmu juga ada berbagai macam perbuatan jahat dan hal-hal ilegal, hanya mereka tak melakukannya secara terang-terangan .


Aku tersenyum kembali dan mulai menggoda Curtis,


" Kakak tampan, bagaimana dengan gadis tadi ?? " tanyaku iseng


Curtis diam, bingung . Ia pun bertanya tak mengerti " gadis ??! "


" Gadis desa manis yang mengikuti di belakang mu tadi " kataku menjelaskan


" Ah .. " Curtis mengingatnya lagi, gadis menyebalkan itu ...


" Iya ... bagaimana, bagaimana ... apa ia sudah menyatakan perasaannya padamu ??! " tanya ku antusias


Curtis mengernyitkan alisnya tak suka, ia merapatkan bibirnya tak berniat menjawab pertanyaanku .

__ADS_1


" Kakak tampan, aku sedang bertanya padamu !!! " seruku dengan cemberut karena diabaikan


Curtis tetap diam, tatapan datarnya mengarah ke depan . Tak bergeming sedikitpun, seolah tak ada yang sedang berbicara padanya .


Aku yang masih penasaran, akan terus mengoceh mengganggu Curtis sampai aku mendapatkan jawabannya . Tapi sebelum aku sempat membuka mulutku lagi untuk melanjutkan omelan, Curtis sudah menyela terlebih dahulu .


" Kita sudah sampai " katanya singkat


Aku yang masih belum klik dengan maksud Curtis, mengulanginya dengan bingung .


" Sam ... Ah ... " seruku mengerti


Aku mengangkat kepalaku menatap ke depan, kami sedang melewati semak-semak serta bebatuan yang besar mengganggu pemandangan . Dan ketika kami sampai di tepi sungai, terlihat keseluruhan dari sungai besar yang hanya kulihat dari jauh tadi .


Sungai ini sangat besar, lebarnya mencapai 10 meter . Berbeda dengan sungai kecil di belakang villa yang hanya 2 meter, alirannya pelan dan dangkal . Sungai ini memiliki arus yang sangat deras, dan itu terlihat dari permukaan air yang sejernih kaca .


Aku memanjat batu demi batu untuk naik ke batu terbesar di sisi sungai, Curtis segera membantuku agar tak terjatuh . Setelah berdiri di batu terbesar itu, kami dapat melihat ke kedalaman sungai di depan . Arusnya sangatlah deras, dengan bebatuan hitam di dasarnya . Aku menunduk untuk melepaskan sepatu dan kaos kakiku agar tidak basah .


Kakiku yang seputih warna gaunku menapak di atas batu hitam kelam, sangat kontras untuk di lihat . Curtis mengernyitkan alisnya, ia khawatir jika sisi tajam batu bisa menggores di kakiku yang halus terawat dengan teliti .


" Apa yang kau lakukan ?? " tanyanya tertekan


" Merendam kaki " sahutku santai


Aku menyingkap gaunku lalu duduk dengan posisi yang nyaman dan menurunkan kakiku ke atas permukaan air yang jernih . Curtis segera duduk di sampingku untuk berjaga-jaga, ia sangat khawatir jika aku tiba-tiba terpeleset jatuh ke air .


Suhu rendah air menyapa ujung jari kakiku yang menyentuhnya, aku terkejut dan memekik ringan .


" Aaaa .... dingin !! " seruku terkejut


" Kalau dingin, jangan merendam kaki " sahut Curtis dingin


Aku meliriknya sedikit dan melihat ekspresinya yang datar seperti biasanya, aku tahu Curtis kini sedang khawatir terhadapku, tapi aku berpura-pura tak tahu dan enggan mendengarkannya .


Aku kembali mencelupkan kakiku perlahan-lahan hingga sampai ke mata kaki, aku mengerutkan dahiku awalnya karena suhu rendah yang tiba-tiba menyelimuti . Tapi setelah menyesuaikan beberapa waktu, kini hanya terasa sedikit dingin, sejuk dan kesegaran mengalir melewati kakiku .


Aku tersenyum dan mulai menggoyang - goyangkan kakiku ke depan dan kebelakang, air memercik si sepanjang kakiku bergerak . Badanku ikut bergerak seirama dengan gerakan kakiku, Curtis semakin gugup di buatnya .


Ia mengulurkan tangannya hendak memegang pundakku agar aku lebih stabil, tapi ia berulangkali ragu-ragu dan slalu berhenti di tengah jalan .


Aku yang merasakannya pun menjadi gemas sendiri, jadi aku langsung meraih tangannya yang berhenti di tengah ragu-ragu itu dan meletakkannya di pundakku .


" Pegangi, aku tak bisa berenang " kataku santai


Curtis cukup terkejut, ia terbatuk-batuk karena malu sudah ketahuan . Tapi Curtis tetap mengeratkan pelukan di pundakku, untuk menjagaku meski wajahnya sudah merona merah .


Aku tersenyum senang, menikmati semilir angin menjelang sore hari yang mulai dingin . Aku menyenandungkan lagu favoritku di kehidupan sebelumnya .


Curtis cukup diam sepanjang lagu, ia hanya melirikku sesekali dengan penasaran . Mungkin ia tak mengerti apa yang sedang kunyanyikan, tapi melihat ekspresiku yang bahagia . Curtis pun ikut tersenyum lembut, dan menikmati waktu bersama ini .


" Apa yang kau nyanyikan " tanyanya datar


" Kenapa ?? apa suaraku bagus ?? " tanyaku balik


Curtis menaikkan sebelah alisnya, mendengar pertanyaan balikku . Ia pun membalasnya berkata dengan iseng .


" Lagunya yang bagus " katanya datar


Aku yang melihat sorot matanya yang menatapku dengan jahil itu, membuatku mendengus dengan keras .


" Huh !! "


Curtis tersenyum sedikit di sudut bibirnya, menang .


" Itu lagu dari suatu tempat ... suatu tempat yang ingin aku kembali kesana lagi ... " jawabku sambil menerawang


" Tempat ?? apakah indah ?? " tanya Curtis lagi


" Indah ..?? entahlah ... aku tak tahu " jawabku ambigu


Curtis mengernyitkan alisnya heran . Aku yang melihat dahinya berkerut lagi, spontan mengangkat tanganku untuk mengelusnya . Aku tersenyum, melihatnya yang salah tingkah tapi berpura-pura terlihat biasa saja .


" Itu lagu dari daratan lain di seberang lautan, ayahku mendapatkan salinannya " kataku berbohong dengan lancar


" Uhm " gumam Curtis mengerti


Kami terdiam lagi sejenak, lalu aku tiba-tiba berkata .


" Kau yang pertama " kataku


" Hmm ?? " gumam Curtis tak mengerti


" Orang yang mendengarkan lagu itu, lagu favoritku . Liriknya menyampaikan pesan pada seseorang " kataku langsung


" Pesan ?? apa ?? " tanya Curtis penasaran


" ' ungkapkan perasaanmu padaku ' " kataku sambil tersenyum menatapnya


Curtis terbatuk-batuk, ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain menghindari tatapanku . Ujung daun telinganya memerah cerah, aku tertawa kecil melihat reaksinya .

__ADS_1


' dasar pemalu ' pikirku


" Kakak tampan, mau memainkan sesuatu ?? " ajakku antusias


Curtis menatapku tanpa kata, tapi sorot matanya seolah berkata ' apa ?? '


" Lempar batu " seruku riang


" Lempar batu ??? " katanya mengulang dengan bingung


" Uhm " gumamku sambil mengangguk


" Biar ku tunjukkan " seruku sambil bergegas berdiri .


Curtis pun berdiri serentak mengikuti di belakangku, aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari batu yang cocok . Kakiku yang telanjang menapaki bebatuan hitam yang kasar, Curtis mengernyitkan alisnya tak suka, ia khawatir batu tajam bisa melukai kakiku .


" Batu seperti apa yang kau cari ?? " tanya Curtis


" Bulat dan sedikit pipih " jawabku


" Tunggu disini, biar aku saja yang mencari " katanya datar lalu pergi


Aku kembali duduk dan menunggu Curtis memungut beberapa batu untuk di gunakan . 5 menit kemudian, ia kembali sambil membawa setumpuk kecil batu yang cocok dengan ciri-ciri yang kusebutkan tadi .


Aku tersenyum sambil bangkit berdiri, aku meraih sebuah batu yang menurutku ' oke ' lalu bersiap untuk melemparkannya .


" Kakak tampan, lihat baik-baik " kataku sombong


Aku melemparkan batu itu dengan sisi yang rendah, sehingga batu itu memantul beberapa kali di permukaan air lalu hanyut terbawa arus dan tenggelam .


" 3 lompatan, tidak buruk " seruku sombong


" Kakak tampan, cobalah " kataku pada Curtis


Curtis mengernyitkan alisnya sambil berfikir, ' apa aku harus melakukannya juga ?? ' . Akhirnya Curtis hanya bisa menghela nafas menyerah, setelah melihat tatapan mataku yang berbinar-binar semangat .


Curtis meraih sebuah batu di bawah, lalu bersiap melemparkannya dengan posisi yang sama sepertiku . Batu itu terlempar dengan kuatnya, sehingga hanya memantul 2 kali dan tenggelam


" 2 lompatan, wah ... kakak tampan, lumayan juga " seruku sambil mengacungkan jempolku


Curtis mengernyitkan sambil menatap sungai di depan, ia nampak tidak puas dengan hasil yang di dapatkannya . Curtis membungkuk meraih batu lagi, tapi aku menghentikannya sambil cemberut . Curtis menaikkan sebelah alisnya bingung


" Giliranku .. " kataku sebal


Curtis pun segera menyingkir dengan ekspresi dingin, ada sedikit tak terima di dalam ekspresinya tapi ia tak bisa mengungkapnya atau aku akan mengomel tanpa henti kembali . Aku maju dengan senyuman kemenangan, lalu mulai melempar lagi batu pilihanku .


" Yey ... 4 lompatan " seruku senang


Lalu berbalik menatap Curtis dengan senyum lebar dan mata yang berbinar meminta pujian, Curtis maju lalu menepuk puncak kepalaku pelan . Ia tak berkata apa-apa, tapi terasa ketulusan dalam tindakannya .


Setelahnya Curtis maju ke depan lalu melempar batu yang di genggamannya, satu .. dua .. tiga lompatan lalu tenggelam . Curtis menaikkan sebelah alisnya mulai paham caranya .


" Wah ... cukup hebat!! bertambah satu lompatan lagi " seruku senang


Sekarang giliranku, aku maju kembali dan melemparkan batuku . satu ... dua ... tiga ...


" Sial ... hanya tiga " umpatku tak senang


" tidak sopan " sahut Curtis dingin


Aku bertingkah seperti tak mendengarnya, " kakak tampan, giliranmu " kataku santai


Curtis hanya bisa berlapang dada atas semua kelakuan gadis kecilnya, ia pun menghela nafas sedikit lalu maju ke depan melemparkan batunya .


satu .. dua .. tiga .. empat .. lima .. lalu tenggelam ..


Aku menatap dengan tak percaya, mulutku terbuka lebar melihat ke arah sungai . Curtis berbalik dengan raut datar seperti biasanya, tapi ada kesombongan yang tersirat dari ekspresi dinginnya . Sudut mulutnya sedikit naik, tersenyum samar .


" Bagaimana ... bagaimana bisa ..??! " kataku tak percaya


" Kenapa tidak ?? " tanya Curtis balik masih dengan smirk andalannya


" Tapi, kau kan baru saja belajar !!! " seruku tak percaya


" Aku yang memainkan selama bertahun-tahun pun tak bisa lebih dari 3 lompatan, kakak tampan ... bagaimana bisa ... " lanjut gumamku masih tak terima


" Bukankah itu karena kau payah " kata Curtis singkat


" Apa ??!!! " teriakku tak percaya


Aku yang terpancing emosiku mulai berdebat dengan Curtis .


" Huh !!! Jangan sombong, baru juga 5 lompatan . Anak kecil di tempatku pun bisa melakukannya, kau hanya beruntung sesaat !!! Jika bisa dapatkan 7 lompatan, lalu aku akan berlutut di depan mu  !!! " ocehku penuh emosi


" Tentu " sahut Curtis santai


Ia menatap dengan jahil pada gadis kecilnya yang berhasil terpancing amarahnya dengan mudah sekali, Curtis tersenyum lembut padaku yang menggerutu dengan wajah yang cemberut .


Hah ....

__ADS_1


Jadilah sepanjang hari ini hingga sore hari kami berkompetisi melempar batu ..


__ADS_2